Pengkhianat Hadiah Untuk Arafah Rianti

cinta segitiga
Mendadak kaget, akun game online gua berubah menampilkan vidio berdurasi pelit. “Hacker kurang ajar!” Dalam vidio tersebut menampilkan kisah Arafah waktu masih kecil. Apakah tidak ada penyaring alami yang semua hati seharusnya memiliki ini? Apakah kisah kelam harus dihidangkan semua di depan publik?


“Gua tahu kalo acara The Connect itu penghinaan buat elu, Arafah!” kata gua tanpa basa-basi.

Suasana sunyi di dalam rumah kecil orang tua Arafah yang hanya bertembok lusuh. Di dalam kesunyian, mereka hanya menatap gua, lalu berpaling. Mereka seperti punya anggapan kalau gua tidak tahu adab menghadapi kesunyian mereka. Sambutan yang tidak seperti kebiasaannya.

Kepala gua mendadak retak-retak, sakit.. “Ada apa?” Sebatang pertanyaan menggelitik rongga dada. Mereka seperti berkata, “Pingsan aja lu sekalian, nanggung amat”. Raga gua melemas. Jantung pun berdegup tidak karuan. Terlalu terkejut melihat kisah kelam Arafah dikonsumsi secara publik dan sikap keluarga Arafah.

“Mengapa harus terjadi di tengah popularitas elu? Arafah? Apa ini yang bikin elu lesu akhir-akhir ini?” Gua duduk selonjoran di samping Arafah.

Diam. Semua diam. Kebetulan Arafah sedang memijat ibundanya, Ibu Titi. Bapaknya, Bapak Toto sedang mengupil-upil ganteng, cabut bulu hidung. Sepertinya, gua salah waktu dalam adegan ini. Tetapi, manusia mana yang bisa menebak skenario Tuhan? Mbah Ki Pas Angin?

“Bawang apa yang kalau buat kerokan bisa bikin mual, Bu?” kata Arafah.

“Bawang putih,” kata ibu Arafah.

“Bakwan,” sela bapak Arafah sambil nyungir-nyungir geli pada hidung.

“Salah!”

“Arafah, Ibu, Bapak! Gak liat kalo gua lagi lemes lihat vidio kisah Arafah?” kata gua meminta perhatian. Gua masih terngiang-ngiang saja ledekan mereka dalam acara tv itu dengan sebutan ‘Tukang Ngejek’, ngemis digital ala ngojek online buat Arafah. Ada sebutan lagi, Tukang Ngemon, ngemis online.

“Jawabannya itu anak bawangan-bawangan, abang dibawa, abang disayang. Udah gitu, dibuang. Kasihan deh.. Elu masih ngarep di sini? Mules tau...” kata Arafah dengan tatapan mata yang mendadak tajam melihat gua.

“Sabar nak,” kata Ibu Titi.

Mendadak lebih kaget. Gua mencoba bangit. “Maksud elu?!” Gua seperti lupa pengkhianatan yang pernah gua lakukan. Ini bukan lucu-lucuan. Mengapa gua tega memakan nasi padang? Kenapa gua tidak fokus? Tidur diranjang berduaan bersama 2 wanita kelas mahal. Sepertinya, Pak Radikus menjebak gua.

“Nak Elbuy, silahkan makan nasi padang dulu lah. Mari duduk,” kata Pak Radikus, penyelenggara lomba Comedy Unggulan. Sepertinya, ia mengetahui kesukaan gua.

“Aku gak punya waktu. Mana hadiah buat Arafah, Pak? Kalau enggak, Bapak bakal aku laporin ke polisi karena udah menipu peserta. Satu lagi, aku tahu, Bapak adalah otak dibalik pengemis ojeg digital.”

“Ah, aku bisa jelaskan nanti. Ayo lah makan dulu,” sambil menghisap-hisap rokok dan bermain-main dengan para wanita yang ada di rumahnya.

Yang bikin menyesal, kenapa mendadak lapar? “Nikmat sekali nasi padang itu.” Antara makan atau tidak, akhirnya jadi untuk memakannya. Gua tidak berpikir sama sekali, apakah itu bagian rencana atau tidak.

Dua pengawal cantik kelas mahal sepertinya bermain mata dan mau main-main. Sehabis makan, gua mendadak berbeda. Ya ampun, Arafah atau mereka? Cinta sudah tidak ada artinya bila nafsu sudah berbicara. “Napa gua mendadak doyan?”

Arsip foto mesum tidak bisa dibantah. Berbahaya bila Arafah sampai tahu. Hilang sudah hadiah puluhan juta yang sebagai hak untuk Arafah. Hadiah yang dijanjikan si penghianat dibayar tunai oleh ulah gua sendiri. Gua pengkhianat! Kenapa harus tergoda? Gua bingung, sampai menyetujui perjanjian untuk menutup mulut. Terpaksa bohong pada Arafah walaupun sia-sia. Niat awal ingin juga membongkar komplotan jaringan pengemis digital yang salah satu korbannya adalah Arafah−saat masih kecil−, musnah sudah. Penghianat!

Akibat pengkhianatan gua, sampai keluarga Arafah tetap dalam kondisi kesulitan keuangan, tidak ada perubahan. Yang lebih menyedihkan adalah Arafah sudah tidak mau lagi berkarir di bidang yang membuatnya terkenal. Ia ingin hidup sederhana saja. Tapi gua salut, walau sederhana, keluarga dan Arafah masih bisa minum lewat mulut apapun makanannya.

“Maafin, gua, Arafah,” sejuta kata dalam pikiran, mulut tidak bisa keluar ungkapkan kata-kata. Arafah pun hanya bermain genangan air mata, diam, sambil mijit-mijit ibunya. Entahlah, barangkali diam adalah emas.

***


cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya