Aku, Arafah Dan Cinta Segitiga

cinta segitiga
Di malam yang dingin seperti ini, aku sedang tidak enak menulis. Tetapi pikiranku selalu mengajak menulis tanpa ada kendaraan yang memuluskan keadaan kata dan makna. Duh, aku berjalan kaki memikirkan penulisan seputar Arafah. Sepertinya sudah nasibku selalu berjalan kaki. Aku jarang menaiki kendaraan walaupun untuk jarak dekat. Bahkan pernah berjalan jauh dari terminal ke mall Grage hanya dengan langkahan kaki. Memang tidak merasa bangga. Apa yang mau dibanggakan? Kaki tepar? Wah, itu mah kebanggaannya Nyak Minyak Pijet. Kalau tepar otak itu kebanggann-ya siapa ya? Mungkin kebanggannya Mba Bantal Guling. Ups, salah ke-ceplosan. Harusnya keceplosan yang benar.


Maaf, Novel Masih Di Revisi Ulang

Download Novel "Aku, Arafah Dan Cinta Segitiga - 1" Edisi Revisi

download

Download Ebook Cocok Untuk Smartphone

download

Harap Dibaca Lewat Adobe Acrobat Reader Agar Persis Halaman Buku

  Novel Ini Bagian Dari Pemberian Atas Nama Cinta Untuk Adik Imajinarku, Arafah Rianti. Follow IG @ubayzaman dan @arafahrianti (Runner Up SUCA 2 Indosiar)

 

Tunggu Kehadiran Novel Pertama Edisi Spesial (Tidak Dipublis Di Sini Per Bab-nya) 

 


“Kamu mau jalan kaki sama aku, Dek Afah?”

Selalu sepi bisa berurusan dengan Arafah, sosok yang sekarang menjadi adik imajinarku ꟷ yang secara perasaan adalah cewek yang aku cintai seki-tar 10%, cinta layaknya ke sahabat atau keluarga. Tetap tanpa ada suara sedari awal. Bukan lagi pelit berbicara dengannya. Keadaan komunikasi memaksaku hanya membutuhkan kuota. Jangan pada tertawa karena di-anggap penghematan biaya. Jujur, itu fakta saja. Tetapi yang bukan fakta adalah kisahku dengan Arafah yang tertulis di sini.

Seperti biasa, aku mengerjakan proyek yang sering membuat pantatku protes, berteriak, ingin liburan ke Jungleland. Jauh sekali di Jungleland. Ke Sunyaragi Cirebon dong, biar bisa bertapa di situ. Pada intinya, aku mau menghentikan sementara proyek ini: menulis artikel blog. Paling hanya menerima beberapa pesanan saja agar tetap menghasilkan receh tetapi tidak sampai menggangu aktifitas menulisku untuk Arafah.

“Dek Afah, kamu lagi ngapain? Limi bingit!”

“Kalau aku rindu seseorang yang sudah tiada, sudah meninggalkanku, apakah salah untuk dirindukan selalu?

“Tapi perasaanku gak bisa berbohong, Kak. Gimana menurut Kak Elbuy?” bales Arafah via media online yang tidak perlu disebut namanya. Maklum, sedang berbicara sama artis papan nanggung ke atas, jadi ada tarifnya.”
“Jiah, ngelucu nih? Ditanya malah curhat.”

“Aku habis sedih, terus nulis, terus tulisanku diposting di blog lama aku. Kak El udah baca kan? Tuh, komentar Kakak nampang aja kayak minta dihapus, hehe... Canda. Kayak sedang minta jalan bareng di hatiku, ehem.”

“Delet aja sekalian hati kamu, Fah. Biar komentarku gak minta jalan bareng di hatimu. Idih, gimana tuh kalau kamu gak punya hati?”

“Yang gak punya hati itu mantan aku. Salah aku apa ninggalin aku tanpa kabar dan keputusan?”

“Gak punya heartphone tandanya. Jadi putus koneksi.”

Arafah memang curhat dalam blog miliknya yang sudah lama dianggur. Curhat seputar mantan masa lalunya yang membuatnya merasa bersalah. Bersalah, salah-salah bersalah. Up! Bersalah, benar-benar bersalah. Bukan bersalah dengan sikap dirinya pada si mantan tetapi pada dirinya sendiri yang bodoh dalam pengharapan. Dikira jodoh sudah dekat? Yang sudah dekat itu kiamat, Dek. Ya begitu lah anak remaja yang baru kenal cinta. Sudah pacaran, malah membual harapan-harapan. Semoga kamu sadar dan membuat lembaran baru yang lebih sadar. Berikut ungkapan hati Ara-fah yang di tulis di dalam blog miliknya.

Hari ini mungkin pada detik ini juga aku masih mengingatmu dan sampe selamanya masih mengingatmu.

Mengingatmu sebagai salah satu orang yang berhasil melepas tawaku selepas-lepasnya.

Membahagiakanku dengan caramu sendiri.

Indah itu kataku setelah bersamamu.

Aku senang ada kamu,sumpah demi tuhan aku sangat senang.

Tapi senangku berubah ketika kamu tidak ada.

Tidak ada bersamaku.

Kamu pergi dengan caramu, pergi yang tidak kusukai.

Kamu pergi tanpa salam.

Kamu berlalu, sedangkan aku masih menunggu.

Sampai kapan? Sampai nanti kamu memberi tau bahwa kamu akan menetap dihatiku.

Mungkin tidak mungkin, tapi aku hanya manusia yang suka dengan hal tidak mungkin.

Aku kecewa...

Tapi sumpah aku ga kecewa sama kamu, karena kamu hal yang paling indah.

Tapi aku sangat kecewa terhadap diriku sendiri, yang menaruh harapan besar ter-hadap dirimu.

Padahal aku tau perihnya sebuah pengharapan. Bahkan kita tau sebuah penghara-pan yang berakhir jika indah maka akan indah banget, atau sebaliknya.

Kekecewaan ku hanya dirasa dihati tidak dengan bibir yang selalu tersenyum manis untuk dunia.

karena hanya bibir yang lebih sering membantu hati agar tidak terlihat betapa kecewanya hati.

dulu aku fikir kamu yang bodoh telah meninggalkanku, ternyata setelah aku berkaca.

Akulah yang paling bodoh telah mengharapkanmu.

Waktu itu kamu sempat membuat hati ini sehat, namun kamu membuatnya sakit bahkan lumpuh.

Kamu tidak perlu memulihkannya, aku hanya butuh waktu yang memulihkannya, selebihnya biar aku aja yang tanggung jawab atas ulahku ini.

Ini ulahku memang, mempercayakan diriku seakan-akan perasaan kita sama.

Sama-sama menaruh perasaan yang sama.

Kita tidak akan menjadi kita..

Karena kamu hanya datang untuk mencari secercah tawa, tidak dengan aku yang mencari bahagia.

Esok sampai seterusnya kamu masih dibagian terindah di dalam hidupku.

Dari aku yang merindu.

Baca lengkap: http://Arafahrianty.blogspot.co.id/2016/12/hari-ini-mungkin-pada-detik-ini-juga.html

“Memangnya dulu kamu mau nikah sama mantan kamu sampai punya harapan besar ke dia? Harapan apa itu, Dek?”

“Au ah!”

“Ya sudah, aku gak bisa ngasih saran bagaimana atau gimana, yang jelas itu pengalaman kamu yang masih kamu rasakan. Bila aku katakan kamu bersalah karena masih mengharapkan dan merindukan, itu akan menentang perasaan kamu. Kalau aku membenarkan tingkah konyolmu itu, ya elah, aku seperti berteriak-teriak di telinga bayanganku sendiri.”

“Percuma kali orang gak penting dipikirin terus, ampe dirindukan terus. Emang gak mau membuka hati baru dengan muka baru? Itu tuh, siapa tuh? Ehem”

“Itu siapa?!”

Balasan dari Arafah kali ini super cepat. Sepertinya ia hanya membaca ka-limat terakhirnya saja. Kebiasaan masih tetap nyantol di otaknya. Percuma saja aku menasehatinya, mengasih jawaban biar sadar sedikit, tetapi ia cuma membaca kalimat diakhir tulisan saja.

“Gak tahu, siapa. Kamu balas pesan, apa lagi menangin bapalan nulis ka-ta?”

“He he...”

Aku biarkan Arafah ditinggal sendirian. Perut aku sedang lapar. Harusnya aku makan. Tetapi makanannya tidak mau menumpang ke perutku. Mung-kin sedang punya konflik antara perut dan makanan. Kalau sudah konflik kayak begini, siapa yang menjadi wasit? Sepertinya aku harus minum. Ba-rangkakali air adalah wasit terbaik mendamaikan konflik.

Malam yang masih menanti belum juga membawa pembeli baru. Padahal keuntungan pulsa sebesar apa sih? Sebesar ukuran lubang sedotan? Kecil! Tetapi keuntungan pulsa kalau dikalikan bisa menjadi besar, sebesar lubang mulut. Sampai ngap-ngapan lubang mulutku. Terasa lelah mondar-mandir, mengetik, menunggu sampai pantat tepes. Terus saja berjalan seperti ini. Eh ternyata, keuntungan besar dikalikan pengeluaran berkali-lipat. Lebay. Aku bersyukur, aku masih memilki teman perasaan yang me-nyenangkan hati: lalat dan nyamuk.

Aku membuka medsos. Ternyata ada pesan baru dari Arafah.

“Ternyata, gak seperti yang aku pikirkan...”

“Apanya, Dek?”

“Kakak udah janji mau jadi bodyguard aku, tapi aku ketawa kok gak dilad-enin? Gak tahu ya kalau ketawaku diculik waktu?”

“Omongan artis ampe gitu ya? Masak bahasa untuk hubungan kita ampe pakai bodyguard segala? Jelek ah kata itu. Ganti lah. Betul, aku rela seper-ti itu, jadi bodyguard kamu. Tapi bahasa halusnya itu, jadi pengawal kamu, Dek.”

“Idih, omongannya jelek amat sih. Kok pengawal sih? Jelek ah kata itu. Ganti!”

“Ye ye ye... Aku tadi sengaja ninggalin kamu, Dek. Karena kamu bukan barang tungguan. Maklum, Dek, manusia butuh makan dan minum setelah itu nyampah pada tempatnya.”

“Oh ya, Kakak tadi nyinggung siapa sih buat aku? Kan banyak tuh cowok yang naksir aku, ehem... Maksudnya siapa?”

Sepertinya aku menjadi berat hati untuk membahas antara si cowok penaksir itu pada Arafah. Apalagi ia sendiri sudah mencuekkannya. Untuk apa lagi aku bahas? Hal ini pun membuat aku menjadi sangat bersalah pa-da cewek yang memang sedang mencintai aku tetapi aku tetap tidak peduli padanya. Entahlah, yang ada dihatiku ini seperti apa dan untuk siapa? Aku seperti orang yang tidak punya kehidupan cinta. Aku berjalan saja seperti orang yang kurang kesadaran.

Untung saja statusku masih normal. Tidak perlu panjang lebar bila sudah membahas normal. Yang jelas, bukan maksudku tidak bisa mencintai cewek. Rasa cintaku seperti sudah hambar sehingga seolah-olah tidak memiliki cinta. Entahlah, mungkin terlalu sakit pengalaman-pengalamanku terdahulu. Maka dari itu, aku hawatir dengan kondisi Arafah sekarang ini. Sampai tenggerokannku terasa tercekik dan aku sedih bila berlang-ulang membaca curhatan Arafah.

“Tetapi, aku ini cinta sama siapa sih? Arafah? Ah, pikiran ada-ada saja!” Arafah sudah aku anggap adik imajinerku. Aku akui, memang aku mencin-tainya tetapi sebatas cinta yang umum sebagai cowok yang baik hati pada cewek, ehem. Jadi bukan.

“Perasaan cintaku ke Arafah sama seperti ke beberapa cewek yang lain yang juga dekat denganku, tidak ada beda. Kebetulan saja ia adalah sosok magnetis, seorang selebritis, sehingga aku memperlakukan berbeda dengan teman cewekku yang juga aku cintai,” kataku dalam hati sambil ngelantur bagaimana pernak-pernik keluh-kesah dalam hatiku.

“Kak!”

“Aduh, ampe lupa... Ya sudah, gak penting.”

“Apa orang yang emang pernah buat blog spesial seputar aku dan terus saja memberi ungkapan perasannya itu? Betul kan? Aku catat kata-kata itu dan aku pengen nanya ke Kak Elbuy.”

“Sebenarnya aku bukan mau cuek ama orang itu. Aku cuma ingin fokus ke karir dan masih belum bisa menerima kenyataan pengalaman yang pernah aku alami. Gak salah kan masih ngambang perasaan, terombang-ambing kisah lalu?”

Aku pasrah saja, “Ya. Tapi aku harap, kamu gak perlu serius. Ingat, kamu sudah menjadi cewek pantauan. Bila banyak fans yang kamu telantarin, namun kamu malah fokus ke cowok itu, hanya karena kasihan, banyak fans yang siap kecewa berat sama kamu. Gak mungkin juga kan kamu ladenin satu per satu?”

“Paham, Kak. Banyak fans yang pengen di follback, minta dibalesin komentarnya ampe yang sok tahu gitu seputar aku. Gila, gimana tangan gak bengkak kalau diturutin? Belum lagi fans berubah jadi haters, ngo-mongnya bisa lebih menyakitkan dari haters yang bukan mantan fans.”

“Aku akan jaga nama baik dengan tidak bermain online untuk mendapatkan jalinan hubungan teman atau cinta. Lagi pula, siapa sih dia? Aku hargai, tetapi aku tidak bisa menerima cintanya.”

“Termasuk sama Kakak, tidak bermain lewat online?”

“Duh, Kakak kena? Ya ampun, senjata makan tuan, Deh. Kakak sih manc-ing, ya aku makan pancingannya. Kecuali Kakak deh karena emang aku butuh praktisi marketing online, hehe...”

“Gak apa-apa deh, fans ngiri. Toh, gak ada yang tahu. Aku mohon aja, gak usah publikasi komunikasi. Kita main umpet-umpetan. Baru kalau udah ketahuan, kita klarifikasi.”

“Kita kan cuma bermain dalam fiksi, jadi, buat apa diseriusin klarifikasi?”

“Wah, berarti kita Upil-Ipul dong kalau cuma fiksi?”

“Intinya santai saja. Aku jaga rahasia ini. Bila ketahuan bahwa kita punya jalinan bawah tanah, anggap saja aku adalah patner kerja kamu. Salah satunya menjadi marketing online.”

“Setuju!”

“Sejuta!”

“Om dollar Om!”

“Yah, toilet bus!”

“Lanjut ke perminataaku. Boleh aku bertanya seputar ungkapan-ungkapan cowok misterius itu? Heran, komentar kok isinya gitu-gitu melulu. Emang gak ada cewek lain? Apakah karena hidup di bawah jendela karena takut ketahuan ayah? Ha ha.”

“Ngomong apa tuh dek, ngomong cicak-cicak di dinding? Ya sok, silahkan ajukan beberapa ungkapan dengan lampiran. Nanti jawab satu per satu.”

ANGKA 1
Siapapun jodohku, kamu (@cewekunyu) masih aku cinta selagi masih. Cinta tidak bisa diusir. Terpenting, akur bersama cinta "berdua": aku-jodohku. Sory, ini bukan lagi ngebet nikah sama kamu tapi ini pendidikan "Love n Relationship" buat tulisan di blog aku.

CINTA SEGERA
Kalau aku tertarik pada kamu (@cahayagadislucu), aku katakan segera, tapi jangan heran kalau kamu berkata, "Kok cepet ngatainya?" Iya, tidak perlu lama memendam kalau aku sudah tertarik karena tidak menarik menarik. Kalau lama memendam, be-rarti aku tidak suka kejujuran cinta karena menentang daya tarik. Sory, ini cuma pen-didikan love and relationship bukan lagi mengajak kamu nikah.

JAUH DIPELUPUK
Cinta jarak jauh, cinta berumur jauh padamu (@gadisberbintangpink). Terpenting kamu rela kalau jodoh mendekatkan kejauhan. Paling tidak, aku mencinta atas kamu, bisa mengisi kekosongan hatiku. Aku paling tidak bisa menemukan "Kejutan Cinta". Bi-la aku menemukan itu padamu, aku rela terdampar dibelantara percintaan demi hatiku padamu. Lebay betul. Tapi aku paham, cinta hanya cinta dan jodoh pun hanya jodoh.

SURAT DUKA
Aku ikut larut dalam bingkai "Surat Duka" kamu, kisah cinta masa lalumu (@wanitapadangkesucian). Kamu rangkai-rangkai dengan perih dan sedih, sampai aku tercekik suasanamu. Aku tahu, sakit hati tiadalah mudah terobati. Tapi kamu perlu mengerti kisah lalu yang menyakitkan hanya jaringan pikiran yang belum terpatri utuh. Aku paham, kamu masih terbayang betapa kejam cinta menusuk gelembung harapmu yang tengah membesar. Tapi, sadarlah, besar hatilah, bahwa dunia penuh warna. Bahagialah dengan masa kinimu.

PROYEK CINTA
Cinta membuatku berencana membangun proyek besar untukmu (@cewekimutmanisasem). Apalah arti cinta di saat hidup cuma sekali tapi selalu meminta cinta padamu. Langkah kecil adalah langkah penting yakni terus memberikan kebaikan untukmu. Aku percaya, 1 pemberian cinta bernilai 10 lipatan balasan tanpa diminta.

SUATU SAAT
Aku bingkai dirimu dalam tumpukan kertas, berpadu memendam gumpalan pemikiranku tentangmu (@gadisinspirasiku). Suatu saat karyaku tentangmu menjadi kenangan tersendiri untukku tanpa ada hak siapapun melenyapkan itu kecuali aku sendiri yang melenyapkan. Tapi, aku kira terlalu berharga kenangan ini untuk dilen-yapkan apalagi kamu adalah takdir jodohku. Salam dan kehormatan cinta padamu.

“Wih, ternyata udah banyak ya ungkapannya. Kalau ini sih, gak usah dijelaskan satu-satu. Pada intinya, si cowok itu hanya ingin menunjuk-kan bahwa ia cinta sama kamu dengan menghadirkan kebaikan tanpa mengharap apapun dari kamu.”

“Jadi, ia tidak diperhatikan ungkapannya pun tidak menjadi persoalan. Ia sudah menikmati cintanya sendiri. Bahkan kalau berharap ada bal-asan dari kamu, sudah berkurang kenikmatannya.”

“Apakah ada orang mencintai seseorang sampai tidak berharap? Sekedar cinta dan menikmati sendiri?”

“Jawaban simple, apakah cowok itu minta balasan komunikasi?”

“Gak, Kak.”

“Bila seperti itu, mengapa kamu repot sendiri? Hayo, ada rasa nih?”

“Siapa yang repot sendiri? Suer deh, gak naksir. Cuma ini sensitif perasan cewek saja. Ingat pertama kenalan sama Kakak.”

“Dimana sih kita kenalan?”

“Di dunia fiksi!”

Apa yang terjadi pada Arafah seputar cowok misterius, justru ia menyambut dengan curhatan walaupun hanya lewatku. Maksudnya, memberikan dan meminta pandangan padaku walaupun sebenarnya ia merasa terganggu dengan cowok miterius itu. Sedangkan aku ... aku membiarkan cinta seorang cewek misterius tanpa Arafah tahu hal itu. Aku tidak tahu bagaimana respon Arafah kalau tahu hal ini.

Apakah merasa heran ada penggemar rahasia? Apakah aku artis sam-pai memiliki penggemar rahasia? Tetapi faktanya, aku memiliki penggemar rahasia. Bukan rahasia wajah melainkan kehidupannya. Aku tidak bisa membahas panjang lebar mengingat terlalu fiksi bila sampai menjelaskan. Sekalian, agar aku bisa menutupi seputar ketidakmampu-anku membuat cerita fiksi yang terbaik di tulisan ini.

“Aku gak mungkin menikahimu, Arafah.” Entahlah, mengapa aku ingin berkata seperti ini di cerita fiksi ini.

“Ia, aku juga gak mungkin menikahimu juga, Kak. Yah, kita main ping-pong.”

“Kaget dong, Dek... Tanya gitu mengapa begitu dan harusnya gimana gitu.”

“Iya, kaget! Kakak mah ujug-ujug ngomong gitu. Kita kan kakak-adik imajiner?”

“Huhui... Ada cerita fiksi terbaru, menulis seputar kamu. Ceritanya “Gak Bisa Nikahin Kamu”. Setuju?”

“Setuju. Wih, senengnya dibuatin cerita.”

“Maaf ya, Dek! baru aja resmi jadian kakak-adik imajiner, udah lancang.”

“Kan itu cuma fiksi, bebasin saja apa yang Kakak mau. Tapi, jangan bebas-bebas vulgar dong. Kalau bukan fiksi, terserah Tuhan yang menentukan.”

“Aku pasrah saja bila segala sesuatu berubah walaupun berbesit hara-pan besar pada sosok yang membahagiaanku sekarang ini. Yaitu ... Isilah titik-titik ini.”

“Yaitu aku yang sebagai fiksimu?”

“Entah lah, aku mau berkata apa. Karena yang sedang menulis kata ‘iya’ atau ‘bukan’ itu, emang Kakak itu sendiri. Keren kan ucapannya?”

“Wih, canggih omongannya.”

“Tulis, Kak. Bagus kan sambungan ceritanya? Judul bukunya apa?”

“Judulnya ‘Aku, Arafah dan Cinta Segitiga.’”

“Kok gitu judulnya?”

“Karena sosok yang membahagiakanmu adalah selembar halaman blog-ku. Sono tuh nikah ama blog-ku. Mas kawinnya nanti, kamu nanti dikasih seperangkat kuota internet.”

“Ih! Nyebelin! Paling tidak aku sejajar dengan para pecinta pohon, pencinta hewan ampe pecinta mayat yang ampe rela menikah secara tidak wajar tetapi sah secara negara!”

“Sadarkah?”

“Gak! Terserah saja! Aku gak suka dikatain begitu! Kita bicara normal saja lah. Aku mau fiksi Kakak yang terbaik, bukan malah menikah dengan halaman blog jelek milik Kakak.”

“Maaf!”

Serius Arafah marah sama aku? Aku kira fiksiku hanya sekedar ucapan becanda. Ternyata, tidak semua hal yang diklaim sebagai ucapan ber-canda, dianggap becanda oleh si target. Maaf, Arafah.

“Gak sesederhana itu minta maaf!”

Perasaanku tiba-tiba terasa perih. Mengapa aku membuat fiksi yang seperti ini? Walaupun tulisan ini bukan nyata, sekedar fiksi, tetapi rasa perih ini nyata. Bagaimana aku tidak merasakan perih ketika aku sendiri bisa membangkitkan kemarahan Arafah padaku? Andai ia tahu bagaimana keperihan hatiku ini, mungkin ia pun akan merasakan hal yang sama. Mengapa? Karena ia marah pun tidak pada tempatnya. Se-dari tadi kita bercanda tetapi dengan mudah marah padaku. Ia marah padaku hanya karena pengandaian ikatan Arafah dengan halaman blog miliku. Apakah ini lucu? Ya ampun, Arafah! Dunia seperti mau terbelah nih, terpisah jauh.

“Jangan pisahkan aku dengan dirimu, Arafah!”

“Kita memang sudah terpisah jauh, antara Depok dan Cirebon. Mau apa lagi? Mau memindahkan daerah Cirebon ke Depok? Mana bisa?”

“Bisa aja keles. Apakah kamu tidak tahu Nabi Sulaiman yang bisa memindahkan istana Ratu Bilqis? Benarkah ucapan ini?”

“Kakak bukan Nabi, aku bukan Nabi, dan kita semua bukan Nabi!”

“Maaf!”

“Masa pending pemaafan belum selesai!”

“Maaf kalau begitu!”

“Belum selesai!”

“Ee... Ya ya ya... nanti aku bikin fiksi yang membahas pemberian spesial proyek blog untukmu. Judulnya kebelulan sudah aku buat yaitu ‘Proyek Bisnis Cinta Bersama Arafah Rianti’. Tapi, Insya Allah ya...”

“Hm... Masa pending pemaafan selesai. Aku maafin. Itu baru Kakak yang baik hati, pengertian, udah gitu, jelek lagi.”

“Awalnya enak. Akhirnya nyesek, bikin ennek!”



Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya