Arafah Rianti: Datangin Aku Dong, Kak!

Siang ini agak berat menulis ceria untuk Arafah Rianti. Pasalnya, lemas dan tak berdaya, kurang kuat bergerak. Kurang bensin premium. Mainnya bensin gratisan selama ini. Walaupun aku penulis yang pandai untuk memberikan update tulisan setiap hari, tetapi ada waktu dimana aku tidak bisa menulis. Bukan karena tidak bisa. Ototnya dan otaknya tidak mau bekerja. Mungkin karena frustasi cinta kali ya? “Arafah mana ya?” Padahal hanya memikirkan kalimat pendek saja, tidak mampu. Hal yang pernah aku alami ketika melihat kalimat yang ‘agak menarik’ dari Arafah Rianti.

Mempercayai beberapa orang yg kita percaya.Tak lantas kita harus benar" percaya. Karena ketika kita percaya, tak semua orang dapat dipercayai seutuhnya.

Aku hanya berkata, “Dek, untuk menanggapi tulisan di atas, aku pending dulu ya? Otakku lagi datang bulan. Maklum telat mikir, telmi.”

Tidak ada tanggapan dari Arafah Rianti lewat media online yang sering menjadi tempat curahan ehem kita, kita semua. Tidak apa-apalah. Mungkin ia juga lagi datang bulan. Datang bulan Arafah memang beneran, bukan bohongan. Kalau bohongan, memangnya Arafah wanita jadi-jadian? Ah, bisa saja salah satu dari Dua Alay alias Duo Biji, tim dari Dokter Boyke menanggapi, “Gak berasa wanita banget gitu ya...”

Arafah, memang lucu. Ditanya terkejut atau tidak waktu pertama kali datang bulan, malah jawabnya, “Gak.” Malah kamu lebih khawatir bila belum kedatangan menstruasi alias datang bulan. Duh, Duo Biji sampai senyum-senyum kaget. Pertanda, dugaan mereka salah. Memangnya zaman purba atau zaman mbah-mbah kita? Awal menstruasi dianggap momok, masalah besar, aib, diincar makhluk halus, hal yang ditakuti wanita? Justru sekarang wanita harus takut bila belum kedatangan menstruasi di umur memasuki 15 tahun. Bukan tanpa sebab, bisa saja memiliki masalah kewanitaan yang bisa dianggap serius dan membahayakan.

“Benar kan Fah, kamu pernah ditanya awal menstruasi oleh Dua Biji?” Aku tengak-tengok mencari Arafah. “Arafah dimana ya?” Aku lihat ke dalam lemari. Tidak ada juga. Kali saja ngumpet di dalam lemari mirip adegan di sinetron ketika terjadi konflik horizontal. Asal jangan sampai ngumpet ke dalam koper. Tidak muat kali.

“Ma! jaluk duit kujeeh (Ma, minta uang, kujeeh).” Teriakan ponakan disertai kata tambahan “kujeh”, kata tambahan khas blok Buntet Pesantren Cirebon. Entah, arti kujeh itu seperti apa. Mungkin kalau di Jakarta ada tamahan ‘Dong’. kata “Dong” juga tidak memiliki arti khusus.

Haduh, salah satu ponakan. Aku lagi enak-enak menulis, bikin ribut. Ribut sama neneknya. Ya jelas pada ibuku. Biasa, ribut minta uang. Tidak dapat uang dari ibunya, Ang Icha, mampir menyerang neneknya. Kebetulan ibuku sedang tidur. Hitung-hitung sama ponakan sendiri, aku kasih saja 1.000. Anak zaman sekarang, minta uang besar banget, 1.000. Coba aku waktu dulu kecil, minta uang cuma 100. Tidak lagi melawak, bukan? Ya ea lah, zaman dahulu, uang 100 mah nilainya besar. “Arafah pernah ngalamin uang 25 belum ya?” tanyaku dalam hati.

“Nganggo tuku apa? (buat beli apa?)”

“Tuku jajan (beli jajan).” Ya iya lah, beli jajan.

“Aja tuku kang beli kepangan! (Jangan beli jajan yang tidak dimakan)”

Arafah tidak lagi hadir di sini, di konterku ini. Mungkin lagi ngambek. Padahal ada yang mau aku bicarakan perihal proyek bisnisku bersama Arafah. Tetapi perasaan waktu itu dia girang ingin sering mampir ke konterku, kali saja ingin banting setir jadi tukang pulsa. “Jatuh banget, jadi tukang pulsa.” Paling tidak, bos pulsa atau bos hp.

Aku rebahkan dulu badan. Sepertinya, capek juga menulis. Perasaan tadi aku mengeluh soal kondisi yang sedang berat untuk menulis cerita untuk Arafah. Kok sudah sampai di sini? Banyak lagi, 500 kata. Yah, ini bukan lagi ngelucu kan? Ah, daripada tidak ada yang tertawa, aku ketawa-tiwi sendiri. “Hahah... anjay badai. Harusnya bukan cerita komedi Arafah, tapi cerita ngambekkan Arafah”

“Assalamualaikum, Kak beli pulsa Kak.”

Tumben bener, suara pembeli mirip suara Arafah, ngelambai kayak kaset sudah lama gak dipakai. Aku bangkit dari rebahan. Aku tengok.

“Yeaaaaa! Kekekekek. Black and white. Beli pulsa dong.” Kejutan Arafah. Padahal tidak terkejut. Ya elah, siapa yang tidak kenal suara Arafah? Tahu kan kartun upil-ipul? Tuh, suaranya mirip duo keupilan.

“Emangnya aku si Raimin Black Kribo? Diitunggu gak dateng-dateng.”

“Ih, Kak Elbuy mintanya selalu didatengin. Arafah kapan didatengin, Kak?”

“Kamu nantang nih? Emang siap dilamar sama Kakak?”

“Udah deh, gak usah lebay bombay. Maksud aku, main dong ke rumahku. Datengin rumahku. Nanti aku kasih salak Depok, biar tahu rasa sepetnya. Kakak mah gitu, pengennya didatengin mulu.”

“Aku kan yang punya cerita fiksi. Terserah aku dong. Aku belum pandai denah lokasi kamu, Dek.”

“Iya deh, terserah kakak aja. Jadi gimana, mau dilayani gak pulsanya?”

“Ya sudah, aku kirim segera. Bentar ya.” Haduh, melayani artis soal beli pulsa tidak perlu pakai repot acara penyambutan. Layani saja seandainya. Memang mereka siapa? Tetapi sepertinya jarang artis beli pulsa sembarangan. Repot benar ya jadi artis?

“Kamu harus punya konter atau kebutuhan pulsa pribadi kamu, Dek. Jangan beli pulsa sembarangan. Anggap saja kamu pejabat penting yang nomernya kudu dirahasiain. Berabeh deh, bila nomer kamu nyantol kemana-mana, gak jelas.”

“Aku sudah pikirin kak. Udah punya pulsa pribadi. Ngutang boleh dong?”

“Yaaaaah, giliran sama aku malah ngutang! Ya udah, itung-itung amal sama artis, aku kasih saja.” Artis, kalau beli pulsa, sekali beli langsung 100.000. Rugi dah gratisin Arafah!

“Makasih kakak. Jangan takut bangkrut. Allah yang jamin. Hidup ini indah bila mencari berkah. Islam itu indah.”

“Ya, ya, ya... yang sudah tampil di acara Muslim Itu Ustad Maulana, ngomongnya ampe kebawa-bawa.”

Suasana rumah sedang ramai. Momen yang tepat untuk kedatangan Arafah Rianti. Tidak perlu pakai acara berdua-duaan di ruangan konter ini. Maklum, orang pesantren, berlagak sok soleh. Lumayan kan kalau aku mendadak terkenal gara-gara Arafah, bisa jadi ustad selebritis. “Hahaha... ustad selebritis. Gak usah ngelucu.”

Aku merencanakan proyek blog yang akan dijadikan promosi untuk Arafah Rianti. Proyek blog termasuk proyek bisnis yang akan aku rintis yang melibatkan Arafah. Proyek blog juga sebagai pengamanan ketika akun media sosial Arafah di Instagram dihack orang yang tidak bertanggungjawab. Ketika ada blog, akun baru Arafah bisa dengan mudah dipromosikan kembali lewat blog. Pada intinya, berawal dari membangun blog yang memiliki trafik kunjungan melimpah, akan berdatangan berbagai keuntungan yang tentunya menguntungkan aku dan Arafah. Bagi Arafah, bisa jadi akan dengan mudah mendatangkan pengiklan alias pengusaha yang memanfaatkan endorse untuk memarketingkan usahanya. Biasanya lewat akun media sosial, dalam hal ini, Arafah menggunakan Instagram.

“Tetapi jangan ampe akun instagram aku di-hack orang lain, Kak. Duh, follower itu simbol perjuanganku. Aku mati-matian berjuang, eh orang kurang ajar nge-hack seenaknya. Kesel kan, kak?”

“Semua juga kesel. Farah Quen yang jumlah follower jauh lebih banyak, dihack orang lain. Banyak artis-artis yang kena korban tukang hack. Kalau tidak ada pengamanan, lenyap sudah follower-nya. Ya, kalau begitu, lenyap sudah pemasukan kamu lewat iklan-iklan.”

“Oh, ya, si Piyah, mana? Katanya sih lagi ngaji.”

“Kamu yang tanya, kamu yang jawab. Aneh. Bikin saja deretan pertanyaan, lalu kamu jawab sendiri atu-atu. Nanti aku yang betulin.”

“Kekekekekek. Oh, Gimana sih jelasnya, proyek blog Kakak?”

“Begini adiku yang imut tetapi bikin amit.” Aku berniat menjelaskan panjang lebar sekali lagi. Padahal aku sudah menjelaskan sedikit. Biar tahu saja, sedikit sama panjang itu beda judul. Mungkin gara-gara Arafah lagi datang bulan, jadi telat info.

Aku mengerti, bahwa Arafah memang belum mengerti. Blog miliknya sendiri memprihatinkan. Pengen aku acak-acak. Aku sih pengen membantu memberbaiki blog milik Arafah dan memarketingkannya. “Tetapi kan dia artis, banyak duit? Ngapain dibantuin? Bayar aja orang ahli, kelar urusan. Lewat aku maksudnya, hehe”. Blog bukan sekedar blog. Blog bukan sekedar curahan. Blog bisa menjadi proyek bisnis yang diurusi beberapa tim penulis dan marketing (SEO). Bila mau, blog yang sedang aku bangun bisa berubah menjadi blog yang bisa diurus tim. Namun untuk blog pertama, yang spesial membahas Arafah, aku tidak mengandalkan tim penulis dan marketing. Aku sendiri yang menulis.

Proyek blog, terlihat sederhana, hanya tampilan halaman tanpa pernak-pernik, namun potensi keuntungan bisa besar. Aku merencanakan blog yang aku bangun sebagai kendaraan para pemilik produk untuk berniat menggaet Arafah Rianti untuk meng-endorse produknya dengan target yang tepat.

Walaup rata-rata instagram wanita cantik hanya dikuasai pria sedangkan wanita nge-ndorse produk wanita. Apakah nyambung? “Tapi, Arafah kan gak cantik-cantik amat, khekhe,” kataku dalam hati. Pemilik produk pun seharusnya memikirkan follower. Tidak semua follower banyak sesuai target produk. seperti yang sudah dijelaskan, wanita cantik memiliki follower pria terbanyak. Mungkin bila aku memoles demikian, memberikan pengarahan, jauh lebih tepat endorse produk ke wanita cantik. Ciah, ujungnya bisnis wanita cantik. Ya, saran aja untuk pengiklan, pakailah Arafah sesuai pada tempatnya, hehe.”

Terlepas bagaimana iklan produk, selebram dan follower, aku merencanakan membangun blog yang memang sebagai kendaraan para pengiklan agar dengan mudah menggaet Arafah untuk endorse produk tertentu.

Penjelasan yang lumayan panjang sudah aku jelaskan ke Arafah. Rupanya, Arafah hanya bengong-bengong melulu. Maklum, bukan acara komedi.

“Artinya...”

“Duh, Kak, pusing. Udahlah, jelasinnya. Pusing, Arafah. Intinya, Kakak mau ngajak Arafah cari keuntungan dari blog? Aku gak mau ikut-ikutan. Arafah pusing. Arafah jadi artis aja lah. Enak.”

Rupanya, Arafah salah paham. Siapa yang menyuruh Arafah untuk ikut bantu proyek blog yang sedang aku bangun? Mungkin penjelasan yang cukup panjang membuat otaknya berganti haluan ke alur gawat mikir. Sepertinya, otak Arafah perlu diterapi.

“Penjelasanku gak lucu ya? Bosenin ya?”

“Khuaaakh.”

“Tuh, nguapnya manis-manis cantik.”

“Stand up dong kak.” Pengen lihat aksi kakak stand up comedy. Aku baca-baca tulisan kakak, lucoy begoy deh.”

Haduh... Kalau sudah ngomong ngelantur kayak gini, harusnya aku pulangkan saja Arafah ke orang tuanya, biar pisah sudah. Main stand up tidak semudah membalikkan telapak meja. Lupa materi, kelar urusannya.

“Khuakh..” aku balas nguap.

“Tuh, nguapnya, masinis-masinis kereta.”

“Meow...!”

“Ih, takut!”

Tidak ada bahan lagi untuk cerita lebih panjang seputar cerita Arafah Rianti. Sepertinya, pikiranku sudah mulai ingin berhenti cerita. Lelah rasanya. Sampai tidak menemukan kata unik untuk mencairkan suasana cerita, ketawa-ketiwi. Apalagi, sudah menyangkut proyek blog yang masih belum terbangun sempurna dalam menghasilkan keuntungan buat aku dan Arafah. Arafah terpusingkan, aku terbengongkan. Di tambah, cerita ini bukan kisah sulap-sulapan, tiba-tiba berganti hari dan bulan. Aku bercerita sekedar pertemuan singkat, sambil berjalan dan menemukan hal yang baru.

“Kamu hanya tiduran, gak mikir apa-apa dek. Tahu-tahu, dapet ajah keuntungan. Luamayan Dek, buat beli hp cina baru. Aku yang bekerja banting tulang buat kamu.”

“Buat istri kakak?”

Aku hanya garuk-garuk kepala ditanya seperti itu. Sampai sekarang, karena kondisiku belum pulih, aku tidak memikirkan perjodohan. Entah sampai kapan? Sedih, memang. Tetapi aku lebih banyak senang, karena aku tidak mikir keluar uang, “Dasrun, felit”. Entahlah, siapa yang akan menjadi jodohku. Aku hanya menikmati takdir cinta yang ada sekarang ini.

“Aku belum mikir jodoh, Dek. Yang pasti, kamu gak akan aku tinggalin untuk proyek ini karena... Ah, sudah lah.”

“Makasih kak. Aku paham maksud kakak. Jihai...”

“Sok tahu deh... Jangan lebay pikiranmu. Maksud aku tuh, kalau aku ninggalin kamu, blog bisnis aku mati, tau. Terus bahas apa lagi kalau bukan kamu? Aku cari makan lewat hidupmu. Ya lumayan lah, kamu nanti kecipratan, cus... cus... cus...!” layaknya dokter rumah tangga, pura-pura menyemprotkan obat anti nyamuk ke Arafah, “Nyamuknya udah gede, layak dinikahi.”

“Ada barang yang rela dibanting? Aku mau akting banting barang, biar ramai. Huuh, nyebelin.”

Jenuh juga panjang ngobrol ngacau. Kita sama-sama jenuh. “Gimana kalau aku selingkuh adik imajiner? Seru nih. Kebetulan mau ada SUCA 3, barangkali ada yang lebih baik dari Arafah. Pengen tahu, Arafah marah gak yah?” kataku dalam hati. “Hahaha, lucu juga,” ketawa lepas terlihat Arafah. Melihat ekspresi Arafah, sepertinya ia tahu isi pikiranku. Ah, biarkan saja ia menikmati pikirannya.

“Aneh, ketawa sendiri. Yuk kak, jalan.”

Arafah mencoba berkeliling rumah, menghilangkan penat yang ada. Ia mulai melihat-lihat pemandangan bagian selatan dan barat rumahku. Melihat rumah kakaku, kebunku dan kebun yang lain. Aku biarkan Arafah berjalan sendirian. Keluarga pura-pura melihat karena ini hanya fiksi saja. “Hahaha cerita fiksi pake bilang-bilang ini fiksi. Fiksi apaan nih? Fiksinisasi?”

Sepertinya, obrolan penting seperti ini tidak dianggap penting menurut Arafah. Bukan karena benar-benar tidak penting. Melainkan Arafah belum paham bahwa proyek blog adalah proyek penting. Ketidakpahaman Arafah membuat tidak ada koneksi pikiran. Boro-boro koneksi pikiran. Ya, karena tidak ada tower.

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Arafah Rianti: Datangin Aku Dong, Kak!"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar