Arafah Rianti, Pakai Acara Pengaduan

Kangen Arafah Rianti. Sudah lama ia sibuk mencari rejeki. Duh, bukan mencari ilmu ya, Dek? Estalase konter terasa kangen kehadiranmu, Dek. sampai estalase konterku teriak-teriak minta modal buat belanja kartu perdana. Di panggil-panggil sama estalase konterku, Arafah tidak muncul-muncul. Ah, estalase konterku saja yang lagi koslet. Bagaimana tidak koslet, Arafah lagi sibuk cari rejeki malah dipanggil, “Estalase bodo!” Memangnya estalase konterku mau menjamin kehidupan yang seperti apa untuk Arafah? Kehidupan ala nasib kartu perdana? Habis pulsa, ganti lagi. Arafahnya meledek lewat media sosial, “Kasihan deh estalase konter, Kakak! Sono tuh, selingkuh ama adek imajiner yang baru. Cari tuh sana yang lebih baik dari aku kalo SUCA 3 udah mulai. Terserah, aku gak peduli. Emang aku pikirin? Weeek!”


Ledekan untuk estalase konter, kok menyerempet-nyerempet ke aku? Arafah, kenapa kamu, Dek? “Cembukur nih, Dek? Maafin estalasi konterku ya...” Aku pura-pura tidak mengerti kalau Arafah lagi menyindir aku. Tidak masalah aku pura-pura. Karena aku juga pura-pura ingin bermain-main selingkuhan dengan adik imajiner yang baru ketika SUCA 3 dimulai. Barangkali saja di SUCA 3 ada yang lebih baik, bisa aku jadikan target selingkuhan. Tetapi aku hanya pura-pura saja. Tetapi kepura-puraanku ditanggapi serius oleh Arafah. Tahu darimana? Aku jadi paham, seorang cowok tidak boleh bermain-main rasa dengan cewek walaupun itu pura-pura. Karena hati cewek memang lebih sensitif dari cowok.

“Apaan? hhehh. Udah deh, gak usah komunikasi lagi!”

“Darrrr!” ponselku sampai meledak kena marahnya Arafah. Rupanya, ada dialog marah juga di awal tulisan. Aku mau berkata apa untuk Arafah? Ini sih bukan cerita komedi tetapi cerita ngambekan Arafah Rianti. Sory, Arafah, cuma becanda. Namanya juga cerita komedi, jadi harus ada becandanya. Termasuk, candaan bersama selingkuhan adik imajiner baru. Ah, nanti kamu marah lagi.

Aku baru mengerti, sesibuk apapun Arafah dengan kontrak-kontrak yang berjejeran, ia menyempatkan membaca tulisanku yang ada di blog. Blog yang Arafah baca adalah salah satu dari proyek blog untuk sedikit membantu Arafah, entah menghasilkan atau tidak. Dalam blog, aku menuliskan cerita mengenai selingkuh dengan adik imajiner baru di SUCA 3 kalau ada yang menyamakan atau lebih baik dari Arafah. Cuma kalimatku itu mengumpet dibalik batu. Apa mungkin batunya hilang sampai gajah pun datang? Harusnya Arafah tidak melihat. Haduh, pakai acara dilihat segala. Ya sudah, kejatuhan batu, “Plak!”

“Cemburu nih? Maafin estalase konterku ya...” Mana ada cewek yang mau maafin sama cowok yang tidak merasa bersalah! Titik! Aku sih, o’on ditunjukkan ke Arafah. Harusnya jujur saja, aku katakan kalau Arafah itu lagi menyindir aku. Pakai acara pura-pura segala. Tuh, Arafah, jangan mudah percaya sama cowok termasuk sama aku.

Tidak ada balasan lagi sampai berhari-hari. Entah sudah berapa hari. Hari-hari yang sudah lewat. Sekedar cerita yang terdahulu seputar marahnya Arafah akibat keusilanku. Jadi, bukan disulap menjadi berhari-hari. Sory saja, aku bukan tukang sulap, tetapi tukang tipu. Wah, penipunya protes, “Penyulap itu penipu!” Lengkap kan penjelasannya? Keren kan? Fiksinisasi dong. Wah, itu orang penipu!

“Aku kangen, Arafah!” Aku terpaksa diem. Mulutku terkunci, tanganku diborgol, layar ponsel tidak mau bangun. Nyatanya, ponselku rusak. Harusnya Arafah tanggungjawab atas rusaknya ponselku.

Aku mikir terdalam. Rasa cemburu bukan milik orang yang sedang menjalin asmara saja, dalam arti hubungan kekasih. Rasa cemburu bisa hadir pada orang yang sedang bersahabatan, modus kakak-adikan dan yang lainnya. Hal ini karena logikanya sudah memiliki rasa cinta di hati dan ada rasa memiliki juga. Bila Arafah sudah seperti itu, cemburu, tidak ada yang lain kalau Arafah pun sebenarnya menaruh hati dan merasa memilikiku. Ups... jangan salah sangka dulu ya, para fans. Maksudku menaruh hati dan merasa memilikiku sebagai kakak imajinernya, kakak yang baik hati dan pemurah lagi, sampai boleh hutang pulsa bahkan tidak perlu bayar hutang kalau buat Arafah.

“Ya, sebenarnya aku juga cemburu, Arafah. Cuma cemburuku cuma gigitan nyamuk, bikin gatel. Cemburu kamu kayak gigitan apa, Dek?” Bicara sendiri saja. Arafah belum juga membuka hati untuk berkomunikasi. Kesel sih. Cuma ya, bagaimana?

Aku putar ulang vidio-vidio tampilan Arafah ketika mengikuti SUCA 2. Pikiran dan perasaanku yang waktu di acara SUCA 2 hadir lagi di sekarang ini. Oh, dadaku terasa bergetar mendengar celotehan Arafah waktu di acara SUCA 2. “Boleh ya, Arafah, sebut SUCA 2 itu acara tv mana?” kataku dalam hati. “Boleh.” Aku jawab sendiri. Ya, SUCA 2 itu acara di tv Indosiar yang menampilkan sosok unik Arafah Rianti. Haduh, ribet bener cuma ngomong “Indosiar” kalau sudah berurusan sama artis yang sudah nyaplok berbagai kontrak di banyak tv. “Jangan lupa, Dek, tv kandung kamu.”

Perutku laper. Rupanya, pengen beli mi instan. Biasa aku beli mi dan yang lainnya di warung kakaku, Mba Icha atau sesuai sebutan keseharian adik-adiknya adalah Ang Yayi (rubahan dari kata Kang Bayi). Aku berjalan santai. Kebetulan sedang gerimis namun tidak terlalu membasahi baju. Dari jauh, aku mendengar suara yang tidak asing lagi. “Ah, tidak mungkin dia lah.” Aku heran saja. Padahal sudah lama tidak berkomunikasi. Ya, tidak lama banget sih. Pas sampai di pintu rumah kakaku, suara yang aku kenal makin jelas. Idih, ternyata.

“Arafah? Idih, rupanya ada di sini. Napa kamu lengser tempat? Ya bukan salah juga. Tetapi kan aku gak tahu kalau kamu ternyata ada di sini...”

“Kakak jahat! Aku mau curhat ama Mba Icha soal kakak. Biarin deh.”

Wah. Ini ceritanya lagi sok-sokan kenal nih? Rupanya Arafah langsung mampir ke rumah Mba Icha dan sedang sok kenal dengannya. Baru kenal, sudah mau main curhat-curhatan. Memang dia datangnya dari mana nih? Padahal, aku tidak manggil Arafah. Dari kendaraan imporan mi instan kali ya? Aduh. Kenapa aku tidak tahu kalau ada Arafah sudah berdekatan dengan kakaku, Mba Icha? Ya sudah, adu obrolan bisa seru saja nih. Arafah kalau bicara begitu, kakaku kalau bicara begitu juga. Ya, tahu sendiri, Arafah kalau sudah berbicara suara kenceng, kuping yang dengernya kayak pengen pecah. Ditambah kakaku yang heboh kalau ngobrol, klop dah. Duet maut.

“Silahkan, sana cari adik imajiner baru. Seret saja aja kalau ia gak mau. Biarin. Aku sudah punya kakak beneran, bukan imajiner kayak kakak. Ini kakak angkat aku, Mba Icha. Ka Elbuy mah masih status imajiner khalayan alias palsu!”

Artis kalau lagi berbicara sampai menguasai masyarakat ya? Perasaan tipe Arafah bukan seperti ini. Mengapa mendadak sok kenal begini, jutek begini, memuakkan begini? Heran. Apa memang sifatnya seperti ini? Orang seperti ini biasanya bakal ditendang sama kakaku. Tapi heran, malah kakaku senyum-senyum saja. Alah, aku tahu, namanya juga bersama artis, nyerempet-nyerempet, eh pengen sorotan kamera. Kakaku rupanya pengen nampang bersama artis di depan kamera. Sampai model orang sok kenal begini, diberi senyum. Padahal, ngik ngik. Ingat, anak sudah 3. Aku belum, ngik juga.

“Tuh Mba, lihat kak Elbuy. Aku tahu, Kak Elbuy mau ngomong jelekkan?” Sorot mata Arafah berbeda. tidak seperti biasanya. Apakah benar kalau dia benar-benar cemburu?

“Hallah, cemen!”

Aku cuma menatap Arafah. Eh, lupa, menatap mi instan. Pengen ketawa, takut ketahuan Arafah. Bingung mau pilih mi instan yang seperti apa? Kali saja ada mi instan rasa ngambekan Arafah Rianti. Tetapi beneran sih, aku menatap Arafah juga. Dikit. Takut dicolok. Aku ikut kesel juga. Di sini bukan lagi cerita komedi, tetapi cerita ngambekan Arafah. Bukan kenapa-kenapa. Aku cuma menyenggol hati Arafah sedikit saja, marahnya bukan mainan. Memangnya dia secemburu apa sih? Belum juga selingkuh. Eh... Memangnya aku mau selingkuh?

Aku pamerin ke Arafah, “Mi instan rasa ngambekan Arafah Rianti”. Aku lari, “haha...”

“Nyebelin!”

“Korban cowok selingkuhan nih! Kamu sakit hati ama cowok-cowok mantan itu?! Udah nyakitin, masih saja dikangenen. Kangen bau keteknya?!” Dari jauh aku meledek Arafah!

“Udah, sabar saja. Jangan kaget kalau di keluarga saya memang sering bersitegang gini. Sudah biasa. Ah, andai beneran Arafah jadi adik ipar saya, haduh, sabar saja ya, Arafah. Emang sama Ubab eh Elbuy, ada hubungan apa?” Dari jauh, aku mendengar ucapan Mba Icha menasehati Arafah. Muncul kata Ubab yang biasa sebagai kata panggilan. Bisa juga sih, panggil Ubay. Elbuy mah nama sok keren. Tumben bener nasehatnya bener. Pakai tanya lagi, ada hubungan apa? Sudah tahu, kalau kita ini lagi hubungan Tomas And Jely. Tidak usah promosi kartun.

“Cuma hubungan kakak-adik imajiner, Mba. Masak aku cuma dianggap imajiner? Sebel kan? Emang Kak Elbuy gimana sih, Mba?”

“Idih, kok tanya? Mba kira udah saling kenal? Udah beberapa kali mampir ke sini, malah ampe lupa mampir ke rumah Mba, eh tanya ke Mba. Ya gitu, adiku itu. Dibilang baik, ya enggak. Tapi dibilang tidak baik, ya enggak juga.”

Huh, aku menari-nari. Eh salah. Maksudnya mi instan menari-nari saat aku udek. Rupanya hampir matang. Aku masukkin ke dalam mangkok. Aku gerus sambal biar terasa pedas, hilang emosi. “Tambah emosi kali kalau makan pedas”. Aku makan. Lebih baik makan di dapur saja. Di ruang tengah ada Arafah dan Mba Icha. Kalau di ruang tamu, adanya barang dagangan. Nanti dikira penjual mi instan. Aku juga sedang kesel lihat muka Arafah.

Aku denger ucapan mereka berdua. Aku tiru saja beberapa ucapan yang keluar dari mulut mereka berdua sambil mengunyah mi instan di mulut.

“Marahan?”

“Iya.”

“Bukannya lembut, romantis, jarang marah?”

“Romantis apaan? Makanya, kenalan itu sama orang sekelilingnya juga.”

“Tulisannnya bagus, lucu, aku ampe terharu kalau baca puisinya.”

“Kenalan itu bukan lewat tulisan, tetapi sama orang wujud asli dan orang di sekelilingnya juga. Banyak orang yang berhubungan, katakanlah hubungan kekasih, tetapi saling kenalnya hanya pada kekasihnya saja. Giliran ketahuan sifat aslinya, kecewa berat. Salah mereka sendiri.”

“Terus, suka bawa-bawa cewek ke sini gak?”

“Bawa cewek apaan? Dari kecil sampai besar, tidak pernah bawa cewek ke sini. Mba heran, kenapa langsung bisa bawa artis kelas Nasional? Keluarga juga heran, kok bisa? Jadi, cuma Arafah yang ampe dibawa ke sini. Lagi pula, ini lingkungan pesantren jadi jarang untuk dijadikan pergaulan bebas.”

“Uhuhuhu... aku batuk pas denger, “Jarang dijadikan pergaulan bebas.” Iya sih, betul, tetapi dulu. Sekarang? Alhamdulillah ... pergaulan bebas online.

“Haduh, yang mau disorot kamera, ngomongnya mendadak ustadzah.” Dari jauh aku berkata nyindir kakaku.

“Lah, aku cewek. Berarti aku salah dong sering mampir?”

“Cuma beberapa kali. Itu pun bukan bentuk bermain tetapi bertamu. Yang jadi persoalan adalah bermain biasa, ngobrol ngalor-ngidul. Bertamu berarti ada tujuan penting. Kamu juga gak mungkin kan asal main?”

“Paling tidak, mainnya di desa sebelah atau lebih jauh,” kataku nyindir anak muda lingkungan pesantren.

Hal yang harus dipahami untuk orang yang belum tahu adalah jangan mengira bahwa orang-orang yang ada di area pesantren sudah dipastikan banyak yang soleh. Ini zaman akhir cuy. Kalau dikatakan area pesantren sebagai sentral pendidikan agama, memang betul. Tapi jangan mengira juga banyak yang pintar agama. Ya, sekilas info saja.

“Jadi beneran, Kak Elbuy gak pernah bawa cewek ke sini? Jadi gak mungkin juga selingkuh?”

“Bahkan jarang banget bergaul. Sekarang malah jadi tukang jaga konter pulsa milik adikku juga, Andi. Makanya namanya Andi Cellular. Boro-boro selingkuh. Haha... Mba pengen ketawa kalau adik Mba selingkuh.”

“Berarti aku salah?”

“Salah, salak Depok!” Aku bergegas menjawab biar tahu kalau aku tidak ada keseriusan buat selingkuh. Aku cuma memilih Arafah saja, titik. Ya, kalau milih cewek lain lagi walaupun sekedar adik imajiner, aku repot lagi dong. Blog sudah berstampel “Belajar Menulis Spesial Arafah Rianti”, mana mungkin dirubah lagi?

“Salah gimana?”

“Eh, nggak! Anak-anak Mba Icha pada kemana?”

“Lagi pada main di rumah neneknya.”

Lega juga sih sebenarnya. Aku tidak perlu capek-capek berdebat, mengasih seribu alasan. Sudah kelar permasalahan. Permasalahannya apa sih? Ya, pura-pura saja, kalau aku sedang mengalami masalah besar bersama Arafah. Biar seru. Tapi, dipikir-pikir, tidak seru juga. Haduh, sulit sekali dapat punch line-nya.

“Kak Elbuy, petak umpet yuk” kepala Arafah nongol sedikit di samping pintu dapur mirip kura-kura lagi main petak umpet.

“Uh, kura-kura kurung tempurung. Pitak umpet kale...” Aku pura-pura jutek.

“Pitak umpet apaan ya?”

“Pala kamu pitakan, belang akibat kena luka kulit masa kecil alias digigit serangga. Tapi pitak kamu ditutupi rambut, pake kerudung lagi, gak keliatan.”

“Dih, yang lagi marah.

“Ada cabai satu ember gak? Pengen banget makan cabai satu ember, biar panas seluruh tubuh sekalian.”

“Ya sudah, aku pergi saja. Gak ada tanggepan perbaikan nih? Aku minta maaf, Kak?”

“Abisin mi instan aku dulu dong... Ini makanan sisa yang terenak. Barokah, halal dan gratis.”

“Gak mau! Ih!

“Hahaha...” sambil mikir, bikin kalimat yang seperti apa yang lucu. Ah Mentok. Aku lempar pelan sendok, “Wuss...”

“Yeh... ”

“Wuss...” Arafah lempar balik sendok ke arahku.

“Ya sudah, sana, lanjutin ngobrol hebohnya. Aku udah maafin kamu sejak hari raya Fir’aun engklek”. Engklek itu bisa dikatakan permainan tapak gunung. Intinya begitu.

Masih tetep garuk-garuk kepala. Kepala aku lagi tidak bisa keluar kata-kata lucu buat Arafah. “Duh, becandanya begini amat ya?” Ada kamera tidak? Aku lihat-lihat, barangkali lagi masuk acara tv ‘Kenna Tipu’. Untung tidak ada kamera. Kalau ada, bisa-bisa aku ditertawakan penonton. Gila, orang tidak lucu malah ditertawakan. Dunia aneh.

Ya sudah selesai. Bubar.

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Arafah Rianti, Pakai Acara Pengaduan"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar