Arafah, Suatu Saat Kita Harus Berpisah

Perkenalan kita membuat kesan yang berbeda, antara pekerja online dan pekerja keartisan, antara sarjana dan mahasiswa, antara tua dan muda dan yang lainnya. Arafah bagiku, hanya sosok Arafah yang bekerja dengan karya di dunia seni yang kebetulan diklaim sebagai artis. Namun bukan berarti aku hormat pada keartisan Arafah. “Tidak!” Apa bedanya artis dengan pekerja seni lainnya? bila dihormati, hormati semua. Banyak orang merasa mengangung-agungkan artis sampai si artis merasa seakan terhormat, jual mahal dengan tampang. Padahal apa? Karya apa yang dihadirkan? Memalukan! Tetapi terserah bagi pengidola. Yang jelas, sorot kamera bukan menyulap si artis menjadi terhormat, mulia, barang mahal, simbol kesuksesan.


Aku masih teringat, sudah lama aku mengenal Arafah lewat karya-karyanya walaupun aku merindukan hal yang lebih mengenal karya Arafah. Sampai aku memiliki perasaan yang berbeda pada Arafah. Aku hormat pada karya dan sosok Arafah, bukan keartisan Arafah. Aku mengagumi Arafah pada saat dia tampil di acara SUCA 2 Indosiar. Waktu itu, hanya aku yang mengenal Arafah, mengorek-ngorek Arafah, tetapi bukan kotoran kupingnya. Arafah belum mengenalku. Berbulan-bulan, aku menuliskan kisah Arafah. Sampai perasaanku terasa benar-benar berbeda tetapi aku mencoba menangkalnya. Cinta hadir karena terbiasa dengan kehidupan seseorang, mungkin hal yang tepat untukku.

Arafah belum mengenalku. Tetapi cerita fiksilah yang mempertemukan kita, yang membuat Arafah mengenalku. Sepertinya begitu, mempertimbangkan saja, pura-pura. Perkenalan sepertinya makin tertanam di tanah kehidupan, sedikit campuran pupuk kandang. Aku pernah cemburu pada Arafah, Arafah pun seperti itu. Aku pernah sebel sama Arafah, dia pun pernah. Kita pernah tidak pernah tegur sapa, menyiksa. Lebih tragis, Arafah pernah mengunjungi rumahku, eh malah Arafah pernah datang tak diundang, pulang tak diantar. Jalangkung se’, hayya. Sory, aku tidak pernah menyapa rumah dan keluargamu. Rumah dan keluarga Arafah masih berstatus bahan baku fiksi yang belum matang, masing remang-remang. “Di Depok kagak ada lampu ya?”

Arafah, sejenak aku ingin menyendiri. Suatu saat pun kita akan berpisah dengan variasi perpisahannya. Bisa saja aku lebih awal meninggalkan dunia daripada Arafah. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, pasti kita akan berpisah. Aku tidak kuasa membayangkan cinta dan perpisahan. ”Aku takut berpisah karena konflik cinta.” Bukan pisah hubungan tetapi tiba-tiba pisah menghilang, kena om jin.

Betapa aku mencintai Arafah selayaknya sebagai kakak imajinernya, itu hanya kesia-siaan hidup. Apalah arti cinta, oh adik inspirasi imajinasi? Menyendiriku untuk mempersiapkan kita menghadapi perpisahan, “Hiks, hiks, hiks...” aku menangis, ah. Tetapi aku sesek sih kalau nangsis, “Ah gak jadi nangis ah....” Arafah tidak perlu tahu genangan air mata duka laraku agar dia tidak menggenangkan air mata duka lara juga ketika suatu saat kita berpisah. Aku ingin Arafah bahagia walaupun bisa jadi air matanya meleleh.

“Terkadang, cerita melow membuat pembaca nangis. Ada yang nagis gak sih? Nangis dong...”

Aku ingin, Arafah bisa mudah lepas, tanpa mengharapkanku walau sekedar berbagi manfaat atau menyelesaikan masalah hidup. Hal yang pasti, aku tidak mengharapkan kehidupan Arafah, sekalipun cintaku padanya menggantung di angkasa, yang bisa jatuh kapan saja, dengan rasa yang menyakitkan.

Di tambah, aku tahu dengan ungkapan kepedihan seputar masa lalu Arafah walaupun ia tidak pernah cerita. Arafah torehkan sendiri di dalam media mayanya, Arafahrianty.blogspot.co.id,
Tapi aku sangat kecewa terhadap diriku sendiri, yang menaruh harapan besar terhadap dirimu. Padahal aku tau perihnya sebuah pengharapan. Bahkan kita tau sebuah pengharapan yang berakhir jika indah maka akan indah banget, atau sebaliknya.

Arafah pun tahu bahwa kita punya kesamaan di beberapa hal. Banyak kesamaan. Mulai dari fakultas perkuliahan, hobi, tradisi keagamaan, karakter dan sebagainya. Salah satunya sama-sama pernah ikut teater. Dikira, aku tidak pernah ikut organisasi drama, teater? Arafah sampai terkejut mengetahui bahwa kita memang banyak kesamaan. “Kamu sudah tahu kan, Arafah? Yah, gak jawab. Oh, lagi ngomong sendiri.”. Aku pernah mengikuti itu seperti halnya kamu walaupun aku merasa terjebak. Begini ceritanya yang aku tuangkan dalam media sosial yang lain milikku,
Aku ingat sekali. Aku pernah naksir pada cewek adik kelas di MAN Buntet Pesantren yang kebetulan ikut teater. Ia juga ikut Pramuka. Pas aku pura-pura jadi anggota, padahal terjebak, adik kelas yang aku cari ternyata hilang setelah beberapa kali aku pura-pura aktif. Hantu? Ya elah, teater apa’an sih”? Kok gak belajar? Paling tidak belajar menulis naskah cerita, gitu. Malu rasanya, pelanga-pelongo, gak ada hasil ilmu dan cewek idaman. Tetapi, sekarang jago menulis naskah cerita, ehem. Makasih jebakannya, hantu sekolah.

Bisanya, kalau sudah banyak kesamaan bahkan sudah dilapisi saling cinta, pertanda akan jodoh. “Hahay,” aku tertawa. “Hiks,” Eh nangis kemudian. Aku tidak memusingkan persoalan jodoh. Cintaku pada Arafah hanya sebatas kenikmatan dari Tuhan untukku. Karena banyak kesamaan itulah, aku mencoba berusaha untuk bersikap biasa dalam obrolan walaupun yang diobrolkan hal yang bermanfaat, memecahkan masalah. Aku tahu, ujungnya bisa menyakitkan bila ternyata tidak berjodoh. “Ternyata, kakak-adikan cuma modus”. Lebih baik benar-benar bersikap biasa. Arti bersikap biasa adalah ngobrol sesuai standar profesional kerja, bisnis atau kepentingan lain yang tidak menjurus pada obrolan kedekatan. Aku tidak mau menjadi teman curhat Arafah, begitu juga Arafah padaku.

“Berat aku berkata yang sebenarnya. Gak nanggepin obrolanmu, cara yang baik, Dek. Aku tahu, kekhawatiran perasaanmu atas masa lalumu.”

Oh, Arafah, adik yang ada di ruang hayalan. Cerita ini, menceritakan kerahasiaan rencanaku. Aku tidak akan menampilkan tulisanku di blog yang aku persembahkan untukmu. “Faktanya, ditampilin juga, hahaha... ketawa ah.” Aku tak ingin kamu tahu, bagaimana aku bersikap untuk siap berpisah denganmu di suatu saat nanti. Berat bagiku berpisah dengan adik imajinarku yang aku cintai bila ternyata dipaksa untuk pisah, tanpa jejak, di saat trauma masa lalu dan cinta berpadu menghimpit kalbu, sesak di dada, tak bisa berdaya menjalani hidup.

“Kenapa menghubungi aku terus? Masak kamu gak ngerasaain penyendirianku?” Berjejeran SMS, PM online dan miscol dari Arafah. Aku tidak pernah menanggapi itu. Perasaan terasa berat mendiamkan Arafah, plus gatel di area jantungku. Tetapi, apakah Arafah sadar diri? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang asing dari dunia online yang kebetulan berkenalan dengannya. Apakah Arafah tidak sadar, aku bisa meninggalkannya suatu saat dengan mudah tanpa jejak. “Pindahin saja rumahku ke Depok, beres. Kamu kira, aku masih berada di Cirebon, padahal memata-matai kamu dari Depok, haha...”

“Tega! Kemana aja sih, Kak? Gak mau hubungan lagi sama aku? Oke! Kita selesai mulai sekarang, bila itu yang kakak mau. Apa ini yang kakak mau? Yang pasti, itu nyakitin, buka luka lamaku, bila kakak diam lantas pergi gak ninggalin kabar sedikit pun. Seolah gak pernah punya salah!”

Kita sama-sama mempunyai perasaan yang sama. Semua orang bisa akan memiliki perasaan yang sama. Ya, sama-sama tersakiti bila sosok yang dicintai dan yang diharapkan tiba-tiba menghilang tanpa sebab. “Aku merasakan yang sama sepertimu, Arafah,” kataku dalam hati.

Sekarang-sekarang ini, hatiku sakit, Arafah. Bukan sakit sih, tetapi gatel di area dada, tepatnya di area jantung sampai berurai air mata ketika membayang nasibku dan Arafah di masa depan. Cinta memang hadir bukan untuk menyakitkan tetapi pikiran selalu mengajak untuk menyakiti hati. Perasaanku menggelembung bila aku dikuasai pikiran dalam memikirkanmu.

Arafah adalah adik imajinerku tetapi aku tahu, dia adalah lawan jenisku yang di luar nasab keluargaku. Hasrat memiliki bisa terjadi tetapi aku tidak akan melakukan ini spesial untuk Arafah. Kenikmatan cinta tidak selalu bisa dengan hasrat memiliki sebagai ‘kekasih’ bahkan sering hasratnya mengurangi kenikmatan. Aku tidak bisa menikmati bila sampai berusaha memiliki Arafah, mengikat dalam jalinan kekasih. “Aku tidak bisa dan semoga kamu pun tidak bisa menikmati cinta bila ada harapan ikatan kekasih.” Aku teringat sajakku mengenai hal ini.

Aku dan kamu berjauhan keadaan.
Jangan biarkan kamu mendekatiku dengan segala keadaan.
Biarkan aku menjauhimu dengan segala keadaan.
Karena aku percaya, Tuhan tidak terpaksa dan tidak bisa dipaksakan menentukan keadaan.

Sajakku bukan bermaksud pelarangan atau pembolehan. Hanya saja aku meyakini, sekalipun aku melarang Arafah berhubungan denganku apapun jenisnya, tetap saja, Tuhan lah yang menentukan tanpa terpaksa dan tidak bisa dipaksakan menentukan keadaan.

“Apakah kamu gak tahu, aku ngumpet terus, gak bisa ngebendung air mata ini, Arafah! Aku tidak sanggup menggerakkan jari hanya ingin mengucapkan ‘percayalah padaku’.”

Air mataku masih saja mengalir. Terpaksa aku gelapkan kamar. Mataku bengkak. Bahkan sampai badan lemas tak mampu bergerak. Beban perasaan membesar seiring ancaman Arafah. Malu rasanya, sakit perasaan bersama permasalahan raga menghasilkan cairan dari mata. Apakah ini air mata buaya? Ah bukan. Buayanya sudah dijadikan lagu Bunda Inul, buaya buntung. Ah, sudah lah.

Terlalu larut dalam sedih, mataku mengantuk. Ada ya sedih sampai menghasilkan kantuk? Enak banget, buat yang lagi sakit hati karena cinta. “Huft... lupakan.”

Arafah tidak mengirimkan pesan lagi. Masih pesan yang kemaren. Maafkan aku Arafah, aku tidak bisa memaksa tangan untuk mengirimkan pesan balasan untukmu. Tercayalah, sekarang aku mau membuka kembali obrolan setelah berhari-hari mendiamkan Arafah untuk memperjelas masalah.

“Maaf, aku mendiamkanmu. Sengaja. Bukan bermaksud untuk berpisah. Cuma untuk menyiapkan mental perpisahan karena suatu saat kita harus berpisah dan pasti berpisah. Kita ini siapa sih? Teman online kan? Nggak perlu ngotot, Arafah.”

“Mental berpisah gimana? Ngotot gimana? Kakak bilang kita hanya teman online? Kakak jangan asal ngomong. Lagi-lagi kakak bikin aku kesel!”

“Motifnya apa membutuhkanku? Bukankan kita hanya teman online? Adik-kakak imajinar apa? Gak ada artinya, Dek.”

“Kakak sendiri gimana sampai begitu tega bersikap seperti yang udah dilakuin sekarang? Kalau bersikap biasa seputar adik-kakak imajiner, lantas kenapa harus kata teman online? Tanda kalo kakak benar-benar nge-PHP-in aku. Maksudnya apa aku dianggap adik bahkan adik imajiner? Bukankan ada makna spesial? Kalau spesial, itu artinya kakak sendiri yang bikin ulah! Bukan aku!”

“Aku mencintaimu, Arafah!!! Apakah harus selamanya cuma adik-kakak imajiner di saat perasaan ini selalu tertindih seiring kedekatan kita? Memang kita selalu memberikan komunikasi yang bermanfaat. Tetapi makna kedekatan berbalut perasaan membuatku tidak berdaya. Sampai kapan kita begini?! Sekalian saja teman onlie, biar kelar sudah!”

“Aku sudah bisa menebak, kalau kakak mencintaiku. Kenapa memendamnya sampai harus konflik kayak gini?”

“Buat apa ngatain cinta ama kamu, Arafah? Buat apa? Kamu sendiri gimana? Mendam cinta juga kan? Aku tahu tapi aku pura-pura gak tahu. Ngaku saja”

“Pengen nangis, Kak!”

“Nangis saja, biar banjir air mata kamu.”

“Aku gak bisa berenang.”

“Ngapung, kayak kodok.”

“Ih, orang lagi sedih kok malah diledekin. Ya sudah dah, aku nangis beneran. Bajir ya udah, masa bodo. Gak urusin pada tengelam, ngapung kayak kodok.”

“Nah, gitu dong. Nangis, biar pembaca cerita ini ikut nangis. Seruuuu!”

“Jujur, aku juga mencintai kakak. Tetapi aku tetap rela dan hanya ingin berstatus kakak-adik. Aku meniru ketulusan cinta kakak. Aku percaya pada sajak kakak bahwa Tuhan tidak bisa dipaksa dan terpaksa. Tetapi aku bingung, bagaimana menahan cinta agar tetap berperasaan stabil sebagaimana adik ke kakaknya? Aku gak enak ngapa-ngapain, lemes, sedih banget waktu kakak gak nanggapin pesanku, teleponku. Bila udah seperti ini, pantaskah cuma kakak-adik? Tidak mungkin kan kak?”

Aku diamkan sebentar. Mengambl nafas. perasaan tidak tenang. Aku tidak bisa berpuat apa-apa. Hanya ada dua jawaban: menikahi Arafah atau berpisah. Tapi kedua-duanya adalah hal yang mustahil aku lakukan. Mustahil bila aku melakukan sekarang. Lagi pula, aku tetap pada pendirian, tidak akan menikahi Arafah sekalipun mencintai Arafah sampai menggunung tinggi menyentuh atap langit. Tetapi aku juga tidak sanggup menahan cinta ini. Rasanya harus berpisah, tetapi berpisah adalah langkah yang sangat konyol.

“Perasaan, kita baru kenal deh, belum juga satu tahun. Kok kamu sudah berperasaan gitu? hayoo... gombal ya???”

Gawat. Arafah telepon aku, “Apa! Kita baru kenal sebentar? Gak salah denger? Tapi, iya juga sih. Ya udah, kakak udah aku gombalin. Bila itu yang kakak mau, terserah saja. puas-puasin saja dengan sangkaan kakak. Aku berusaha untuk menjauh biar aku bisa menjadi yang kakak inginkan. Makasih saja, udah menjadi contoh bagaimana menikmati cinta.”

“Stop! Kita sudah terlalu jauh bicara ngelantur. Arafah, mari sama-sama redakan emosional cinta kita. Aku percaya pada cintamu dan kamu juga percaya pada cintaku. Aku mohon, mulai hari ini, kita bersikap profesional bergaul saja untuk kepentingan kerja, bisnis atau kegiatan yang penting lainnya. bukan pergaulan berbalut kedetakan adik-kakak. Itu solusi terbaik. Kalo tidak, aku ingin menikahimu atau berpisah denganmu.”

“Nikahi saja aku, kalau kakak mau. Kenapa susah sih? Kenapa harus ada konflik dulu baru kakak mengajakku nikah?”

“Gila! Kamu berani berkata begitu? Aneh! Kita berbeda umur 13 tahun, berbeda tempat yang jauh, kita berbeda profesi dan kita masih belum yakin. Sudah, jangan ada kata nikah dan pisah, titik!”

“Habis gimana? Aku juga bingung. Namun yang pasti, aku rela saja. Dari pada sering konflik gara-gara cinta atau berpisah. Toh, tidak ada yang menjadi halangan kan? Berjarak 13 tahun bukan perbedaan yang terlalu jauh. Kita masih sama-sama muda, kakak pun pekerja online. Perbedaan justru langkah bagus untuk saling melengkapi.”

Ya Tuhan. Berat sekali untuk melangkah yang dianggap mudah ini. Arafah sudah memudahkan langkah, mengapa aku masih berusaha mempesulit? Itukan jawaban yang bisa saja aku harapkan. Ketika sudah berkata seperti itu, harusnya aku melangkah memanfaatkannya. Tetapi, justru itulah beban. Memang aku tidak bisa memaksa takdir Tuhan tetapi bila sudah ada takdir kemudahan untuk berjodoh, mengapa aku membiarkannnya hilang? Pengen sekali menjerit kencang! “Ah!” tetapi aku lemas duluan.

“Tidak semudah itu.”

Bukankah kakak sudah layak menikah? Tunggu apa lagi? Kalau kakak menganggap aku adik, ya sudah, jangan menikahi aku tetapi tetap kakak harus menikah dengan orang lain. Orang lain bisa meredam gejolak cinta kakak ke aku agar kita tetap berhubungan seperti biasa sebagai kakak-adik imajiner.

“Tidak semudah itu. Bila aku menyuruh kamu menikahi orang lain, apakah kamu sanggup?”

“Jangan! Ih, nyebelin! Udah deh, gak nikahin aku juga gak apa-apa. Pintu udah aku tutup lagi. Enak aja, cewek yang ngawali. Lagi pula, aku belum siap menikah bila harus nyuruh sama orang lain.”

“Ya sudah. Kita kembali ke rencana kita. Profesional kerja atau yang lebih bersifat obrolan formal. Suatu saat, kamu bisa menikahi orang lain. Aku tetap mencintaimu sebagai adik imajinerku, sampai kapanpun.”

“Kak, kok gitu jawabannya? Tapi, ya sudah. Aku rela banget kak. Aku jadi paham, bahwa cinta memang netral, tanpa dicampuri harapan pun bisa menikmati cinta. Tuhan tidak terpaksa dan tidak bisa dipaksakan. Bila jodoh, toh, nanti juga datang sendri kan? Tapi, ada apa sih sebenarnya sama kakak? Kok berat banget menikah? Ingat kak, umur sudah 31 tahun. atau jangan-jangan punya cewek lain atau sebenarnya kakak tuh sudah menikah?”

Hampir saja ucapan Arafah terpeleset ke arah yang bisa jadi dia menduganya. Tetapi tidak. Yang jelas, aku normal. Kalau sudah berbicara normal, tidak perlu panjang menjelaskan. Ada KPI memantau ceritaku. Namun menikah bukan urusan normal saja. Tetapi butuh energi untuk siap berumah tangga. Sedangkan aku bagaimana? Membawa diriku saja tidak sanggup. Bagaimana mau membawa sepeda, eh Arafah, eh sepeda juga? Bisa kelabakan. Akhirnya, hanya sebagai penjaga konter. Itukah cowok idaman Arafah? Bila Arafah tahu kondisiku, mungkin ia rela menikah adalah perbuatan yang paling dianggap konyol? Benarkah demikian?

“Ah!!!” Terbelalak! Mimpi sialan. Mana mungkin, Arafah rela mau menikah bersama aku? Lebih gila lagi, mengajak duluan dengan sukarela. “Ya amplop, jatuhin uang gope aja deh buat dilempar ke mimpiku.”

Gara-gara bermimpi seperti itu, badanku sampai berkeringat, capek rasanya mengetik via mimpi. Berasa melayang-layang sambil mengetik. Pindah posisi dengan cepat seperti om jin. Biasanya seperti itu, melayang-layang, menghilang dari tempat ke tempat bila aktifitas lewat mimpi. Pas bangun, sudah sesak saja bercampur air dan bau keringet. Apalagi perasaanku memang lagi bermasalah. Bukan karena aku memendam cinta, dalam arti belum mengungkapkan ke Arafah seputar cintaku, tetapi karena memang seperti inilah yang aku rasakan bila mencintai cewek. Ada masalah kesehatan. Apalagi cinta yang dihimpit ketidakberdayaan seperti ini. Maksudnya tidak beradaya adalah fisikku tidak kaut menampung 100 kg cinta. Aku bagai keranjang salak, salak Depok, rasa sepet. Enak keranjang mangga, mangga manis, manis-manis berkumis.

Lebih baik aku minum susu. Hehe, anak bayi gede kurang gizi. “Ah! Segar!”

Haduh, mimpiku seakan mengingatkan, “Jangan berkata seperti dalam mimpi.” Khawatir malah konflik kakak-adik imajiner. Percayalah, Arafah, kamu itu adik imajiner yang aku cintai. Menikah bukan urusan cinta saja, dek. Benar juga kata mimpi, walaupun kita banyak kesamaan tetapi untuk menikah tidak dianggap cocok. Contoh saja soal umur. Arafah berumur 19 tahun dan saya berumur 31 tahun. Jauh banget kan? Itu juga sebagai simbol tidak cocok untuk dijadikan target pasangan. Cinta tidak harus memiliki berstatus “pasangan” adalah mutlak, harus. Bila cinta menuntut untuk memiliki, kemana makna cinta keluarga, teman, sahabat, adik-kakak imajiner?

“Adek yang imut, maaf, aku mendiamkanmu. Perasaanku lagi sakit. Bila gak pecaya, bacalah tulisan tanganku di bawah ini.”


“Bukan ingin berpisah denganmu, tetapi aku sedang menghayati persiapan seandainya waktu memisahkan kebersamaan kita. Wajar kan? Soalnya, setelah aku hayati, aku sendih saja bila tiba-tiba berpisah dengamu. Maka dari itu, aku ingin menyiapkan diri untuk hal itu. Bukan untuk mengajak berpisah. Paham kan, Dik? Suatu saat, pasti ada kata perpisahan. Siap?” Pulsaku limit. Lebih baik pakai acara menghemat pulsa, lewat online.

“Kok, tiba-tiba aku jadi sedih. Pengen liat gak kalau aku ngeluarin mutiara di mata? Kakak sakit apa? Kok perasaannya yang sakit? Pasti sakit cinta ya? Atau ada yang lain? Buktinya ampe ngirim tulisan tangan juga. Hm... Pengen ditemeni suster cantik ya?”

“Ngeluarin apa, dek? Mutiara depok? Gak usah gitu. Aku percaya. Gak mau ditemeni suster cantik, pengennya suster ngesot.”

“Suster ngesotnya udah dipecat, kelamaan ngesotnya. Kakak sakit? Aku benar-benar gak paham waktu aku ketemu. Aku rawat ya? Rawat jalan aja, biar kita bisa jalan-jalan.”

“Ah, gak mau dirawat ama kamu. Bisa tambah parah perasaanku ups, badanku.”

“Yeh, gini-gini aku pernah jadi suster.”

“Tahu, kamu pernah jadi suster, suster yang ngobatin orang sakit tambah sakit. Kamu pernah bilang, ‘Kami akan membuat pasien kami menjadi tidak lebih baik.’”

“Biarin. Biar kakak bisa lama dirawat jalannnya. Kalau lama dirawat jalan, lama juga kita jalan-jalan. Tepar,tepar dah, haha...”

“Lagi sakit malah disuruh rawat jalan. Ngancau kamu.

“Oh, ya, plis, bilang dong, kakak lagi sakit apa?”

“Dibilang sakit perasaan. Sueeer dikewer-kewer. Perasaan ehem.”

“Itu juga aku sama. perasaanku sakit. Perasaan ehem.”

“Ya udah, sana syutung dulu. Gak penting mikirin ginian. Aku udah gede, walau masih nyusu. Ini teh nyusu bukan ini teh susu bukan ini teh bukan susu bukan ini teh nyoesoe.”

“Hek, kekekekek. Nyolong dimana hayoo kata-kata itu? Kayak kenal itu dari mana?”

“Uhuy... au ah... gak penting, nanti promosi warung susu.”

Cinta tidak perlu diungkapkan, tetapi diwujudkan. Itulah prinsip cinta yang perlu ditanam di hati setiap manusia, termasuk aku ke Arafah dan semoga sebaliknya. Cinta berdiri sendiri tanpa perlu harapan atau pencegahan. Terpenting kita bersikap sesuai fakta yang ada sebagai manusia yang normal.



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya