Cinta Kursi Roda Untuk Arafah Rianti

Senang sekali Arafah bisa tetap tersenyum. Ah, senyum mah biasa. Tetapi ini tertawa, ketawa-ketiwi saat ia tampil open mic dengan kondisinya yang sekarang memprihatinkan. Rasanya, seperti ada yang mencekik pernafasanku ketika melihatnya tertawa sambil duduk di kursi roda. Bukan karena cacatnya melainkan aku belum terbiasa melihatnya seperti itu. Apakah ketawa-ketiwinya cuma sandiwara saja untuk menutupi luka batin? Sepertinya, cerita ini selalu menceritakan kedukaan, luka batin, sakit hati dan meloe-melow manja. Kapan ngelucu-nya? Aku paham bahwa kelucuan bisa datang darimana saja, kapan saja dan dalam bentuk apa saja walaupun bisa jadi sedang menyimpan segudang kedukaan.


“Semangat terus, Arafah!” Dari jauh aku menyemangati Arafah yang sedang dikelilingi orang-orang yang mencintai arafah, para fans. Baru pertama ia menjumpai para fans yang ada di Cirebon. Mungkin acara ini sebagai bentuk keprihatinan mereka pada kondisi Arafah yang tiba-tiba tidak bisa berjalan.

Tetapi tetap saja, ada orang sensitif, “Selfi mah selfi, gak usah nangis melow, ah... dikira acara duka ahli kubur?”

Keluacuan ala Arafah yang duduk tidak berdaya mungkin saja menyimpan duka lara bercampur bahagia. Aku tahu bahasa matanya ketika mendapat berita seputar acara jumpa fans. Apalagi, ia pernah satu jalur dengan komika yang cacat kaki, tidak bisa berjalan ketika di dalam SUCA 2 yang pernah ikuti. Sekarang, Arafah sedang bersama orang yang di maksud, si komika cacat kaki. Faktor ketidakbiasaan pastinya memiliki efek tersendiri. Terbiasa dengan bisa berjalan kaki, namun tiba-tiba tidak bisa berjalan, secara otomatis bisa mengganggu kondisi psikis seseorang walaupun ditutupi dengan tertawa ngelucu.

Kisah yang sudah lewat memang menyakitkan bila dikenang. Sangat menyakitkan bila yang merasakan adalah Arafah itu sendiri. Bagaimana rasanya bila ada sebuah keluarga bahagia namun tiba-tiba dalam perjalanan kebahagiananya timbul musibah yang menghancurkan kebahagiaan? Keluarga habis tinggal sosoknya yang sedang terduduk dalam kursi roda. Sedih bukan? “Ini lagi serius ya. Mulut jangan nganga. Tuh ada lalat yang ikut nganga.” Jadi sedih ya? Sangat sedih bila yang merasakan adalah Arafah. Sampai aku mencoba untuk bisa nahan sekuatnya agar tidak terlihat sedih dimatanya mengingat bisa menambah kesedihannya bila aku ikut sedih.

“Kak, aku gak mau lihat drama melow dari mulut, mata kakak dan orang yang ada di sekelilingku. Lupakan apa yang udah terjadi nimpaku dan keluargaku. Tertawalah sebelum tertawa itu gak punya mulut, haha.”

“Ya ampun, tantangan berat, arafah!” kataku berteriak dalam hati.

Arafah pernah menyuruhku untuk kuat menahan sedih dan tidak perlu membuat acara resmi rasa penyesalan. Namun buatku itu tantangan berat. Berat! Betapa tidak sebagai tantangan berat, aku sendiri sebagai biang dari kecelakaan arafah dan keluarganya. “Hoy, itu takdir”, kata malaikat. “Malaikatnya ikut campur saja. Ini lagi akting, bro. Sana pergi!”

Aku tidak bisa berpikir panjang bila membahas seputar kecelakaan Arafah dan keluarganya. Stok fiksi masih cacat pikir. “Ups, pake bilang-bilang”. Yang jelas, itu berawal dari pertemuanku dengan sosok cewek online yang mengagumiku. Aku tahu bahwa aku belum pernah cerita padanya soal sosok cewek pengagum. Namun pertemuan itu membuat arafah tahu segalanya. Entah karena kecewa atau bagaimana, ia pergi begitu saja setelah merasa puas aku ceritakan. Kebetulan ia sedang berlibur bersama keluarga. Jadi ceritanya, aku juga lagi berlibur bersama sosok cewek yang menggangumiku. Bertemu di tempat yang sama tanpa kabar berita sebelumnya. Aku dan Arafah sama-sama terkejut dan berakhir sebuah tragedi kecelakaan yang membuat diriku dianggap sebagai penjahat oleh aku sendiri. Ia mengaku bahwa dirinya yang menyupir mobil. Sudah dipastikan bahwa ia terganggu dengan ulahku. “Aku penjahat, Arafah!” Arafah sendiri yang selamat. Memang masih ada yang hidup namun setelah berada di rumah sakit, sudah hilang umur tanpa ada kontrak arwah gentayangan.

“Aku nyesal. Aku mau bilang apa, aku bingung. Aku gak mampu buat main kata-kata. Yang jelas, aku benar-benar menyesal.”

“Udah lah, kak. Biarlah arwah keluargaku diterima Tuhan. Gak pake kontrak biar bisa gentayangan kan? Gak mungkin kan ada arwah gentayangan?” kata arafah ketika itu untuk menghibur diri sendiri.

Aku hanya senyum-senyum saja sambil membenarkan dengan anggukan. Dan memang benar adanya seperti itu. Sampai akhirnya aku terbangun sambil angguk-anggukan kepala. “Haduh, sedeng nih kepala. Dikira acara tahlilan?”

Tetapi aku kembali sedih, karena hal yang aku impikan adalah kenyataan. Lelap tidur lagi mencoba untuk menghilangkan fakta yang ada. Mudah saja bagiku untuk kembali bermimpi.

“Ya ampun, mimpi ada-ada saja. Tetapi enak sih, mimpinya. Halus, santai, tidak ada cara ngetik dalam mimpi. Pas bangun, ya biasa saja.”

“Kekekekek,” ketawa ala Arafah menertawai mimpi yang sudah aku alami. Setelah itu, ia kabur tidak pakai permisi. Biarlah, mungkin sebagai persiapan barangkali suatu saat kita berpisah sehingga sudah ada bekal kesiapan.

Setelah selesai acara jumpa fans, tepatnya di IAIN Cirebon, aku bergegas mengunjungi Arafah. Sepertinya, aku terlalu asyik setengah tidur mengingat diganggu keramaian para fans. Untung tepat waktu untuk bangun. Sengaja aku menghindar dari acara keramaian jumpa fans. Aku menyendiri di pojok, tidak banyak yang tahu. Malu. Karena sudah ada berita bahwa penyebab kecelakaan itu adalah aku sendiri. “Ada malaikat gak ya?” Miris sekali.

Siapa yang mengkabarkan kejadian itu? Apakah cewek online yang katanya mengangumiku? Bisa jadi. Tetapi, apakah ia sampai tega berbuat keji dengan menyampaikan berita ke media? Sebagai media, apakah percaya begitu saja? Ah, aku tidak mau menduga siapa yang menyampaikan berita ke media. Yang jelas, sudah tersebar. Beberapa media juga hanya merujuk pada salah satu media yang sebagai sumber informasi. Ah, sudah lah. Sepertinya sudah layak untuk mendekati Arafah.

***

Arafah berkeliling kampus. Aku dengan rela menjalankan roda kehidupannya. Sengaja memang ia melakukan hal itu. Pintanya tidak bisa dibendung bahwa ia mau pindah ke Cirebon, kuliah di IAIN. Padahal sebelumnya ia kuliah di UIN Jakarta dengan perjuangan belajar mati-matian agar masuk di UIN. Aku pun tidak mengerti dengan jalan pikirannya padahal di Depok masih ada saudara terdekatnya. Bukan dilarang pindah di Cirebon. Masalahnya siapa yang mau menjalankan kursi rodanya? Bukankah kalau ditangani saudara sendiri jauh lebih enak? Pihak saudara arafah menitipkan ke aku dengan rasa terpaksa dan tidak enak hati karena sudah berani membebani hidupku dengan kehadiran Arafah. Aku harus bagaimana, pada waktu itu. Bukan tidak mau. Aku sendiri bukan mahrom Arafah sehingga tidak baik untuk satu kontrakan.

“Gak baik kan bila satu kontrakan?”

“Kakak gak perlu khawatir. Kakak cuma nemeniku saat roda ini berputar di luar. Urusan kebutuhan di kontrakan, biar asistenku yang ngerjain.” Arafah sudah mengerti jalan pikiranku waktu itu. Aku hanya mengangguk. Awalnya aku juga berat ingin menjalankan kursi roda untuk Arafah. Tetapi jauh lebih berat bila tidak ada yang membantu menjalankannya. Siapa lagi pria yang deket arafah di Cirebon bila bukan aku? Haduh, mendadak paru-paruku melambung sampai pengen terbang bak balon gas.

“Kakak terpaksa? Kalau gak mau, gak masalah.”

“Afah, aku tahu kamu gak berdaya, duduk di kursi roda. Tetapi cintaku berdaya, sehingga aku rela menjalankan roda kehidupanmu seperti putaran lingkaran roda. Percayalah, sekarang engak,” sebagai kakak imajiner seharusnya berkata demikian untuk cewek yang tidak sedang berdaya. Luka batin dan raganya belum sembuh sehingga perlu untuk menghindar pertambahan luka.

“Waktu pertama gak rela?”

“Roda kehidupan butuh orang yang mampu nggerakin. Tanganmu jangan ampe terlalu sering buat gerakin roda kehidupanmu. Nanti tanganmu bengkok mirip sendok Dedy Corbocor. Percayalah, aku akan rela jalanin roda kehidupanmu dalam kursi rodamu.”

“Kerjaan kakak?”

“Aku pekerja online kan?”

“Kalau online bisa pindah tempat ya? Enak banget.”

Aku hanya mengangguk.

“Ngontrak dimana nanti?”

“Kamarku yang dari rumah orang tuaku, aku pindahin di samping kontrakanmu. Jadi, nge-kos saja.”

“Dipindahin om jin ya?”

“Dipindahin rayap,” istilah orang tua dulu ketika rumah ditinggal penghuni maka akan dipindahin rayap rumahnya.

“Makasih, Kak El. I love you. Tepat kan aku pilih kakak? Aku ingin sukses kuliah di IAIN sambil membangun karir di Cirebon.”

“Sama-sama. I love you to. Sangat tepat. Amin. Yang penting kamu sembuh dari kejadian dulu, percaya diri, belajar yang rajin dan bersyukur.”

Arafah cuma termangu setelah itu. Mungkin ia menghayati kata-kataku atau apapun yang pernah aku lakukan buatnya. Terlihat genangan air halus di matanya yang terlihat lesu. Bila sudah seperti itu, sepertinya, tidak perlu lagi ada acara menambah dramatisir suasana. Ini bukan cerita cinta sedih, “uhuk-uhuk,” bantuk. Namun sepertinya, tisu mengharuskan untuk aku keluarkan. Arafah makin merelakan air matanya keluar. Aduh, melow lagi, melow lagi. Mendadak drama Korea.

Setelah selesai mengusap air matanya, Arafah cuma manyum-manyun senyum sebagai ciri khasnya yang selalu ia tampilkan di banyak foto. Aku tidak pandai seperti Arafah. Paling aku hanya senyum biasa, manis seperti gua gula gula gula gu yang manis.

Perjalanan mengelilingi kampus sebagai perkenalan memang penting untuk dilakukan Arafah. Mungkin suatu saat pun ia akan mengalami dimana harus bisa menggerakkan kursi rodanya sendiri. Bisa jadi karena kesibukanku dan halangan asisten, Arafah berjalan sendiri menuju kampus. Hal itulah yang membuatku merasa khawatir dengan arafah walaupun tempat kosnya berdekatan dengan kampus. Aku khawatir arafah tidak mampu menaiki hal-hal yang seharusnya ia naiki. Bagaimana ia menjalankan kursi rodanya ketika ada beberapa barisan panjang undukan batu-bata yang sering ada di dalam kampusku? Bagaimana juga bila ia harus menaiki tangga menuju lantai 2 atau bahkan 3?

Arafah melihat-lihat barisan panjang undukan batu-bata bersemen dan tangga kampus. Ia bergegas berusaha untuk berjalan dengan bantuan tongkat yang sengaja sudah aku bawa. Arafah ingin mencoba-coba berjalan dengan bantuan tongkat. Memang, kakinya masih utuh walaupun lumpuh, tidak bisa berjalan. Mungkin karena ada harapan bisa berjalan dengan tongkat seperti yang dikatakan dokter, Arafah mencoba untuk belajar.

“Sulit kak.”

“Kamu baru saja sembuh, Fah. Mana bisa pakai tongkat. Aku gak mungkin megang tubuhmu buat bantu jalan. Lagi pula, percuma pakai tongkat. Sabar, Fah.”

“Iya, Deh. Aku cuma iseng saja. Tapi nanti aku mau belajar. Tenang saja, ada asistenku yang akan bantu, bukan kakak. Tapi kalau aku terapi di rumah sakit, kakak ikut ya?”

“Kalau gak ada halangan, pasti ikut. Dan berusaha untuk ikut.”

Saat ini, perkuliahan belum menerima mahasiswa baru. Dan Arafah masih menjalani istirahat kuliah dulu. Haduh, pindah kuliah, langsung istirahat? Enak ya jadi artis, haha. Tetapi istirahat hanya karena ada masalah kesehatan saja. Sekarang arafah bukan lagi sebagai artis. Ya, tidak bisa sebagai artis lah. Sekarang ia cacat. Mustahil ia dipanggil lagi di acara tv kecuali bisa berjalan lagi. Tetapi untung sekali, uang hasil jerih payah keartisan, terutama dari stand up comedy dan brand ambasador, digunakan untuk membangun usaha yang sekarang diurus saudaranya. Usahanya yang mengatasnamakan brand arafah dianggap cukup sukses. Belum lagi pengiklan lewat medsos arafah yang terus saja mengalir, apalagi setelah arafah terkena musibah. Walaupun sudah tidak menjadi artis, penghasilan arafah tetap mengalir deras.

Sepertinya arafah sudah puas mengelilingi kampus. Dari ujung ke ujung dilalui dengan tidak mudah. Walapun aku bukan orang yang cacat, tetapi tetap sulit menjalankan kursi roda ketika ada halangan undukan batu-bata semen. Bagaimana dengan arafah? Ah, sudah lah. Saatnya mengantar arafah ke rumah kontrakannya. Rumah kontrakannya kecil. Deket kos-kosan milik salah satu dosenku. “Sekarang dosenku masih mengajar atau sudah pensiun ya? Tidak ada pembicaraan ketika menuju kontrakan, diam membisu. Mungkin sudah lelah ngobrol panjang lebar.

“Saatnya istirahat ya... Tolong jaga Arafah baik-baik ya?” kataku pada asisten Arafah. Asisten Arafah cuma senyum-senyum. Sepertinya ia tulus. Semoga.

“Makasih kak.”

“Iya Fah, aku pulang dulu ya? Sudah sore.”

Kejadian musibah yang Arafah alami terlalu cepat. Padahal masih ada cerita fiksi yang mau aku buat tanpa perlu menghadirkan kisah musibah ini. Apa yang aku pikirkan seputar perpisahan, hampir saja terwujudkan. Hampir saja kehilangan Arafah. Tetapi tidak. Namun yang kehilangan adalah Arafah. Kehilangan ibunya, Ibu Titi, yang paling dengat dengan Arafah. Kehilangan ayah yang pernah 1 kali hadir di pentas SUCA 2. Ia juga kehilangan adik yang bernama Dada yang mirip dengan Arafah. Tidak lupa, kehilangan kakak inspirasi materi stand up Arafah, Bang Baco.

Karena kejadian itulah, hidupku pun berubah. Maksudnya pindah lokasi dan tidak mengurusi konter pulsa. Aku tinggal di kos-kosan yang berharga murah dan masih berdekatan dengan rumah kontrakan arafah. “Ah, ini sekedar bohongan saja, haha. Dasar tukang bohong.” Aku pun harus bisa beradaptasi, mengingat kondisiku pun perlu dirawat orang lain. Maksudnya dokter langgananku. Paling tidak, adanya arafah di Cirebon bisa membuat beban hidupku agak terasa ringan.

“Aw!” dadaku tiba-tiba bereaksi tidak mengenakkan, seperti biasanya, seperti ingin menangis. Gangguan kesehatan dan taburan aroma cinta berpadu menjadi satu. Bukan dikatakan sakit perasaan, tetapi perasaan pasti terasa tidak enak dan badan layu. Ini juga yang membuatku sulit meraih hidup yang lebih baik. Hanya aku yang merasakan, sulit aku ungkapkan.



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya