Ketika Kisah Menertawakanmu, Arafah

Aku memulai bersajak walau tak berteriak.
Aku pahami bahwa sedihku berirama kisahmu yang menyeruak.
Entahlah, apakah kamu masih berjuang melupakan kisahmu, Arafah?
Sejauh kamu melangkah, kisahmu masih tak terpisah.


Aku baca curahan hatimu di dalam maya.
Aku tahu, kisahmu terlalu menertawakanmu.
Di dalam keramaian gurau dan tawa, ternyata kamu mencari cahaya.
Aku ingin menjadi cahaya tetapi aku adalah cahaya kelabu.

Tutup saja kisahmu dengan senyum dan tawa.
Sakitmu biarlah menjalar bila masih tertanam mengakar di jiwa.
Tetapi kepastian hati bahwa kamu perlu berpaling hati.
Jangan biarkan kisah menertawakanmu lagi, oh cahaya inspirasi.

Oh Arafah, walau badai kehidupan mengahadang, jangan lupa makan.
Hidup lebih penting dengan perut terisi gizi.
Jangan biarkan perjuanganmu langkah kelaparan.
Sakit hati bisa dirasa, sakit raga, kamu mati.

Ah, terlalu tidak lucu sajak ini untukmu, Arafah.
Tetapi perasaanku diseriuskan untuk tidak melucu.
Aku berharap kisahmu menjadi pelajaran.
Berharap ke depan mendapat cahaya masa depan.

Oh Arafah, apakah kamu mendengar keras teriakan sajak hati?!
Biarkan aku berteriak tanpa suara, oh cahaya imajinasi!
Aku menginginkan kita dalam dunia yang berbeda, tanpa harapan.
Aku hanya ingin menikmati kesendirian dalam irama kisah perasaan.

Mungkin saja kisahku menertawakan diriku.
Sampai sekarang, kelucuanmu menjalar dalam diriku!
Kamu harus tanggungjawab bila aku mau menuntut.
Ah, adik hayalanku, tidak mungkin bila kenikmatan hatiku justru menuntut.

Sering hadir cinta dengan tuntutan.
Tetapi apakah aku mencintaimu dengan tuntutan?
Dunia bisa menjawab tetapi aku tidak bisa menguraikan alasan.
Cintaku hanya untuk diriku, cintamu pun hanya untuk dirimu, tanpa tuntutan.

Ah, janganlah kamu terperdaya dengan dunia cinta.
Biarkan cinta mengalir dengan definisi.
Bersikaplah bahwa hidup memang butuh cinta.
Biarkan cintaku berjalan sendiri tanpa perlu kamu temani.

Maafkan aku, Arafah, sajak menusuk hatimu, menambah luka.
Aku hanya ingin memangkas pikiranmu yang keliru.
Sakit hati biarlah menjadi benalu.
Cinta biarlah berjalan sendiri menjadi asa.

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya