Logika Arafah Rianti Menulis Naskah Stand Up Comedy

Kenapa tangan saya bergerak membahas “Logika Stand Up Arafah Rianti Ber-Comedy”? Tumben juga pakai bahasa “saya” bukan “aku” atau “gua”. Pertama, ini kan blog belajar menulis seputar arafah rianti, spesial membahas untuk arafah? Masak iya sih saya membahas Aci Resti? Tidak mungkin kan? Walaupun bukan pakarnya, belum pernah pentas stand up atau pastinya malas pentas begituan, tetap saja saya labrak pembahasan ini.


Kedua, memakai “saya”, “aku” dan “gua” memiliki makna sendiri. Bila memakai kata “saya”, berarti saya sedang membahas tulisan biasa yang bukan bersifat karya seni sastra. Bila memakai kata “aku”, berarti saya sedang menulis seputar karya seni sastra, bisa masuk dalam cerita komedi arafah rianti. Terakhir, memakai “gua”, ya suka-suka gua dong menulis gituan. Emangnya bahasa “gua” sudah menjadi merek dagang? Tetapi tetap, saya tempatkan kata “gua” pada tempatnya yakni di tulisan cerita komedi arafah rianti.

“Lah, terus logika arafahnya dimana”

Eh, maaf, logika arafah rianti ditinggal induknya. Maka dari itu, saya yang pakai logika arafah rianti di tulisan ini. Maaf saja kalau nanti pembahasannya agak bagaimana begitu, sampai begini, paling tidak begitu-begituan. Ada yang mau pakai logika arafah rianti? Hati-hati saja, bisa jadi keteknya bisa bikin Sari Binti Roti. Eh eh eh, Sari Binti Roti, apa kabar Sari Binti Roti?

Di sini saya mencoba membuat tulisan resensi atau kata bahasa londo, eh bahasa injilish, adalah review seputar kisah arafah rianti. Sepak terjang arafah rianti memang unik. Mengapa unik? Unik karena orang-orang memang berkata begitu. Apa iya, saya akan membuat berita hoax? Nanti bisa di-cyeber-in. Ingat ya, saya bukan mufasir atau ahli kalam (akidah) sehingga saya menggunakan prinsip “apa yang terjadi, terjadilah”, spesial Ariel.

Arafah Rianti Menggunakan Azas Absurd Stand Up Comedy

Ada orang yang berkata, kalau komika absurd belum berkualitas, cenderung menghayal, terkadang hidup menghuni di alam pikirannya sendiri yang di dalamnya terdapat got-got pengalir ... pikiran kotor. Tetapi apapun itu tempelan atau benjolannya, azas absurd bergantung pada kepantasan si pembawa absurd walaupun seharusnya komika harus bermain absurd. Itulah arafah rianti, dengan kekonyolan kalau berbicara, asal “masak bodoh ah” eh “bodoh amat” (ada kamus?) , terkadang sampai pikiran si pendengar peras keringat sendiri mendengar ucapan arafah, sehingga layak menjadi komika absurd walaupun sebenarnya kurang, kurang maksimal karena memang sulit bermain absurd-absurdan layaknya Indra Firmawan.

Dari Lahir, Arafah Rianti Memang Punya Tampang Lucu

Ingat ya, muka lucu sama muka norak berbeda ya? Muka lucu cenderung menyenangkan. Muka norak, walaupun sebenarnya lucu, tetapi lucunya bikin ennek. Muka lucu memang terlahir seperti itu. Kalau muka norak, kadang juga dihiasi sikap atau tampilan yang norak, berusaha ngelucu-ngelucuin. Dalam stand up, haram hukumnya menampilkan tingkah melucu-lucukan.

Terkadang, untuk menjadi komika sukses membutuhkan “faktor-x”. Makanya sulit menjadi komika sukses sebelum memiliki faktor-x. Bisa juga disebut memiliki aura lucu. Apakah bisa dipelajari untuk menemukan, mendapatkan faktor-x? Bisa namun sulit. Anda bisa melihat tampilan Ipul suca, kira-kira bagaimana membangun faktor x pada diri si ipul? Mikir 100 kali ya?

Nah, arafah rianti, tanpa perlu belajar yang serius sudah memiliki faktor-x sendiri dan itulah anugrah Tuhan. Tidak banyak yang menerima augrah seperti ini. Tidak mengatakan karena arafah memiliki tampang yang cukup cantik dan imut. Tidak seperti itu. Tidak juga karena gaya bicayanya cenderung konyol. Tetapi sosok arafah, memiliki faktor-x karena memang sudah menjadi paket komplit dan paket komplitnya tidak bisa dilemparkan untuk banyak cewek.

Bisa dibayangkan, hanya belajar 6 bulan ber-stand up comedy, sudah bisa meraih runner up di salah satu stasiun tv yakni di acara SUCA Indosiar? Sudah begitu, memang ketika audisi pun terlihat kaku seperti siap kalah tetapi mampu lolos. Kalau bukan karena faktor-x, terus apa?

***

Begitu saja..

“Terus, tentang menulisnya bagaimana? Ini blog seputar belajar menulis walaupun membahas arafah rianti?”

E e e... saya lupa. Sory pembaca, terlalu asik membahas arafah rianti. Tapi santai pembaca, itukan sebagai pendahuluan bahwa begitulah seputar arafah rianti. Agar anda paham terlebih dahulu bagaimana kondisi pribadi seserang sebelum dilemparkan ke muka anda untuk tujuan membuat naskah atau tulisan stand up comedy. Penting sekali membuat tulisan yang memang memantaskan diri anda sendiri. Kepantasan arafah rianti dalam membuat tulisan naskah stand up tentu sesuai tampilan atau sikap arafah rianti yakni gaya yang tidak serius mengarah pada kritisisasi politik atau sosial. Seandainya arafah bermain dengan Raimin dan ketularan Wakatobi, tidak ada lucu-lucunya dan tidak menarik.

Entah lah, bagaimana menulis naskah stand up comedy kalau ia sudah berganti umur menjadi 25-30 tahun. Tetapi saran spesial dari aku buat kamu (cieh, aku-kamu-an), arafah, meluncurlah pelan-pelan jangan bermain prosotan menuju yang lebih dewasa, eh lebih ke tingkat kalangan dewasa.

Begitu saja. Pendahuluan langsung ke penutup. Tidak ada pengisi acara tulisan. Pengisi acara tulisannya sedang tahlilan haul, mengenang wafat dirinya sendiri.

Baca: Belajar Menulis Stand Up Comedy, Langkah Mudah-Mudahan Kali Ya

Sok tahu banget ya saya? Padahal saya tidak pernah ber-stand up comedy dan memang tidak suka pentas itu, takut diketawain karena tidak lucu.

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya