Menghiasi Luka Arafah Rianti

Pagi baru saja terbangun dari tidur.
Aku di sini belum menikmati secangkir kopi.
Melewati tulisanmu, Arafah, seperti mendapat nikmat hangat kopi.
Aku baca seksama, sesekali terbayang suasana yang tak mungkin hadir.


Katamu, Tuhan memang Maha Adil.
Keyakinanmu teruslah tertanam dalam pikiran dan perasaan.
Pemahamanmu biarlah terbatas dalam naungan Tuhan Yang Maha Adil.
Kesabaranmmu, jangan lemah ketika keadilan Tuhan memperburuk kehidupan.

Aku bahagia, kecewamu dibayar tawa.
Aku bahagia, lukamu dibayar suka.
Aku bahagia, kamu paham bahwa setiap duka pasti ada bahagia.
Keadilan memang dua sisi yang bertentangan, oh, adik di ruang jiwa.

Oh, adik yang kini dalam dunia hayal.
Keadilan Tuhan lebih dari rumus formal.
Ketika Maha Adil Tuhan menguasai kehidupan, Maha-Nya tidak bisa dicapai dengan pemahaman.
Tetapi percayalah, di setiap ada sisi kegelapan, pasti ada pencahayaan.

Kini, kamu sedang memetik buah mahkota yang telah tertanam dari masa lalu.
Aku menjadi bangga melihatmu tanpa ada asa: aku menjadi kamu.
Aku berikan sedikit hiasan mayaku untukmu walau tidak berkilau di matamu.
Aku hadir menjadi bayanganmu agar bisa menjadi rahasiamu.

Mentari sudah unjuk sinar terang.
Perut sudah meramu lapar di dinding lambung.
Aku masih dalam kurungan sarang.
Kini, aku meramu bagaimana hiasan mayaku selalu memberimu sayang.

Teruslah kamu berjalan ke depan, aku yang menjadi bayangan.
Jangan pikir kita berjalan dalam kebersamaan.
Tengoklah ke belakang, aku siap menjadi pencerita terbaik.
Harapanku adalah ‘aku menjadi aku’ dalam kehidupanmu yang terbaik.

Aku mengulang curahanmu agar kamu selalu bahagia.
Berharap Tuhan ingatkanmu kisah duka ketika dilanda duka.
Berharap Tuhan ingatkanmu kisah kecewa ketika dilanda kecewa.
Berharap Tuhan ingatkanmu bahwa syukur harus selalu ada dalam bahagia.

Sejenak aku manarik pikiran dari lembaran.
Menikmati cinta semudah meracik rasa dalam tulisan.
Aku biarkan pikiran bermain-main denganmu dalam hayalan.
Tuhan selalu memberi jawaban cinta setiap saat, tanpa perlu harapan.

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya