Pagi Yang Aneh, Oh Duka Arafah

Hari ini, sepertinya sulit sekali membangkitkan kebahagiaanku. Entah mengapa. Tiba-tiba saja aku tidak merasa bahagia. Aku akui, beban semakin berat. Harusnya aku bahagia ada Arafah di dekat kehidupanku. Entahlah, mungkin karena suasana kos yang tidak mendukung kondisiku. Aku tidak terbiasa tidur di kamar kos. Kamar ini bekas teman satu kelasku ketika kuliah di IAIN, 6 tahun silam. Sampai aku terbayang masa-masa sulit berkuliah karena kondisi kesehatanku yang belum juga sembuh sampai sekarang. Entahlah. Rasa tidak merasa bahagia pun karena aku harus menjaga Arafah. Ah, apakah aku pembohong? Aku rela menjaga Arafah dalam kondisi seperti itu. Namun aku akui, masih sulit untuk menerima kebahagiaan. Menjaga Arafah bukan sekedar membantunya jalan-jalan dengan korsi rodanya. Namun lebih dari itu, yang entah, beban besar seakan nyata padahal belum pasti.


Sempat aku bingung ketika kerabat dekat Arafah memintaku untuk menjaga Arafah. Sudah terbayang bagaimana perubahan hidupku. Mulai dari keluar dari rumah, tinggal di kamar kos-kosan yang tidak nyaman, tentunya menjaga Arafah. “Yah, konter kenanganku waktu bersama Arafah, aku tinggalkan”. Tetapi bagaimana, mereka sudah berhadapan dengan keluargaku. Mereka sengaja mendatangi rumah orang tuaku untuk bersilaturahmi dan tentunya memintaku untuk menjaga Arafah selama di Cirebon. Sekarang memulai kenangan baru, hidup dalam satu lingkungan bersama Arafah.

“Aku siap, Bu,” akhirnya aku berkata dengan tegas mengingat Arafah pun sudah harap-harap cemas. Terpenting, keluargaku setuju dan ada bekal hidup di sana, di area kota Cirebon

“Nak Elbuy tidak perlu khawatir. Biaya kos, kami yang bayar. Intinya, kalau siap, kami pun siap membantu Nak Elbuy,” kata adik Ibu Tiiti.

Aku mau bilang apa, kenyataan aku bukan orang yang memiliki banyak uang. Kalau sampai menolak di saat rela menemani Arafah, uangnya dari mana? Jadi aku menerima pembiayaan yang akan ditanggung kerabat Arafah. Bahkan sampai biaya untuk kebutuhan makan. Namun aku tolak bila sampai untuk kebutuhan makan mengingat aku pun sedang bekerja secara online. Bahkan sudah membangun proyek blog endorse untuk Arafah yang kini mulai terasa hasilnya, baik untukku atau Arafah.

“Palalupenyon tuuut” bunyi SMS.

Ya ampun. Aku sampai lupa. Cewek ini sepertinya yang bikin gosip seputar musibah Arafah dan keluarganya. Aku menyesal berkenalan dengannya. Namanya Amel. Aku akui, dia adalah seorang introvert, cewek yang sulit sekali bergaul. Bahkan, sering bertingkah aneh ketika diajak ngobrol secara online. Sampai akhirnya ia mengatakan kegagumannya padaku. Padahal, ia sendiri tidak jelas kehidupannya. Sering tidak nyambung dalam obrolan. Sampai akhirnya aku mengerti, itu adalah salah satu sikap introvert. Kadang ia membuat kalimat ramalan masa depan dan membingungkan. Anehnya, benar-benar menjadi nyata. Tetapi aku tidak percaya.

Namun akhirnya, aku bertemu si Amel di tempat wisata kawasan Depok. Sebenarnya ia berasal Sukabumi. Kebetulan si Amel sudah memberiku ongkos 1 juta, jadi lumayanlah. “Matre gue”. Maklum, ia pengusaha online yang sukses juga. Awalnya aneh, kok berani mau bertemu? Ternyata setelah bercerita, ia sudah sembuh dari sikap introvert-nya yang selama bertahun-tahun mengganggu kehidupannya. Ajaib, setelah berkenalan denganku, sembuh. Aku memang sering memberikan inspirasi untuknya sehingga ia bangkit dari hidupnya.

Pas si Amel mengungkapkan kekaguman itulah, raca cinta itulah, tiba-tiba Arafah ada di belakangku. Amel pun sepertinya sudah tahu mengingat Arafah adalah sosok selebritis. Aku pun sengaja bercerita soal adik imajiner bernama Arafah kepada si Amel walaupun Arafah belum tahu seputar si Amel. Aku tidak paham, apakah Amel cemburu atau tidak. Yang pasti, momen pengungkapan yang sangat tidak tepat. Mungkin momen yang tepat untuk si Amel katakan biar aku dan Arafah sama-sama tahu perasaannya. Darrr! Aku lihat ke belakang, Arafah sudah lari setelah ia menyebut, “Kak Elbuy...”

Aku bergegas beranjak ingin lari bak sinetron cinta abg. Haduh, apakah aku panggil atau tidak? Bingung. Yang jelas, aku segera meninggalkan si Amel. Aku tidak peduli.

“Arafah!!! Jangan lari terus! Bayanganmu ngikut tuh!” aku teriak Arafah yang sedang mendekati mobil.

Aku malu. Ada keluarga Arafah. Aku diamkan saja. Aku duduk kelelahan. Biarkan saja. Toh, aku sudah panggil kencang. Tidak kembali ke sisiku, silahkan saja. Aku jamin, Arafah bakalan kembali. Eh benar, Arafah melirikku. Aku senyum, ceileh. Arafah cemberut, ya elah. Namun akhirnya Arafah kembali.

“Arafah, kenapa kamu lari?”

“Gak tahu, pengen aja njerit tapi gak bisa. Habis kakak tiba-tiba ada di sini tapi gak bilang-bilang. Ternyata ada cewek lain, hiks. Aku gak bisa ngomong apa-apa. Daripada aku kelihatan nangis, aku lari saja,” kata Arafah sambil sedikit tersedu-sedu. Air matanya mengalir deras. Apakah Arafah cemburu lagi? “Kak, kenapa bisa tiba-tiba disini?”

“Panjang ceritanya...” bak sinetron pacaran yang sudah kepergok selingkuh tetapi tidak bisa menjelaskan.

“Panjang apa’an? Sudah jelas kan? Kakaku yang baik hati nusuk aku dari belakang? Aku gak nyangka, berani ya dari Cirebon ke Depok, gak bilang-bilang?”

“Kamu cemburu?”

“Kalau iya, kenapa? Dua kali udah bikin aku cemburu! Nyadar gak?”

“Aku bisa jelasin.”

Walau Arafah dan aku cuma adik-kakak imajineran, tetapi saja, rasa cemburu pasti ada. Bukan cemburu karena merasa ada cewek lain yang bisa dianggap selingkuhan atau mau merebut. Aku tahu, Arafah cemburu padaku karena sikapku yang seperti tidak menghargai Arafah. Jelas, ia menagis tidak tertahan, lari-lari seperti lari kelinci, karena aku ke Depok tidak bilang-bilang Arafah. Harusnya aku bilang terang-terangan. Namun sebenarnya aku sudah bilang walaupun aku cuma berkata, “Arafah, tunggu kejutanku ya...” Sengaja aku ingin memberi kejutan. Kalau kejutan, masak harus bilang-bilang? Pas aku menemui rumahnya, kosong. Begitu ceritanya, kura-kura.

“Jadi, apa yang harus dijelasin kalau sudah jelas?”

“Aku salah ya? Maaf deh.”

“Salah! Ya sudah, bolehkan nanti aku dan Kak Amel mampir ke rumahmu? Kasihan, Kak Amel bisa nyasar, hehe.”

“Iya kak. Aku tunggu.”

“Haduh,” sepertinya aku melamun, membuat cerita yang terlalu fiksi. Namun aku hanya menginginkan bahwa waktu harus diulang agar tidak terjadi musibah pada Arafah dan keluarga. Sulit sekali menerima kenyataan bahwa aku benar-benar datang ke Depok dan benar-benar ingin bertemu tetapi Arafah tidak mau percaya penjelasanku. Arafah tidak peduli dengan penjelasan, lalu pergi begitu saja. Aku tidak enak mengejar Arafah mengingat sudah ada dalam kumpulan keluarganya dan aku pun bersama Amel. Aku tidak mau konflik. Aku kira, bisa dijelaskan nanti. Namun faktanya, kejadian itu membuat beban untuk Arafah. Musibah pun terjadi.

“Ah! Kenapa harus terjadi?! Kenapa aku harus menjelaskan dan Arafah mengerti ketika ia dan keluarga terkena musibah! Sakit, sakiiiit perasaanku, eh gatal.”

“Palalupenyon tuuut” bunyi SMS.

“Maafin aku, kak, sekali lagi. Kecerobohanku, ketidakpahamanku bikin aku down dan akhirnya aku gak konsentrasi dalam nyetir mobil. Maaf SMS ini lagi, Kak, karena aku tahu, kakak masih memikirin kejadian itu. Aku sebenarnya gak enak ngomong ini, tetapi biar jelas dan gak bikin kakak kepikiran.”

“Aku cuma gak kuat, kenapa kakak bersikap seperti itu walaupun itu cara kakak mau kasih kejutan. Aku gak kuat nerima kenyataan karena khawatir gak ada lagi kakak-imajiner setelah ini. Aku cemburu kak, napa cewek itu dispesialin tapi aku gak pernah sedikit pun. Buktinya, hadir ke Depok cuma karena cewek itu. Tapi sudah lah, ini cuma pengulangan kata yang dulu biar keresahanku reda. Dan terpenting, kecelakaan itu bukan murni keselahanku walaupun aku lagi gak konsentrasi. Itu ulah kendaraan yang gak tahu kenapa sampai membuat mobilku jatuh ke bawah jurang. Jadi, pliiiis, gak usah baper ya, hehehe.” Arafah kirim SMS Penjelasan pengulangan.

“Haah!” Lega dada ini. Benar dugaanku. Arafah terganggu perasaan dan pikirannya. Tetapi kecelakaan itu bukan murni karena gangguannya. Aku sudah lama ingin bertanya, tetapi tidak enak sendiri, terbebani sendiri dan merasa bersalah tentunya.

Aku bales SMS si Amel, “Mohon jujur, apakah kamu yang sudah membuat berita ke pers kalau aku lah biang kecelakaan Arafah?”

“Benar, aku. Terus, mau kamu apa? Aku kesel saja. Kenapa dia terus yang dispesialin? Aku bela-belain ketemu sampai rela buang duit banyak. Hasilnya apa? Kamu seenaknya saja memutuskan untuk mengakhiri ketemuan setelah berjumpa dengan Arafah.”

“Kurang puas apa lagi? Kita sudah ngobrol lama. Terus aku tega gitu muas-muasin ngobrol di saat Arafah lagi kecewa berat sama aku?”

“Ada hubungan apa sama Arafah? Bukankah di blog kamu kalau kamu itu cuma kakak buat dia? Kok sampai segitunya?”

“Kamu gak ngerti soal perasaanku dan Arafah. Lebih baik diam!”

“Ok, silahkan nikmati saja hidup aneh kamu. Lebih baik, kita gak usah hubungan lagi. Aku kecewa berat, tapi aku maklumi. Makasih sudah berteman denganku.”

“Sama-sama. Aku minta maaf juga.”

Kelar sudah. Aku tidak mau memperpanjang cerita soal si Amel, si gadis aneh yang baru sembuh. Tidak mengapa kan sudahan? Jangan protes karena cerita si Amel memang tidak asik. Ya sudah, kembali ke Arafah.

Tiba-tiba ada telepon. Tetapi kali ini bukan Arafah. Asisten Arafah telepon.

“Ada apa ini? Kok ampe telepon?”

“Iya, halo, ada apa, Lind, kok ampe telepon?”

“Mba Arafah nangis” kata Linda. Ia adalah asisten yang ikut bersama Arafah dari Depok ke Cirebon. Ia masih melanjutkan bekerja walaupun sudah tidak bisa melayani keluarga Arafah, hanya Arafah seorang.

“Nangis ya wajar lah. Kan lagi sedih kehilangakn keluarga, terutama ibu.”

“Iya. Tapi ini sudah berjam-jam nangis terus. Gak pengen makan dari kemaren. Terus agak aneh.”

“Apa bener gitu. Agak aneh gimana? Ya ampun. Tapi tadi SMS kelihatan baik-baik saja.”

“Ah, mas ini. pencerita kok gak ngerti akting? Itu bahasa tulisan bukan bahasa lisan. Aku tahu Mba Arafah sms mas itu sambil nangis. Buruan ke sini, aku gak bisa diemin. Mata mba Arafah ampe bengkak. Aku ampe ikut nangis, sedih ngeliatnya. Duh, ampe mba Arafah gak tidur-tidur.”

“Sejak kapan Arafah gitu?”

“Udah lah mas. Gak usah tanya melulu! Buruan kesini!”

Beberapa hari ini memang aku tidak menjumpai Arafah. Ada urusan penting di desaku, tempat tinggalku. “Oh, Arafah, ada apa dengan dirimu? Aneh kenapa?”

Aku bergegas untuk menemui Arafah. Untung sudah mandi. Haduh, kalau sudah ada masalah yang tidak jelas seperti ini, bisa membuatku pusing kepala. Badanku terasa lemes, tangan tiba-tiba dingin campur tidak enak perasaan. “Ya Allah, ya Tuhan, jantungku seperti pengen copot. Ada apa, Arafah?” Aku percepat langkah menuju Arafah. Aku sebrangi jalan tanpa menunggu lama walaupun perlu hati-hati. Aku menuju ke rumah kontrakan arafah ke barat gedung kampus IAIN. Belok dan berjalan sedikit ke utara untuk segera sampai.

“Assalamu’alakum, Arafah, Linda! Bukain pintu!”

“Aduh, syukurlah. Ayo mas, masuk.”

“Hiks Hiks Hiks... Ibu... Ayah... Hisk. Abaang, materi ilaaang. Hiks. Dada unyu-unyu. Ayah, kumisnya mana? Ibu sayaaang, kangen, pengen peluk ibu.... Hiks.. Napa aku hidup sendiri? Ya Allah.”

“Apa yang aneh, Lind? Itu mah nangis biasa..” Aku berbisik di depan pintu kamar Arafah.

“Emang gak denger dia ngomong apa? Nanti saja lihat lagi. Aneh.”

“Masak gila sih?”

“Aku juga gak ngerti, mas.”

“Ya sudah, panggilin Arafah. Ada Kak Elbuy, gitu. Gak baik kalau aku masuk ke kamar walau ditemeni kamu.”

“Baik mas...”

Linda berusaha masuk. Sepetinya harus pelan memberikan suara. Apakah nanti ada gejala yang aneh? Ah, aku makin penasaran saja.

“Masuk lagi, keluar lagi! masuk lagi, keluar lagi...!” suara Arafah terdengar kencang. Apakah ini keanehanya?

“Maaf, mba. Itu ada Kak Elbuy.”

“Ya sudah, sana pergi! Nanti masuk lagi. Ya emang gitu kan kerjaan mba? Aneh!”

Ya Tuhan. Nafas mendadak terengah-engah. Aku bisa sedikit merasakan yang Linda rasakan. Mengapa ini terjadi? Aku harus berbuat apa? Apakah harus menelepon saudaranya? Aku tidak tega. Apakah kehadiranku bisa memberikan solusi? Entahlah.

“Lihat sendiri kan? Gimana mau ngelayani? Bikin bingung aku saja.”

“Mba Linda! Tolongin aku!

“Tuh, biasanya kalau sudah begini, enak ngelayaninya, hehe. Ya sudah mas tunggu ya? Aku bawa Arafah keluar dulu.”

Aku duduk di kursi. Rumah ini hanya dihuni dua orang. Terasa sepi. Suasana sepi seperti ini, bagaimana pikiran tidak menjadi aneh? Aku saja yang normal, bisa mendadak jadi superman. Bagaimana dengan Arafah yang baru saja kehilangan keluarga terutama ibu tercinta? Memang di samping rumah ini adalah kos-kosan mahasiswa. Tetapi suasana baru membuat Arafah dan mahasiswa pun sulit untuk berbaur. Memang sih, Arafah itu artis. Tetapi tidak semua lokasi memperlakukan Arafah selayaknya artis. Artis tetap saja manusia biasa yang terkadang tersingir oleh lingkungan atau dihormati.

“Kak Elbuy! Pengen nangis. Hiks hiks.”

“Napa kamu jadi cengen gitu, Arafah? Katanya gak boleh nangis orang disekelilingnya?”

“Biarin! Ya sudah sana pergi! Sudah bosen ketemu Kak elbuy.” Kata-kata Arafah membuatku kaget bukan main. Begitu ya sikap anehnya?

Aku cuma termangu lama. Aku bingung sendiri. Linda cuma kedip-kedip mata tidak jelas.

“Napa masih di sini? Sana bikinin aku nasi goreng. Disuruh malah diem saja.”

“Lah, siapa yang nyuruh bikin nasi goreng?” Tapi ini kata-kataku dalam hati.

“Adek mau nasi goreng? Siap! Aku bikinin ya? Spesial telur.” Aku menuju ke dapur. Haduh. Aneh sih aneh, tetapi membuat perut pengen tertawa, eh mulut. Tapi aku tahan, khawatir ganti cennel mood.

“Mbak Linda gak usah ikutin Kak Elbuy. Ih, disini saja. Enak aja duaan.”

Untung saja aku lumayan bisa masak kalau sekedar bikin nasi goreng. Aku sisir bawang, cabai, tomat, sayur sawi, dan yang dibutuhkannya. Aku kasih cabai yang banyak karena Arafah suka pedas. Aku kasih telur di nasi goreng dengan teknik acak, hm. Aku taburi bumbu yang biasa disukai Arafah. Aku sebenarnya nyontek ilmu dari Arafah seputar nasi goreng. Jadi gampang membuat nasi goreng kesukaan Arafah. “Aneh tapi bikin aku gemes sama kamu, fah, hehe, pengen ketawa.”

“Arafah, nasi goreng sudah jadi.”

“Suapiiiin...”

“Lah, udah gede kok pengen disuapin?” Aku tidak perlu berkata, ‘jangan manja’. Ya sudah, sekali saja ya? Tidak baik loh, kalau terlalu sering disuapin cowok.

“Iya... sekali saja.”

Linda di samping kursi roda Arafah, senyum-senyum pakai acara tidak tahan. Entah, apa yang mau dikatakan Linda. Yang jelas, antara tertekan dan ingin berkata-kata. “Ya sudah lind, keluar kentut saja, biar beres.”

“Sekarang, Linda yang suapin ya, adek kecil?” Sikap manja adalah salah satu yang aneh pada diri Arafah. Tetapi syukur sih, manjanya tidak keterlaluan. Kalau keterlaluan...

“Kak, jalan-jalan ke Mal yuk, jalan kaki. Pokoknya mau, jangan gak mau.”

“Ya ampuuun, keterlaluan ini sih. Baru dimaklumi, malah bikin ulah,” kataku dalam hati.

“Dari kampus ke mal kan jauuuuh banget, dek.”

“Ih, pokoknya harus! Kakak sendiri pernah cerita ke aku kalau kakak pernah jalan kaki dari terminal sampai ke mal. Dari kampus ke mal pun pernah.”

“Kasihan kamu dan Linda, fah.”

“Kan aku cuma duduk doang. kakak yang jalan dan mba Linda jagain rumah.”

“Oh, jadi adiku yang lagi manja-manjanya pengen niksa kakak?”

“Kekekekek. Pliiiiis. Mau ya? Kalau gak mau, aku gak mau makan nasi goreng ini.”

“Ya, udah, tapi habisin nasi gorengnya.”

Arafah pun memakan nasi goreng dengan lahap. Entahlah, cepat sekali perubahan sikapnya. Mungkin ini yang dikatakan aneh. Mudah marah, mudah juga seneng.

Linda tersenyum sambil memperagakan aksi makan Arafah. Ia sebenarnya cukup bisa bergaul dengan Arafah walaupun sekarang Arafah adalah artis. Bisa nyambung ngobrol bila kondisi Arafah normal seperti biasanya. Bagi Linda, Arafah tidak ada perbedaan walaupun sudah menjadi artis. Terbukti mengangkatnya sebagai asisten karena merasa prihatin dengan kehidupannya. Namun kali ini, sebelum aku datang, seperti bingung menghadapi Arafah. Rupanya ia sekarang bahagia melihat Arafah yang tiba-tiba aneh tetapi bikin tertawa.

Linda masih tetangga Arafah. Ia pun teman kecil Arafah, sebenarnya. Hanya saja, nasibnya berbeda. Kalau Linda sudah menjadi asisten alias pembantu, pertanda bahwa orang tuanya mengalami kesulitan keuangan. Benar, orang tuanya hanya sekedar pedagang sayuran di pasar. Ya, ia hanya sebagai teman sekolah Arafah sampai SD saja bersama Arafah. Namun sebenarnya, ia ingin sekali sekolah. Namun masalah keluarga yang tidak sekedar ekonomi membuatnya putus sekolah, tidak sampai 12 tahun.

“Aku ingin tanya, kenapa kamu meninggalkan Ramadani? Sahabat sejati kamu dari Medan? Belum lagi pasukan smart girl kamu. Keluar dari kampus, tentu gak bisa bareng lagi.”

“Nanti aku jelasin kalau ada penjelasan. Ya sudah, ayo brangkat.”

“Lind, nanti kalau sudah hampir sampai ke mal, kamu segera berangkat ya? Kan repot kalau tiba-tiba Arafah minta ke toilet.”

“Baik, mas.”

“Oh, gitu ya kak? Gak kepikiran. Kirain suruh jalan kaki.”

“Haduh, era mobil pakai jalan kaki.”

“Yeh, nyindir!”

“Ya, sudah, kita berangkat.”

“Tapi bacain aku puisi dulu dong. Puisi buat mengobati kerinduan ke ibu.”

“Nanti kamu nangis lagi ah. Mata kamu udah bengkak kayak gini. Lind, kompresin mata Linda dulu dong.”

“Gak apa-apa. Tapi aku janji, mataku dikompres.”

Sebenarnya aku tidak tega membaca puisi ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Arafah sedang bermain manja.

Arafah, Ibumu Dan Rumah Surgamu

Bunga rindu ibumu, oh padamu, Arafah.
Kamu merindu pula belaian lembut tangan ibumu, oh Arafah.
Pelukan hangat berjumpa, melunturkan rindu yang membeku.
Oh, kenanganmu masih aku simpan erat dalam kerelaan kalbu.

Ibu dan rumah adalah perpaduan yang indah cerah, tak terpisah.
Kerinduanmu pada rumah, terbayang wajah ibu tersenyum cerah.
Oh, Arafah, rumahmu memang surgamu.
Oh, Arafah, pahamkah sekelumit surga di telapak kaki ibu?

Aku bukan pecinta ibu sebaik dirimu setiap berkaca padamu.
Kata ibu selalu menjadi curahanmu di setiap pentas aksi.
Walau di tengah pancaran kamera dan gangguan manusia, sepenggal katamu hadirkan spesial ibu.
Waktu terus berputar, semoga tidak membuatmu ingkar: ibumu pecinta sejati.

Aku pemerhatimu yang kini di rumah bayanganmu.
Aku terbayang, dirimu menghuni di rumah surgaku.
Gejolak pertanyaan akan menjadi desakan yang tak tenang.
Di manapun hunian, cintamu pada ibu tak semudah berpaling.

Aku biarkan pikiranku mengalir, menjejaki masa depan.
Malam menjadi saksi diriku yang menjadi anak yang kurang berbakti.
Sekali lagi aku berkaca pada dirimu, oh anak gadis kesayangan.
Aku berharap sajakku hanya bermain ilusi.

Aku lihat di segala sudut rumah.
Pintu terbelah dua, jendela berkaca, lantai menjadi alas, dan tembok menyatukan keluarga.
Rumahku memang surgaku walau terkadang jenuh.
Aku seperti jenuh menjadi hidupku yang tak ceria suara, sediam penjual pulsa.

Sajak ini menjadi teman air mata.
Terpanggil sedikit air mataku di setiap kata berselimut kisahmu.
Bukan berirama sedih, oh, dadaku saja yang tak berdaya.
Aku mencintai baktimu pada ibu hanya menjadi cerita bisu.

Oh, Arafah, rumah memang surgaku dan surgamu.
Masing-masing memiliki surga, tidak perlu dipersatukan.
Biarlah air mengalir bercabang-cabang aliran.
Kita hanya perlu penyatuan penghayatan: rumah surga ada di telapak kaki ibu.

Aku tulis sajak ini untuk penghargaan baktimu pada ibu.
Biarlah tanpa suara, menjadi saksi bahwa bakti tanpa perlu umbar suara.
Cinta sejati ibu biarlah menjadikanmu ibu untuk anak-anakmu.
Biarlah waktu menjawab, kamulah pecinta sejati di rumah surga.

“Hiks hiks hiks. Ibu... aku kangen bu... Hiks hiks hiks.”

“Lind, ambilin es batu. Kompres mata Arafah.”

“Udah, Mba, yang sabar mba... Maaf, aku kompres ya...”

Linda berusaha untuk mengkompres mata Arafah yang bengkak, lebam sebelum aku dan Arafah pergi jalan kaki. Ia banyak nangis sampai benar-benar bengkak. Ia merindukan sosok spesial ibu dan keluarganya. Ia merasa kesuksesan yang sudah diraih tidak ada artinya mengingat tidak ada orang spesial untuk dibahagiakan yakni keluarga. Linda masih terus mengkompres mata Arafah yang masih tetap bengkak. Ia dengan telaten mengurus mata Arafah. Padahal, kalau tidak lagi manja, Arafah tidak bakal mau dikompres begitu. “Kan bisa sendiri mengkompres mata mah.”

Setelah selesai, aku dan Arafah mencoba berjalan kaki menuju area kampus dan terus berjalan sampai menempuh perjalanan jauh. Untuk bisa sampai ke tujuan dengan berjalan kaki, kira-kira sekitar 2 jam dengan langkah kaki yang cepat. Aku tidak bisa mempercepat langkah kaki untuk bisa sampai sekitar 2 jam. Tetapi aku mengusahakan untuk cepat ketika kondisi memungkinkan. Tidak apa-apa mempecepat perjalanan roda, Arafah malah girang seperti mendapat tantagan. Aku pun terbebas dari tekanan malu.

Sebenarnya malu tetapi tidak terlalu malu. Namun aku rela melakukan itu. “Huft, demi gak galau.” Banyak yang menonton perjalananku bersama Arafah. Minta foto pula. Bahkan ada fans Arafah yang menggaplok kepalaku karena mengira aku lah penyebab kecelakaan Arafah. Tetapi dengan penjelasan Arafah, akhirnya mengerti. Perjalanan yang aku anggap paling memprihatinkan walaupun sangat berkesan. Arafah tidak malu. Justru ia malah girang karena banyak yang menyapa dan foto-foto. Haduh. Aku tidak tahu kondisi mental Arafah setelah ini. Benarkah itu kondisi asli Arafah?

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Pagi Yang Aneh, Oh Duka Arafah"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar