Proyek Bisnis Cinta Bersama Arafah Rianti

Aku relakan bahwa masa kuliahku sudah habis di kampus negeri yang ada di Cirebon. Tapi, dikira itu rela? Bangga bener menjadi mahasiswa abadi. Bukan itu alasannya. Aku terkenang masa kuliah yang penuh dengan ketidakberdayaan. Kondisiku yang memang memprihatinkan ... ongkos jajan cuma 5000. Eh bukan itu, tetapi benar-benar dalam kondisi tidak bisa belajar. Males keles. Tapi tidak juga. Tidak paham. Yang jelas, perasaan sering merasa sedih walaupun tidak ada masalah. Maklum, nafas udah bengek. Tapi bukan itu juga. Paru-paruku normal. Kadang juga air mata meleleh... mata gatel banyak cewek cantik. Ye ye ye, modus. Ya sudah, pada intinya, selamat jalan perkuliahan dan kini menyambut dunia pengangguran.


Tapi, sori saja, kalau aku dianggap pengangguran. Memang aku tidak keluar kemana-mana di jam bekerja, tetap di rumah. Ya bagaimana mau keluar ke kantor seperti pada umumnya orang bekerja, sedangkan kantorku di rumah orang tuaku sendiri? Jualan pulsa dong.

“Lah, jualan pulsa? Sayang bener, kuliah udah mahal, malah jualan pulsa.” kata temanku, Heris, waktu bertemu di salah satu toko buku yang ada di Cirebon. Ia adalah teman seperjuangan ketika PPL di SMPN 9. Ah, kenapa harus ada kata seperjuangan sih? Sekomplotan dong, biar seruan dikit.

Sebenarnya, aku juga mau bilang, “Kuliah udah mahal, malah sekedar guru honor yang sedikit jadwal mengajar.” Tetapi khawatir temanku itu juga sebagai guru honor yang di maksud. Aku saranin saja bagi yang sekedar menjadi guru honor tetapi sedikit jam mengajar. Dunia online tidak seburuk ofline untuk guru honor, kalau paham.

Ya, walaupun aku hanya jualan pulsa, aku membangun proyek online seperti jasa artikel, jasa pembuatan blog, kursus online dan membangun proyek bisnis online pasar luar negeri. Mampus dah, aku pamer, takut banyak yang naksir: perampok, pencopet, maling dan tukang ngemis.

Aku baca lagi tulisan yang pernah aku kirim ke email Arafah. Aku mau edit sedikit untuk dipublikasi di blog. Aku teringat bahwa aku mau berencana membangun proyek bisnis yang melibatkan Arafah. Semoga saja proyekku terbangun sukses dan bisa menggaet Arafah sebagai... sebagai apa saja lah. Bingung nge-fiksi-nya, takut banyak boikot atau petisi online dari para fans. Haduh, zaman edan, serba boikot atau petisi. Dari pada edan, lebih baik baca email di bawah. Pamer dikit.

Assalamualaikum Arafah dan tim Arafah

Pagi yang dingin, mencoba untuk menghubungi Arafah via email agar deringan hp milik tim Arafah tidak mengganggu siapapun. Bisa saja aku menelepon, tetapi tak bisa berkata sepatah kata malah patah-patahan kata. Karena yang mengangkat manajer atau admin-nya, haha. Nanti saja kalau berniat membutuhkannya.

Berharap penyambutan aku ini bagaikan di hari ulang tahun untuk Arafah, tetapi tidak mungkin. Mungkin senyum saja dari hati, terdalaaaam, biar Arafah tidak tahu aroma bau mulut aku, hihi...

Perkenalan:

1. Nama: Mukhamad Lubab
2. Nama Pena: Elbuy
3. Pekerjaan: Bisnis, Nulis Ala Stand Up Comedy, Desain Grafis
4. Kesukaan: Memarketingkan Arafah Rianti Secara Online
5. Status: Penulis, Desainer, Pengamat Arafah Rianti
6. Blog: http://belajarmenulistips.blogspot.com/
7. Instagram: @ubayzaman

Senang sekali memperkenalkan diri pada Arafah atau tim Arafah. Tidak harus berbalas-balasan, ada kuota yang membatasi kedekatan kita :-)

Ya, seperti judul, ini hanya perkenalan saja. So, aku masih merencanakan proyek bisnis yang berkaitan dengan Arafah dan instagram-nya. Senang sekali bila suatu saat bisa bekerjasma dalam
stand up, iklan dan yang lainnya.

Maafkan aku, Arafah, aku terpaksa menghentikan untuk tidak menjalin komunikasi yang tidak penting dariku. Nanti saja kalau sudah dianggap penting, baru berniat menjalin komunikasi. Terkadang ada unsur genting hadir untuk mementingkan. Ujungnya maksa bermodus “penting”. Biasa lah, tukang utang uang.

“Emangnya Arafah mau komunikasi ama kamu, hah?” Ada fans dari sebangsa semut ceng-cengin aku.

“Tanya saja sama Arafah!”

Bukan tanpa alasan aku menolak jalin komunikasi. Pertama, banyak kejahatan pertemanan lewat jalur online. Jadi, aku menghindar diri dari dugaan Arafah mengenaiku. Kedua, Arafah sudah menjadi manusia pantauan, ngartis gitu, haha... Bila Arafah kenalan lewat online denganku tetapi menelantarkan fans online yang lain, mereka akan kecewa. Aku tidak mau jadi pihak yang merugikan untuk Arafah. Biar saja aku yang rugi. “Nangis dulu ah”. Ketiga, aku punya pengalaman pahit, tetapi agak asem sedikit sambil asinnya ikut campur, seputar percintaan jarak jauh atau biasa disebut LDR. Hal itu bisa menambah jam terbang atas lukaku. Ehem, gombal dikit, tapi beneran sih. Khawatir kita terjebak dalam lautan asmara, “Heu heu heu...” Tiba-tiba keluar dari kepalaku mahkluk asing bin aseng, terbang ke atas sambil bereaksi mau memanahku.

“Hoi! Awas kalau memanah dadaku! Aku kurungin pakai botol” Aku mengancam peri kecil yang siap memanah dadaku, di jantungku.

“Lah, terus, kalau sudah begini, cerita fiksinya bagaimana?” Ah, pembaca ingin ikut campur saja dah.

“Ngatur aja, deh!”

“Santai pembaca, aku tetap hadir menjadi Arafah untuk fiksi ini bersama Kak Elbuy. Iya kan, Kak?”

“Hantuuuu!!!”

“Yeh, nyebelin deh!”

“Oh, dikira hantu, Dek. Tiba-tiba kamu nongol di konter aku.”

Arafah tiba-tiba menjalin komunikasi. Malahan nongol di konterku, menurut cerita yang ada. Arafah... Arafah. Sudah dibilang jangan berkomunikasi lagi denganku. Aku tidak mau berkomunikasi yang membuang-buang waktu. Kita berkomunikasi yang pasti menghasilkan finansial saja dah. Buat apa sih ngobrol ngalor-ngidul (utara-selatan)? Eh, sekarang malah nongol dihadapanku.

“Adek Afah, ngapain malah kamu nongol di sini? Kamu mau ikut jualan pulsa bersamaku? Kamu artis, tidak pantas jualan pulsa.”

“Siapa yang mau jualan pulsa? Enak ajah ngulang nasib yang kayak dulu: nunggu pelanggan. Aku mau curhat, Kak.”

“Curhat mulu kerjaan kamu. Jangan curhat di sini. Bukan mahram curhat ama aku mah. Kalau mau curhat, via online saja.”

“Kok gitu sih? Ah nyebelin ah, Kakak tuh. Ternyata kakak orangnya gitu. Gak bisa bergaul sama cewek. Ya udah deh, aku pulang aja.”

“Yeh, gitu aja ngambek. Iya, maaf. Cara penyampaian aku lagi eror begini. Aku kaget aja, kamu tiba-tiba nongol di sini. Naik apaan kamu, Dek? Maaf ya. Emang dianjurkan, cewek atau cowok itu tidak boleh sering saling curhat, apalagi berduaan. Di sini cuma ada aku dan kamu doang.”

“Maafin aku, Dek.” Kataku dalam hati. Maaf, aku bikin cerita yang seolah memojokkan diri kamu, menganggap kamu tidak paham agama, tidak solehah dan aku berperan sebagai cowok yang sok soleh. Padahal, ya elah, dibelakang kamu, aku selingkuh ke beberapa teman cewek. Ah, becanda, Dek. Serius juga boleh.

Tiba-tiba ada suara, “Assalamualaikum.” Ucapan yang biasa dituangkan dalam ruangan konter pulsa dan hp kredit, telinga seperti terkena air zam zam, sejuk. Soleh bener ya pakai salam? Maklum, ini kawasan pesantren, kawasan yang banyak tempat untuk pondok pesantren. Lebih tepat di blok Buntet Pesantren yang dinaungi YLPI Buntet Pesantren (Yayasan Lembaga Pendidikan Islam). Tetapi aku berada di perbatasan Buntet walaupun masih diakui sebagai orang Buntet, alhamdulillah.

Tapi, tidak hanya diawali ucapan salam saja. Lebih sering mengucapkan langsung, “Bang beli pulsa” atau “Mang beli pulsa mang”. Memang aku abang-abang, mamang-mamang penjual pulsa. Masak aku mbok-mbok atau bibi-bibi? Biasanya yang mengucapkan “Bang” atau “Mang” adalah sebagian para santri. Ya, tidak ada keharaman, bukan, panggil itu? Atau bisa turun derajat akibat panggilan itu kan? Baru, kalau ada fatwa haram dari MUI, aku larang.

Ada pembeli yang lebih paham dalam derajat keluargaku sehingga pakai bahasa keromo inggil, atau biasa disebut bahasa bebasan, bahasa halus Cirebon, “Kang, tumbas pulsa (Kang, beli pulsa)” atau “Cung, tuku pulsa cung”. Kang dan Cung adalah sebutan kepantasan sesuai umur khas Buntet.

“Alhamdulillah, rejeki datang.” Tumben, aku mengucapkan ini dalam hati di cerita ini. Tidak apalah, biar terlihat soleh sebagai orang pesantren. “Haha,” tertawa saja tanpa ada yang denger.

Aku melayani pulsa. Arafah ditinggal sendirian, sambil sedikit cemberut. Kaget atau bagaimana, sepertinya ia masih terpukul dengan perkataan aku. Ucapanku memang sesuatu yang benar, tetapi kurang benar dalam penyampaian. Hm... pengiriman dan pembayaran pulsa selesai.

“Kamu di sini dulu ya, temeni aku dan Arafah.” Aku meminta santri cewek yang sudah aku kenal untuk menemaniku dan Arafah. Sekedar cerita saja.

“Oh ya, Dek, kamu naik apa ke sini?”

“Naik hayalan kakak. Emangnya aku gak tahu kalau kakak tuh sedang menghayal aku hadir di sini? Kalau aku salah hadir di sini, salahkan juga pikiran kakak. Kita sama-sama memiliki pikiran yang menyatu karena alam semesta memang berisi persatuan benda. Hanya saja mata kita gak lihat.”

“Ampuuuun, cerdas sekali kamu, Dek. Iya, maaf banget. Hayalanku yang memanggil dan membawamu ke sini. Aku lupa. Maaf, aku yang salah. Oh, ya, kamu mau curhat apa, Dek?”

“Sepertinya gak jadi. Gak enak hati saja. Bukan salah kakak. Salah aku sendiri. Aku lupa, bahwa perselingkuhan terjadi ketika cewek sering curhat seputar percintaannya pada lawan jenis yang sebagai sahabatnya. Silahkan kakak baca saja blog aku, dan mohon komentarnya.”

Aku ikut sedih, merasakan apa yang sedang dirasakan Arafah sekarang ini.

“Nanti aku baca.”

Arafah mengungkapkan perasaan di blog pribadinya. Sepertinya, mengulang curhatan hati yang pernah ditulis.

2k16~ (2016, red)
Tahun dimana cita-cita dan cinta disatu padukan, Menjadi suatu pilihan yang diharuskan.
Antara mendahulukan cinta atau cita-cita Atau bahkan meninggalkan cinta demi cita-cita.
Aku tak tau, bagaimana kisah percintaan dan cita-cita berbanding terbalik dari apa yang aku bayangkan.

Percintaanku telah hilang.

Cinta.
Yang pada saat itu kamu lah yang memisahkan.
Entah aku harus mencela atau mengikhlaskan.
Karena kamu telah memutuskan untuk mengakhiri saat aku masih menyayangi.
Meninggalkanku seperti tidak ada kesan dan pesan.

http://arafahrianty.blogspot.co.id/2016/12/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

Aku mau memberikan kalimat terbaik yang seperti apa untuk Arafah? Ya sudah, aku katakan saja.

Aku juga tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengan gadis seperti Arafah yang entah, entah kenapa aku mau menuliskan seputarmu. Itulah buah bila kamu serius dengan cita-cita penuh cinta. Aku ingin menjadi bagian orang yang membantu kesuksesan cita-citamu, walaupun sekedar lewat tulisan.

Bila kamu percaya bahwa cita-cita terbaik membawa cinta terbaik, lakukanlah itu. Mengingat, cita-citamu yang sukses ditampilkan di depan publik, membuat banyak orang baik berdatangan untuk dirimu yang terbaik.

Cintailah cita-cita, semoga akan datang cinta yang kamu cita-citakan. Amin.

Arafah pun membaca. Nampak sekali wajah berbinar seolah menunjukkan rasa bahagia. Dan benar, setelah selesai membaca komentarku, ceria wajah kembali hadir melengkapi wajah imut Arafah. Sepertinya, kita hanya pantas bermain online dalam komunikasi seperti yang biasa dilakukan untuk menghasilkan kebahagiaan.

“Terus, mengenai proyek bisnis kakak, gimana tuh? Waktu aku baca email kakak, aku kira itu gurauan. Apakah serius mau membangun proyek bisnis yang melibatkan aku?”

“Bergantung kemauan kamu dan kondisi proyek bisnis yang akan dikerjakan. Pada intinya, rencana membangun proyek bisnis diharapkan bisa menghadirkan, kamu, Dek. Kebetulan tidak jauh dari duniamu, Stand Up Comedy, namun lebih ke pendidikannya atau pembelajaran. Mungkin kamu sebagai bintang tamu, pengajar dalam stand up atau bisa saja sebagai salah satu pemegang saham.”

“Bukankah stand up ditangani komunitas? Tidak masuk dalam pembelajaran seperti yang akan kakak bangun?”

“Komunitas, tetap komunitas. Peserta didik bisa berbaur dengan mereka untuk open mic. Tetap pembelajaran tetap pembelajaran. Stand up bukan aksi lucu-lucuan semata. Pembelajarannya mencakup penulisan, berbicara di depan umum, menguasai pengetahuan, acting, pengembangan diri dan yang lainnya. Apakah kamu mengalami seperti ini?”

Arafah geleng-geleng kepala. “Kurang maksimal, Kak”. Santri di samping Arafah ikut ngantuk-ngantuk, ekpresi wajah seperti pengen kabur.

“Bila aku tantang kamu membuat naskah berupa cerita fiksi berbalut komedi, apakah sanggup menguasai itu?”

Sekali lagi, Arafah geleng-geleng kepala.

“Apakah kalau ditantang untuk membawa acara atau biasa disebut host berbalut komedi, kamu sudah dianggap sanggup?”

“Cukup! Jangan geleng-geleng kepala.” Aku mencegah Arafah yang berniat geleng-geleng kepala kembali. Kepala Arafah mendadak miring sebelah, kaku. Matanya membelalak. Untung bola matanya tidak minta keluar.

“Ternyata, aku masih banyak kekurangan.”

“Aku tidak berkata seperti itu. Tetap level untuk bisa bersaing di beberapa tempat, dijagat penuh sesak persaingan, kemampuan kamu belum seberapa, Arafah.”

“Sedih kak. Kira-kira kapan bisa bangun proyek bisnis itu? Aku pengen belajar lagi.”

“Ya elah, kalau mau belajar, belajar aja dah sekarang. Nungguin proyek terbangun, elu tua dulu, haha...”

Arafah merenung mendalam, seperti ada beban. Mungkin ia memikirkan bagaimana nasib karirnya jika sudah lewat masa kontrak yang masih diterima sekarang. Aku harap, ia tetap sukses dalam cita-citanya dengan membawa dirinya sendiri.

“Aku bisa bantu apa, Kak, sekarang ini?”

Membangun proyek bisnis yang menaungi banyak tim memang tidak semudah membalikkan tangan. Melangkah bisnis dari kecil, salah satunya pembangunan blog, adalah solusi terbaik untuk menuju bisnis yang lebih besar. Tentunya, tanpa dorongan rasa cinta untuk terbangunnya sebuah proyek, sepertinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah kelemahanku.

Jadi, apakah proyek bisnis yang terbangun atas dasar cinta? Cinta sama siapa? Cinta pada diri sendiri yang menginginkan kesuksesan besar dengan penuh bahagia. Aku percaya pada perkataanku sendiri:Cita-cita terbaik membawa cinta terbaik. Aku berharap bahwa proyek besar ini menarik cinta seorang cewek yang aku inginkan.

“Kamu tidak perlu bantu apa-apa, Dek. Kehadiranmu sudah membantuku. Terimakasih.”

Senyuman lucu Arafah kembali terbentuk, membangun suasana konter dengan suasana bahagia dan tawa-tawa kecil. Arafah menemukan teman baru, sepertinya. Terlihat sekali kepolosan Arafah dalam percakapan. Aku biarkan Arafah berbincang-bincang ringan dengan santri cewek yang sedari tadi menunggu pecakapan antara aku dan Arafah. Aku ikut bahagia walaupun sepertinya aku harus pergi menjauh meninggalkan mereka berdua: mau buang gas beracun.

“Kak, demi kelancaran fiksi seputar aku dan kakak, ijinkan aku terus berkomunikasi, curhat. Aku mohon ya kak? Aku punya teman di sini untuk menemaniku. Namanya Piya kan?”

“Haduh, artis, artis, ngobrol harus pakai asisten ya? Kamu mau, Piy?”

“Aku mau jadi asisten Arafah, selagi gak mengganggu jadwal mengajiku.”

“Ya terserah Arafah dah. Asal jangan berduaan buat kita ngobrol.”

“Yeeeeeeh!” Arafah bangga banget. Sampai keluar aroma yang memang melekat di mulutnya.



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya