Ramah Online Lagi, Oh Arafah Rianti

Apakah kamu tahu, Arafah, kalau aku lagi flu? Tinggi bener penyakit untuk praktisi kemiskinan. Paling juga fileks, hidung tersumbat sambil otak kepala ikut tersumbat karena otot tegang di bagian kepala. Biasanya sih tidak enak untuk menulis. Namun karena fileks kelas ringan, sekedar bermain manja-manjaan buat hidung dan kepala, jadi masih bisa menulis.


Sekarang sudah bisa menjalin komunikasi alias ngobrol online lagi bersama Arafah. Sebelumnya dia ngambek seperti cerita serius saja. Kalau ngambek yang seriusnya bagaimana ya? Bumi Cirebon khususnya Buntet Pesantren gonjang-ganjing, banyak kamera meliput karena kasus diduga pelecehan keartisan yang berawal dari rasa cemburu si artis. “Aduh, ini cerita terlalu panjang, kacang.”

Pagi ini, aku melihat foto dan tulisan baru dari Arafah lewat media sosial yang ia bangun sejak pertengahan lahir di dunia, sejak penyerempet-nyerempet buat terjun ke jurang stand up comedy, dan sejak Arafah bisa menyapa mata-mata dunia maya. Aduh, berkesan sekali media sosial itu. Dia berkata dengan penuh ustadzah yang kheer:
Ilmu tanpa agama adalah lumpuh. Agama tanpa ilmu adalah buta. Hidup tanpa cinta bagai mata tak berbunga hey begitu lah kata para pujangga

Bagi yang tidak paham, mungkin kalimat di atas dianggap salah. Sebenarnya kalimat Arafah yang ditulis sudah betul-betul lurus kalau diukur dengan penggaris. Ya, mencoba untuk menangkap fakta yang ada di balik ucapan Arafah di atas, memang, agama bukan ilmu. Kalau agama adalah ilmu, memangnya kita sedang menumpak apa? Agama adalah wadah. Ya, wadahnya ilmu.

“Aduh, Dek, masih saja ada orang yang tidak paham bahwa Al-Qur’an tanpa halaman kertas, tidak ada Al-Qur’an. Itu diibaratkan bahwa agama adalah wadah ilmu.”

“Aku juga berpikiran begitu, Kak. Agama itu bukan ilmu,” Arafah menanggapi dan membenarkan. Mungkin karena aku sudah merencanakan demikian, jadi harus membenarkan bila aku berniat membuat Arafah membenarkan kalimat.

“Berarti tulisanku gak ada yang salah dong?” lanjut Arafah dengan mengajukkan pertanyaan kepedean.

“Nanti dulu. Penggaris baru saja diluruskan, udah mau bengkok lagi.”

“Emangnya penggaris kakak bengkok? Ada gitu penggaris bengkok? Kalau ada, itu bukan penggaris, tetapi bulan sabit.”

“Bulan sabit itu senyumanmu, ohohohohok...”

Arafah cuma mengirim meme dengan tulisan, “Dilarang main-main memuji bila tidak siap menikah dan dinikahi”.

Amplop dah, penggaris bengkok.

“Aku tidak mau membenarkan atau menyalahkan. Biarlah kamu belajar bersama kemampuan dirimu sendiri.”

Suasana online, percakapan alias ngobrol hanya bisa menggambarkan bahwa betapa maya dunia ini. Arafah cantik, sia-sia saja bak ngobrol sama layar monitor.

“Ganti aja muka kamu, Fah.”

“Pakai kardus dikasih bulatan mata ya?”

Aku tidak bisa menggambarkan sudut, alas, atap, lantai atau apapun yang nyata di lingkungan Arafah bila berkomunikasi secara online. Terkadang aku membayangkan sendiri, oh ternyata Arafah ada di kamar tidur, oh Arafah ada di dapur, oh Arafah ada di kamar ... eh, Arafah tiba-tiba.

“Dilarang buang pikiran sembarangan.”

“Kan wajar, sekedar membahas fakta. Memang aku mau bahas apa sih? Kan kalau mau mandi, ya harus ke kamar mandi kan? Kamu sendiri pernah buat jok bikin aku sebel.”

Lagi-lagi Arafah hanya mengirimkan meme dengan gambar otak, “Jangan mikir macam-macam sebelum siap menikah dan dinikahi nanti banyak belatung di otakmu” sambil membawa ekornya, “Wkwkwkwkwkwk”. Dasar, ketawa yang bikin gemes alias sebel.

“Nyindir. Mentang-mentang Kakak lagi gak bisa mikirin jodoh, gitu terus ngomongnya? Pas ditantang, ciut.”

Ngobrol online memang dianggap bisa menuju bebas lepas aturan. Tanpa suara, ngobrolnya bisa kemana-mana. Sekarang, tidak peduli orang rumahan atau orang keliaran. Bila sudah urusan online, bisa mabok cengengesan, cekikikan sendirian.

“Kamu lagi cengengesan kan Arafah? Aku tahu suaranya.”

“Tahu bulat kali, kalau tahu. Denger, bukan tahu.”

“Oh... terkadang otakku lemot, tetapi tersering otakkmu lemot.”

“Bicaralah yang bermanfaat. Anggaplah berbicara di depan orang tua kita.”

Oh Arafah, sudah main dalam alur pikiranku. Aku bangga ngobrol bersamamu. Kamu sudah mulai mengerti. “Emang kemaren masih kursus pengertian?” Aku capek ngobrol ngalor-ngidul (utara-selatan) via online. Ujungnya konflik horizontal. Malaikatnya bisa protes, “Kenapa gak konflik vertikal saja sekalian? Biar kelar urusanmu.”

Aku pernah mempergoki mantanku yang sudah ngobrol tidak senonoh. Yang pasti, pacarnya yang memulai tidak senonoh. Jarang ada cewek yang memulai duluan walaupun, “hohohok,” batuk. Karena itulah, aku dianggap mantan yang kurang ajar. Aku tawar lagi, “Kurang ajar 10 kg saja neng.” Aku tidak bisa menyebutkan percakatan senonoh itu. Walau bagaimanapun dia membenciku, aku masih tetap cinta. Sekali cinta, tetap cinta. “Arafah tidak boleh tahu masalah perasaanku ini, khawatir dia salah tafsir”. Yang jelas, aku pernah menjadi orang kepercayaannya untuk mengurus akun media sosial alias bisa login sendiri karena aku tahu pasword dan email.

Perlu hati-hati juga ngobrol kebenaran via online. Terkadang ucapan benar pun dianggap kejahatan bila sudah salah strategi obrolan secara online.

Aku teringat pada mantanku − mantan yang sama − yang paling tidak suka disebut sebagai mantanku. Mungkin tidak suka disebut mantanku karena terlalu cinta padaku sampai ingin membuangnya dan tidak mau mengingat-ingat kecintannya. Ibarat kata, terlalu manis bukan hal yang paling disukai orang. Justru paling manis cepat bosan, bahkan muntah. Bila aku sudah putus, mungkin karena terlalu manis wajahku, ehem, sampai terlalu sakit bila dibayangkan kemanisanku. “Muak!”

Aku teringat pernah menasehati mantanku via dunia maya plus ada sms-nya juga dong, “MLM umroh-haji itu haram. Mengapa haram? Karena tidak ada jual-beli produk, hanya biaya pendaftaran yang bermodus bantu-membantu ibadah umroh-haji. Semoga, uang mamahmu bukan uang haram.” Kebetulan mamah si mantan mau pergi umroh hasil MLM umroh. Bukan main marahnya walaupun mamahnya tetap sabar. Tetap saja, ujungnya berangkat umroh. Pas lama sudah tidak berhubungan, ia seperti menyesal sudah umroh dengan jalur MLM. Mereka seperti malu untuk minta maaf dan mencari perhatian padaku. Kataku dalam hati, “Dikira kalau sudah berangkat umroh, aman dari penuntut? Member mamah yang di bawah gimana nasibnya?”

“Pesis perkataanku kan, Kak? Agama tanpa ilmu adalah buta.”

“Luarbiasa adik imajinerku.”

“Nganggep adik sih nganggep saja, gak usah pakai imajiner segala. Aku ngerasa di-PHP-in ama status itu.”

“Ehehe... karena Arafah yang sesungguhnya belum memutuskan kepastian. Baru Arafah imajiner saja. Jadi bukan nge-PHP-in kamu tetapi karena aku menghormati hak hidupmu.”

“Terserah. Jadi, gimana kepanjangan ngenai agama tanpa ilmu adalah buta menurut kakak? Plus ilmu tanpa agama adalah lumpuh.”

“Pada intinya, ya itu karena memang begitu tanpa perlu kenapa seperti itu.”

“Serius dong..”

Aku tinggalkan sejenak oborlan bersama Arafah. Aku lagi capek menulis. Biarkan saja ia menunggu. Aku tidak mau menjadi harapan buat hidupnya. Iya, karena aku tidak bisa diharapkan. Membiasakan lama untuk memberi tanggapannya harus diberi ketegasan. Siap komandan!

Aku jalan-jalan sore. Sudah menjadi kebiasaan. Walapun hidung terasa mampet. Biarlah aku mencoba jalan-jalan sore dengan hidung tersumbat lendir. Menelusuri jalan menuju ke arah barat. Belok lagi menuju selatan. Terlihat becek padahal sedang proses pengerjaan jalan baru. Aku telusuri lekukan pembangunan jalan baru. Seperti pengerjaan modus uang desa dari pemerintah. Asal proyek, uang cair, selesai tanpa tanggungjawab. Terbukti, jalan baru terlihat becek dibiarkan saja dalam waktu lama di saat mereka sendiri melarang melintasi jalan yang biasa digunakan pengguna jalan selama bertahun-tahun. Maksudnya apa? Adakah punch-line yang menarik untuk belokan jalan mengejutkan? Ada ... kepleset! Itu baru belokan mengejutkan.

“Sial!” Aku sendiri yang kepleset. Untung tidak terjatuh ke air yang menggenang. Wah, bisa berenang bareng sama boncel kodok (anak kodok) kalau sampai terjaduh ke air. Bisa berenang sih, tetapi aku lupa cara meminum air sambil tenggelam.

Sepertinya, tidak perlu jauh untuk jalan sore. Badan sudah merasa tidak enak. Lendir hidung sudah mencair-cair terus, keluar tidak tahu untung. Wah, tandingan jok-nya Arafah, “Es di kutub utara belum cair-cair,” waktu memasuki 9 besar SUCA.

Aku lupa, aku mendiamkan Arafah tanpa balasan. “Ah, aku pengen dia dewasa saja.”

Sudah sampai rumah. Segera untuk meminum susu. Susu cokelat. Bisanya manjur untuk menghilangkan kepala yang lagi protes. Sekarang mulutku lagi protes minta jajan Fitza Hatz. Aku bergegas meminum susu agar tidak meminta Fitza Hatz.

“Ah, segerrr...” sambil mikir stor pengeluaran membengkak.

Aku buka kembali obrolan online bersama Arafah Rianti. Apakah hanya tatapan layar monitor? Oh dunia maya, bagaimana bisa nikah bila berhubungan hanya lewat monitor? Aneh dengan cinta LDR.

Arafah sudah dewasa. Tidak membuka acara dialog ngambek. Paling dialog tidak peduli, masa bodoh. Yah, sama saja. Tetapi sudah lah. Terlalu banyak tuntunan bisa membuat cewek jadi ilfil.

“Ya, orang beragama, tanpa ilmu, bagaimana mau menjalankan keagamannya? Orang berilmu tanpa agama, menurutmu lumpuh, ya, karena memang agama adalah spirit kehidupan, kemanusiaan dan ketuhanan. Tanpa agama, ilmu hanya teori belaka.”

“100%!” Arafah membalas singkat.

Padahal ada yang mau dibahas lagi. Kalimat “Hidup tanpa cinta bagai mata tak berbunga hey begitu lah kata para pujangga” maksudnya apa? Tetapi sepertinya, Arafah lagi sibuk. Aku hanya bisa garuk-garuk, pura-pura tidak mengerti padahal tanpa mikir.

Hidup tanpa cinta, bagaimana mata tak berbunga. Aku pahami bahwa matanya berbunga-bunga ketika melihat orang yang dicintai atau diberi pujian. Sepertinya, Arafah mencoba menghayal dunia kartun. Jihai, kartun kan biasanya mengeluarkan bunga-bunga cinta kalau lagi dipuji atau melihat seseorang yang dicintai.

“Aduh pusing makin terasa...” Bukan persoalan pusing saja. Perasaan seperti mendapat beban ketika membaca kalimat terakhir Arafah. Mendapat beban sampai terasa pusing. Apakah Arafah sudah tahu seputar perasaanku? Aku mencintaimu, Arafah. Cinta selayaknya aku adalah keluargamu. Walau demikian, aku gelisah saja belum mampu mengungkapkan cinta agar Arafah tahu. Tetapi, apakah penting hal itu diungkapkan?

“Ah, biarlah. Gak penting!” Ternyata, nafasku saja yang lagi sesek. Haduh, di tambah cinta makan angin. Masuk angin. Aku beli Usir Kanginan ke toko kakaku, Mba Icha, kelar sudah beban cinta. Derita cinta semudah mengusir masuk angin.

Kelar sudah cerita yang satu ini. Bye Bye...

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Ramah Online Lagi, Oh Arafah Rianti"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar