Arafah, Perpisahan Sekelas Pulang Kampung

cinta segitiga
Arafah benar-benar tidak enak badan setelah sampai di rumah. Badannya terasa pegal, kram, kesemutan dan emfu alias hidung mamfet. “Tahu kan makna hidung mamfet? Liuarnye meler.” Gara-gara itu, aku beberapa hari tidak pulang ke rumah untuk menjenguk Bapak. Arafah tidak bisa ditinggalkan. Yah, khawatir ada adegan pagi yang aneh kembali bila aku maksa pulang. Aku bisa sih merayunya bahwa pulang kampung karena mau menjenguk Bapak. Cuma aku tidak tega untuk mengungkapkan rayuan mautku pada Arafah, ehem. Dirayu lagi kalau ada dua sosok cewek yang akan menemani Arafah yakni Linda dan Zulfa, tetap saja tidak tega.


“Teh Zul, hari minggu libur kerja kan?”

“Bukan libur, tetapi aku kerjanya sore sampai malam.”

“Aku gak tahu kalau ada teh Zul di sini. Kak Elbuy diam aja, pura-pura gak tahu,” kata Arafah sambil melirikku.

“Banyak kerjaan yang dipending, Fah.”

“Beli nyambung (gak nyambung),” kata Zulfa dengan bahasa Cirebon-nya.

“Online lancar kan?”

“Alhamdulilah, lancar. Namanya juga publisher adsense, Dek, kerjanya cuma nongkrong. Cuma aku lagi gak bisa menerima pesanan artikel dan jasa lainnya. Sibuk ngurusin kamu.”

“Tuh kan gitu...”

Aku senyum ke Arafah. “Becanda, Dek.”

“Ajari isun online sih Ang (ajari aku online sih ang),” kata Zul.

“Pusing, Teh. Aku aja nyerah,” kata Arafah.

Sekarang, aku sudah bisa memastikan bahwa Zulfa layak untuk menjadi bagian cerita Arafah. Lucunya tuh di cerita, bukan di sini, apalagi di sono, tv sebelah. Harusnya tidak perlu pakai bilang seperti itu, nanti pembaca pada tahu kalau aku lah pembuat fiksi Zulfa yang menjadi bagian dari Arafah. “Hadeh, fiksi hambar.”

Namun hadir Zulfa menjadi kesempatan Linda untuk menjalin cinta. Haduh. Sepertinya Linda sudah berani lancang meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya. Aku pun sudah bilang sama Arafah untuk memotong gajinya. Arafah justru mendukung Linda. Selagi ada Zulfa, Linda tidak ada pun tidak masalah. Sepupuku malah menjadi korban. Aku menduga bahwa Arafah sepertinya tidak mau melihat sosok Zaman. Linda sempat meminta untuk dibolehkan Zaman bermain di rumah Arafah. Tetapi seperti dugaanku, Arafah menolak. Kasihan Zaman. Tetapi aku tidak bisa memaksa perasan. Itu sudah menjadi prinsipku.

“Yah, Teh Zul. Gak bisa lagi nemenin aku? Sibuk ya?” Kenangan di hari yang berbeda, Arafah seperti tidak mau ditinggalkan Zulfa. Namun ia memaklumi mengingat Zulfa mau mengurusi skripsi-nya.

“Ya sudah, Zul, gaet lagi jadi adek, musim adek-kakak imajiner, haha.”

“Lah, Ang Ubab iku mah (Lah, Ang Ubab itu mah). Maaf ya, Fah. Iya, mau bikin skripsi.

“Zul, udah, kalau ada waktu, temenin Arafah. Kasihan mereka cuma berdua saja. Suruh Zaman ngeramein rumah ini, Arafah ngambek.”

“Bukan ngambek kak, ih. Bukan mahram eh muhrim.”

“Mahram bukan muhrim. Mahram itu yang haram dinikahi. Muhrim, orang yang lagi ihrom.”

“Ya gitu dah.”

“Lah, kakak siapa? Terpenting kumpul ramai di luar.”

“Ya udah deh, ngaku, kalau aku gak mau Zaman hadir di sini. Jangan tanya alasan. Titik!”

Percakapan berikutnya panjang. Titik!

Setelah Arafah di rasa sudah sembuh, aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah asli untuk beberapa hari. Tentunya memberikan alasan yang masuk akal. Ya, salah satunya menjenguk Bapak. Akal-akalan kali ya? Padahal ingin juga menghilangan penat dari suasana kos-kosan dan udara pengap kota Cirebon. Tetapi, masak aku harus enak-enakan meninggalkan Arafah sedangkan kos-kosan saja bukan aku yang bayar. Siapa coba? Apalagi pengeluaran biaya kos sekitar 500.000 per bulan. Bukan fiksi kan? Amat besar bayaran itu. “Tega kamu, Lind. Sudah digaji, mingguan enak sendiri aja,” omongan isengku. Aku berjanji, bulan nanti aku akan minta agar separo pembayaran, aku sendiri yang bayar.

Lega rasanya berada di rumah sendiri. Ingin beberapa hari menikmati kamar tidurku yang asli. Tetapi, apakah setega itu bila aku pulang kampung, kembali ke rumah asli? Seakan hidup bersama Arafah merupakan beban yang besar. Faktanya aku lebih nyaman tinggal di rumahku sendiri. Ya, mau bagaimana lagi? Bukan karena beban bersama Arafah, melainkan aku tidak menemukan kenyamanan dalam tidur. Belum terbiasa. “Ah, manusia molor.” Memang seperti itulah kondisiku. Aku sering berbaring hanya untuk melepas lelah dan lemes. Hampir hidupku selalu maksimal dalam berbaring. Manusia bantal guling. Karena itu, aku tidak memiliki teman bergaul. Tragis? Ah, tidak menjadi persoalan bila faktannya aku menikmati ini. Apakah belum dua kali nikmat bila sudah menggaet sosok Arafah? Lebih dari sekedar nikmat, melainkan menghasilkan keuntungan alias fulus.

“Kakak matre...”

“Biarin. Rejeki Allah kok ditolak? Halal lagi. Hayo, mau bilang apa?”

“Mau bilang beli’in aku ponsel baru.”

“Haduh.” Arafah paham kalau adikku memang membuka kredit hp. Sebenarnya aku juga bisa, namun masih mengumpulkan modal untuk membuka kredit hp yang masih berpayung dalam nama Andicellular. “Aku pikir-pikir dulu pakai otak kredit ya...”

“Janji?”

“Janji kreditku padamu.”

“Kekekek.”

Sekarang, yang pegang kendali untuk beberapa orderan iklan online untuk Arafah, aku yang pegang. Pada paham tidak proyek iklannya? Tidak perlu detil penjelasan untuk hal ini. Rahasia. Intinya sekali order, dooor! Dan sekarang aku yang pegang segala urusan proyek iklan dan yang lainnya. Maksudnya semenjak Arafah pindah ke Cirebon. Mungkin karena sakit hati sama Novi, ia memutuskan untuk tidak melibatkannya dalam kerjasama iklan dan berbagai pelayanan online yang sudah kita bangun bersama. Bisa dikatakan, aku ini manajer cadangan. Makanya, jangan heran, aku bersama Arafah itu lengket seperti liur ingus, eh perangko. Sama-sama lengket mencari nafkah.

“Kak, kapan balik ke sini?” Arafah PM lewat media sosial miliknya.

“Nanti aku kabarin.”

“Ubab, gotongna meja (Ubab, gotongkan meja),” dari jauh, ibuku, Zakiyah, memanggilku dengan nama panggilan yang sudah biasa didengar. Sebenarnya nama asliku adalah Lubab Al-Zaman. Kalau Elbuy, nama sok keren.

Seperti biasa, bila sudah masuk waktunya solat tertentu, mempersiapkan beberapa meja yang memanjang untuk kebutuhan perjalanan Bapak menuju kamar mandi, mengambil air wudhu atau lainnya. Ya, di samping sebagai terapi berjalan, juga sebagai alat bantu berjalan. Bapak menolak untuk dibawa ke rumah sakit walaupun kondisi tubuhnya sedang lumpuh, sulit berjalan. Aku dan ibuku saja yang selalu menggotong-gotong meja. Adik-adikku ada yang bekerja, mondok sedangkan Kakak, Mba Icha, di rumah yang berbeda. Kalau aku ke kota Cirebon, meninggalkan Ibu dan Bapak, mungkin Ibu akan mengurus sendiri.

Kalau kondisi normal, orang-orang sulit sekali mencari Bapak mengingat selalu berkeliling, bahasa kerennya adalah klayaban (keluyuran), bahkan di beberapa kebun. Ibarat kata, “berag tua” alias merasa tenaga muda padahal sudah tenaga tua. Sekarang, terkulai lemas, mana tahan buat diam terus? Tapi kalau urusan masalah spele menjadi ribut, ya sudah menjadi langganan, tetap jalan tanpa kaki berjalan.

“Kerasae kayak pengen melayu (rasanya seperti ingin lari),” kata Bapak.

“Molane gah ning rumah sakit, ning spesialis. Semono pareke (Makanya tuh di rumah sakit, di spesialis. Segitu deketnya).” Nasehatku dan nasehat orang di sekitar selalu menyarankan untuk dirawat di rumah sakit. Tetapi tetap saja, tidak ingin dirawat. Inginnya dirawat dalam rumah sendiri.

“Ya mengkonon, bapane ira kuh, angel, ngeyel pisan. Nginum obat campur banyu susu (ya begitu, bapannya kamu tuh, sulit, nyeleneh lagi. Minum obat, pakai air susu),” kata Ibu menjelaskan susahnya mengajak Bapak dirawat ke rumah sakit.

Di rumah ini, dalam keseharian cuma aku, Ibu dan Bapak yang menghuni. Kakak aku, Mba Icha atau Khafidzoh sudah punya keluarga dan rumah sendiri. Adik pertama, Acip atau Nasif, siangnya bekerja dan malamnya begadang, sehingga jarang menghuni rumah. Adik yang kedua, Andi atau Majdi, lebih jarang lagi menghuni ke rumah mengingat selalu tinggal di pondok, rumah teman, kampus atau kesibukan lainnya. Adik bungsu, Jimi atau Najmi, bahkan mondok di Manajengka sehingga belum pernah mengunjungi rumah dalam 1 tahun ini, di samping memang belum dibolehkan pulang. Namun itulah realita anak yang sudah dewasa. Ketika sudah pada dewasa, satu per satu akan meninggalkan orang tua, menghuni hunian keluarga masing-masing. “Aku, aku bagaimana?”

Setelah beres membantu Ibu mengangkat meja, aku berbegas kembali ke kamar. Tiduran lagi. Efek lelah masih terasa, apalagi disertai mengangkat meja. Kalau sudah jalan jauh selama dua jam, tidak bisa sehari sembuh. Bisa jadi 1 minggu efek lelahnya masih terasa. Bukan terasa pegal melainkan pernafasan terasa lemah. Memang sih, aku kuat jalan jauh. Namun efek jalan jauh itulah yang siap menanti untuk menghantam tubuh.

“Kak, napa sih belum nikah juga?” kata Arafah dalam obrolan online.

“Kok tiba-tiba tanya ini?”

“Suatu saat, Kakak juga ninggalin aku kan? Seperti yang kakak lakuin sekarang. Aku takut gak bisa sama Kakak lagi.”

“Kalau kamu punya cowok yang kamu cintai, pasti bisa hidup tanpaku.”

“Apa urusannya ama cowok?”

“Cowokmu, sebagai suamimu, bisa marah bila berhubungan denganku.”

“Ya enggak lah. Itu ya sebabnya, Kakak nyiapin diri agar bisa pisah am aku?”

“Betul, Fah. Itu salah satunya.”

“Begitu juga istri cewek Kak El juga?”

“Bisa jadi.”

“Terus?”

“Darrrr!!!”

“Pisah?!”

“Enggak. Ada yang meletus, ngakak.”

“Jorok!

Aku kirim icon emotion ngakak.

Terus gimana?”

“Santai aja dek. Lah, emang kita ngelakuin apa? Ngobrol biasa kan?”

“Tapi kita kan saling mencintai.”

“Ya harus saling mencintai dong. Masak saling membenci? Sama keluarga, sahabat, makhluk hidup, sampai makhluk mati, harus memiliki cinta bila ingin damai.”

“Tapi kok aku pernah cemburu, kangen dan sebagainya seperti orang yang lagi jatuh cinta ke cowok?”

“Aku juga sama, gitu. Apa ada hati yang salah tempat? Gak kan?”

“Maksudnya?”

“Bergantung tujuan dan kepantasan kita, Dek. Aku mencinta kamu, hal yang pantas adalah mencintai sebagai kakak ke adek. Gak ada pantes-pantesnya bila kita menikah, ngakak. Nikah bukan urusan cinta aja, Dek, tetapi kepantasan. Diliat dari umur saja, kita gak pantas. Kamu 19 dan aku 31, jaraknya melar kayak karet kena minyak tanah.”

“Kalau takdir menentukan menikah, pantes gak?”

“Ngakak! Pantes-pantes aja. Sudah. Santai aja, Dek, aku gak akan ninggalin kamu dan semoga kamu pun gak. Jangan bahas takdir, kelar pembahasan.”

“Terus kapan Kakak nikah? Udah umur 31 lho? Pengen banget kondangan dikasih ponsel cina yang kardusnya ada plastik pletak-pletoknya.”

“Kondisi kesehatanku, Arafah. Hidup sendiri saja kadang lelah sendiri.

“Bilang dong kak, sakit apaan? Aku ngawatir bila itu penyakit mematikan.”

Nanti kontrol bareng biar kamu tahu. Kontrol hari apa?”

“Jum’at aja kak, biar cepet.”

***

Hari kedua. Sebenarnya, hari ini aku cemas juga meninggalkan Arafah. Walaupun ada Zulfa dan Linda, tetap saja aku merasa cemas. Bagaimana tidak cemas? Judulnya seperti apa bila aku tidak cemas? Aku mencintai Arafah. Lah, terus biasa-biasa saja? Namun terkadang, bahkan kecemasan seseorang ke lawan jenis yang dicintai lebih besar daripada kecemasan ke orang tua kita. Termasuk aku tidak merasa cemas ke Bapak yang lumpuh dan Ibu yang merawatnya. Biasa saja. “Dasar!” Namun kecemasanku pada Arafah, tidak terlalu juga. Aku merasa cemas, karena kondisi fisikku dimungkinkan untuk cemas. Perasaanku terasa tidak lega bila ada suatu masalah namun berjarak jauh. “Semua juga gitu kali.”

Buatku, masalah Arafah jauh lebih perlu dicemaskan mengingat usianya yang masih muda, bukan karena cacat dari lahir, ditinggalkan keluarganya, ditendang dari persaingan keartisan dan sebagainya. Sudah begitu, ia harus menghadapi perkuliahan yang bisa jadi memberatkan hidupnya ketika masih di dalam kursi roda. Sama seperti keperluanku untuk cemas pada adik bungsuku, Najmi, karena mengalami perilaku aneh. Kata orang pesantren, diganggu jin. Namun dengan segala upaya dilakukan, termasuk aku sempat mengeluarkan jurus komat-kamit mengusir jin − “Emangnya bisa?” – akhirnya ada perubahan yang bagus. Sekarang, adikku lagi mondok di pesantren Majalengka setelah diterapi di Ciamis.

“Kacung priben, Andi? (Kacung gimana, andi?)” Ibu bertanya pada adik keduaku seputar anak bungsunya, Najmi atau Jimi, yang sering dipanggil Kacung. Kacung adalah panggilan Khas Buntet yang artinya panggilan kepantasan untuk anak yang dianggap kecil.

“Ya, lagi ngaji Kitab Fathul Mu’in, Ma’ (Ya, lagi ngaji kitab Fathul Mu’in, Ma),” kata Andi, pemilik Andi Cellular yang panggil Ibu dengan kata “Ema’”. Fathul Mu’in adalah salah satu kitab Fiqih, ilmu hukum Islam.

“Masya Allah, Alhamdulillah.”

“Ya, nadzom Alfiah gan sekien wis apal maning. Malah wis 300 nadzom (Ya, nadzom Alfiah juga sekarang sudah hapal lagi. Malah sudah 300 nadzom).” Alfiah adalah kitab Nahwu (Dalam inggris disebut Grammar) yang berisi nadzom atau syair seputar nahwu.

Ibu menangis. Bagaimana tidak menangis bila anaknya sembuh dari gangguan jin yang mengusik anak? Aku yang ikut serta dalam penjagaan pun ikut serta lega campur sedikit cemas yang masih melekat. Salah satu pengalaman yang memang cukup memberatkan untuk keluargaku. Kini, untuk masalah ini, dianggap tidak menjadi masalah. Namun tetap saja, efek perasaan tidak enakku dan Ibu bisa jadi masih hadir, apalagi ditambah kondisi Bapak yang kini lumpuh. Aku? Perasaan tidak enakku pun ditambah dengan kondisi Arafah yang mungkin saja bisa membuatku keluar air mata dengan deras tanpa mewek bila aku terus-menerus membayangkan sosoknya. Ada tidak tanpa mewek? Yang ada mewek tanpa air mata, Teh Iis Dahlia menyanyi. Pengen sekali menjerit, “Ah!”, biar hatiku lega. Tetapi tidak ada kelegaan kecuali aku selalu berusaha tenang pikiran. Aku dan Arafah sama-sama memendam duka dan mencoba tabah.

“Olih jenguk maning beli (Boleh jenguk kembali gak)?”

“Olih. Baka beli dijenguk, watir dikira dibuang (Boleh. Kalau gak dijenguk, khawatir dikira dibuang).”

“Ya beli mengkonon. Melas temen. Ya pengene por jenguk. Engko jenguk (Ya bukan begitu. Kasihan banget. Ya pengen sekali jenguk. Nanti jenguk).”

“Zakiah, Maret bae jenguke,” kata Bapak memberi imbuhan kalimat. Bapak menyarankan agar bulan Maret menjenguk Najmi. Sekarang masih bulan Februari.

Di saat mau penjengukan kedua, di saat Bapak berharap bisa menemui Jimi, malah kondisi Bapak lumpuh. Kalau Jimi tahu, mungkin akan minta pulang.

“Tapi watire kuh njaluk balik. Apa maning Bapak lagi lumpuh (tapi khawatirnya tuh minta pulang. Apa lagi Bapak sedang lumpuh).”

“Ya aja diwarah mengkonon. Toli jare kiai-e gah blolih balik dikit, durung pulih pisan (Ya, jangan dikasih tahu begitu. Terus, kata kiai-nya juga tidak boleh pulang dulu, belum pulih sekali).”

“Ya wis. Siap-siap bae tuku kelambi lan kang laine (Ya sudah. Siap-siap saja beli baju dan yang lainnya).”

Diam sesaat. Aku lihat mereka lagi menyantap hidangan di meja. Aku cuma berjalan melintasi mereka menuju ruang tamu, menuju tempat konter. Kebetulan konter berada di bagian ruang tamu, di ruangan khususnya.

“Ma’, Bapak kah ditangani ahli herbal bale. Kang Ubed beli bisa melaku, ditangani ning kuen, dadie bisa melaku (Ma, Bapak tuh ditanganin ahli herbal saja. Kang Ubed gak bisa berjalan, ditangani sama itu, akhirnya bisa berjalan).”

“Kuh, Kang Mamad, gelem beli? Yambir waras pas jenguk Najmi. Langka nginep-nginepan, beli dirawat, beli (Tuh, Kang Mamad, mau gak? Biar sembuh pas jenguk Najmi. Gak ada nginep-nginepan, gak dirawat, gak).”

“Lah wis lah. Anang mengkenen bae gah engkoe waras (Lah udah lah. Begini saja juga nantinya sembuh).”

“Kuh, bapane ira kah angel diwarahe (Tuh, bapannya kamu tuh sulit dikasih tahunya).”

Aku duduk di depan mendengarkan mereka berbicara. Aku bertugas seperti biasa yakni menghadap yang mulia laptop di ruangan konter, sambil berjaga. Selama aku tidak ada, ada petugas dari salah satu brand ponsel untuk menjaga konter. Sebenarnya untuk membantu penjualan ponsel saja. Namun jarang yang bertanya ponsel. Kebanyakan pembelian cuma pulsa, akhirnya si pegawai hanya melayani penjualan pulsa. Paling nanti diberi beberapa receh bayaran lah.

“Bosen beli, Mam (bosen gak, Mam)?” kataku bertanya pada petugas brand ponsel. Namanya Imam. Berasal dari tetangga desa, Kanci.

“Ya, dibetah-betahaken lah Kang, demi istri dan anak (Ya, dibetah-betahin lah Kang, demi istri dan anak),” dari umur 19 tahun, ia sudah menikah. sekarang, sudah mau memiliki dua anak.

“Ya, sing penting ana hp pinter. Lamon langka, keder kepintarane, haha (ya, yang penting ada hp pinter. Kalau gak ada, bingung kepintarannya).”

“Iya lah.”

Tanpa laptop, hidupku pun resah dan gelisah. Ya, itu menjadi fakta. Ketika lulus sekolah, SMA, aku istirahat setahun untuk memulihkan badanku yang kram dan gangguan otot akibat olahraga berat yang tidak benar. Satu tahun tanpa laptop dan ponsel, hanya televisi, satu tahun mengalami gelisah akut. Kalau dibayangkan, seperti tertindih bayangan dinasaurus. “Gimana rasanya ditindih bayangan dinosaurus?” Intinya, bingung 7 keliling lingkaran namun agak sudut sedikit. Padahal bisa diatasi dengan ngobrol bersama teman-teman. Tetapi karena sulit interaksi, mulutnya sulit berbicara karena masih ada gangguan otot, aku jarang ngobrol dan memang dikondisikan untuk tidak banyak ngobrol. “Kasihan deh lu, gak punya teman harian. Adanya teman momentum, haha...”

Sekarang pun, kalau tidak ada lapton dan ponsel, hidupku akan kembali seperti dulu lagi. “Balikin oh balikin.”

“Kangen,” kataku genit.

“Sama,” Arafah membalas.

“Sama Linda juga, kangen.”

“Huft... Iya, deh.”

“Sudah olahraga kaki?”

“Udah lah, dibantuin Linda.”

“Mum obat?”

“Udah dong, tapi mum sendiri.”

“Mandi?”

“Udah ih.”

“Makan?”

“Ah tanya gituan mulu. Udah tahu, udah siang. Ya udah lah.”

“Tanda kalau hari ini aku udah perhatian.”

Arafah mengirim icon emotion gambar senyum lidan menjulur mirip senyum Arafah yang ada di foto.

“Ada perkembangan gak? Udah bisa jalan pakai tongkat gak?”

“Belum kak. Kan belum lama pengobatannya.”

“Kuliahnya gimana? Ini sudah masuk semester 4.”

“Gak tahu lah, gimana.”

“Ya udah, nanti pikirin bareng-bareng.”

“Ok!”

***

Kebetulan sekali pulang dan masih ada di rumah di hari ke-3. Mendadak ada berita kalau adik keduaku, Andi, mau tunangan dengan cewek nanti malam. Bukan mendadak mendapat berita melainkan ada sedikit keramaian masak-memasak yang membuatku bertanya. “Alhamdulillah tunangan sama cewek. Masak cowok?” Maksudnya, tunangan dengan cewek yang masih saudaraan. Cewek itu anak dari Bapak Sugro, katanya. Aku lupa nama si ceweknya. Maklum, lupa ketika bercerita.

“Gak apa-apa dilangkahin, terpenting warisan adil dan beres, haha...” kata becandaku waktu ngobrol dengan teman SD, namanya Iman.

“Lah, masa gak ada rasa tidak enak?”

“Lah, tidak enaknya gimana? Orang mau enak-enak, jangan dicegat. Gimana rasanya bila ente dihalangi main enak-enaknya? Haduh, mau numpahin dimana?”

“Intinya, takdirnya diduluin, ya gimana lagi?”

“Nah tahu, takdir itulah. Usaha bergantung siapa yang paling berhasil. Bila ada yang lebih dulu berhasil, kok malah gak enak hati? Itu namanya iri. Mending iri. Gimana bila iri-dengki? Wah bisa penyakit dengkilan.”

“Hahaha... iya saja lah sama pakar cinta mah.”

Seperti biasa, aku jalan-jalan, olahraga jalan kaki. Kali ini ingin sekali jalan kaki ke LPI. LPI sebenarnya adalah Lembaga Pendidikan Islam yang diurus Buntet Pesantren. Namun kawasan LPI ada sendiri yakni terletak di area jalan raya. Aku ingin ke situ, namun ke rumah warnetnya. Sebenarnya punya koneksi internet pakai modem. Berhubung lelet, tidak bisa membuka web sekelas Google Keyword Planner, jadi harus ke warnet yang dianggap cepat untuk kepentingan membuka situs berat milik Google.

Aku harus menulis kembali seputar artikel blog untuk memperbanyak kunjungan. Jadi, aku ke warnet memang untuk keperluan meriset kata kunci yang akan dibuat artikel blog. Bila menulis dengan judul artikel dan isi yang tidak sesuai kata kunci, tidak bisa menjaring banyak pengunjung. Hal yang pasti, artikel dengan kata kunci ‘usaha bakso’ memiliki jumlah klik lebih dari 500 per bulan menurut Google Webmaster. Bagaimana bila 100 artikel memiliki kunjungan minimal 500 per bulan? Bisa mendapat kunjungan sekitar 50.000/bulan. Padahal caranya dianggap sederhana untuk menghasilkan itu.

“Wah, blog bakalan banjir kunjungan lagi. Aku harus riset kata kunci yang belum ditulis.”

“Klik!” meriset kata kunci dengan kata ‘Arafah Rianti’.

Kata kunci ‘Arafah Rianti’ lumayan bagus hasilnya sekitar 6000 per bulan menurut perkiraan otak Google Keyword. Aku harus membuat artikel yang menarget kata kunci ‘Arafah Rianti’.

“Kak, gimana caranya bikin skripsi?”

“Bentar, lagi sibuk di warnet,” aku terpaksa tidak meladeni Arafah. Namanya juga warnet, harus tetap jalan aktifitas karena waktu terus berjalan menambah tarif internet.

“Mas, ajarin bikin blog dong. Seriusan,” Linda tumben-tumbenan memintaku mengajarinya membuat blog. Ketularan Si Zaman kali.

“Nanti saja kalau ketemu. Aku sibuk di warnet.”

“Wih yang lagi sibuk. Ya udah deh,” keduanya membalas dengan perkataan yang sama.

“Ampun, kompak!” aku hanya berkata dalam hati dan mendiamkan mereka berdua.

***

Akhirnya tiba di rumah. Lelah plus mumet. Aku harus minum susu eh kopi. Susu atau kopi? Yang jelas bukan ‘Ini teh nyusu bukan ini teh susu bukan ini teh bukan susu bukan ini teh nyoesoe’. Itu sih spesial kata-kata Arafah. Tapi, minum susu saja.

Pas selesai minum, aku dikejutkan panggilan Ibu.

“Ubab, iki Bapak napa? Gian mene (Ubab, ini Bapak kenapa? Buruan sini).”

“Apa sih, Ma’?” aku bergegas lari ke Arafah Ibu dan Bapak.

“Beli apa-apa, wis (gak apa-apa, udah),” kata Bapak yang sedang berdiri dengan pegangan meja panjang.

“Napa sih Ma’?”

“Mau Bapak ndregdeg. Ngadeg bae jeh temu-temu ndregdeg (Tadi Bapak gemetaran. Berdiri saja, eh tiba-tiba gemeteran).”

“Beli apa-apa (Tidak apa-apa),” Bapak ngeles lagi.

“Ma’, teng dokter mawon sih, Ma’ (Ma’ ke dokter saja sih, Ma’),” kata Kang Jamil, menantu, suami Mba Icha.

“Lah, iki priben Cung Jamil, Ubab (Lah, ini bagaimana Cung Jamil, Ubab),” reaksi Ibu ketika melihat Bapak jatuh ke bawah.

“Kesuen sih ngadege, jadi lemes (kelamaan sih berdirinya, jadi lemes),” kataku.

Kami bertiga mencoba mengangkat Bapak, memindahkannya ke kasur. Sepertinya pingsan atau lemes sampai setengah tidak sadar. Namun tidak dikatakan pingsan. Benar kali bila sekedar lemes tetapi setengah tidak sadar. Karena pas ada di kasur, bangkit lagi untuk mencoba duduk.

“Wis, beli apa-apa (Udah, gak apa-apa).”

“Semono pingsane, beli apa-apa. Durung mangan wis nginum obat (Segitu pingsannya, gak apa-apa. Belum makan, udah minum obat).”

“Uwis, susu (sudah, susu).”

“Cung Jamil, ya mengkonon ari diwarah. Diwarah aja nginum susu bari pil, tetap bae nginum. Ngomonge beli apa-apa (Cung Jamil, ya begitu kalau dikasih tahu. Dikasih tahu jangan minum susu bareng pil, tetep saja minum. Bilangnya gak apa-apa).”

“Boten saget, Pak. Susu niku gangge penetlalisir obat. Ya boten mempan obate (Gak boleh, Pak. Susu itu buat penetlarisir obat. Ya gak mempan obatnya).”

“Ya wis, bubar kabeh obate (Ya wis, bubar semua obatnya),” kata ibu menegaskan.

“Iya wis lah, beli maning-maning (Iya sudah, gak lagi-lagi),”

“Molane gah gelem dirawat (makanya mau dirawat),” kataku menyampuri obrolan.

“Anang beli pengen dirawat (Ya gak mau dirawat),” kata Bapak menyambung.

“Ya ahli herbal,” Ibu memberikan ide kembali.

Biasa, dialog panjang dimulai lagi. Permainan kata per kata seperti sedang membahas dengan ilmu mantek, balaghoh, dan yang lainnya. Sering menyalakan musik dengan headset bila sudah terjadi paduan suara dialog. “Dialog apa tang ting teng adu mulut?”

“Palalupenyon tuuut,” SMS pertama.

“Kak! Kapan balik?” dari Arafah

“Palalupenyon tuuut,” SMS kedua.

“Mas! Kapan ke sini?”

Mereka berdua kompak mengirim teks tulisan yang sama di waktu yang bersamaan. Sepertinya mereka memang sudah melakukan rencana serangan pertanyaan. Awas saja, aku serang kembali nanti pakai pasukan Cyber Kremi biar menumbangkan ponsel mereka berdua, “Hahaha... awas ya...”.

“Kompak banget SMS! Ngerjain ya?”

“Kekekekek”

“Hahaha...”

“Serangan satu orang lagi mana? Zulfa!”

“Teh Zulfa malah Komandan perangnya,” balesan Arafah.

“Siap Pak, ini perintah komandan Teh Zul!” balesan Linda.

“Woi, aja sue-sue ning Munjule. Bokatan panas deleng Ang Andi tunangan (Woi, jangan pakai lama di munjulnya. Khawatir panas liat Ang Andi tunangan),” Zulfa ceng-cengin aku.

“Beli jeh. Wis mene, rewangi nganu jaburan nganggo ko bengi (Gak dong. Sudah sini, bantu beresin snack buat nanti malam),” balesanku untuk Zulfa.

“Sibuk!”

“Selamat menikmati hati panas, semoga tinggi derajat celcius,” SMS dari Arafah.

“Ehem. Panas-panas, pala ini pusing,” SMS dari Linda.

“Siap-siap mandi air es. Panase beli kejagan (Panase tidak karuan),” SMS dari Zulfa.

Haduh, main keroyokan. Ya sudah lah. Ceritanya habis. Nanti lanjut pakai cerita gandengan gerbong kata.



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya