Arafah, Spesial Buku Untukmu

Aku mendapat kabar kalau bapakku, Ahmad Mansyur, lumpuh di saat aku, Arafah, Linda dan Zaman sudah sampai ke mal. Aku masih bingung untuk meninggalkan keramaian ini bersama Arafah dan yang lainnya. Arafah sendiri sedang membutuhkan bantuanku dalam perjalanan ini. Sementara ini aku mencoba bersabar, mengingat Bapak hanya sekedar mendapat musibah lumpuh. “Mengapa Arafah dan bapakku bersamaan lumpuh?” Perasaan makin terbebani dan gamang.


Beberapa minggu yang lalu, memang Bapak terjatuh dari tangga sekolah MA NU Buntet Pesantren walaupun tidak terlalu parah. Hanya karena kebiasaan Bapak yang tidak peduli, akhirnya menambah parah. Sebenarnya kaki kesakitan yang dialami sudah lama namun tidak pernah memperdulikan itu. Masih bisa berjalan walaupun sudah terjatuh. Namun karena selalu berurusan dengan lantai dekat kolam masjid, tempat berwudu yang dirasa agak licin, akhirnya terjatuh lagi. Kejatuhan yang kedua kali membuat kondisi kaki tambah parah, kaku dan sakit. Haduh, masih saja bepergian ke masjid ketika kaki belum diurut oleh ahli urut atau pergi ke dokter. Memang tidak masalah pergi ke masjid apalagi statusnya yang sebagai imam masjid di Masjid Jami’ Buntet Pesantren. Tetapi harus naik motor. Ketika mau menaiki motor itulah, Bapak jatuh lagi. Ketiga kali mengalami jatuh.

Sekarang, mendapat kabar kalau Bapak lumpuh. Namun masih bisa menjalankan kakinya. Tidak seperti Arafah yang benar-benar lumpuh, harus duduk di kursi roda. Kalau Bapak, hanya sekedar sakit dan tidak kuat melangkah tanpa pegangan meja makan panjang yang sengaja sudah disiapkan. Walau begitu, tetap saja berstatus lumpuh seperti apa yang dialami Arafah mengingat kerjaannya cuma tiduran. Faktor usia juga mempengaruhinya mengingat sudah memasuki umur 70-an.

“Kak. Cape bangeeet. Aku pengen pulang kak.”

“Tadi minta ke sini. Pas sudah nyampe, malah minta pulang. Bagus lah,” kataku menanggapi keluhan Arafah.

“Yah, pulang. Aku baru saja semangat jalan,” kata Linda.

“Terus gimana?” kata Zaman.

“Kak, pulang! Susah juga kan naiknya? Ini mal buat orang normal. Gak ada mal buat orang cacat kayak aku.”

Mendengar ucapan Arafah, aku menjadi sedih dengan tekanan batin yang Arafah rasakan. Sepertinya ia pesimis dengan tangga berjalan yang khusus untuk orang normal. Padahal, aku bisa saja pakai jurus menghilang. Tiba-tiba kita ada di lantai atas. “Huhuy, aku teringat Arafah yang tiba-tiba hadir di konterku.” Namun, bagaimana dengan disabilitas lainnya?

“Yah, Mba Arafah. Jangan pulang dulu. Ini sudah lihat pintu mal.”

“Aku juga ada keperluan, jadi gak bisa pulang,” kata Zaman.

“Aseek. Aku temenin kamu ya, Zaman?” Linda girang mendengar ucapan Zaman.

“Husst... Arafah mau pulang. Kamu harus temeni pulang juga. Masak sendirian?” kataku.

“Yah, Mas Elbuy. Kapan lagi aku jalan sama...?”

“Iya deh. Lagi pula, Aku tahu maksud Mba gitu. ngarep! Biarin aku sama Kak Elbuy.”

“Arafah!” kataku sedikit menggentak tidak jelas. Bukan masalah apa-apa. Kalau hanya aku yang pulang ke kontrakan, terus kapan aku pulang ke rumah, di desa Munjul? Bapak lumpuh dan mau dibawa ke rumah sakit. Pastinya aku harus menemani Arafah sampai sore. Tidak mungkin juga aku pulang ke rumah waktu malam mengingat ongkos bisa mahal.

“Biarin Kak. Ia pengen pacaran sama Zaman. Aku dukung. Setuju kan Zaman?”

“E’...”

“Ya sudah, aku jalan sama Zaman. Mba Arafah sana pulang. Dagh,” Linda sedang menggila. Main gaet si Zaman saja. Pergi begitu saja meninggalkan aku dan Arafah. Malah Arafah mendukung Linda, merasa lega bila tidak ada sosok Zaman.

Gila memang gila, si Linda. Padahal ia hanya lulusan SD tetapi main menggaet anak kuliahan. Memang sih, pergaulannya pun mampu mengembangkan pikirannya walaupun masih dikatakan tidak pinter, “alias o’on, hehe”. Pas ketemu orang yang menjadi mangsanya, cowok model unyu-unyu kayak si Zaman, sudah main embat saja.

“Tunggu dulu. Aku mau beli buku dulu buat Arafah. Main pergi saja. Temenin Arafah dulu. Aku gak lama,” aku segera menghentikan langkah Linda dan Zaman.

Bergegas aku berlari untuk membeli buku. Naik ke lantai dua. Sebenarnya buku yang akan aku beli adalah buku novel karyaku sendiri. Buku itu mengisahkan seputar kehidupanku bersama Arafah dan cinta segitiganya. Judulnya masih berkaitan yaitu “Aku, Arafah dan Cinta Segitiga”. Sebenarnya aku juga mendapat kiriman 2 buku dari penerbit. Tetapi ada salah satu fans Arafah, kebetulan temanku juga, yang minat membeli buku lewatku dengan harga murah. Ya, aku relakan saja. Padahal buku itu mau aku beri untuk Arafah. Tinggal satu buku untuk kenangan. Aku pikir, aku bisa beli lagi ketika ada momen yang tepat membeli buku. Sekarang waktu yang tepat.

“Jangan lama, Kang,” suara Zaman yang terlihat aneh. Mungkin gugup ketika tidak ada aku di sisinya.

“Hati-hati kak, ada tangga jalan sendiri.”

“Mba ada-ada saja. Itu namanya eskalkulator eh eskalator, ngakak. Istirahat dulu, Mba. Sini, aku elus-elus bahumu. Capek ya mba? Aku pijit-pijit ya. Gak apa-apa kan aku nemenin Zaman?”

“Ngeles campur ngerayunya kambuh. Dari dulu Mba kalau udah liat cowok unyu-unyu, ngebet deh.”

“Hust. Nanti denger.”

“Biarin, biar warning buat Zaman.”

“Cemburu nieh?”

“Huss... Nanti denger.”

“Biarin, biar warning buat Zaman.”

“Gak apa-apa, Zaman aku rebut???”

“Yeh... enak aja. Udah, tidur dulu. Mba.”

***

Aku tidak ada waktu lagi. Segera untuk membeli buku. Khawatir Arafah makin kelelahan. Berdiri lama saja, capek. Apalagi ia duduk terus. Sama seperti berdiri terus, pasti dia benar-benar kelelahan. Dua jam ia duduk terus walaupun sering dibawa kantuk sambil agak berbaring, tidur. Entah mengapa, ia seperti tidak mempedulikan kelelahan. Hanya mengeluh tetapi maksa. “Ah, dia kan lagi aneh. Hehehe, maaf Dek.”

Aku menuju rak bagian novel. Aku sudah tahu tempat novelku berada. Segera aku ambil. Ya, tidak salah lagi untuk segera membayar pembelian buku. Aku bayar 59.000 untuk harga novelku. Aneh, penulis novel membeli novelnya sendiri. Tetapi aku lakuin untuk Arafah. Arafah belum tahu detail ceritanya walaupun ia sempat membaca beberapa cerita di blog. Sengaja untuk tidak dipublikasikan bila sudah berkeinginan untuk dikirim ke penerbit. Bukan penerbit mayor sih, melainkan self publishing yang sudah bekerjasama dengan distributor.

Aku lari kembali menuju Arafah. Lelah juga, mengingat sudah perjalanan kaki dalam waktu lebih dari 1 jam, hampir 2 jam.

“Arafah, apa yang aku bawa, hayo?” aku bertanya pada Arafah yang sedang berada di lantai teras luar mal.

“Pastinya buku. Masak mantan dikardusin pakai plastik pletak-pletok?”

“Hahaha.... lucu. Nih... Taraaaaaa...”

“Tara Budiman? Apaan kak? Ini kan buku? Kan betul kan buku?”

“Coba lihat dulu.”

Hah!!! Ini kakak? Ini aku? Ya ampuuun, kok bisa ya? Ah, kakak mah gitu, tega gak bilang-bilang kalau bukunya terbit! Ya ampun kak, makasih ya? Bahagia bangeet, seneeeng banget. Duh, kakakku emang kece badai. Pasti bukunya endol surendol takendol-kendol pakai endorse. Buruan kak, pulang. Gak sabar pengen baca di rumah.”

“Ok!”

Memang seharusnya pulang. Arafah dari tadi bersikap bandel, tidak ingin pulang. Aku memperkirakan bahwa Arafah sebenarnya capek berat, terlalu capek hanya duduk-duduk saja. Padahal, aku yang bebas berposisi saja, lelah, capek, kaki terasa kram. Arafah dari tadi duduk saja. “Kamu normal gak sih, Dek, dua jam duduk saja, gak capek?” kataku dalam hati.

Aku segera panggil angot D10 untuk menuju kampus, tempat rumah Arafah. Aku bergegas menaikkan Arafah. Untung ruangan angkot masih sepi, hanya dua orang, jadi mudah untuk memasukkan Arafah ke dalam angkot. Aku minta bantuan orang yang di dalam untuk memasukkan Arafah. Aku mulai menjadi terbiasa mengurus Arafah seperti ini. Tidak merasa malu lagi. Lagi pula, Arafah juga percaya diri dengan kondisinya seperti ini. Namun tetap, ada orang yang memandang aneh pada orang cacat seperti Arafah.

***

“Aduh, kakiku kram, Dek. Capek banget, lemes. Aduh, lupa, gimana nurunin Arafahnya?” Linda pakai acara tidak pakai pulang bareng. Arafah malah menyetujui. Aku lupa membahas masalah seperti ini. Aku kan cowok yang bukan mahramnya. Masak harus menyentuh tubuh Arafah?

“Kamu gak capek, Dek?”

“Capek banget Kak. Pengen jerit nagis. Tapi aku tahan-tahan, takut kakak marah. Hiks. Buruan kak, turunin aku, hiks. Panggilin anak kos saja, Kak.”

“Ah! Benar dugaanku. Aku juga bilang apa. Gini kan? Bandel sih.”

“Maafin kak. Hiks. Ya udah buruan kak. Aduuuh, gak bisa digerakkin. Kaku banget.”

“Ya sudah, nanti aku panggil. Kamu minum dulu biar agak mendingan. Nih, sok masukkin sedotannya, diminum airnya, lega rasanya, lah seger.”

Arafah meminum air botol gelas Acura pakai sedotan. Lalu diakhiri senyum unyu-unyu khasnya.

“Sudah lega?”

“Belum.”

Aku segera berlari mencari mahasiswi di kosan terdekat. Aku lihat-lihat, sepi. “Ya ampun. Kenapa ini terjadi? Di saat genting seperti ini sepi mahasiswa?” Aku segera lari ke arah jalan Perjuangan untuk mencari mahasiswi siapa saja yang bisa untuk membantu Arafah untuk turun dari kursi roda. Aku melihat-lihat. Dari jauh aku melihat sosok cewek yang aku kenal. Dia adalah sepupuku, anak dari adik ibuku. “Ah, Zulfa!” Aku segera lari untuk memanggilnya dari jarak dekat. “Ya ampun, Arafah. Sabar, dek”

“Zulfa!” biasanya sih dipanggil Neneng, Empah atau Dede untuk warga sekitar.

“Tekah, ana ning kene? Ana apa Ang (Lho, ada di sini? Ada apa Ang?).”

“Tolongaken isun, bantu isun ngangkat Arafah (tolongin aku, bantu aku mengangkat Arafah).”

“Arafah? Sapa sih? Hayoo... pacare ya? (Arafah? Siapa sih? Yahoo... pacarnya ya?).”

“Wis gagian melu isun. Ayo aja melaku, melayu (udah, buruan ikut aku. Ayo jangan jalan kaki, lari).”

“Dih, sabar sih. Ya wis, kebat melakue (Dih, sabar dong. Ya sudah, cepat jalan kakinya).”

Aku dan Zulfa bergegas menuju rumah Arafah. Aku takut akan terjadi apa-apa, bertambah parah, mengingat ia masih belum sembuh betul dari luka kecelakaan.

“Adek. Ayo buruan siap-siap tidur ya. Zul, gecelaken awake Arafah (Zul, pegangin tubuh Arafah).”

“Iya ang, wis kih (Iya ang, sudah kih).”

“Siap-siap ya dek. Yuk turunin Zul. Hati-hati.”

“Iya kak.”

“Huuuh. Sakit kak. Huuuh. Kaku banget ototnya, Kak. Huuuh.”

“Iki artis SUCA? Hebat temen Ang Ubab. Napa sih ang? Ang Ubab menenge ning kene? Tekah beli weruh? Jih, rupane karo artis (Ini artis SUCA ya? Hebat banget Ang ubab? Kenapa sih ang? Ang ubab tinggal di sini? Lah, tidak tahu? Jih, rupannya sama artis).”

“Ya Allah, Arafah, Arafah. Gimana nih? Sekien meneng ning kene, jaga Arafah, artis SUCA. Kena musibah, dadi lumpuh. Ya molane gah balik ning munjul, yambir weruh. Iki adik angkat isun. (sekarang tinggal di sini, menjaga Arafah, artis SUCA. Kena musibah jadi lumpuh. Ya coba pulang ke Munjul, biar tahu. Ini adik angkatku). Duh, Arafah, minum obat pegal ya sekalian minum obat dari dokternya? Biar cepat reda. Sekarang minum air putih dulu biar enakan.

Dalam keadaan berbaring, Arafah mencoba meminum air Acura pakai sedotan. Terlihat lesu sekali. Ya Allah, Arafah. Gimana bila tambah parah kondisimu? Apa yang akan aku bilang ke saudara kamu?

Aku cari makan dulu. Zul, baturi Arafah (Zul, temeni Arafah).”

“Kak, gak usah. Pengen mi goreng instan,” pinta Arafah. Kebetulan Arafah nyetok mi instan, goreng dan rebus. Sudah menjadi kesukaan Arafah menyantap mi.

“Ok! Zulfa, pengen tah? (Zulfa, pengen ya?).”

“Beli lah, wis wareg (enggak lah, udah kenyang).”

Waktu dalam siang. Saatnya, makan siang dan minum obat untuk Arafah. Azan zuhur pun berkumandang dari beberapa masjid khususnya masjid di depan rumah kontrakan ini, masjid kampus.

“Aw!” Dadaku tiba-tiba tidak enak. Perasaanku tidak enak. Badan terasa lemas dan juga pusing. Aku selojoran dulu di area pintu kamar Arafah. Benar-benar capek dan kram di bagian kaki. Jalan kaki selama hampir dua jam memang sudah pernah aku tempuh. Biasa saja. Tetapi jalan kaki sambil membawa orang, aku baru melakukannya sekarang ini. Untung badan model Arafah, ringan kayak orang-orangan sawah. “Haha... tapi cukup berat sih”. Arafah melihat curiga.

“Kakak kenapa? Capek ya? Ya sudah gak usah bikinin mi. Tidur aja dulu.”

“Iya, Arafah. Kita sama-sama capek. Perasaanku gak enak, Fah.”

“Perasaan cinterong ya?”

“Ah Arafah, sempet-sempetnya ngeledruk.”

“Ngeledek, wew!” Zulfa menyela.

“Kekekek,” tawa Arafah menyambut.

“Ya wis Ang, isun bae kang masak. Ang ubab pengen tah? Mumpung nganggo artis. Bokatan bae dadi artis, haha... (Ya sudah Ang, aku aja yang masak. Ang ubab pengen ya? Mumpung buat artis. Kali saja jadi artis, haha...).”

“Ya wis, masak rong piring (ya sudah, masak dua piring),” kataku sambil bersandar di kayu pintu. Lemes rasanya. Kondisiku memang tidak dibolehkan untuk aktifitas yang berat, pun berjalan jauh.

“Oh ya, mi ana ning kardus, pinggir rak piring. Weruh beli dapure? Hehe. (Oh ya, mi ada di kardus, pinggir rak piring. Tahu gak dapurnya? hehe),” kataku menambahkan.

“Ya weruh lah, pasti ning buri (ya tahu lah, pasti di belakang).”

“Kak... lemes ya? Sama,” kata Arafah dengan suara yang lesu.

Aku hanya mengangguk lemas. Entahlah, bagaimana untuk pergi ke Munjul, ke rumahku, di saat kondisiku sendiri terasa lumpuh. Mungkin Bapak sekarang sudah di rumah sakit spesialis tulang. Tetapi aku belum mendapat kabar terbaru. Untung, rumah sakit berjarak dekat dengan rumahku, berada di tetangga desa, Astanajapura. Terpenting untuk saat ini, kondisi Arafah membaik. Jangan sampai kondisi yang diderita bertambah parah. Percuma saja bila aku ke Munjul bila Arafah dalam kondisi yang sedang ia alami. Pastinya aku kepikiran terus. Urusan Bapak, paling aku hanya menjenguk untuk mengetahui keadaaan secara langsung. Jadi, lebih baik fokus dulu ke Arafah.

“Palalupenyon tuuut,” ada suara khas dari jok Arafah. Linda SMS. Aku ambil ponsel dalam saku. Aku baca pelan.

“Mas, Mba Arafah gimana? Ada yang ngurus kan? Aku lupa deh, kan Mas cowok jadi gak bisa ngurusin Arafah. Aduh, maaf ya Mas? Mba Arafah di SMS gak bales2.”

“Cieh, yang lagi masa indah. Lupa ama Arafah,” aku mencoba SMS walaupun dalam kondisi tangan lemas.

“Ah, Mas mah gitu. gimana nih?”

“Baik-baik saja. Ada sepupu cewekku. Ya udah ya. Tanganku lemes.”

“Sepupu? Kok mendadak ada itu?”

“Terserah aku dong. fiksi-fiksi aku.”

“Aku beli buku berjudul ‘Aku, Arafah dan Cinta Segitiga’ juga loh, penasaran.”

“Iya. Ya udah.”

Aku baru sadar kalau sekarang ini hari Sabtu. Biasanya kalau hari Sabtu sepi mahasiswa. Bukan dikatakan libur melainkan tidak ada jadwal perkuliahan. Pada pulang ke kampung masing-masing jadi wajar bila kosan tidak ada mahasiswa. Untung saja si Zulfa salah satu mahasiswa yang masih beraktifitas. Mungkin karena memasuki semester akhir, jadi yang difokuskan hanya mengurus skripsi bukan perkuliahan.

Zulfa adalah anak dari adik ibuku, Ma’ah. Biasa aku panggil A’ah. Zulfa anak kedua dari 4 bersaudara. Hanya Zulfa yang sudah berkuliah di tengah kondisi ekonomi orang tua yang dianggap sulit. Ayahnya pekerja serabutan, kadang supir untuk mobil kiai tetapi lebih sering servis. Ia sekarang sudah semester akhir dengan mengambil fakultas Adab dengan bidang study atau jurusan SKI. Skripsi yang diambil yakni masalah Batik Ciwaringin Cirebon, katanya berbeda dengan Trusmi.

Karena sudah semester akhir lah, Zulfa berani bekerja di Cirebon. Ia bekerja sebagai pelayan di salah satu tempat makan. Biasanya buka dan bekerja di sore sampai malam hari. Itulah yang membuatnya tidak berada di desa kelahirannya. Ia tinggal di kosan yang juga bersama teman bekerja sekaligus teman kampus. Mungkin kalau sudah lulus, bisa jadi akan pindah bekerja. Namun sekarang era sulit mencari kerja. Ah, nasib sarjana.

Suara gemertak di dapur cukup meramaikan suasana sepi di kamar Arafah. Terlihat Arafah sudah terlelap. “Apakah sudah tidur?” Aku mencoba banggit untuk meninggalkan kamarnya. Aku tutup pelan-pelan pintu. “Ckrek.”

“Kak!”

Aku buka kembali pintu.

“Ada apa? Kirain sudah tidur.”

“Laper.”

“Iya, lagi dimasakin. Tunggu.”

Arafah mengangguk lesu.

Lama menunggu, akhirnya dua piring mi goreng hadir. Zulfa menghampiri ke kamar Arafah. Aku mencoba mengikutinya.

“Mene mi-e, Zul (sini mi-nya, Zul).”

Aku ingin menyuapi Arafah. Tentunya, Arafah belum bisa menyantap sendiri mengingat kondisinya yang sedang berbaring lemas. Aku tidak tega bila bukan Linda yang menyuapi Arafah. Lagi pula, Zulfa juga agak minder, “Ngakak. Emangnya mamih muda?” Pasti masih ada rasa canggung antara Arafah dan Zulfa. Terutama yang canggung adalah Arafah mengingat usianya jauh lebih muda dari Zulfa. Masih belum saling mengenal dan perlu dikenalkan, betul?. “Ada yang minta perdalam perkenalan gak nih? Oh ada. Tapi masih mikir alurnya, huekek.”

Aku terlebih dahulu menyuapi Arafah dulu. Kasihan. Ia sudah merasa lapar. Sebenarnya aku sudah lapar. Namun aku lebih baik mendahulukan Arafah untuk makan.

“Ayo adik kecil, makan dulu nih mi-nya. A’, a’, em...”

Arafah mencoba memakannya. Ia mengunyah dengan pelan. Pelan tapi pasti.

Zulfa yang ada di samping tersenyum-senyum. Seperti memiliki banyak pertanyaan.

“Gak pedes... Kasih cabe serbuk, Kak.”

“Ok!”

Aku bergegas menuju ke dapur. Aku cari cabe bubuk. Tengak-tengok. Rupanya barang merah menyempil di belakang gundukan piring yang belum di taruh dalam rak. Aku kembali menuju kamar Arafah.

“Palalaupenyon tuuut,” suara telepon dan SMS berbunyi sama, bunyi yang berasal dari jok Arafah ketika pentas di SUCA 2.

Ada telepon dari orang yang mengejutkan, manajer Arafah. Memang kita sudah saling mengenal ketika proyek endorse berlangsung. Tidak terlalu kenal. Sekedar perkenalan profesional kerja saja. Itu pun belum bertatap muka. Namun ia sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Arafah semenjak Arafah kecelakaan. Bukan karena ia tidak mau, apalagi ia adalah seorang manajer, tetapi karena Arafah menolak untuk berhubungan. Memang, ada masalah sakit hati saja. Arafah merasa tersinggung, sakit hati, plus merasa nge-drop saja. Entahlah, aku tidak banyak paham soal itu.

“Pokoknya aku gak mau berhubungan ama manajer aku lagi. Aku gak mau lagi jadi artis! Jadi komika aja boro-boro! Aku pengen bangun karir yang lain saja. Kuliah, jadi sarjana, mengurus usaha dan berkeluarga.”

“Iya, tetapi alasannya apa?”

“Pokoknya aku sakit hati saja sama manajerku dan orang-orang yang diam-diam berubah sikap. Titik!”

Bagaimana aku mau meminta jawaban lagi kalau sudah seperti ini? Semenjak itu, aku tidak pernah bertanya lagi seputar permasalahannya. Kata Linda, Arafah pun sering tidak mengangkat telepon dari manajer-nya dan berbagai bermunikasi di beberapa alat komunikasi. Linda pun sempat dimarahi Arafah mengingat membantu pertemuan Arafah dengan salah satu suruhan manajer. Sempat bertemu ketika aku sedang pulang ke kampung halaman. Cuma tidak ada tanggapan dari Arafah atas pertemuan itu. “Segitu parah-nya kah? Ah, aku khawatir bikin konflik yang salah nih di cerita fiksi ini.”

“Halo, assalamu’alaikum. Ada apa Nov?” aku panggil Novi dengan sebutan Novi saja, mengingat umurku jauh lebih tua daripada Novi.

“Arafah gimana kabarnya? Dihubungi gak bisa-bisa.”

“Baik. Kok gak bisa? Cuma lagi kekelahan yang parah, habis jalan-jalan selama hampir 2 jam. Ponsel-nya kan aktif terus kok gak bisa dihubungi? Online terus juga,” aku pura-pura tidak mengerti.

“Arafah belum cerita? Ya, biasa, persoalan sakit hati. Aduh, aku gak mau cerita sebelum kondisi pulih kembali.

“Belum Nov.“

“Masih duduk di kursi roda?”

“Sekarang masih di kursi roda. Arafah pun belum menjalani terapi pertama di Cirebon.”

“Ya sudah, aku titip saja perkembangan Arafah. Jangan bilang ke Arafah. Aku doain, semoga sembuh. Bukan maksudku menelantarkan Arafah. Cuma tahu sendiri lah, dunia keartisan seperti apa. Udah, gitu saja. Nanti aku telepon lagi bila Mas kabari aku soal Arafah.”

“Baiklah.”

Sejenak aku duduk di kursi dapur. Badanku tiba-tiba melemas. Aku membayangkan kondisi cacat Arafah yang membuatnya tersingkir di dunia keartisan. Bahkan, brand ambasador hijab sepertinya tinggal kenangan. Ada berita bahwa kontrak brand ambasador cenderung dibatalkan atas nama kondisi Arafah. Entahlah. Aku kurang tahu. “Kasihan deh aku.”

Aku mengenang kembali beberapa komentar Arafah yang tertuang di dalam media online dan sempat aku baca.
Kepala sekolah bang. Tapi guru meningkat lebih sedikit aja gitu bang. Karena dari komika, terus jadi brand ambassador, terus main film, terus main sinetron. Ya alhamdulilah lah seneng. Kalau karir semakin meningkat itu gimana. Kalau karir meningkat, Arafah bilang kayak bang Radit gitu. Jadi dia habis dari komika, main film, bikin buku, bikin film. Nah itu baru meningkat.

Sumber: kapanlagi.com
Sebelumnya kan cuma main enam scene, jadi nggak ada Arafah di poster film yang sudah tayang. Kalau di film ini Arafah dapat banyak scene. Bisa dilihat kan ada aku di poster, jadi senang gitu. Sekarang kalo naik kereta jadi ngeliat muka sendiri, kesian pusing muter-muter Jabodetabek.

Sumber: bintang.com

Ada yang bikin aku ketawa,
Ada pula yang memuji saya cantik kemudian mengajak pacaran. Saya enggak mau. Bukan karena fisiknya (maaf) kurang menarik. Lagian ngapain, sih pacaran? Saya maunya langsung nikah. Ketika penggemar mengajak pacaran, saya berpikir begini: ngapain, nih orang ujug-ujug mengajak pacaran. Saya tidak membalas ajakannya. Saya diamkan saja.

Sumber: tabloidbintang.com

Setelah Arafah komentar, ada tulisan “Ayo, siapa yang berani mengajak Arafah nikah?”. Arafah, Arafah, jangan sekedar bilang, “Pengennya langsung nikah.” Ya, nanti ada segerombolan cowok modus mengajak menikah.

“Emang kamu mau diajak nikah orang gila?”

“Idih, ogah! Gila ngaku waras padahal akhlaknya lebih buruk dari orang gila beneran.”

“Nah, itu tahu. Kamu sih, asal jeplak aja tanpa ada penjelasan keretanya”

“Kekekekek.”

Aku segera kembali ke kamar Arafah.

“Ditungguin ama mi goreng, Kak.”

“Ya, kan biar bisa ngobrol ama Teh Zul,” aku menjawab sekenanya.

“Udah, dikit. Orang aku nya masih lemes. Ya udah buruan, taburin.”

“Ya udah, aku taburin. Yang banyak biar mules.”

“Yeh, enak aja.”

“A’, a’ am...”

“Jangan banyak-banyak kak.”

“Biar cepet abis.”

“Gak mau cepet.”

“A’, a’, am. Biarin cepet.”

“Uh!”

“Hahaha...”

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Arafah, Spesial Buku Untukmu"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar