Kejutan Cowok Online Untuk Arafah

Lalu-lalang kendaraan di jalan Cipto membuatku takut. Tapi, mobil pun sepertinya ikut merasa takut. Ya, hampir setengah meter jalan yang ada di pinggir, dipakai untuk menjalankan kursi roda. Biasanya di bagian trotoar untuk pengguna jalan kaki, khususnya kalangan disabilitas. Namun faktanya, trotoar digunakan untuk berjualan. Aku berpikir, memang mereka berbuat kesalahan dengan berjualan di trotoar. Tetapi bila tidak berjualan di trotoar, mereka mau berjualan di mana lagi di saat berjualan membutuhkan ketepatan dalam market? Namun bila seperti itu, pengguna jalan pun terganggu. Termasuk Arafah.


“Kak, masih lama gak sih mal-nya? Aku takut Kak. Aku keinget kejadian dulu.” Itulah yang ditakutkan Arafah. Aku pun menyangka akan seperti itu.

“Sabar ya dek. Biar traumamu ilang. Biasanya sedikit ngingat-ingat kejadian dulu dengan sesuatu yang membuat trauma, bisa buat kesembuhan. Asalkan gak terlalu.”

Arafah mulai mencoba menenangkan diri semenjak sering berhadapan dengan lalu-lalang mobil. Terlihat lemas sekali. Kadang ia menutup mata, kadang kaget dan yang lainnya ketika ada kendaraan yang mengagetkan atau membunyikan klakson. Tidak seperti waktu masih di area kampus IAIN dan sepanjang jalan Perjuangan, Arafah masih terlihat asyik. Mungkin karena masih ramai dengan orang-orang yang menyapanya.

Masih di jalan Cipto, terlihat baliho besar yang menampilkan Arafah Rianti di salah satu gedung hijab brand ternama. Model Arafah sebagai brand ambasador masih terpasang walaupun mungkin sudah tidak lagi melakukan pemotretan pada Arafah. Aku ingat sekali pernah memfoto baliho Arafah Rianti sebagai gambar blog yang menceritakan seputar Arafah. Oh, aku membayang-bayang lagi, “Ternyata perjuangan buat berkenalan sama Arafah emang seperti itu, ehem.” Sebenarnya bukan perjuangan tetapi rasa tertarikku membahas Arafah sampai dengan bekerjasama endorse bersamanya.

Arafah sepertinya mengantuk, terlihat lesu karena dari tadi merunduk melulu.

Aku berhenti sebentar. Capek. Aku melangkah ke depan. “Fah, kamu mengantuk? Kita pulang saja ya?”

“Iya nih kak. Gak tidur dari tadi malam. Ngantuknya baru kerasa, khuaakh. Tapi gak usah pulang. Istirahat aja dulu kak. Kakak juga capek kan?”

Memang saat yang tepat untuk beristirahat. Dari tadi aku mencari tempat yang tepat untuk beristirahat. Sepertinya tempat kenangan ini adalah tempat yang terbaik. Hal ini bertepatan juga dengan gedung toko buku ternama. Aku ingin membelikan Arafah buku di tempat itu. Tapi nanti saja lah. Aku ingin berlama-lama bersantai ria di sini.

“Panggilin Linda, Fah. Bilang suruh naik angkot D10. Bilang juga, kudu tengok terus ke arah kanan. Nanti kalau lihat baliho Arafah Rianti, gedung Rabbani, minta berhenti. Bila sudah lihat, lihat juga gedung Grammdia di arah kiri, suruh berhenti,” aku menyuruh Arafah memanggil Linda.

Memang tepat untuk berhenti di sini mengingat tempat yang strategis untuk bertemu Linda. Linda mana tahu kawasan ini apalagi Cirebon kan? “Ah, dasar. Aku baru kepikiran.”

“Mba Lind, sini dong. Naik angkot D10, terus apaan, Kak? Kakak aja yang telepon deh. Nih.”

“Halo Lind. Temeni kita di sini. Naik angkot D10. Tengok terus ke arah kanan. Nanti kalau lihat baliho Arafah Rianti, gedung Rabbani, minta berhenti. Bila sudah lihat, lihat juga gedung Grammdia di arah kiri. Nah, kamu di jalan sebelah kiri.”

“Iya mas.”

“Kak, haus.”

“Aku beliin jus ya atau apa?”

“Minuman teh manis botolan aja kak. Haus banget. Capek.”

“Ya sudah.”

Aku bergegas membeli minuman teh manis botolan untuk Arafah. Aku pun haus dan segera ingin memulihkannya. Badan terasa sangat capek, sebenarnya. Aku tahan-tahan. Entahlah, apakah Arafah benar-benar capek duduk melulu? Pastinya. Tetapi karena selalu terbawa mengantuk, mungkin ada jeda melupakan rasa lelah.

“Bang, beli teh manis botol dua. Berapa?”

“8000.”

Aku memberi uang pembelian minuman teh manis botol. Segera aku minum. Aku benar-benar haus, lemes, capek tetapi perut tidak lapar. Sepertinya minuman memang menyegarkan. “Dari dulu kali, minuman itu nyegerin.”

Arafah terlihat lesu. Aku lari.

“Afah, ini minumannya. Segera minum biar kelar masalah hidup elu, hehe.”

“Makasih kak,” Arafah berkata penuh tidak ada daya.

Aku senyum melihat Arafah meminum air teh manis.

“Rasanya masinis-masinis kereta, kak.”

“Itu salah satu jok kamu yang lucu. Inspirasi banget dek.”

Arafah cuma mengangguk-angguk lesu sebagai tanda bilang “Iya.”

“Cape banget ya, Fah? lain kali, jangan minta seperti ini lagi ya? Aku kan udah bilang, kasihan ama kamu. Kamu malah ngeyel.”

“Iya deh. Oh, ya kak. Tapi ada yang aneh. Orang yang pernah aku ceritain tiba-tiba SMS bilang pengen ketemu aku. Kejutan katanya.”

“Tahu darimana?”

“Gak tahu, Kak. Ngeselin banget sih.”

“Linda? Ah, Linda. Cowok itu kan orang Cirebon? Aku lihat blog dia juga dan orang Cirebon. Lah, masak iya pas banget momennya?”

“Yeh kekekekek. Itu kan fiksinya kakak, jadi momennya tepat.

“Hahaha. Fiksinya dalam fiksi ya dek? Tetapi, serius dia mau kesini?”

“Katanya gitu. Nanti aja lihat. Duh, kak, aku takut. Mba Linda ngeselin.”

Suasana ramai, banyak anak pelajar. Kebetulan sedang jam istirahat. Tetapi suasana sepi untuk kita berdua. Arafah cuma sibuk dengan gatget-nya sedangkan aku hanya duduk melemas tanpa main hp. “Hp jadul apanya yang dimainin?”. Kebetulan sedang sama-sama lelah.

Sambil saling diam lesu, aku dan Arafah menunggu Linda di kursi halte. Mungkin butuh waktu 30 menit untuk sampai di sini. Sebenarnya tidak perlu sampai 30 menit. Cepat. Namun karena terbiasa tradisi ngetem, nunggu tumpangan agak berisi, jadi lama. Aku dan Arafah sudah menunggu Linda sampai 30 menit lebih. Sepertinya sudah sampai. Terlihat lambaian tangan dari arah timur jalan. Sepertinya tidak perlu mencari-cari mengingat tempat yang kita duduki bisa untuk dilihat dari jarak jauh. Sengaja, biar terlihat Linda.

Namun ada yang aneh. Namun keanehan semakin jelas ketika sudah dekat.

“Itu siapa Lind?” Aku pura-pura bertanya padahal sudah menduga bahwa ia adalah cowok yang Arafah ceritakan. “Kok mirip aku ya?” kataku dalam hati.

“Ini, cowok ini bantuin aku ke sini. Aku gugup, jadi minta tolong. Eh, ngobrol panjang. Aku ajak aja ke grage, eh mau. Bukan mau sih, emang mau ke mal. Aku bilang aja mau ke Arafah, artis SUCA. Aku asistennya Arafah. Aku cerita panjang. Malah katanya Mas Zaman fans berat kamu, Mba. Bahkan udah bikin blog spesial Arafah. Ya, katanya sih niru Kak Elbuy, spesialin Arafah pakai blog. Kamu udah kenal belum mba, hoyoo?”

“Aw! Idih nyubut, napa kamu, dek?” aku merasa kaget, tiba-tiba Arafah menyubut tanganku.

“Bodo!” sebuah kata istilah yang artinya tidak peduli, merasa tidak mau tahu atai biasa dikatakan, “Masa Bodo!”.

“Mba Arafah sepertinya gak suka kehadiran Mas Zaman ya? Ehem ehem. Gugup nieh. Ya udah ayo saling kenalan.”

Aku, Arafah, Linda dan Zaman saling berkenalan.

Spesial Zaman, ia adalah seorang blogger juga seperti aku. Bahkan sudah membuat blog spesial seputar Arafah, “ehem”, mengungkapkan rasa cinta dengan berbau komedi. Tetapi aku tahu, itu hanya ungkapan cinta yang bisa terjadi pada siapa saja, cinta seorang fans pada idola. Aku hargai ungkapan cinta yang tertuang dalam blog miliknya. Salah satu yang paling unik adalah ungkapan berbahasa Cirebon, ala syair-syair Tarlingan. Bagaimaman arafah mau mengerti? Tetapi itulah makna ketulusan cinta. Tidak perlu orang lain mengerti bila memiliki cinta. Namun yang menjadi aneh, mengapa bentuk orangnya seperti itu? “Haduh, dunia maya memang bisa menipu.”

Zaman kebetulan berasal dari daerah yang sama, Cirebon. Ia masih berstatus mahasiswa. Kebetulan kuliah di IAIN Cirebon. Ia masih semester 4, sama seperti Arafah. Hanya saja ia mengambil fakultas yang berbeda dengan Arafah. Zaman mengambil fakultas pendidikan, sedangkan Arafah lebih ke manajemen pendidikan. Aku dan Zaman dianggap mengambil fakultas yang sama yakni fakultas pendidikan. Hanya saja aku lebih ke jurusan IPS. Sedangkan Zaman mengambil jurusan Matamatika, “Pantas, mirip supermen belum berubah bentuk. Muka kutu buku”.

“Linda, aduh,” Semoga saja Linda tidak minder di lingkaran orang berpendidikan: aku, arafah dan zaman. Tetapi kata Arafah, Linda tipe orang yang percaya diri bahkan muka tembok bila sudah naksir. Sampai pernah nekat pacaran sama anak seorang ustad waktu si cowok masih tingkat SMA. Tahu sendiri kan dampak terakhirnya? Ia diceramahi. “Haha”. Patut diakui, ia juga cantik, sama seperti arafah. Tapi lebih cantik arafah lah. “Enak aja.”

Aku dan mereka bertiga pun saling tukar kata, tukar kalimat bahkan tukar nafas mulut. Haduh, jangan sampai ada kuman, bakteri atau virus yang bersayap. Khawatir terbang ke mulut yang berbeda. Tapi kita tetap memberi jarak dalam duduk, tidak berdempet. Kebetulan bangku agak panjang. Suasana terlihat akrab, saling sharing terutama bertemakan blogging walaupun yang paling tersudut adalah Linda. Ia banyak mendapat masukkan. Namun ia sebenarnya cepat tanggap. Arafah masih bisa nyambung walaupun untuk pendalaman membahas blog, sepertinya perlu kursus pada Bu Petir dulu, kursus kilat.

“Aku bangga sama kamu, Lind. Gak minder. Sepertinya, kamu bisa langsung deket bersama Zaman. Ada apa hayo?”

“Ih, Maz Elbuy genit tuh mba. Biasa aja lah.”

“Nah, Zaman, katanya kamu suka ya sama Arafah? Curhatan bahasa Cirebon sampai Arafah terkena kosleting otak. Curhatan yang lainnya, kamu spesialin buat Arafah. Betul bukan?”

“Ah, sekedar curhatan aja. Aku cuma niru gaya ungkapan Kang Elbuy saja.”

“Tapi benar kan?”

“Iya sih. Tapi gak usah diladenin ya Arafah? Gak enak ama Kang Elbuy.”

“Gak enak atau malu?”

“Biasa aja Kang. Tapi malu beneran sih. Ya sudah kang. Biasa aja lah, itu cinta fans ke idola, gak lebih.”

Arafah terlihat tidak ikut campur dalam pembahasan perasaan ini. Mungkin ia masih kaget karena ternyata bakalan bertemu dan berkenalan dengan orang yang mengidolakannya. Memang sih, menemukan cowok yang cinta arafah memang banyak. Kasusnya paling cinta ke idola saja, baik cowok atau cewek. Cuma kali ini Arafah berbeda. Aku bisa menebak perbedaannya. Kemungkinan karena si Zaman meniru apa yang aku lakukan, sama persis. Seperti ada saingan kakak imajiner, “haha...” Aku tertawa dalam hati. Mungkin arafah tidak mau berganti kakak imajiner. “Santai dek, aku tetap setia kok. Bisa lah punya dua kakak, anjay.”

“Arafah, hey. Itu tuh lihat, Zaman. Boleh jadi teman kamu? Kakak imajiner dah.”

“Kak, jalan yuk,” Arafah mencoba mengalihkan pembahasan.

“Oh, maaf ya Zaman. Arafah dari tadi terlihat letih. Arafah, yuk, kita jalan bareng ke tempat lain. Naik angkot saja.”

“Iya deh,” kata Arafah yang didahului manyun-manyun unyu.

Sepertinya aku salah memberikan ucapan. Aku merasa tidak enak saja dengan Zaman. Aku tahu perasaan Zaman. Ia sebenarnya ingin mengenal lebih dalam seputar Arafah. Ia banyak menyimpan segudang pertanyaan pada Arafah. Cuma karena sudah berhadapan dengan wajah tidak peduli Arafah, ia seperti mengurungkan untuk mengungkapkan pertanyaan.

Hanya saja si Linda bisa dikatakan agersif, sering menyerang Zaman dengan berbagai pertanyaan dan kata-kata obrolan lainnya. Ini kali ya kalau sudah dikatakan ada hate? Haduh, jangan sampai ada jalinan cinta segitiga. Aku tidak mau Arafah pacaran, sebenarnya. Pun dengan Linda, jangan sampai ia pacaran. Aku menganggap mereka berdua seperti adikku sendiri yang perlu aku jaga seperti pesan bibinya (adik ibu Titi) Arafah. “Nak Elbuy, mau kan jaga Arafah? Jaga linda juga. Jaga mereka berdua baik-baik. Mau ya? Anggap mereka adik Nak Elbuy.” Tetapi bila mereka berdua mau pacaran, itu urusan mereka berdua. Aku hanya mencoba memberikan solusi terbaik. Tetapi, aku inginkan untuk tidak terjadi cinta segitiga. Aku tidak mau ada konflik antara Arafah, Linda dan Zaman. “Ya ampun, bangun coy dari lamunan.”

“Cieh, Mba Linda, yang lagi nemu keberuntungan. Gitu amat, baru kenal.”

“Yeh, ada yang ngiri.”

Zaman diam menunjukkan muka flat. Haduh, kalau sudah seperti ini, sepertinya tidak ada jalinan cinta segitiga.

“Arafah, kamu belum jelasin, mengapa kamu pindah ke sini meninggalkan temenmu di sana?” sambil menunggu angkot, aku mengutarakan sebuah pertanyaan yang hampir lupa untuk ditanyakan.

Angkot D8 pun melintasi di tempat ini dimana aku dan mereka bertiga berdiri. Biasanya yang melintasi ke Arafah utara adalah angkot D10 dan juga D8. Mungkin ada angkot yang lain namun aku tidak memperhatikan yang lain. Pas ingin naik, aku sempet kebingungan bagaimana menaikkan Arafah. Maklum, aku belum terbiasa mengurusi orang yang duduk di kursi roda. Akhirnya Linda menyarankan untuk mengangkat Arafah bersama kursi rodanya, persis ketika ia menaiki mobil untuk perjalanan Depok-Cirebon. Syukurlah, otakku mendadak jalan padahal hal simpel untuk bisa dipikirkan.

Jawab simpel aja ya? Capek kak. Sebenarnya itu berawal dari ucapan ibu sebelum meninggal. Katanya, kalau kamu harus pindah ke Cirebon, pindah aja. Ibu bermimpi kalau aku pergi ke Cirebon. Udah gitu aja dah... Pengen tidur kak.

“Ya udah, arah pulang saja ya?”

“Gak mau. Pengen jalan sambil ngantuk-ngantuk cantik.”

“Haduh... ya sudah.”

“Mba Arafah, napa gak jadian aja ama kak Elbuy? Jadi pacar gitu,” ucapan Linda cukup membangkitkan suasana lemas badanku dan juga kantuk Arafah.

“Kok tumben ngomong gitu?” arafah mempertanyakan.

“Ada yang takut kehilangan cintanya, ehem,” kataku mengekor.

“Apa’an sih?” kata Linda sambil melirik wajah Zaman yang masih datar.

“Hati-hati Zaman. Ada cinta ngesot. Pelan-pelan jalan, sambil ngesot, tiba-tiba sudah nyampe di hati.”

“Iya Kang...” kata Zaman sambil pura-pura mengerti.

“Hati-hati, Mba Lind, diem-diem, kamu bisa ke seret pusaran air,” kata Arafah

“Pada ngomong apa-an sih? Heran deh kakak-adik imajiner. Udah, pacaran aja, Mba Arafah dan Mas Elbuy.”

“No!” aku dan Arafah serentak menjawab.

Zaman tersenyum. Linda bengong.

“Idih, yang udah solmet. Ampe bareng.”

“Iya dong, inikan cerita fiksi kita,” aku dan Arafah sekali lagi bareng.

Zaman tersenyum sekali lagi. Linda bengong sekali lagi juga.

“Hohoho...” aku dan Arafah ketawa bareng.

Untung angkot cuma berisi aku dan mereka bertiga, jadi enak sendiri untuk bergurau. Cuma pak supir dari tadi lihat ke depan saja. Rupanya tidak mau melihat kita berempat. “Sok gak mau lihat artis lu, pak supir.”



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya