Buntet Pesantren: Oh Arafah, Duka Dan Bahagia

Semenjak pagi, hujan turun deras sekali. Kejadian yang tak diinginkan pun datang. Mengerikan, kawasan Cirebon Timur, khususnya blok Buntet Pesantren terkena imbasnya ketika menjelang sore. Bisa dikatakan datang banjir bandang yang merusak beberapa bangunan terutama jembatan. Dua aliran sungai, arah selatan dan barat, mengalirkan air dengan deras tidak seperti biasanya. Airnya sampai menggenang tinggi di banyak desa yang ada di dekatnya. Apakah ini pertama kali terjadi? Entahlah. Namun sepertinya banjir besar seperti ini baru pertama kali terjadi.


“Seumur-umur, nembek sekien banjir gede sampe Buntet Pesantren kebanjiran (seumur-umur, baru kali ini banjir besar sampai Buntet Pesantren kebanjiran),” kata H. Husen yang usianya sudah cukup sepuh.

“Ana tanda apa kien?” kata Ibuku. Mungkin saja banyak yang berkata seperti itu.

“Ciremai ngamuk,” kataku.

“Hust! Aja ngomong paduan,” kata Mba Icha.

Banjir yang sedang menerjang beberapa desa di Cirebon Timur, khususnya Buntet Pesantren ini bisa dikatakan akibat banjir kiriman yang ada dikawasan dataran tinggi di Kuningan dan sekitarnya. Bisa jadi ada pembangunan yang membuat beberapa pohon untuk perlindungan banjir ditebang tanpa peduli akibatnya.

“Kudue ning dareah gunung kudu bener-bener ditanduri wewitanan yambir banyu kuh aja ngalir ning esor (harusnya di daerah gunung harus benar-benar ditanami pepohonan agar air itu tidak mengalir ke bawah),” kata Bapak yang sore ini mendadak lumpuh total. Dulu pun Bapak pernah berkata, “Kalau sungai banjir besar, Buntet Pesantren kebanjiran besar.” Terbukti sekarang, banjir besar akibat kiriman air dari puncak sungai ke dataran.

Ada banyak orang yang sedang kumpul di rumahku, menjenguk Bapak yang sedang terbaring lemas, tidak bisa berjalan sama sekali. Tadi pagi masih bisa berjalan, sekarang sudah tidak bisa. Sekeluarga memaksa Bapak agar mau ke rumah sakit. Sudah lumpuh total, masih saja menolak. Di samping menjenguk Bapak, keramaian rumah pun karena untuk persiapan acara tunangan adikku, Andi. Tepatnya nanti malam. Namun sebagian kawasan sedang Banjir. “Apakah rumah calon adik ipar terkena banjir? Semoga aja engga”. Kalau sampai terkena banjir, dipastikan tidak mengganggu jalannya acara, mengingat yang berkunjung itu dari pihak keluarga cewek bukan dari keluarga cowok.

“Pa’, wis lah, aja angel-angel. Wis parah pisan, kudu digawa ning rumah sakit sekien (Pa’, sudah lah, jangan dibuat susah. Sudah parah sekali, harus dibawa ke rumah sakit sekarang),” Mba Icha terus memaksa Bapak.

“Sembayange priben (sembayangnya gimana?)?” kata Bapak sebagai alasan menolak untuk dibawa di rumah sakit.

“Pa’, mobile wis ana, engko arep mene (Pa’, mobilnya sudah ada. Nanti mau ke sini),” kata Andi, adikku.

“Bisa beli lewate? Bajir kabeh beli bisa liwat? (bisa gak lewatnya? Banjir semua gak bisa lewat)” kataku.

“Bisa ari wis bengi sih, ning jalur Desa Kliyem (bisa kalau sudah malam sih, di jalur Desa Kliyem).”

“Wis lah, ngko esuk bae... (Sudah lah, besok pagi saja...)” kata bapak menolak.

Benar-benar banjir yang mengerikan. Bukan sekedar banjir genangan air, tetapi banjir penyerangan dan penggenangan air. Bukti ada beberapa bangunan yang kabur, rusak dan yang lainnya. Bahkan ada yang kehilangan uang puluhan juta rupiah akibat salah satu lemari ikut kabur. Mengerikan sekali banjir tahun ini. Kalau sudah terjadi seperti ini, khawatir akan terjadi banjir serupa. “Ada tanda apakah ini?”

“Dek, Cirebon Timur banjir khususnya di Buntet Pesantren. Bapakku juga lumpuh total. Besok aku ke rumah sakit menjaga Bapak. Mohon maaf kalo gak jadi nganter kamu,” kataku pada Arafah lewat media sosial.

Sepertinya arafah sedang sibuk dan offline. Lama aku menunggu balasan, tetapi belum dibalas juga. Ya sudah lah. Aku biarkan saja.

Seperti biasa aku berniat menulis untuk kebutuhan blog bisnis dan juga blog spesial arafah. Kali ini aku menulis untuk blog spesial arafah dulu. Aku mendengarkan vidio arafah sebagai penawar rindu akan aksinya yang lucu walaupun masih terlihat garing tapi renyah, “Ehem”. Aku ingin mendapatkan inspirasi dari Stand Up Arafah Rianti. Patut diakui, jok-jok arafah banyak yang bisa dijadikan inspirasi. Tetapi, rasanya pikiranku sedang sulit berpikir. Badanku mendadak dingin, pikiran pusing, lemas semenjak kelumpuhan total pada Bapak dan kedatangan banjir besar di area Cirebon timur khususnya di area Buntet Pesantren. Tapi aku paksakan menulis walaupun hanya satu paragraf.

Lama menunggu, mobil datang untuk membawa Bapak ke rumah sakit. Anak-anaknya dan Ibu maksa agar Bapak segera untuk dibawa ke rumah sakit sekarang juga. Heran, banyak yang menyarankan agar segera ke rumah sakit, tetapi Bapak tetep kekeh tidak mau dirawat. Padahal, ia lumayan paham dunia kesehatan, khususnya kesehatan herbal. “Isun kih lamon sugih, bisa dadi dokter (aku nih, kalau kaya, bisa jadi dokter)”, kata Bapak. Oke lah, bila memilih jalur herbal. Tetapi jalur herbal pun sembarangan saja, tidak ditangani ahli herbal. Hanya sekedar urut, sudah. Memang sudah memanggil dokter umum, tetapi belum cukup. Yang dubutuhkan adalah penanganan serius. Malah ujung-ujungnya minum obat dokter sembarangan saja.

Pa’, mobile wis teka (Pa’ mobilnya sudah datang),” kata Andi.

“Diwarah engko sukiki bae (sudah dikasih tahu besok saja).”

“Ambekane wis ngos-ngosan mengkonon kujeh engko (nafasnya sudah terengah-engah begitu, lah nanti.),” kataku nyeletuk.

“Yeh, lagi wirid kien sih (lagi wirid ini sih).” Rupanya benar, terlihat terengah-engah karena memang sedang membacakan wirid.

Aku menuju keluar. Kebetulan tukang supir mobil ada di depan pintu rumah. Ia mengetok pintu. Aku buka pintunya.

“Siap tah (siap ya?)?” kata supir yang masih seumuran dengan adikku, dan memang temannya.

“Lah, ya engko. Arep ana acara dikit. Andi beli ngomong tah arep ana acara kuh (lah, ya nanti. Mau ada acara dulu. Andi tidak ngomong ya kalau mau ada acara tuh?)?”

“Beli. Terus priben (gak, terus gimana?)?”

“Ya engko apa jare andi. Yuk manjing dikit (ya nanti apa kata andi. Yuk masuk dulu).”

Aku bergegas menghampiri andi. Aku panggil, “Andi. Priben mobile (Andi, gimana mobilnya)?”

“Ya wis kosukiki bae. Bapae tetep beli gelem. Ngenteni acara ya kebengien. Enake ko esuk (ya sydah, besok saja. Bapaknya tetap tidak mau. Menunggu acara tunangan, ya kemalaman. Enake ko esuk).”

“Ya napa asal pesen kuh (ya kenapa asal pesan tuh?)?”

Akhirnya keputusan ke rumah sakit besok pagi. Andi berbicara kembali dengan supir mobil. Lagi pula, sudah malam. Tidak enak terasa bila harus mengurus kebutuhan Bapak ke rumah sakit di malam hari. Terasa kantuk plus capek. Harusnya direncanakan dulu sebelum pesan mobil. Yah, begitulah keteledoran Andi. Asal sewa saja. Tidak bilang dulu ke Bapak soal waktu ke rumah sakit. Bila sudah seperti ini, supir terpaksa dipulangkan. Besok lagi. Mobil yang sedari tadi parkir di depan rumah tetanggaku, Bi Alfiah, sekarang pergi menuju tempat peristirahatan mobil di malam hari. Entah, mobil siapa itu?

Tinggal menunggu rombongan keluarga si cewek. Terlihat jam sudah menunjukkan di angka sembilan dan dua belas alias jam sembilan malam. Begitu lama kah persiapannya? Padahal yang menyiapkan segala sesuatu itu keluargaku. Apakah karena banjir? Ah, tidak. Apakah karena menunggu proses dandan si cewek? Ah, apakah si cewek akan ikut rombongan? Sepertinya tidak, mengingat tradisi tunangan atau pingitan di Buntet Pesantren tidak menghadirkan si cewek. Biasanya hanya pertemuan dua keluarga besar walaupun memang saling mengetahui bahwa akan ada acara pingintan atau tunangan. Hal yang menjadi konflik adalah proses tunangan yang tidak diketahui sang calon pengantin. Biasanya cewek yang menjadi korban. Banyak tradisi cewek ditunangkan bahkan ada yang dinikahkan tanpa sepengetahuan si cewek itu sendiri.

“Palapupenyon tuuut.”

“Aduh, kakak kebanjiran gak? Gimana Bapak kak? Aduh, kok menjadi musibah besar sih?”

“Yah gak nganterin. Nanti kalau linda ngajak si zaman, gimana kak? Aku sendirian deh.”

“Ya udah duaan saja. Bilangin, linda jangan macem-macem ngajak zaman. Nanti kakak sempet-sempetin ke situ kalau ada waktu.”

“Palalupenyon tuuut.”

“Woi. Wis mulai durung? Melase por, dilangkahi, hehe... Banjir tangis haru Ang Ubab se-Cirebon Timur (Woi.. sudah mulai belum? Kasihan sekali, dilangkahi, hehe... Banjir tangis harus Ang Ubab se-Cirebon Timur).”

“Palalupenyon tuuut.”

“Buntet Pesantren banjir ya Mas? Turut prihantin ya? Asal jangan banjir air mata aja. Kalau banjir air mata, pengen ketawa.”

“Ini mendadak pada SMS berantai gini?” aku SMS satu per satu.

“Lagi pada ngumpul cuy. Lagi males kerja eh sakit hati, haha...,” SMS Zulfa.

“Iya Kak. Ada teh Zulfa, Mba Linda dan yang lainnya,” SMS Arafah

“Sini mas, kita kangen nih makan barengnya. Lagi makan rujak pedas tapi enak di hati, gak panas, errr,” SMS Linda.

“Yah, cewek-cewek yang SMS gak ada yang jadi calonku ya?” aku kembali SMS mereka bertiga.

“Hahaha...” SMS Arafah.

“Hihihi...,” kata Linda.

“Huhuhu...,” SMS Zulfa.

Ah. Pusing kalau sudah seperti ini. Konsentrasiku pecah. Aku biarkan saja mereka menikmati rujak. “Aduh, dingin-dingin seperti ini, jadi pengen rujak. Apa tidak salah berbicara? Dingin-dingin, minta rujak? Umur tua mau dikemanain?”

Terlihat dari jauh berdatangan segerombolan orang. Sepertinya keluarga calon besan. Akhirnya, datang juga. “Kemana aja woy? Emangnya ini acara tengah malam?” Mungkin lama karena mempersiapkan beberapa bingkisan. Terlihat membawa bingkisan yang sepertinya lumayan membutuhkan serius, keluar duit besar. Ah, enak sekali mendapat bingkisan. Aku memperhatikan bingkisan yang dibawa. Mereka semakin dekat. Aku berdiri di teras untuk menyambut bingkisan eh keluarga calon besar. Hm... aku berasa tua yang tidak kunjung beruban karena aku yang sebagai pengganti Bapak dalam penyambutan tamu namun masih jombo, “Nyekk....” lidahku ketelan. Gara-gara bingkisan. Apakah harus berucap terimakasih? Ah, bingkisan yang tidak bisa di makan sepertinya. Untuk apa? Lebih baik aku bersalaman-salaman dengan para Bapak dan cowok yang diperkirakan seumuran denganku.

“Hehehe... mangga mlebet (heheh... silahkan masuk),” kataku sambil menyalami mereka yang masuk ke rumah.

Aku mencoba menyalami setiap cowok yang masuk ke dalam rumah. Apakah harus menyalami cewek juga? “Hehe...” Aku malu sendiri bila menyalami dari kalangan cewek kecuali yang sudah tuaan. Bingung karena mau salaman biasa atau salim (salaman sambil menempelkan tangan ke wajah). Salaman biasa mah, untuk seumuran. Ini sih wanita nanggung tua alias tante-tante, ehem, bukan tante itu ya. Jadi bingung harus bagaimana salamannya? Memang tradisi di Buntet Pesantren bila antar lawan jenis tidak bisa salaman, mereka akan berkata, ‘Pangapunten kula, Ubab’ atau ‘Pangapunten isun, Nok’ sebagai wujud salaman sirri sambil tangan bak salaman atau biasa saja. “Kalau nikah sirri model salaman, gimana gitu? Nikah sama bayanganmu, sah. Bulan madunya sama bantal guling. Aduh, ngomong apa sih?”

Mereka berkeliling menghadap Bapakku yang sedang berbaring lumpuh di kasur yang ada di ruang keluarga. Mereka pada terkejut melihat Bapak yang tiba-tiba lumpuh total. Memang, banyak yang mengira kalau Bapak hanya jatuh biasa. Tidak bisa berjalan pun karena akibat jatuh yang membuat otot bermasalah, tidak sampai tulang bermasalah. Dikira, istirahat akan membuatnya sembuh. Faktanya, Bapak semakin lumpuh. Bukan hanya mereka saja yang terkejut melihat Bapak lumpuh, Bapak sendiri pun heran karena semakin lemah saja kondisinya.

Ibuku terlihat menangis melihat kebahagiaan acara pertunangan. Entah, seperti duka dan bahagia bercampur menjadi satu di dalam hati Ibu. Adikku, Andi hanya terduduk merunduk sambil menerima candaan sederhana di tengah kedukaan keluarga dan secara umum kedukaan Buntet Pesantren akibat musibah banjir bandang yang mengobrak-abrik apa yang ada di depan. Terlihat tidak ada adik pertama, Nasif, mengingat belum tahu kalau malam ini acara tunangan adiknya. Maklum, acara agak mendadak, sekedar permintaan keluarga cewek ke keluargaku. Mba Icha masih di dapur mengurus-urus keperluan hidangan, khususnya makan malam antar keluarga besar. Najmi, tentu masih menikmati dunia pondoknya.

“Aku?” Sepertinya aku hanya menikmati pemandangan acara tunangan dari luar, berada di pinggir pintu ruang keluarga. “Aku biasa saja, tidak panas kok. Emang panas kayak kompor gas? Anget kale.”

“Kula mengatasnamikan keluargi tiang istri pengen meminta tiang jaler Andi, ngerestui tunangan. Pundi kakange? Lah, priben kih (aku mengatasnamakan keluarga anak wanita ingin meminta kakak cowok Andi, merestui tunangan. Dimana kakaknya? Lah, gimana nih?)?” kata orang yang sebagai perwakilan keluarga cewek. Aku tidak kenal namanya. Pernyataan yang mengejutkan.

“Niku (Itu).”

“Lah, nyempil bae kayak kiong keatisan. Mene Cung Ubab (Lah ngumpet saja seperti kiong kedinginan).”

“Wis, Cung Ubab, persediaan beli terbatas. Masih ana stok ayu-ayu (sudah, Cung Ubab, persediaan tidak terbatas. Masih ada stok cantik-cantik).”

“Aja isin-isin baka pengen, tinggal cung, marek dewek beli nggo remot...(Jangan malu-malu kalau ingin, tinggal acungkan, datang sendiri gak pakai remot).”

“Hahaha...”

Gila! Orang-orang pada menyudutkanku. Aku salah posisi berdiri, seperti ala peminta-minta. Padahal aku lagi mencari suasana segar yang tidak membuat gerah. Bukan gerah karena cemburu. Banyak orang di ruangan berasa sumpek walupun masih turun gerimis.

Aku berbegas menuju tempat perkumpulan. Terpaksa. Padahal aku tidak ada pikiran apa-apa. Ya, seperti inilah aku bila ada acara keramaian, tiba-tiba otot tegang dan kondisi tidak menenangkan lainnya. Aku duduk bersebelahan dengan Andi.

“Nah, mengkonon. Njagong jejeran. Kakang lanang sijine mendi? Lah, kabur tah? (Nah, begitu. Duduk berjejer. Kakak cowok yang satunya mana?)”

“Mbuh kah. Dolan rupane. Beli weruh ana acara tunangan (Gak tahu lah. Main rupannya. Gak tahu ada acara tunangan),” kataku.

“Lagi ngejar target luruh calon, haha... (Lagi ngejar target cari calon, haha....)”

“Priben calon, Bab. Nyantol durung? Langka kabare (Gimana calon, Bab? Nyantol belum? Gak ada kabarnya),” kata Mang Ali, adik bapaku.

“Keder, Mang (bingung, Mang).”

“Sikat bae, aja sue-sue. Kelangkahan adie, kien sih (Sikat saja, jangan pakai lama. Kalangkahan adiknya, ini sih).”

Aku kaget, tida-tiba Mang Ali mengingatkanku pada sosok teman sekelas di sekolah MAN Buntet Pesantren. Namanya Isnaeni. Sudah bertahun-tahun aku mencoba melupakan cewek yang pernah aku ada rasa hate padanya. “Hate kambing, enak.” Memang cewek itu bukan sosok mantan, melainkan wanita lintasan kereta api, ehem. Ia adalah cewek yang pernah aku minta untuk makan bersama, di rumah tangga. Nikah maksudnya. Ah, pusing. Sudah lah, aku tidak mau memperpanjang bayangan kejauhan, rantauan. Ya, sekarang ia merantau di Riau. “Aduh, udah lah.”

Aku hanya merunduk, mencoba menahan bayangan rumit yang pernah aku alami bersama Isnaeni.

“Wis gian mulai (Sudah buruan mulai),” kata Mang Ali.

Percakapan resmi pun dimulai. Percakapan yang berisi ungkapan permintaan untuk menjalin hubungan antar dua keluarga lewat pernikahan anaknya. Bapakku mendengarkan dengan seksama sambil mata melihat ke atas mengingat posisinya terlentang, tidak bisa untuk mengganti posisi. Akhir kata, Bapak melanjutkan berbicara untuk menyatakan setuju atas pertunangannya. Secara resmi tanpa ada seperti ini pun, Bapak menyetujui. Namun karena pernikahan adalah nilai ibadah sehingga proses tunangan pun harus dilalui dengan serius.

“Sekalian jadwal walimah tah (Sekalian jadwal acara ijab kabul ya?)?”

“Ya, apa jare anak bae. Isun sih pengene cepet (Ya, apa kata anak saja. Saya sih pengennya cepet.),” kata Bapak.

“Priben, Ndi? Sabar tah? Ana judul sabar keding, hehe (Gimana, Ndi? Sabar ya? Ada judul sabar juga),” kata Mang Ali.

“Hahaha...” beberapa orang ikut tertawa.

Di suasana keramaian, kondisi Bapak terlihat tambah menurun. Ibu menangis dan beberapa wanita ikut menangis. Wajah Bapak mendadak pucat. Bapak mengeluh kesakitan di bagian perut. Aku tidak paham dengan kondisi seperti ini. Namun aku menduga bahwa itu hanya reaksi mag saja mengingat Bapak sudah terkena penyakit mag. Harusnya jangan telat makan eh malah sulit untuk makan. Bisa juga perut sakit karena efek dari jatuh. Tapi aku masih bingung. Seandanya langsung diatasi di awal Bapak jatuh, mungkin sudah tahu penyebabnya.

“Kang Mamad, sekien bae tah ning rumah sakite (Kang Mamad, sekarang saja ya ke rumah sakitnya?)?” kata Ibu.

“Kosukiki bae. Wis bengi. Atis (Besok saja. Sudah malam. Dingin),” kata Bapak dengan nada lemah.

“Ya wis, mangga didahar kriyin (Ya sudah, silahkan di makan dulu),” kata Ibu sambil melangkah ke dapur.

Hidangan sudah disiapkan. Mereka menyantap apa yang disediakan dalam perkumpulan keluarga. Walaupun hidangan ala kadarnya, sekedar menyambut keluarga calon besan, tetapi terasa nikmat bila dinikmati dalam nuansa kebersamaan penuh dengan kebahagiaan. Walaupun ada kedukaan, masih terselimuti dengan kebahagiaan yang besar.

Akhirnya, acara pun selesai. Tamu dari keluarga calon besan satu per satu meninggalkan rumah keluargaku. Aku mengulang menyalami mereka. Ah, mendadak menjadi tua, pengganti Bapak.

Ya sudah, nanti lanjut lagi ceritanya. Hatiku lagi duka, tidak dapat bingkisan enak.

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Buntet Pesantren: Oh Arafah, Duka Dan Bahagia"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar