Mas Kawin Untuk Arafah

“...Selama menjalin kebersamaan dengan Kakak, hatiku tidak pernah fokus terikat pada Kakak! Kenapa dulu aku tidak menanggapi cinta Kakak?! Kenapa aku menikah sama orang lain? Sekarang, dia malah meninggalkanku begitu saja! Pantas dia tidak berani menikah resmi. Aku menyesal, Kak, hik, hik, hik.”


Aku hanya terdiam kaku, mulut kelu, pikiran beku. Aku tidak bisa berkomentar apa-apa atas masalah yang terjadi pada Arafah. Aku masih mencintainya, tapi aku pun tak mau menanggapi penyesalannya. Rasa kecewa tetap ikut bersarang di hatiku. Lagi pula, apa yang akan diharapkan untukku di saat dia sisa orang lain? Aku lelaki yang tertarik pada gadis yang memang masih dalam kegadisan.

“Kenapa diam saja, Kak? Karena aku seorang janda? Kakak nggak mau lagi berhubungan denganku. Maaf, kalau begitu. Lebih baik menghindar.”

Aku ingin hidup dengan cewek lain yang masih aku cari. Aku belum ada waktu untuk mencari pasangan hidup. Yang jelas bukan seorang Arafah yang akan mendampingiku. Apalah arti cinta kadaluarsa. Cintaku sudah basi! Aku tak mungkin juga memberikan cinta basi untuk Arafah.

“Kak, kenapa diam saja?”

“Maaf, aku terkejut kamu hadir kembali, Arafah.”

“Ternyata Kakak nggak lagi memanggilku Adik. Kakak tega! Aku salah kembali lagi.”

Lantas Arafah memutuskan pembicaraan.

Aku tetap diam tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bingung lebih menguasai jiwa-ragaku. Dia mengkabarkan sesuatu yang mengejutkan diriku. Kenapa ada nada penyesalan pula yang ia ucapkan? Seperti makanan yang sudah aku muntahkan, sulit untuk dimasukkan kembali. Sampai aku tidak mampu menyebutnya adik sebagai simbol kasih-sayang ketulusan.

Dalam kamar aku baringkan badan kembali. Mata masih terkantuk-kantuk. Kenapa ia bangunkan tidurku di larut malam? Kenapa pula ia bangkitkan lagi kisah dahuluku? Air mataku sudah sulit untuk keluar. Lantas kesadaran mulai menipis. Tidak peduli masalah yang tengah dirasakan Arafah.

Malam terasa sangat singkat. Tidurku sangat nyenyak malam ini walau sehabis mendapat berita kedukaan Arafah. Tidak seperti malam dahulu saat pertama kali aku berpisah dengan Arafah: tak nyenyak bahkan sangat mengganggu.

Pagi begitu menyenangkan. Disambut dengan semanis kopi sembari berselancar di dunia maya dengan menggunakan media laptop hasil jerih payah tulisanku. Aku jalankan rutinitas kehidupan; membaca berita di surat kabar online. Aku telusuri di setiap judul berita. Aku menemukan berita yang menggodaku.

“Seorang bocah berumur enam tahun jadian di Facebook dengan gurunya...”

Aku lanjutkan membaca berita terkaitnya. Aku terkejut. Masalah Arafah terbayang-bayang seketika saat aku membaca berita tentang seorang lelaki yang berumur 50 tahun meninggalkan istrinya yang baru 9 tahun. Tiba-tiba kesedihan begitu saja hadir tanpa aku harapkan. Betapa Arafah yang berumur 21 tahun telah gagal berumah tangga dengan lelaki yang berumur 40 tahun. “Biadab!” Lelaki itu meninggalkan Arafah persis pemberitaan yang tengah aku baca. Aku tak mau melanjutkan membaca untuk mengetahui isi berita itu.

Aku merasakan bahwa kedua cewek itu pastilah menyesal karena telah menikah dengan lelaki yang mungkin karena terpaksa: demi orang tua atau karena suatu hal yang lain.

Masa kini cepat berlalu. Sedikit saja lengah, masa kini lenyap pergi tidak punya arti. Apalagi hari-harinya selalu dalam lengah menjalani kehidupan. Penyesalan akan lebih terasa di hati. Lantas, penyesalan tidak perlu disesali. Itu yang harus dilakukan. Mengingat waktu tidak bisa diputar kembali.

“Tulalit... Tulalit... Tulalit,” handphone bunyi.

“Halo... Ine, ada apa?”

“Mau enggak nemenin aku membeli cincin?”

“Buat apa?”

“Mas kawin.”

“Hah!!! Kau nggak lagi ngelucu kan?”

Ine serius ingin membeli cincin mas kawin. Ia tak menjelaskan alasannya. Aku tidak menyangka tiba-tiba saja ia mengabarkan tentang acara pernikahannya. Padahal dua minggu lalu jalinan asmaranya telah terputus dengan lelaki yang satu kampus. Apakah ia cepat melupakan seorang lelaki yang dicintainya dan telah berhubungan lebih dari dua tahun? Apakah rasa trauma telah lenyap sehingga tak takut lagi menjalani aktifitas percintaannya? Lantas, siapakah calon suaminya itu?

Kalender memperlihatkan tanggal 2 Septermber bertepatan di hari Minggu. Teringat. Aku teringat, inilah awal perkenalanku dengan Arafah sekaligus hari ulang tahunnya. Aku baru menyadari, kenapa ia telepon larut malam? Dulu, aku pernah mengganggu Arafah, telepon larut malam tepat di tanggal 2 September sekedar mengucapkan selamat ulang tahun dan ucapan atas perkenalanku dengan Arafah. Dan sekarang, Arafah yang meneleponku.

Lanjutkan kembali, mengikuti perjalanan waktu. Aku berangkat dan mengunjungi rumah Ine yang tidak jauh dari sini. Pemandangan telah menghentikan laju mobil: mobil jerih payah dari karya tulisku. Ine tengah mengendarai mobilnya. Ia menyarankan agar aku tak membawa mobil. Rupanya, dia yang memfasilitasi kendaraan untuk mengelilingi tempat yang dituju.

“Kenapa kau bawa mobil. Kau tidak membaca SMS-ku ya?”

“Betul itu.”

Pasti dia akan boros membeli barang-barang mal. Aku mengerti perasaan dia bila tidak membeli banyak barang di saat shopping: malamnya tidak bisa tidur. Apalagi ia tengah sakit hati, aku bakalan kena gratisan barang-barang mal.

Tiba saatnya di toko mas. Ine mengawali shopping di luar mal. Lantas, ia memilih-milih cincin yang pas.

“Kamu tidak pantas ngebeliin cincin buat cowok. Seharusnya cowok-mu yang ngebeliin cincin.”

“Sudahlah,” Ine tidak menanggapi serius ucapanku. Ia sibuk mencari cincin.

“Nah, aku dapat. Cincin ini sama persis dengan cincin yang kamu pakai waktu itu.”

“Maksudmu?”

“Aku menyukai cincin itu.”

“Tapi, ini cincin emas, Ine. Kalau punyaku bukan cincin emas.”

Ine mendapatkan suatu yang diinginkannya.

“Palalupenyon tut...” SMS datang. Dari Arafah. Aku baca.

“Kak Elbuy, masih ingat tanggal 2 September nggak? Kak, aku sangat cinta... Aku ingin menikah sama Kakak untuk membayar kesalahanku. Setelah menikah, terserah Kakak mau membuang aku ke Bandar Gebang atau ke sungai Ciliwung. Maaf, aku lancang meminta. Aku nggak tahan memendam perasaaan.”

Seketika badanku lemas. Rasanya, aku ingin menangis. Ingin juga marah. Tapi, aku mencoba untuk kuat menahan emosi. Hatiku berontak, “Kenapa baru sekarang?!” Aku harus berusaha tidak menanggapinya.

“Kenapa melamun, Buy?”

“Eee.. nggak. Aku teringat ibuku di kampung. Semenjak aku sukses menjadi penulis, aku pinah ke Jakarta.”

“Tulisan ceritamu bagus. Aku menyukai gaya tulisanmu. Terlebih tentang novel ‘Sahabat Puisi’, sampai aku tidak bisa tidur, memikirkanmu. Maksudku, memikirkan bagaimana perjuanganmu dulu.”

“Yang jelas perjuanganku sangat pahit. Aku tidak mau menceritakan.”

“Dan sekarang, kamu mengurusi tulisan orang! Kamu redaktur yang ajaib, hahahaha... Yuk, kita ke pantai.”

“Lha... shopping?”

“Siapa yang mau shopping?”

“Dikira kau mau shopping. Kamu paling hobi membeli barang-barang mal.”

“Itu dulu...”

“Kau sudah sembuh?”

Ine tersenyum. Ia tak menceritakan tentang berhentinya membeli barang-barang mal. Ia lajukan mobil pribadinya. Aku bagai tuan raja yang duduk santai melihat pemandangan.

***

“Kak, kenapa SMS-ku gak dibales. Aku tunggu.”

Arafah masih saja tetap keras kepala. Keras kepalanya sama persis saat tidak menganggap cintaku. Aku mencoba untuk menjawab.

“Tunggu! Aku lagi sama cewe. ”

“Kamu tidak suka nemenin-ku ke pantai? Hari ini kamu tampak beda di depanku.”

“Ah, kamu. Dua tahun aku selalu menemanimu sampai sempat pacarmu cemburu. Jangan-jangan ia mutusin gara-gara kedekatan kita.”

“Sudahlah. Kamu jangan bicara itu. Yang jelas, aku merasa nyaman dekat denganmu.”

“Oh, Kakak sudah punya pacar. Siapa Kak? Kapan jadian? Jujur, aku tidak percaya Kakak sudah punya pacar. Aku tahu, Kakak tidak akan pacaran.”

Dasar janda. Ia tak mengerti kalau aku tak mau diganggu.

“Aku mencintaimu,” lirih Ine.

“Sudah diam! Iya, aku belum punya pacar! Jangan ganggu aku!”

Pantai seakan tidak sejuk lagi. Anginnya hanya hembusan panas yang menyerang tubuhku.

Aku tidak kuasa mendengar jelas perkataan Ine. Ia berubah menjadi marah. Ia merasa tidak dianggap olehku. Arafah pun sedari tadi terus saja mengganggu. Membuat konsentrasiku terganggu. Aku tidak betah lama-lama disini. Ingin rasanya marah!

“Maaf. Tadi kamu bilang apa?” kataku.

Ine mempertanyakan tentang keseriusanku mendengar. Ia mencurigai tentang seorang dibalik SMS. Ia mempertanyakan padaku. Lantas, seketika ia merebut handphone dari tanganku. Aku terpaksa melepas. Tidak sanggup mencegahnya. Ia mencoba untuk membaca isi SMS dari Arafah.

“Siapa yang mengajakmu menikah? Siapa? Aku pun ingin mengajakmu menikah! Aku mencintaimu.”

Aku terkejut. Aku tidak bisa berbicara apa-apa mendengar perkataan Ine. Dua cewek mengajakku menikah. Lalu, Ine mengutarakan maksudnya membeli cincin. Ia ingin memberiku cincin agar aku memberikan kembali padanya sebagai mas kawin.

“Apa? Cincin itu untukku...?”

Aku menelan ludah saat Ine mengatakan tentang putusnya jalinan cinta. Ia putus dengan pacarnya gara-gara ia mencintaiku. Bagaimana ceritanya sampai ia putus dengan pacarnya? Tapi, aku tidak mau tahu tentang cerita putusnya.

“Aku...,” Ucapan Ine terhenti.

“Palalupenyon Tut,” SMS datang.

“Kak, Aku tunggu jawaban dari Kakak. Aku ingin mengajak Kakak nikah sebagai penebus kesalahanku!”

“Ini apa-apaan sih?! Tolong jawab, cewek ini siapa?”

“Dia Adik angkatku. Puas?”

“Baik! Aku puas dengan jawabanmu. Tapi tolong jawabanmu. Aku mengharapkan kamu menerimanya. Cincin menunggumu. Atau mungkin, kamu tidak suka bila cincin mas kawin itu dari cewek. Lebih baik aku buang!”

“Jangan!”

“Kamu menerima tawaranku?”

“Tidak. Tapi, lebih baik cincin itu kamu simpan.”

“Tidak? Aku buang saja!”

“Aaaaaaah! tidaaaak,” aku tak kuasa mencegah. Ine membuang cincinnya ke laut.

“Terimakasih telah menemaniku!” Ine pergi. Ia sangat terpukul atau mungkin itu trik seorang cewek.

***

Janda atau perawan? Aku tak tahu harus memilih yang seperti apa. Kenapa aku ditakdirkan diajak menikah sama dua orang cewek? Aku bingung memilihnya. Lebih mudah memilih-milih tulisan yang layak muat di media masa daripada memilih dua cewek yang akan dijadikan istri! Aku memilih Arafah, dia sudah tidak perawan lagi walau aku masih mencintainya. Aku memilih Ine, aku tidak mencintainya walau dia masih perawan.

Sembari berbaring dalam kamar, aku lama memikirkan.

“Palalupenyon Tut....” SMS datang. Dari Arafah yang tidak tahu malu dan keras kepala.

“Aku mohon jawabannya.”

“Palalupenyon Tut....” Berbarengan datangnya SMS. Dari Ine.

“Bila kamu pernah merasakan cinta, kamu pun tahu bagaimana sakitnya bila cinta bertepuk sebelah tangan.”

“Aah! Gila! Stres! Kenapa mesti cewek yang mengajak menikah! Dunia sudah jungkir-balik. Ah! Aku pilih siapa? Ya sudah, aku terpaksa memutuskan. Sekarang aku pilih, Arafah.”

Aku telepon Arafah.

“Dek Arafah, nanti Kakak kasih mas kawin buat Adik. Kakak masih mencitaimu, Dik. Walau janda, tak apa lah. Sekarang ada banyak jamu rapet.

“Ih, Kakak. Apa-apaan sih? Ih... sebel... Tapi, makasih ya Kak. Eh, tapi...aku jangan dibuang ke Bandar Gebang atau sungai Ciliwung ya?”

“Tidak seperti pengecut mantan suamimu!”

Ending cerita yang tidak mengenakkan. Tapi tidak mengapa lah. Dari pada nanti aku yang menyesal setelah penyesalan Arafah. Ending cerita yang tak diharapan. Tapi, hidup adalah dengan keputusannya. “Maafkan aku, Ine.”

***

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Mas Kawin Untuk Arafah"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar