Pertarungan Hidup Arafah Rianti

Arafah Rianti kenangkan selalu kisah itu. Terkubur ayahnya beberapa tahun yang lalu setelah penyakit menguras sisa umurnya. Ia nestapa melihatnya. Arafah selalu menjadikan kisah itu sebagai kebangkitan jiwa di saat raganya membawa segumpal lara: Afarah lemah dalam raga serta penyakit yang siap menyiksa. Ia lebih gentar menghadapi kenyataan tentang keluarganya yang kini berubah dalam papa. Dan ia tidak mungkin diam menyendiri, katanya. Itulah sebabnya ia mencoba berjuang ikut audisi stand up comedy walaupun kandas di tengah jalan sebelum tampil di tv alias gagal. Kini, mengadu nasib yang lain.


Aku melihat raga Arafah, hatiku dalam iba. Betapa ia memaksakan kehendak sehingga hatiku terdesak oleh nafasku yang sesak, sampai mencair air kesenduan. Itulah terakhir kali, aku melihatnya. Walaupun waktu itu masih terlihat bugar, tetapi sebelum keberangkatan terkadang mengalami kondisi raga yang tidak bisa berdaya. “Kak, pusing, sakit,” katanya. Tapi aku bangga, semangatnya mengalahkan kondisinya. Bisa dikatakan semangat adalah pertolongan pertama untuknya.

Arafah mengadukan tiap deritanya padaku. Aku tidak kuasa membayang derita Arafah. Kini ia dalam kesendirian di negara yang jauh di sana. Aku ingin hadir di sana sembari kita mengais rejeki bersama. Kalau pun terluka, kita terluka bersama. Sampai kita memeluk harapan dan menikmati bersama. Arafah pun tidak sendiri. Tapi aku pun tidak berdaya dengan keadaanku sendiri yang masih lemah dalam kehidupan, masih terengah dalam hembusan nafas dan masih kurang modal untuk berjumpa dengan diri Arafah. “Gila, penjual pulsa mau beli tiket pesawat?”

“Kak Elbuy, jangan sedih. Jangan ikut sakit. Arafah udah terbiasa dengan hal ini. Arafah bisa kuat dan bertahan kok.”

Padahal Arafah masih punya satu kakak kandung yang lebih dewasa, standar dalam kekuatan raga dan tidak mempunyai raga yang lara. Ibunya pun masih sanggup bekerja walau hanya bekerja sebagai pembantu rumahan. Tapi ia mencegah halangan itu! Ia tidak rela diam diri! Bahasa bakti yang berbaur dengan bahasa keras kepalanya, tidak urungkan niatnya untuk bekerja demi kehidupan ibu dan adiknya yang masih kecil. Ia tidak memikirkan keadaannya yang sewaktu-waktu datang menyakitinya kembali. Aku khawatir pikiran Arafah yang sadar akan berubah menjadi tidak sadar seiring meningkatnya keparahan penyakit yang ada dalam kepala.

“Kak, mohon doanya,” kata ini yang selalu aku kenang ketika aku menjalankan solat. Kata ini yang membuatku hanya terdiam pasrah, tidak banyak mencegah dalam keberangkatan Arafah ke negeri tetangga yang masih serumpun melayu. Memohon diri agar aku mendoakannya adalah jalan satu-satunya yang melemah. Memohon pada yang kuasa agar Arafah tetap kuat bertarung dalam hidup.

Umur Arafah yang baru beranjak 18 tahun, menghadapi kehidupan yang keras di lintas negara. Arafah memaksakan diri, tidak tahu diri. Ia menderita raga seakan mau mati.

Teman satu desa pun kini terbang melintasi batas negara yang lain. Arafah sendiri. Sendiri dalam sepi. “Aku tidak kuasa membayang kesendirianmu, Arafah. Mengapa kamu tidak ikut temanmu?” Tetapi Arafah menganggap hal itu sebagai pendidikan kemandirian. Lagi pula ada teman yang lain hasil perkumpulan sesama TKW. Walau cemas, tetapi jauh lebih baik mengingat masih satu rumpun melayu juga.

Aku usap air mataku. Tetap tahan dalam tangis sewaktu mendengar keluhan Arafah yang ada dalam kepala yang katanya kanker atau apa lah, masih belum jelas. Arafah masih merahasiakannya. Walau aku tahan dalam tangis, batinnya seperti mengetahui kalau aku menahan tangis akibat mendengar deritanya. Apakah aku harus berbohong? Tentu aku tidak sanggup membohonginya. Biar ia pun tahu, aku menderita bila ia menderita.

“Bila umur Arafah berhenti di negara ini, gak sempat berjumpa lagi ama Kak Elbuy, Arafah mohon, gak usah ikut larut dalam sedih. Tetap tabah, setabah diriku menahan penyakit dan setabah diriku meninggalkan ibu untuk bekerja.”

Kata-kata tentang berhentinya umur Arafah membuat diriku begitu gigih melantunkan syair doa. Di saat beribadah, di saat berbaring, di saat menjelang tidur dan di setiap waktu yang berjalan. Aku selalu melantunkan syair doa untuk kekuatan jiwa dan ragamu.

“Bila aku yang lebih dulu meninggalkanmu, kamu pun harus tetap tabah, setabah dirimu dalam sikap keras kepalamu.”

Arafah pun tertawa. Ia bahagia. Dan tetap semangat kerja.

Tapi berbalik kembali seketika: kepala Arafah sakit, badannya lemas, keringat dingin keluar, dan akhirnya Arafah tak sadarkan diri. Aku hanya mendengar irama raganya yang terjatuh. Ya Tuhan. Aku pun terjatuh dalam jurang kesedihan. Aku menangis tertahan dan selalu aku tahan. Tapi cucuran air mata tidak mau berdiam diri, tetap mengalir deras. Aku ikut larut dalam derita. Nafasku seketika sesak. Sakit dadaku. Lemas tubuhku, tidak berdaya.

Akhirnya, aku mendapat kabar dari Arafah bahwa dengan terpaksa bos memulangkan Arafah ke rumahnya. Kebetulan Arafah bukan sekedar pembantu rumah tangga melainkan mengurusi usaha si bos. Pemilik usaha hanya mengizinkan Arafah bekerja di rumahnya. Arafah pun hanya bekerja sebagai pembantu ꟷ padahal itu pantangan untukmu dan untuk ibumu. Tidak harus sibuk. Hanya mengurus anak-anaknya.

“Arafah malu cuma jadi pembantu, Kak.”

“Sudah diam! Jangan nolak!”

“Kakak tega! Tega!”

“Kenapa kamu membatalkan audisi stand up comedy kedua saat kamu berhasil lolos? Kenapa? Aku agak kesel waktu kamu sengaja gagalin. Aku dan kakakmu bela-belain nganter kamu, nyemangatin kamu, kamu malah semau kamu sendiri.”

“Pusing, Kak. Daripda malu-maluin. Tiba-tiba pingsan gimana? Lagi pula stand up gak jaminin hidup enak, hehe... Yang menang aja gitu...”

“Lah, terus kenapa nolak jadi pembantu? Itu kan gak butuh mikir, gak pusing. Sudah untung gak dipecat.”

“Iya deh.”

“Jaga kesehatanmu! Jaga, Dik! Kamu jangan banyak kesibukan. Aku tidak mau penyakit kepalamu semakin menggrogotimu!”

Arafah menangis sewaktu aku mengatakan itu.

“Maafkan aku, Dik! Sudah, jangan menangis lagi ya?”

“Kak, Arafah menangis bukan karena bentakan dari Kakak. Arafah sudah terbiasa dimarahin Kakak. Tapi, Arafah menangis karena mendengar nasehat Kakak yang sangat dekat di hatiku. Arafah ingin Kakak di sampingku sembari menasehatiku. Tapi aku tetap bersikap membandel saat menjelang akhir hidupku. Kakak suka kan sikap keras kepala Arafah?”

“Kakak suka, Dik. Nanti Kakak akan di sampingmu sembari menasehatimu dan tetap kamu membandel.”

Arafah pun tetap dalam tangis. Hembus nafasnya terdengar tertahan-tahan.

“Istirahat yang banyak ya? Ingat, jangan telepon lagi. Lewat pesan saja. Mahal tau.”

“Iya, Kak. Pulsa dikasih bos, hehe...”

“Uh, gratisan. Dasar!”

“Kekekekek...”

Aku hanya menahan tangis setelah selesai dalam pembicaraan.

Betapa aku hanya penasehat, penceramah, atau konsultan yang tidak punya arti. Aku hanya pandai berbicara, tetapi seakan mulutku mendustakannya. Aku pandai dalam mengurai pengetahuan, tetapi seakan pikiran melupakannya. Aku pun selalu memberikan peta jalan menuju kebahagiaan di tiap Arafah mengeluh sakit, agar ia tabah, tetapi seakan aku buta akan jalan kehidupan. Sedangkan Arafah bukanlah seorang yang sama denganku, tidak lebih pandai denganku dan tidak lebih tinggi dengan umurku. Tapi Arafah hanya seorang tukang yang selalu melaksanakan setitik ucap yang aku berikan, setitik pengetahuan yang aku ajarkan dan setitik petunjuk jalan yang aku gariskan ꟷ walau terlebih dahulu melewati keras kepalanya.

Aku bagai guru Bahasa Indonesia dan Sastra yang tidak selalu membuat karya puisi, prosa, dan juga drama. Aku bagai guru Ekonomi yang tidak pernah merasakan dunia perdagangan. Aku bagai guru Fisika yang malas mengutak-atik dunia elektronik. Dan aku bagai guru Kimia yang takut membuat bom, tidak seperti para teroris.

Aku tidak mampu tabah dalam mendengar kisah derita Arafah yang sepanjang hari, sepanjang bulan, kian meningkat parah, padahal aku yang menasehati agar ia selalu tabah. Aku sedih di tiap keluh kesah penderitaan yang ia ceritakan walau dengan tawa riang, tanpa merasa ada beban. Ia tabah tapi aku tidak tabah. Ia tenang tapi aku gelisah. Ia siap mati tapi aku tidak siap. Ia tidak memperdulikan penyakit beratnya yang menggerogoti raganya. Sedangkan aku sendu dalam kalbu, mendengarnya selalu dalam derita, juga karena aku hanya diam tidak menemaninya di sana.

Setelah enam bulan lebih Arafah merantau, kini, hari ini, ia berucap riang tentang raganya yang berbaring lemas. Berkali-kali rambutnya terlepas, katanya, walau tidak langsung banyak. Segala perubahan buruk lainnya pun pelan-pelan datang. Penderitaan itu sangat cepat menyebar ke seluruh tubuh.

“Kak, saat-saat terakhir, Arafah ingin Kakak menasehatiku dan juga menyanyikan lagu "Saat Terakhir" untukku.”

“Iya... Pulang, Dik.”

“Gak bisa.”

“Keluargamu?”

“Sudah Arafah hubungi semua pakai vidio call. Bosku baik, kasih uang buat beli ipad keluarga. Semua pada ngajak aku pulang termasuk bos. Tapi aku gak bisa. Mungkin kalau aku sudah meninggal, baru aku pulang.”

“Kenapa tidak bisa pulang? Nanti malah merepotkan mereka.”

“Ih, udah gede gak bisa mikir. Kalau pulang, siapa yang nganter? Masak harus merepotkan orang terdekat bos? Kalau udah meninggal kan biaya pengiriman ditanggung pihak berwenang, hehe...”

Aku tidak kuasa mendengar kenyataan ini. Sedih. Aku tidak kuasa menghampiri Arafah untuk menemani saat-saat terakhir hidupnya, memeluk erat hatinya dengan nasehat. Ia butuh sekali orang terdekat di sana di saat ia sedang penuh duka-lara.

Aku tidak sanggup membayang bagaimana perasaanku bila Arafah meninggal tapi tidak sempat menuruti permintaan terakhirnya.

Aku pun ikut berbaring melemas sembari syair doa diucapkan. Seakan malam adalah waktu yang tepat untuk mengadu kesedihan kepada penguasa kehidupan.

Malam telah memberiku kesempatan memasuki ruang mimpi. Dan aku pun pergi bersama putaran waktu.

***

Sepertinya aku yang akan meninggalkan Arafah. Entah mengapa tiba-tiba nafasku sesak. Aku tidak henti-hentinya bantuk, membuat keributan di sekitar rumah. Paru-paruku sakit, sakit sekali. Sangat menyiksa. Aku tak mampu lagi hidup tenang. Darah pun mulai keluar dari mulutku akibat paru-paru yang terluka. Seakan aku akan kalah bertarung dalam hidup.

“Kau kenapa, Nak? Ya ampun kenapa masih selalu saja bandel? Kenapa kau pakai ac? Kenapa?”

Aku tidak mampu bicara. Aku hanya batuk-batuk. Ibuku gelisah sendiri mencari obat yang tepat. Aku terus batuk sembari berusaha berdiri untuk mengambil handphone-ku, tapi tetap tidak bisa. Badanku pun lemas, tak bisa bergerak.

“Minum obatnya dulu. Duduk ya?”

Tiba-tiba aku batuk dan keluar darah lagi dari mulutku yang membuat ibuku terkejut. Darah semakin banyak yang keluar. Ibu semakin larut dalam tangis. Ibu tidak henti-hentinya menasehatiku, “Yang kuat, Nak! Kuatkan dirimu, kuatkan! Kau pasti kuat! Besok Ayahmu pulang. Kau yang kuat. Kuat Nak! Umurmu masih lama, Nak”. Ibu hanya gelisah, sibuk mencari pertolongan.

Tapi aku hanya merasakan kesadaranku semakin menurun. Suasana ruangan seketika padam. Entah ruangan apa ini. Ingatanku seketika menurun drastis. Banyak yang aku lupakan. Hanya ada satu yang aku ingat, tapi entah siapa. Seolah ia adalah temanku, untukku di alam sana. Di alam keabadian. Semakin tidak sadar, tubuhku semakin melayang-layang tak bisa dicegah oleh manusia siapa pun.

“Ah...!” Hanya mimpi. Nafasku terengah-engah. Aku lelah. Nafasku sesak. Dadaku sakit.

“Oh, Adik Arafah. Adik. Mimpi apa tadi?! Oh, tidak!”

Aku bergegas untuk mengambil handphone. Ada tanda panggilan tidak terjawab dan juga SMS.

“Kak, aku gak kuat! Kepalaku sakit sekali! Kakak segera meneleponku!”

“Oh tidak. Ini sudah Telat. Ini SMS jam sepuluh malam. Sangat telat!”

Aku telepon. Langsung ada yang mengangkat tapi bukan Arafah yang berbicara. Aku makin khawatir. Orang itu pun langsung memberitakan sesuatu hal yang paling menyakitkan!

Tidaaak! Arafah Rianti! Tidak mungkin. Tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin! Oooh! Aduh, pulsaku habis banyak. Arafah!

***



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya