Arafah, Keluarga Ke Rumah Sakit

Pagi ini dingin sekali. Mungkin karena efek hujan kemarin yang memang hujan besar dan lama. Sampai banjir besar secara khusus di area sungai Buntet Pesantren. Walaupun dingin, aku tidak sampai menyiapkan jaket untuk persiapan bermalam di rumah sakit. Aku hanya memasukkan kaos, baju dan sarung untuk kebutuhan di rumah sakit. Tidak lupa juga membawa satu botol susu dan pil suplemen. “Ah, serius banget mau ke rumah sakit”. Tetapi itulah persiapanku di pagi hari yang dingin ini.


“Palalupenyon tuut,” dari jarak yang agak jauh terdengar suara SMS.

“Bapak Kakak gimana keadaanya sekarang? Jadi kan pagi ini ke rumah sakit?” Arafah SMS.

“Jadi. Ya, walau lumpuh, ngobrol mah lancar. Tapi ada keluhan sakit di perut. Ampe bingung ngangkat ke mobilnya.”

“Moga Bapak sembuh ya Kak? Kabari aku ya kak kalau udah nyampe ke rumah sakit.”

“Iya... maafin aku ya... Besok gak bisa nganter kamu. Kalau ada waktu, aku sempet-sempetin jenguk kamu.”

“Jenguk? kayak lagi tepar aja, kekekek. Janji ya...”

Tapi aku tidak janji. Aku tidak merespon ucapan itu. Hal ini karena belum tahu kondisi yang akan terjadi nanti. Semoga saja bisa menjenguk Arafah di rumah sakit yang berbeda yakni di RS Gunung Jati.

Hp aku masukkan ke saku. Untung Arafah SMS. Hampir mau tertinggal di dalam rumah.

Suasana sudah ramai mengingat di pagi ini sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit membawa Bapak. Tepatnya ke rumah sakit Permata Cirebon. Kenapa saat kondisi Bapak sudah parah, malah pasrah di bawa ke rumah sakit? Memang kalau sudah parah, harusnya dibawa ke rumah sakit. Namun yang menjadi masalah, sejak kemarin sore ada keluhan sakit di bagian perut. Memang saat terjatuh pun sudah mengeluh sakit walaupun masih bisa berjalan. Sekarang, sakit yang dirasakan semakin terasa yang justru menyulitkan untuk membawa Bapak ke dalam mobil. Jangankan untuk dibawa ke dalam mobil, bergerak sedikit saja, Bapak merasakan sakit.

“Wetenge lara. Digawa bae tah dipane (perutnya sakit. Dibawa saja ya ranjangnya)?”

Sempat pada mikir untuk menemukan cara bagaimana membawa Bapak. Pada awalnya, membawa Bapak dengan ranjang sesuai saran Bakak. Nanti pas mau dimasukkan ke mobil, Bapak diangkat dari ranjang. Beberapa orang mengangkat ranjang karena itulah cara yang harus dilakuakan biar Bapak tidak merasakan sakit pada perut. Untung Bapak tidur di ruang tengah, ruang keluarga, jadi mudah untuk dibawa.

“Wah, mentog. Angel metue (Wah, tidak ada jalan lagi. Susah keluarnya),” kata Mang Yamin, adik dari Ibu.

“Di gawa kasure bae sih. Aja bari dipane (di bawa kasurnya saja sih. Jangan sama ranjangnya),” kata Mang Samsul, sepupu dari Ibu.

“Lah, iya. Sekalian sampe manjing mobil. Angel bopong Bapae (Lah, iya. Sekalian sampai masuk mobil. Susah menggotong Bapak)” kata Acip, adik pertamaku.

Orang-orang segera mengatur untuk mengangkat kasur. Bapak diam saja sedari tadi. Mungkin sedang mencoba beradaptasi, mempersiapkan pada keadaan yang akan atau sedang merubahnya. Kalaupun terasa sakit, sudah ada kesiapan. Kasur dibawa tanpa ranjang menuju keluar rumah lalu dimasukkan ke mobil. Benar-benar dimasukkan padahal tempatnya sempit.

“Lah, wis, kasure ditekuk. Sikile isun ditekuk. Wis enak mengkenen (Lah, sudah, kasure ditekuk. Kakinya saya ditekuk. Wis enak begini),” kata Bapak.

Semua barang yang lain di masukkan ke dalam mobil. Termasuk ember. Aku yang baru satu kali tahu kondisi rumah sakit rawat inap, memang ndeso. “Haha, kata Kaisang, ndeso.” Masak bawa ember? Buat apa? Ibuku pun tidak berkata apa-apa untuk apa membawa ember. Hal ini pun beralasan bahwa Bapak membutuhkan air wudu untuk solat. Memang Bapak tidak mau melakukan tayamum walaupun saat kondisi sudah lumpuh total, tidak bisa berjalan.

Aku yang selalu ada di rumah, sempet mewudukan Bapak untuk solat Mahrib, Isya dan Subuh dalam sehari. Sebagai penganut madzhab Syafi’i, hukum bersentuhan memang bisa membatalkan wudhu antara Ibu dan Bapak sehingga untuk berwudu aku yang membantu. Sempat ada kesulitan dalam membasuh mengingat air mengucur membasahi kasur dan lantai. Bagaimana nanti di rumah sakit? Aku terus saja memikirkan hal ini dalam kondisi ndeso dan katro-nya. Aku berpikir, “Lah, nanti kasur rumah sakit basah? Oh mungkin ada tempat penampungan air ketika menggunakan air.” Tapi karena khawatir dibutuhkan, ember pun dibawa.

Kalau sudah mengurus-mengurus begini, bepergian pakai mobil, kepala mendadak pusing, mual dan badan terasa dingin. Aku bawa saja seduhan kopi ke dalam botol. Aku persiapkan hal ini sejak awal mengingat aku belum tahu persis kondisi rumah sakit. Khawatir di sana menderita pusing kepala tetapi tidak ada penawar.

Perjalanan pagi hari meninggalkan rumah sambil melewati setiap sisi lingkungan. Dalam perjalanan, kami berbincang-bincang mengenai banjir besar. Kami melihat-lihat pemandangan yang belum terbiasa. Keadaan masih terlihat kotor. Ada beberapa sekolah bahkan diliburkan mengingat masih tergenang air. Kasihan sekali. Benar-benar banjir besar. Aku menduga bahwa ada pembangunan yang mengabaikan keamanan lingkungan di area pegunungan.

Aku menulis status di Facebook tentang Ciremai mengamuk. Banyak orang mengabaikan, tidak mempedulikan hubungan alam dengan manusia. Akibatnya, manusia sendiri yang akhirnya terkena imbasnya. Sayang, yang terkena imbas justru yang tidak tahu-menahu. Oknum yang melakukannya justru tidak tinggal di area bencana. Coba lihat pemilik vila di puncak Bogor. Milik siapakah? Milik orang kota yang tidak tinggal di dareah puncak. Alasannya agar bisa berlibur dengan enak di area puncak. Ketika di area bawah bermasalah, dimanakah orang kota? Entah lah.

Aku menulis seputar alam dan Ciremai mengamuk di dalam mobil. Artinya, kepalaku pusing. Arafah pun tahu kalau aku mudah pusing, terutama dalam mobil. Berbicara dalam mobil pun pusing. Itu sebabnya, aku ragu ketika Arafah memintaku ke Depok. Waktu bertemu dengan salah satu cewek dari Sukabumi pun, aku merasa kelelahan dan kepusingan. Tetapi demi bertemu bertemu Arafah dan cewek itu juga, tentunya, aku bela-belain ke sana. Entahlah, energi apa yang membuatku bisa kuat ke sana. Yang jelas, aku sempat sulit bertindak menyelesaikan masalah, termasuk bersama Arafah waktu itu. Aku tidak mau permasalahan kondisiku berlangsung sampai Arafah mudik ke Depok.

“Duh, dek, Kakak pusing nih. Jalan-jalan di mobil.”

“Kak Elbuy ngomong apa sih? Ngomong kok kayak gak ada rumus Matematik-nya, kata-katanya gak pasti terukur,” kata Arafah membalas pesanku.

“Kamu juga ngomong apa sih? Ngomong kok pakai hitungan trigonomatri ampe trigonogini.”

“Iya. Napa Kakak pusing? Gak ada jalur tujuannya.”

“Nulis di mobil, hahai...”

“Emang mau kemana?”

“Mal. Mau liat film kamu yang pernah diputar.”

“Hah? Film? Beneran masih ada di bioskop?”

“Gak sih. Cuma beli CD-nya lalu download vidionya, haha. Film kamu mah udah wassalam!”

“Ah, main gratisan nih... Sekarang ada di mobil?”

“Gak lah. Udah di mal.”

“Kakak mah kayak anak kecil, pusingan. Gitu aja pusing, gimana ke Depok, Kak? Aku pengin deh Kakak ke Depok.”

“Kalau ke Depok, naik odong-odong. Jadi gak pusing.”

“Odong-odong apaan? Ah, pantes aja gak pusing. Cuma bayangin doang nyampe di Depok. Kapan nih ke depok?”

“Pusing karena nulis atau ngobrol di mobil, Dik, bukan karena naik mobilnya. Santai, tunggu saja kabar baiknya. Aku pasti kesitu.”

“Aku ingin membayar kesalahanku!” kataku bertenaga. Tiba-tiba mataku sedikit basah mengenang ajakan Arafah ke Depok. Perasaan campur aduk di tengah perjalanan. Kepala tambah pusing. Nafasku sesak. Ingin sekali memberontak, menghancurkan kenangan masa lalu yang sangat memukul hatiku dan Arafah. Aku mencoba menahan perasaan dan nafas yang siap memecahkan tangis.

Dulu Arafah bisa dengan mudah berbicara jalan-jalan, pergi sana-sini. Sekarang cacat. Apakah bisa berjalan jauh dengan kursi rodanya? Semoga saja bisa mudik untuk sekedar melepas kangen dengan orang terdekat dan memang harus mudik. Tapi terpenting, semoga Arafah bisa berjalan lagi dengan ajaib. Tugas dan bebannya sangat berat di tengah kecacatannya.

Sesuatu yang ajaib memang. Mengapa aku tiba-tiba sedekat ini dengan Arafah. Aku masih saja tidak habis pikir, merasa heran. Berawal dari menulis iseng di blog, kenalan via email untuk kepentingan proyek bisnis dan seterusnya. Entah ada magnet apa membuat aku dan Arafah dekat, sedekat bayagan, baik fisik atau batin. Arafah memang pernah cerita, kalau ia sangat sedih bila belum berjumpa dan tinggal bersamaku di tengah kelumpuhannya.

“Aku ingin bayar kesalahanku, Kak. Aku gak nurut ama ucapan Kakak. Andai aku gak buru-buru menaiki mobil, pasti keluargaku utuh,” kata Arafah waktu itu.

Walaupun dulu bisa dengan ajaib datang ke rumahku, bak Om Jin, tetapi itu bukan hal yang spesial. Lagi pula tidak mudah, butuh moment manakala otak Arafah dan aku sedang absurd agar bisa berjumpa sekejap mata. Sebagai manusia normal, ia ingin datang dengan kendaraan mengingat Depok-Cirebon bukan jarak yang dekat. Memangnya Arafah Om Jin dengan mudah ting? Entah lah, kenapa aku membuat Arafah begitu sakti sedangkan aku sendiri datang ke Depok pakai kendaraan umum sampai akhirnya Arafah cemburu dan ngambek.

“Hahaha... lucu juga bisa ngilang. Ah, aku gak mau bayangin pertemuan itu lagi. Aku juga nyesel, Dek. Kenapa baru datang ke Depok, udah main kejut-kejutan?” kataku dalam hati.

Mobil terus melaju melewati beberapa pemandangan. Aku tidak banyak tahu seputar jalan perkotaan. Lagi pula, aku sedari tadi tidak melihat pemandangan luar. Aku sibuk memejamkan mata mengingat terkena efek pusing. Aku tidak bisa menulis di dalam kendaraan yang bergerak. Sudah minum kopi dan segala pesiapan agar siap berjaga di rumah sakit, malah teledor bikin tulisan di dalam mobil. Ah, semoga saja hilang rasa pusing ini.

Mobil pun tiba-tiba belok. Sepertinya sudah sampai ke rumah sakit Permata di saat mataku mulai melihat pemandangan. Terlihat beberapa satpam dan penjaga mengatur kendaraan. Mobil mencoba parkir ke sebelah pintu IGD rumah sakit untuk penurunan Bapak.

“Sampun dugih, Kang (Sudah datang, kang),” kata Mang Yamin.

“Alhamdulillah, teka... (alhamdulillah, datang),” kata Bapak.

Semua orang pada turun. Aku, Ibu, dan lainya, termasuk supir. Kembali mengatur-atur bagaimana turun. Beberapa petugas menghampiri kami sekeluarga untuk membantu Bapak turun dari mobil dan dialihkan ke kereta ranjang, yang entahlah apa nama keretanya. Beberapa orang mengatur pelan dalam memindahkan Bapak. Kasur rumah yang tebal pun diganti dengan kasur rumah sakit yang tipis. Aku hanya melihat bagaimana prosesnya. Setelah itu Bapak dibawa ke kamar darurat untuk diperiksa ke dokter sebagai pertolongan pertama. Aku pun mengikuti perjalanannya bersama keluarga.

Petugas satu per satu memulai memeriksa kondisi Bapak. Apakah ini dokter yang akan merawat Bapak? Benar-benar ndeso mengenai dunia rumah sakit rawat inap. Biasanya aku hanya kontrol di rumah sakit rawat jalan sehingga tidak tahu betul rumah sakit seperti ini. Oh, mungkin yang memeriksa Bapak berstatus sebagai perawat biasa yang kebetulan memahami bagaimana menangani pasien.

“Badan Bapak kok pada kuning?” kata dokter. Itulah salah satu isi pembicaraan.

“Ini kunyit, Dok. Kan saya jatuh, jadi harus dikunirin.”

“Iya, Dok. Kata orang-orang tuh kalau habis jatuh, manjur kalau pakai kunyit, ” Ibu menambahkan.

Perbincangan ringan pun terjadi dengan menyarankan ini dan itu, mengganti ini dan itu. Membereskan administrasi dan sebagainya.

Dari jauh terlihat Andi dan kawan-kawannya menunggu di luar pintu rumah sakit. Terlihat membawa bingkisan buah yang ditaruh di kursi. Mungkin buah untuk ibu mengingat sejak kemaren-kemaren apalagi datang kelumpuhan total Bapak, ibuku terlihat lesu, tidak enak Badan. Ada beban pikiran juga.

Hal yang tidak terduga dan baru tersadar diri, suasana rumah sakit seperti suasana yang pernah aku alami dalam cerita novel yang sudah aku tulis. Bukan novel sih, tetapi novelet. "Ah, gak tahu lah, apa itu novel dan novelet." Novel “Aku, Arafah dan Cinta Segitiga” yang sudah aku berikan untuk Arafah. Walaupun pasien yang dirawat bukan Bapak, tetapi aku merasa bahwa ada kemiripan suasana. Memang hanya perasaan saja. Tetapi seperti jejavu, sesuatu suasana yang pernah terjadi walapun kenyataan belum pernah terjadi. Rasa khawatir pun tiba-tiba datang membuat bulu kulitku berdiri, merinding di tengah dingin AC dan bau rumah sakit.

Aku segera menghampiri Andi dan teman-temannya di depan pintu ruangan IGD. Kebetulan di tempat itu ada Mang Yamin, A’ah, yang keduanya adik Ibu. Kondisi badanku tambah dingin di tengah suasana jejavu sehingga harus keluar. Nafaspun sudah tidak enak, sesak dengan aroma suasana rumah sakit. Aku ingin menghirup udara segar yang murni.

“Iki buah go Ma. Isune engko balik dikit. Ana keperluan (Ini buah buat Ibu. Aku nanti pulang dulu. Ada keperluan),” kata Andi.

“Iya wis, tunda bae. Baka wis ning ruangan digawa (Iya, sudah, taruh saja. Kalau sudah di ruangan dibawa)”

“Iya. Kok isun kang kawa (Iya. Nanti aku yang bawa).”

Di tengah penantian dan obrolan, aku teringat Arafah lagi. Aduh, kalau sudah terfokus pada satu cewek, cewek yang lain tidak akan selalu dipikirkan. Tiap hari yang dipikirkan hanya pada satu cewek. Kalau yang terfokus adalah Arafah, tentu Arafah yang selalu aku pikirkan. Aku tidak paham dengan hal ini. Sulit sekali untuk bebas dari fokus satu orang. Bukan kenapa-napa, tetapi lelah juga.

“Aduh, Dek, kenapa aku kepikiran kamu terus di setiap waktu?”

Beginilah keadaanku. Sulit berpaling ke cewek yang lain walaupun Arafah bukan kekasihku. Mungkin efek masih sendiri jadi merasa bebas memikirkan siapapun cewek. Seandainya Arafah sudah menikah, dan aku pun sama, ceritanya bisa lain walaupun tidak sampai berhenti untuk menulis seputar Arafah. Tetapi tetap saja, selagi masih ada kepentingan dengan Arafah, aku selalu memikirkannya. Lucu sekali kalau sampai mengalahkan fokus pada istriku nanti. “Haha... Arafah, Arafah. Lengket aja, mirip ingus.”

“Palalupenyon, tuut...”

“Kak, di ruangan mana Bapak dirawat?” tiba-tiba Arafah SMS.

Di tengah memikirkan Arafah, tiba-tiba Arafah hadir memenuhi pikiranku. Sungguh membuat jantungku berdebar.

“Ngagetin aja nih, SMS-nya, hehe... belum, Dek, masih dalam pemeriksaan awal.”

“Oh gitu. Tapi kok SMS kakak nyebelin ya, hehe... Ngagetin gimana?”

“Aku lagi mikirin kamu, Dek, eh tiba-tiba SMS kamu nongol.”

“Cieh, yang lagi kangen. Besok datang, jenguk aku ya, awas! Gak apa-apa sebentar juga.”

“Aku gak janji, Dek....”

“Ih, bukannya kakak janji?”

“Papalupenyon kaleee... siapa yang janji?”

“Duh, emang cuma Kakak yang jaga? Kan ada Ibu, ada adik Kakak, Paman dan Bibi?”

“Belum pasti. Tapi sepertinya aku, Ibu dan Bibi untuk sementara. Kondisi ruangan belum tahu pasti.”

“Aduh, Kak, Mba Linda sekarang lagi gak enak badan. Takut besok gak bisa ke rumah sakit.”

“Bisa batalin hari kan?”

“Obat udah abis, Kak. Suruh kontrol pas obat habis. Sabtu minggu libur. Senin numpuk orang. Mumpung jum’at.”

“Kalau jum’at. Harus pagi-pagi, takut gak dapet nomer antrian. Jam limaan harus ada di sana.”

“Iya. Makanya itu, Kak. Gimana nih? Mba Linda males kale kalau udah gini sendirian.”

“Moga besok sembuh. Tumben linda males sendirian.”

“Tapi Mba Linda ngasih syarat.”

“Apa?”

“Zaman ikut! Nyebelin kan?”

“Bukan nyebelin. Ati-ati, jangan berlebihan, Dek.

“Iya deh. Tapi tetep aja nyebelin. Anak orang disuruh-suruh.”

“Heran. Kan dia baru saja kenal zaman? Kok udah main suruh-suruh? Pagi-pagi kudu nemenin? Gila amat tuh Linda.”

“Namanya juga lagi ngebet cinta. Linda mah gitu orangnya. Pede jreeng. Kan mayan juga naik motor dua-duaan, katanya.”

“Kalau zamannya mau, ya gimana lagi?”

“Mau!”

“Ya syukur kalau mau.”

“Ih... gitu ya... ya udah. Met siang.”

Aku biarkan Arafah untuk menikmati emosinya tanpa harus aku ladeni. Melihat Arafah seperti itu, seperti bukan Arafah. Tetapi masuk akal bila memang menganut azas ketidaksempurnaan. Tidak ada orang yang memiliki rasa humoris tinggi, kecuali ia pernah menunjukkan marah, tidak suka, benci dan sikap negatif lainnya. Jadi, hal yang wajar. Tetapi masalahnya tidak masuk akal juga apa yang Arafah lakukan kepada Zaman. Bukankah harusnya bila ada fans sejati akan merasa bahagia? Tetapi memang belum tentu bahagia juga. Kalau yang nge-fans adalah anak baru gila, kan serem juga. Tetapi sekali lagi, apakah sikap Arafah harus seperti itu? Hal yang masuk akal adalah karena Zaman berupaya menyaingi aku dalam memberikan yang spesial di saat belum ada yang lain di hadapan Arafah. Ya semoga saja, banyak yang memberikan yang spesial seperti aku atau bahkan lebih spesial agar Arafah sulit memilih-milih emosinya.

“Hahaha... puluhan orang dihadapanmu, mau kamu apain? Cemberutin?” kataku membatin.

“Aduh,” tiba-tiba mulutku terkunci. Rahang kaku tidak bisa bergerak. Aku tahu biangnya. “Arafah!”

“Wek, kekekekk! Biarin. Aku kunci mulut kakak biar gak bisa ngomong lagi. Sekarang, aku ambil alih cerita. Enak aja, kakak mulu yang cerita,” kata Arafah dalam wujud bayangan.

***

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Arafah, Keluarga Ke Rumah Sakit"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar