Penipuan Itu, Oh Arafah

Aku harus akui, Arafah, aku berikan air mata untukmu.
Aku duka lara, kamu dalam tipuan dunia.
Kamu tertipu, duka lara.
Takdir memang tidak terduga, kita hanya menatap semu.
Inginku terbang ke awan, mengambil harapanmu yang terbawa bahaya.


Sampai puisi ini bersabda, aku tidak berkomedi ria tentangmu.
Menceritakan tipuan itu, mengiris hati, oh adik hayalanku.
Biarlah aku sejenak menikmati duka lara.
Karna dunia memang penuh penggores luka.

Arafah, tali kita memang tidak tersambung dalam ruang kelahiran.
Biarlah itu menjadi takdir yang tidak perlu kita renungkan.
Jalinan hati bukan hanya aku dan kamu menyapa.
Jalinan hati adalah setulus doa dikala kita terjatuh, terlara.

Sakit hatimu menyiksa, bila jerih payah juangmu hancur.
Penipuan itu memang kejam, tetapi dunia memang penuh tipuan.
Aku tidak kuasa dalam payung lindungan, bayanganpun lemah dalam iringan.
Aku hanya bisa menyadari, kamu pun bisa, mari dalam irama syukur.

Marilah kita bernafas ria di pagi hari, mengambil hikmah indah dunia.
Aku ingin mengajakmu menikmati dunia tanpa harta.
Oh, adik imajinasi, biarlah bahaya di depanmu, pasrahkan saja.
Oh adik inspirasi, jangan takut, kepasrahan bukanlah akhir usaha.

Entahlah, tiada kabar lagi tentangmu kini.
Hati masih terasa tertusuk berita, mengapa itu terjadi?
Polosmu membuatku tidak henti memendam doa.
Kamu terluka, aku pun sama, mari berdoa bersama.

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya

0 Response to "Penipuan Itu, Oh Arafah"

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikel di blog saya, silahkan tinggalkan komentar