Kak Elbuy, Arafah LDR-an Sama Tante Dulu

cinta segitiga
Teringat adegan dramatis waktu pagi. Kita memang pasangan kakak-adik yang sama-sama absurd. Bagaimana tidak absurd, aku bisa mengambil alih cerita dan membuat Kak Elbuy terkunci, tidak bisa bercerita. “Aduh, cerita apaan nih, ginian?”



“Hm... Biarin dah, cerita gua ambil alih. Istirahat dulu deh, Kak.”

“Buka dulu kuncinya. Kepaksa Absurd lagi nih...” Ada suara yang bisik-bisik. Kenal sekali suara itu. Suara bisik-bisik Kak Elbuy.

“Pake bilang kepaksa. Gak ikhlas nih diusilin adikmu sendiri.”

“Usilin sih usilin, pake ngerebut cerita segala.. Heh...”

“Kekekek... Biarin. Ya udah, aku buka. Cekrek cekrek cekrek.... Jadi deh foto 3x4. Ya sudah, aku lanjut cerita lagi ya...”

“Sok lah. Yang enak. Awas kalau gak enak, aku kasih garam dan asam ampe sebotol kecap.”

Aku senyum-senyum saja. Cerita aku ambil alih karena aku merasa memiliki hak menjadi pencerita seperti Kak Elbuy. Lagi pula, aku kan Adik imajiner Kak Elbuy yang paling disayang. Masak tidak boleh? Lagi pula, aku juga penulis walaupun garapan tulisannya lebih ke Stand Up Comedy.

Ngomong-ngomong, dulu aku tidak rela ada cewek lain yang jadi adik imajiner kedua Kak Elbuy. Aku tidak mau ada yang disayang lagi, dispesialkan lagi dengan hadiah blog selain aku sebagai adik imajiner. Bukan kenapa-kenapa, Kak Elbuy sendiri yang berjanji tidak akan membuat spesial blog lagi. Buatku, tanda Kak Elbuy sayang padaku adalah menghadiahkan blog tentangku. Apalagi Kak Elbuy lebih dari memberikanku sebuah blog. Itu Kak Elbuy yang aku tahu. Selama ini, belum ada blog yang selainku. Untung aku pernah cemburu. Kali saja becandanya memang serius.

“Kok aku jadi sedih ya?”

Gara-gara tidak rela ada adik imajiner yang lain, kehidupanku hancur. Keluarga sudah tidak ada. Aku pun lumpuh di saat masih kuliah. Waktu terjadi kecelakaan, masih momen lebaran, lagi bahagia-bahagianya. Cuma tetap saja, kejadian itu membuat aku kesel. Kalau mau diceritakan ulang, rasa keselnya itu seperti tersengat listrik. Untung tidak tersambar pentir. Bisa jadi manusia petir. Kalau jadi manusia listrik, PLN kali. Itu juga karena Kak Elbuy tidak menghargaiku, hadir ke Depok karena cewek yang tidak jelas. Iya, tidak jelas, karena aku tidak tahu sebelumnya tentang cewek itu. Giliran diminta main, alasan begini-begitu. Tapi itu perasaan dulu sebelum ada penjelasan.

“Ah, emang aku harus belajar rela, apapun itu. Selagi di jalan yang benar dan lurus. Kalau di jalan bengkok, nanti kena tikungan.”

Gara-gara lumpuh, kebiasaan menulisku agak terganggu. Padahal punya rencana mau bikin buku biografi seperti yang sudah disarankan oleh salah satu mentor yang unyu-unyu, Bang Radit.

“Napa nulis buku, Bang?” kataku waktu itu.

“Biar kamu seperti aku, cieeeh..”

“Bang Radit mah alasanya garing. Pantesan aja mirip mermut merah jambu.”

Ah, panjang kalau diceritakan. Intinya adalah aku harus menulis buku yang di dalamnya memuat jok-jok komedi ringan untuk menampilkan ciri khasku. Tetapi, gara-gara lumpuh, sulit sekali menulis. Kalau lagi kelelahan bisa merepotkan Mba Linda walaupun ia sudah ditugaskan untuk siap repot. Tidak menulis saja, selalu bikin repot Mba Linda. Untuk pindah dari kursi roda ke kasur memang bisa. Karena cukup memindahkan tubuhku ke kasur. Tetapi untuk pindah dari kasur ke kursi roda, memang agak sulit. Untung badan Mba Linda seperti sudah terlatih angkat badan. Untung juga, badanku ringan mirip bonggol pisang ratu, eh raja.

“Makan apa kamu, Mba? Mirip Ade Rey.”

“Ade Ray kale...” sambil berlagak senam sehabis mengangkat tubuhku.

“Kan cewek...”

“Makan mpok mpok.”

“Mpek-mpek kali, kekekekek. Omongannya bikin geli aja kamu, Mba.”

Tante dan orang saudara terdekat lainnya lega mempercayakanku pada Mba Linda. Bagaimana ceritanya, hidup di rantau cuma dua orang yang salah satunya lumpuh? Kalau bukan jiwa besar Linda, aku mungkin tidak bisa bertahan lama Cirebon. Entah lah, bagaimana bila sampai Mba Linda sakit, sakit hati padaku, tidak bisa berbuat apa-apa mengurusiku? Memang sekarang Mba Linda sedang bikin ulah, mendekati Zaman. Sampai ada adegan sakit segala. Padahal ia tipe cewek yang jarang sakit dan mengeluh. Aku harus bagaimana? Entahlah. Mungkin bulan-bulan awal, aku masih aman. Tetapi bagaimana bila keadaan normalku jauh lebih lama? Sebagai sosok Mba Linda yang juga butuh kebebasan, bisa jadi akan berupaya meninggalkanku.

Sepertinya aku harus pindah di tempat yang punya beberapa orang cewek agar siap membantuku ketika Mba Linda ada halangan. Di sini sepi, cuma Mba Linda. Memang enak berada di dekat kampus. Tapi pecuma saja, sepi dan masih saja kesulitan minta bantuan. Rata-rata mahasiswa berlagak sibuk. Tidak mendekatiku. Apakah tidak tahu, kalau aku artis terkenal? Ya elah, nasib. Tetapi bingung kalau pindah. Aku seperti mempermainkan Kak Elbuy. Pindah sana, pindah sini. Kak Elbuy sudah banyak menemaniku bahkan sambil menghadapkan mukanya ke arah laptop. Masak pindah lagi?

“Ya ampun. Konter Kak Elbuy... Diurus sama siapa sekarang? Oh, lupa. Ada pegawai dari salah satu perusahaan smartphone. Tapi, emang konter pulsa gitu?”

Aku telepon Tante Maya dulu. Tidak lama, handphone pun berbunyi suara orang. Sepertinya, Tante sedang tidak sibuk.

“Iya, assalamualaikum, Arafah. Ada apa ponakanku tersayang, yang imut, yang manis, yang bikin Tante kangen terus, khawatir terus.”

“Kangen... Kapan Tante ke sini?”

“Kok tanya Tante? Harusnya Tante yang tanya, kapan kamu pulang? Betah? Gak ngerepotin orang lain? Nangis terus kan kamu?”

“Ah, udah terlanjur di sini. Kuliah disini, kok Tante tanya gitu?”

“Kok terlanjur? Nyesel?”

“Bukan nyesel, Tante...”

“Tante cuma nyaranin. Sudah, jangan pindah-pindah lagi. Tahu gak kamu ngerepotin siapa?”

“Iya. Tahu. Mba Linda kan? Kak Elbuy kan?”

“Bisa jadi kalau kamu sudah masuk kuliah, merepotkan beberapa mahasiswa.”

“Gini amat jadi orang cacat. Arafah yang cacat, kenapa Arafah yang disalahin?”

“Ya ampun, Arafah. Bukan menyalahkanmu. Tapi kamu harus memperbesar sadar diri.”

“Iya deh...”

“Tante waktu itu telepon Nak Elbuy. Katanya kamu pernah minta jalan-jalan jauh. Kamu nangis, ngerengek minta jalan-jalan. Suruh pakai mobil angkot, gak mau. Apa yang kamu lakukan itu pantas?”

“Ya Tuhan. Ternyata Kak Elbuy bilang-bilang ke Tante. Ih, Kakak mah. Tante marah kan ama aku? Ih, sebel deh,” kataku dalam hati.

“Tante sebenarnya kesel dengan sikapmu itu. Tapi rasa kasihan Tante jauh lebih besar. Ampe Tante nangis waktu telepon Nak Elbuy. Tante mohon, jangan ulangi. Udah, banyakin istirahat.”

“Iya, Arafah janji.”

Aku jadi lemes dengan perkataan Tante. Sedih mendengarnya. Aku sudah merepotkan orang di sekelilingku. Belum lagi kalau masuk kuliah. Lebih banyak lagi. Terus, kalau pindah tempat dari sini, apakah akan merepotkan orang baru lagi? Jelas lah.

“Gimana sekarang? Ada perubahan?”

“Belum, Tante. Besok mau kontrol lagi. Duh, gimana nih? Capek!”

Ya iya, capek. Ngantri. Itu salah satu yang Tante khawatirin. Dibilang gak usah pakai BPJS, kamu malah ngeyel. Mahal gak apa-apa, asal kamu gak kesiksa gini.”

“Tapi kan yang ngurus Mba Linda, hehe...”

“Nah, itu, lagi-lagi ngerepotin orang lain.”

“Ih, kan udah tugasnya.”

“Ya sudah. Pesen Tante, jaga perasaan Linda. Jangan banyak ngatur. Setulus-tulusnya Linda, kalau kamu banyak ngatur, ujungnya esel, bisa membangkang. Tugasnya berat. Jaga perasaannya.”

“Kok Tante seperti nyindir aku. Sekarang-sekarang ini kan aku lagi tidak setuju dengan sikap Mba Linda,” kataku dalam hati.

“Mba Linda udah mulai pacar-pacaran. Malah pakai adegan sakit segala, ngeluh... Ih, penyakitnya kumat tuh.”

“Turutin. Tante percaya ama Linda.”

“Kok jadi bela Mba Linda? Kalau pacaran, kan bisa ninggalin Arafah?”

“Tante percaya sama Linda. Gak mungkin. Cuma Tante agak khawatir sama kamu, bisa jadi kamu ngelarang Linda.”

“Iya deh Tanteku yang paling perhatian seujung dunia. Arafah gak bakal ngelarang. Cuma kenapa gitu, Arafah gak nyaman aja kehadiran cowok lain dan tingkah Mba Linda?”

“Kan ada Kak Elbuy. Dia bisa jagain kamu dan Linda, termasuk dari cowok yang bikin kamu gak nyaman. Siapa cowok itu?”

“Zaman.”

“Emang ngapain aja dia di situ?”

“Belum sering ke sini sih. Cuma rencana Linda, mau memenin Linda tiap hari gitu, biar serasi, katanya. Cemburu ama Arafah, Tan, huh.... keliatannya baik sih orangnya. Tapi...”

“Stt... udah. Gak ada alasan buat gak nyaman.”

“Ah, belum tahu aja. Siapa cowok itu. Gak tahu kenapa, gak nyaman aja ama sosok Zaman,” geramku dalam hati.

“Astahfirullah. Kok aku gini? Huft... kehadiran seseorang gak selalu harus disambut senang, bukan?”

Aku lebih banyak berbaring daripada duduk karena jauh lebih bisa berlama-lama. Bagaimana rasanya? Enak bukan? Jenuh kali.

“Tante... jujur deh, Arafah jenuh di sini. Sepi. Tiduran mulu. Mau keluar kamar aja, pake naik kendaaan kasur, huft... Tetap aja kampung halaman yang Arafah rindukan. Coba gak di sini, yang lebih rame gitu.”

“Hahaha... Tante baru denger ada kendaraan kasur.

Iya, kan cuma pindah doang. Ngapain pake kursi roda? Pakai tiarap segala mirip tentara perang. Gimana Tante...? Arafah jenuh.

“Tuh, kan. Maksa sih pindah kampus. Kayak orang normal aja.”

“Kata siapa Arafah gak normal? Gini-gini juga Arafah bisa sembuh.”

“Hus.... jangan dahuluin Tuhan.”

“Ya Allah, ampuni Arafah, ya Allah.”

“Terus, mau pulang lagi ke Depok? Ya sudah, Tante turutin kalau itu untuk pulang ke sini. Di sini rame, gak bikin beban orang lain yang gak dikenal.”

“Gak mau pindah ke Depok. Emang Mba Linda dan Kak Elbuy orang lain?”

“Arafah, plis... sadar diri. Oke lah Linda. Tapi Nak Elbuy, gimana dia? Oke, dekat lah ama kamu. Tapi dia punya kehidupan sendiri. Kamu jauh-jauh cuma untuk mengganggu kehidupannya? Duh, Tante kasihan, Arafah.”

“Arafah juga kasihan ama Kak Elbuy walaupun di sini cuma nemenin aku ngobrol, bareng ama Mba Linda, gak aku suruh-suruh. Konter dia siapa yang jagain? Apa masih pegawai hp itu? Apalagi lebih banyak nemenin Arafah. Apalagi kalau udah keliatan lesu lagi, duh, Arafah jadi pengen nangis. Kak Elbuy emang punya ganggaun kesehatan, Tan.”

“Tuh, kan? Udah, pindah ke Depok atau gak usah kemana-mana. Tempat itu paling deket dengan kampus. Emang mau pindah tempat ke mana kalau emang mau pindah?”

“Buntet Pesantren Kak Elbuy...”

“Apa?! Idih, dibilangin sadar diri. Aktifitasnya gak memungkinkan buat kamu kuliah, jauh, ribet, ngarti?”

“Ya sudah, jaga konter Kak Elbuy...”

“Gak kuliah?”

“Gak mau. Biarin.”

“Ya sudah, syukur lah. Bisa jalan aja dulu.”

“Ah Tante mah gitu... kok dukung sih? Aku tetap mau kuliah, Tante.. nunggu bisa jalan, kapan bisanya?”

“Huh... Dari dulu, ngototnya gak bisa dikendaliin. Ya terserah, sok.”

“Yeeee....! Jadi boleh pindah? Biar pindah bareng ama Kak Elbuy. Nyesel banget kalau aku pulang tapi gak ampe lama tinggal di lingkungan Kak Elbuy. Yeeeee, pindah!”

“Aduuuh, Mbaku tersayang... Ada apa sih teriak-teriak? Khuaaakh...”

“Molor aja kamu, Mba... Udah, istirahat lagi kalau bener sakit.”

“Ih, lagi-lagi bahas itu... Beneran sakit.”

“Ngobrol sama, Linda, Nak?”

“Iya... nih Mba Linda udah bangun dari menghayal hidup ama pangerannya.”

“Haha...”

Mba Linda merebut hp-ku “Arafah cemburu. Tante... di PHP-in ama Kak Elbuy.”

“Huhu...” ketawa Tante mendadak keras.

“Ya udah, tetap akur ya... jangan ada masalah serius. Buat Linda, jaga Arafah dengan baik ya.. Buat Arafah, ngertiin perasaan Linda...”

“Apa Tante? Yeeee... Tuh, Tante aja setuju. Aduh, mendadak sembuh nih. Siap Tante, kan kujaga Mba Arafah sampai pelaminan.”

“Iya deh...,” aku mendengar lesu. “Kalau bohong, kemana aja ketahuan. Pura-pura sakit kan?”

“Ih, beneran sakit. Cuma ada tambahan sakit lagi, sakit asmara... Gak kuaaat.”

Kami berbagi obrolan dengan penuh hangat. Komunikasi penuh kedekatan memang sering membuat masalah rumit menjadi mudah. Apalagi kasus asmara Linda dengan Zaman hanya persoalan emosi biasa.

Aku merelakan saja sikap Mba Linda dengan cintanya. Aku tidak mau, hanya persoalan tidak rela yang tidak seberapa, musibah datang. Aku cuma khawatir, ia tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sudah begitu, aku belum bisa menyambut dengan baik kehadiran Zaman. Mba Linda tidak boleh kemana-mana kecuali ada aku. Sedangkan aku selalu di rumah, tidak bisa kemana-mana. “Cuma ya jangan kegenitan gitu deh, malu-maluin aku, heh...”

Tante pun merelakan atas sikapku untuk pindah. Lagi pula, untuk apa dipertahankan tinggal di sini? Aku tidak menemukan layaknya sebagai manusia. Hanya lalu-lalang manusia, tanpa sapa-menyapa. Lagi pula, siapa aku di sini? Orang baru. Orang lama saja, aku tidak pernah melihat saling sapa antar tetangga. Mana mungkin? Tembok di pagar bagaimana menjalin hubungan antar tetangga? “Haha... ingat rumahku sendiri yang dipagar. Tapi tetap deket lah antar tetangga...”

Dari masjid samping, adzan mahrib berkumandang. Obrolan panjang terpaksa dihentikan. Saatnya untuk menjalankan solat. Aku bersiap-siap terlebih dahulu untuk mengambil air wudhu. Seperti biasa, Mba Linda memasukkan air ke dalam ketel. Tujuannya untuk memudahkan berwudhu. Kalau tidak seperti ini, mana bisa aku berwudu?

Aku tidak bisa berbuat banyak ketika dengan kuat tenaga, Mba Linda memidahkanku ke kursi roda. Untuk kali ini, tidak bisa pakai kendaraan kasur. Masalahnya harus menuju tempat mandi sehingga harus pakai kursi roda. Aku hanya pasrah duduk di kursi waktu Mba Linda mencoba menjalankan kursi rodanya.

Mba Linda mencoba mengalirkan air ke anggota yang wajib terkena air. Aku yang duduk dikursi, bisa menggerakkan tangan untuk membasuh wajah. Agar air tidak membasahi kursi, aku sedikit mencondongkan ke arah samping sambil membasuh-basuh wajah. Pun anggota tubuh lain, aku melakukannya dengan berhati-hati agar kursi tidak basah.

Aku jadi teringat bapak Kak Elbuy yang juga mengalami kelumpuhan. Sampai Kak Elbuy sempat membantu membasuh wajah ketika masih berbaring di kasur. Bayangkan sendiri, bagaimana cara berwudu ketika sedang berbaring? Air berceceran, kata Kak Elbuy. Walaupun di bawahnya tersedia ember sekedar penampung air yang jatuh ke lantai, tetap saja basah di samping ember. Pun kasur dan bantal ikut basah mengingat posisi kepala Bapak yang tidak bisa menjorok ke samping secara leluasa. Tetapi tidak sampai 1 hari pengambilan air wudhu seperti itu mengingat bapak Kak Elbuy dibawa ke rumah sakit.

“Sekarang, gimana, kalau sudah di rumah sakit?”

“Aku kira, ember bermanfaat untuk berwudu kalau sudah di rumah sakit. Ternyata aneh ya pikiran ndeso-ku? Haha...”

“Haha... yang bener Kakak punya pikiran gitu? Ah emang Kakak mah ndeso... mana bisa berwudu di rumah sakit?”

“Haha... biarin dah. Tapi Bapak tidak bisa solat secara sah.”

“Napa Kak?”

“Harusnya bisa solat tanpa berwudu. Bisa saja tawamum. Tetapi kata Bapak, waktu dibawa rumah sakit, masih belum suci. Ibu lupa membersihkannya. Katanya begitu.”

“Terus gimana?”

“Tetap solat dong. Harus. Namanya solat menghormati waktu. Tidak sah, tetapi tidak dosa walaupun mengqodo.”

“Baru denger. Gimana jelasnya?”

“Pernah pergi jauh gak, terus dijalan tiba-tiba masuk waktu mahrib? Tapi sulit kan jalanin solat?”

“Pernah. Oh, jadi mirip gitu? Oh gitu.”

“Nah, tetap solat tuh dikendaraan. Nah, buat yang sakit pun gitu. Tetap solat walaupun lagi keadaan gak bisa bersuci atau tidak memenuhi syarat. Tapi nanti, solatnya diganti, diqodo. Nah, mengqodo solat seperti itu, gak ampe bikin kita dosa.”

Aku salut pada bapak Kak Elbuy, walaupun dalam keadaan sakit di bagian perut, memaksa untuk menghadap kiblat. Masya Allah. Waktu itu Kak Elbuy menanyakan pada Bapak, apakah tidak harus menghadap kiblat sekedar solat menghormati waktu? Kata Bapak, tetap harus menghadap kiblat. Bayangkan bagaimana rasa sakit akibat perpindahan posisi dari barat ke timur? Padahal hanya berpindah sedikit saja, sakit. Tetapi ini perpindahannya benar-benar jauh.

“Padahal Bapak lagi sakit perut, tetapi gerakan pindahnya lincah banget. Aku cuma membantu meringankan saja.”

“Ngeluh sakit gak, Kak?”

“Gak... seperti gak ada apa-apa?”

“Aneh juga ya...”

Waktunya aku dan Mba Linda solat setelah beres-beres. Mba Linda yang menjadi imam, aku yang makmum. Lagi pula, Mba Linda lancar membaca Qur’an. Daripada aku, masih kurang sempurna. Ah, malu aku sama Mba Linda yang sudah bisa mengaji.

Lagi pula, Mba Linda sudah aku anggap bukan pembantu melainkan saudara yang memang sudah ditugaskan menjagaku. Ah, sama saja. Karena isitlah dan pekerjaa ‘pembantu’, tidak ada yang salah, bahkan mulia. Aku dan Mba Linda sudah ada sikap persaudaraan yang membuat hubungan aku dan Mba Linda tidak terlihat layaknya antara manjikan dan pembantu. Kadang aku menyuruh Mba Linda, pun Mba Linda kadang menyuruhku. Hanya saja sekarang aku lagi lumpuh, jadi aku tidak bisa leluasa. Intinya, biasa saja lah. Tapi memang Mba Linda selalu menjaga sikap bahwa dirinya tetap lah orang yang bekerja di rumahku, bagaimanapun kedekatan kita. Intinya, tidak lebay.

Aku hubungi Kak Elbuy dulu, “Solat, Kak.”

“Iya...” balasan cepat dari Kak Elbuy.

Solatku sekarang sambil duduk di kursi roda. Tetapi tidak harus di kursi roda. Bila aku lagi di kasur, tentu aku solat dalam keadaan berbaring. Aku bisa melakukan solat sambil duduk dan juga berbaring, bergantung posisiku sedang seperti apa. Bayangkan kalau mengharuskan duduk untuk menjalankan solat. Duh, repot kali. Tetapi rata-rata memang sambil duduk, mengingat untuk mengambil wudu harus menggunakan kursi roda.

“Assalamu alaikum warohmatullah. Assalamu alaikum warahmatullah,” ucapan salah Mba Linda mengakhiri solat.

“Assalamu alaikum warohmatullah. Assalamu alaikum warahmatullah,” kataku mengikuti.

Kami duduk berdzikir sepeti umumnya orang setelah selesai solat. Kami berdoa. Berzikir dan berdoa sendiri-sendiri.

“Ya Allah, bahagiakanlah orang tua, kakak dan adikku di alam kubur, Ya Allah. Terima lah amal ibadahnya dan ampunilah dosanya,” kataku lirih sambil memandang foto terakhir kebersamaanku bersama keluarga. Foto kenangan saat liburan sebelum terjadi kecelakaan.

Airmataku tiba-tiba mengalir. Mulut dan pernafasan pun sulit untuk bersikap biasa. Tiba-tiba menegang. Tangisku tumpah. Aku tidak kuasa menahan kesedihan ini. Aku sangat merindukan mereka. Aku ingin mereka hadir di sini. Tetapi aku harus menerima kenyataan bahwa mereka sudah meninggalkanku. Tangisku membuat Mba Linda melirik ke belakangku. Ia menghampiri dan memelukku. Ia pun ikut larut dalam tangis, tidak tertahan. Ia sudah paham tangisan apa yang aku rasakan. Namun ia hanya mampu memelukku dengan lembut untuk tubuhku, tanpa suara. Hanya tangisan yang kita lakukan dalam pelukan. Ya, tangisan kerinduan yang tidak mungkin terwujudkan di dunia ini.



cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya