Spesial Moment Almarhum Bapak Bersama Aku dan Arafah

cinta segitiga
Malam itu, Ibu ditinggal sendirian di dalam rumah sakit tanpa ada satu anak pun. Pada awalnya ditemani Andi. Tetapi Andi pun pulang. Ibu hanya ditemani salah satu ponakan Ibu yang bernama Belly, adik Zulfa. Entah, mengapa anak-anaknya ꟷ kebetulan ꟷ pulang ke rumah, tanpa sempat menemani detik-detik kematian Bapak? Hal yang sudah pasti, ruangan Bapak sempit ꟷ bukan VIP yang biasa untuk BPJS PNS ꟷ sehingga menyulitkan untuk berkumpul: terbatas jumlah orang dan jadwal jenguk. Aku pulang ke rumah karena kecapean plus bergantian menjaga. Andi pun pulang untuk mengurus-urus kepentingan lain. Bahkan Mba Icha dan Acip belum pernah satu kali pun menengok di ruangan Bapak. Mba Icha kerepotan mengurus-urus 3 anaknya yang masih kecil. Sedangkan Acip baru datang ke rumah sakit hanya mengantar makanan saja.


“Tekah balik, Ndi (kok pulang)?” kataku sehabis membukakan pintu untuk Andi.

“Arep mengurus-ngurus keperluan dikit (mau mengurus-ngurus keperluan dulu),” kata Andi singkat namun tidak begitu jelas.

Andi berjalan masuk menuju ke dapur. Aku mengikuti langkahnya namun ingin berbaring ke ranjang, tempat tidur Bapak di saat lumpuh.

Terlihat jaket yang terpakai Andi basah kuyup terkena air hujan. Sejak sore kawasan Cirebon hujan besar tanpa henti sampai malam. Bahkan sebelum hujan, hamparan layung ꟷ pencahayaan warna kekuningan di sore hari ketika matahari terbenam matahari - menghiasi langit. Hujan besar yang turun menimbulkan kekhawatiran banjir besar ꟷ yang pernah terjadi ꟷ terulang kembali.

“Ana sapa ning rumah sakit (ada siapa di rumah sakit?)?” kataku agak sedikit bertenaga.

Andi berjalan masuk ke ruangan tengah. Ia berdiri di pintu perbatasan antara ruangan tengah dan dapur.

“Ana Ema, Belly. Arep balik, Mang Dun teka. Jadi bari Mang Dun (Ada Ema, Belly. Mau pulang, Man Dun datang. Jadi sama Mang Dun juga).”

Aku berbaring kembali. Mata masih terasa kantuk, lemas dan perasaan tidak enak. Aku sejenak memejamkan mata yang masih terasa kantuk walaupun sudah tidak bisa untuk tidur.

Aku, Andi dan segenap orang di sekeliling Bapak tidak punya pemikiran sedikit pun adanya sebuah tanda-tanda kematiannya. Aku berpikir, kejadian yang dialami adalah penyakit biasa. Padahal kondisi mengkhawatirkan sempat dialami sejak Jum’at siang. Walaupun sempet khawatir, tetap saja aku mengangg itu seperti yang pernah dialami ponakanku, Fardan. Faktanya, Bapak meninggal dunia. Hal yang mengejutkan, mengapa Bapak meninggal karena tumor ganas? Puluhan tahun, Bapak tidak pernah memiliki penyakit tumor atau kanker. Bapak hanya mengeluhkan penyakit mag, kaki sakit, gangguan pernafasan. Tidak pernah mengeluh soal tumor, apalagi tumor ganas. Itulah penyebab perut Bapak menjadi keras. Tumor ganas itu juga yang sebagai sebab dari kematian Bapak. Bapak meninggal dunia pukul 22.30, kira-kira, di hari Jumat.

“Arep mangkat maning jam pira? Isun melu (Mau berangkat lagi jam berapa? Aku ikut),” kataku waktu itu. Tepatnya sehabis Isya, Jum’at malam.

“Esuk, tes subuh. Tapi isun cuma nganter sarapan. Engko Ang Ubab kang nunggu. Isune ana keperluan dikit terus ngurus pemindahan Bapak (pagi, habis subuh. Tapi aku Cuma nganter sarapan. Nanti Ang Ubab kang nunggu. Aku ada keperluan dkin terus ngurus pemindahan Bapak).”

Aku diamkan ucapan dari Andi. Aku sudah paham. Aku ingin menikmati tempat pembaringan dulu untuk memulihkan tubuhku. Aku harus memulihkannya agar siap menjaga kembali di rumah sakit. Aku belum bisa meminta menggantikan tugas menjaga sebelum Bapak dipindahkan ke ruangan VIP yang bisa menampung beberapa orang.

***

“Kang Mamad, peripun keadaane (Kang Mamad, bagaimana keadaannya?)?,” kata Mang Dun. Ia adalah salah satu muadzin masjid jami’ Buntet Pesantren. Dengan suara yang merdu, tentu dipercaya sebagai pengiring dengan solawat-solawat dan pembacaan hadist ꟷ semacam sambutan, entah namanya apa ꟷ sebelum khutbah Jum’at.

“Waras (sembuh/sehat).” Ucapan ini yang selalu diucapkan Bapak ketika ditanya seperti itu. Paling hanya berucap bahwa dirinya mengalami masalah yang ringan. Hal yang paling serius adalah ketika mengeluhkan perutnya bertambah keras dan keras. Itupun tidak mengatakan perutnya sakit. Hanya mempertanyakan bahwa dirinya mengalami perubahan yang mengganggu.

“Ya mengkonon, Mang, jawabane waras (ya begitu, mang, jawabanya waras).”

Ruangan rawat inap sempit, hanya bisa ditempati dua orang. Kalaupun sampai tiga atau empat orang, harus agak geser keluar sedikit dengan membuka tirai pembatas. Di ruangan sempit ini, Ibu terus-menerus menjaga Bapak walaupun sempat sakit waktu hari Kamis. Ibu duduk di bawah, selonjoran. Sekarang Ibu sedang ditemani Mang Dun yang duduk di atas kursi. Mereka bertiga saling berbincang-bincang. Sedangkan Belly hanya menunggu di luar sambil memakan cemilan, memain hp, ngopi dan sebagainya. Kebetulan A’ah ꟷ ibu Belly ꟷ sudah pulang Jum’at pagi.

Kamis sore dan malam, memang sudah ada beberapa orang yang menjenguk Bapak. Rata-rata yang menjenguk adalah murid Bapak yang sudah menjadi guru dan pengelola pesantren di Buntet. Memang, Bapak sudah mengajar ketika umur masih muda sehingga banyak murid yang sekarang sudah menjadi tua. Namun ada dua orang santri ꟷ yang sempat mengaji kitab Fathul Wahhab ke Bapak, namun berhenti akibat Bapak lumpuh ꟷ menjenguk Bapak.

Tidak lupa, adik Bapak sendiri, mang Ali beserta Ma’ Nah, di malam yang sama untuk menjenguk Bapak.

Seperti biasa, khas Ma’ Nah ꟷ istri Mang Ali ꟷ selalu membawa bingkisan biskuit dan tentunya buah-buahan. Ma’ Nah termasuk orang yang gemar memberikan bahan pokok dan lainnya kepada orang terdekat khususnya keluarga Bapak. Tiap kedatangan keluarga santri yang membawa bingkisan, bisa dipastikan disalurkan lagi, khususnya ke keluargaku. Sedangkan Mang Ali, memasrahkan semua pada istrinya. Bahkan memasrahkan harta berharga sehingga ketika meninggal tidak meninggalkan banyak warisan. Mereka tidak punya keturunan. Ia hanya punya anak asuh, Mba Ita, yang kini sudah punya suami bernama Kang Abu ꟷ dan kebetulan sudah dianugrahi anak.

“Cung Ubab, kih dipangan biskuite, jaburane. Bapak sih masa mangana, he he he... (Cung Ubab, ini dimakan biskuitnya, hidangannya. Bapak sih gak mungkin makan, he he he...)”

Aku hanya tersentum dan menghampiri biskuit yang ada di samping. Ibu meminta anggur. Aku pun mengambil beberapa buah anggur juga. Lalu aku duduk di tempat semula sambil mendengarkan obrolan mereka di ruangan sempit ini.

“Wis coba, gian kawin. Anang wis gagah mengkonon kujeh (Udah, coba, buruan kawin. Sudah gagah kayak gini),” kata Ma’ Nah lagi. Ucapan itu yang sering dikeluarkannya.

“He he... Pandoane (he he... doakan).”

Ada kabar bahwa warga Buntet Pesantren (warga dari beberapa desa) rencananya memang mau menjenguk Bapak di hari Jum’at. Hanya saja kebanyakan wilayah Cirebon hujan deras. Itu yang menunda penjengukan. Sayangnya, Bapak sudah meninggal sebelum mereka jenguk.

“Wallahi, lamon beli udan, isun kih pengen ning rumah sakit (Wallahi, kalau tidak hujan, saya nih ingin ke rumah sakit)” kata Mang Zidni, adik sepupu Bapak. Ia datang ke rumah dan berpincang-bincang denganku setelah mendengar kematian Bapak. Ia berkata seperti itu untuk menghiburku bahwa sebenarnya keluarga besarnya ingin sekali menjenguk.

“Dikira cuman lumpuh. Kan ari lumpuh sing tiba, ya beli sampe kepriben lah. Paling beli bisa melaku. Isun beli nyanah, bapae ente wafat. Masya Allah, umur (Dikira Cuma lumpuh. Kan kalau lumpuh dari jatuh, tidak sampai bagaimana lah. Paling hanya tidak bisa berjalan. Saya tidak menyangka, bapae ente wafat. Masya Allah, umur),” katanya lagi.

Banyak yang menyangka seperti yang dipikirkan Mang Zidni. Aku pun seperti itu. Namun yang menjadi aneh ketika aku melihat langsung, tiba-tiba perut Bapak menjadi keras dan nafas terengah-engah di jum’at siang. Aku menganggapnya seperti kasus ponakan, tidak parah. Kenyataan itu adalah tanda tumor ganas. Aku tidak paham hal itu. Adiku, Andi, sudah mengetahui kalau apa yang dialami Bapak adalah tumor ganas. Ia tahu hal itu karena sarjana Biologi. Dokter pun berkata demikian, menguatkan pendapat Andi namun lebih meyakinkan. Apa pun itu, Bapak tidak menganggap penting masalah itu.

“Pak, Bapak iku kena tumor. Ngalih bae tempate (Pak, Bapak itu kena tumor. Pindah saja tempatnya).”

“Ngko bengi gah juga waras (entar malam juga sembuh),” kata Bapak.

Ucapan Bapak memang benar. Bapak ‘waras’, tidak ada lagi penyakit yang mengganggunya. Bapak sudah terbebas dari penyakit bahkan masalah dunia yang lainnya. Bapak meninggalkan dunia. Innalillah.

***

“Beli! Beli! Bi Gayah(Tidak! Tidak! Bi Gayah)!”. Ibu mengigau seakan menolak kehadiran Nyai Gayah, adik dari Kakek Bapak, Kiai Maufur. Namun yang Ibu sadari bahwa ketika itu masih dalam kondisi sadar, bukan sedang tidur. Hanya saja pikiran ibu sedang tidak karuan. Kedatangan Nyai Gayah rupanya sebagai tanda bahwa Bapak akan meninggal. Sepertinya, Nyai Gayah ingin menjemput Bapak. Namun itu hanya mitos ꟷ sepertinya ꟷ yang banyak berkembang di tengah masyarakat. Arwah tetap dalam alam barzah kecuali orang-orang pilihan yang memang diberikan keistimewaan untuk hadir, dikembalikan lagi di bumi.


Belly yang menemani Ibu hanya menatap kebingungan akan tingkah Ibu.

“Mau ana Nyai Gayah, Bel (tadi ada nyai Gayah, bel)”

Sebelum itu pun, aku melihat kamar sebelah yang sedang mengalami sakaratul maut, mulai dari sebelum Mahrib sampai menjelang Isya. Tepatnya di hari Kamis. Keluarganya pada kumpul untuk menemani orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Ada yang membacakan tahlil, membaca yasin dan lainnya. Isak tangis pun melengkapi suasana sakaratul maut orang yang ada di samping kamar Bapak.

“Ubab, manjing. Tutup lawange!” kata A’ah, Ibu belly (Ubab, masuk. Tutup pintunya!).

Waktu itu masih aku, Ibu dan Bibi A’ah yang menjaga Bapak.

Suasana agak mencekam. Entah lah, kenapa aku mengikuti irama ketakutan bibiku. Ada beberapa orang yang terbawa takut suasana sakaratul maut. Beberapa orang ꟷ termasuk aku dan bibi ꟷ masuk ke dalam ruangan. Padahal, itu kejadian yang wajar. Namun seperti sudah terkena mitos yang entah apa jenis mitosnya. Yang jelas, Bibi dan beberapa orang merasa ketakutan. Aku agak takut. Namun setelah merasa jenuh, aku kembali keluar. Ibu dan beberapa orang masih di dalam, belum berani keluar.

Sambil menikmati bakso, aku dengan santai duduk di luar kamar. Aku duduk tanpa alas di lantai walaupun ada meja duduk. Aku terus menikmati bakso yang terbungkus plastik tanpa menghiraukan suasana sakaratul maut. Namun tangisan dan baca-bacan di dalam kamar sebelah terus saja terdengar. Bulu kuduk agak berdiri, merinding. Sepertinya, sosok yang sedang mengalami sakaratul maut belum juga menemukan ajalnya.

Kembali ke hari dan jam dimana hanya ibu dan Belly yang menjaga Bapak. Tepatnya Jum’at malam sekitar jam sembilanan. Tidak ada Bibi, anak-anak dan orang terdekat lainnya. Mang Dun yang sempat menemani Ibu dan Bapak di menit-menit meninggalnya Bapak pun sudah pergi meninggalkan mereka. Benar-benar hanya Ibu dan Belly yang menjaga Bapak.

Ibu masih terlihat cemas. Wajar. Ibu hanya sibuk membaca Yasin yang kebetulan bukunya di bawa dari rumah. Belly berada di luar sambil bermain ponsel. Sedangkan Bapak seperti terlelap. Mata Bapak terpejam.

Di menit kemudian, tangan Bapak gemeteran. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Ibu pun langsung menyuruh suster dengan alat pemanggil yang sudah disediakan di kamar Bapak. Belly pun dipanggilnya. Ibu bertambah cemas campur tangis.

Beberapa suster langsung datang untuk melihat kondisi Bapak. Melihat kondisi Bapak yang seperti mengalami puncak kritis, beberapa suster langsung menangani lebih lengkap lagi. Ada yang menambah darah. Ada juga yang memasang alat pendeteksi degup jantung ꟷ entah apa namanya. Ada juga yang memberikan beberapa penanganan lainnya.

Di beberapa menit kemudian, kondisi Bapak normal kembali. Ibu pun kembali membacakan surat Yasin untuk Bapak sambil ditemani rintikan air mata. Beli menemani Ibu yang sedang membaca surat Yasin.

Tepat pukul jam sepuluhan, Bapak mengalami penegangan lagi. Kali ini hanya pada tangan saja. Anggota tubuh lainnya justru tidak bergerak sama sekali, termasuk mulut. Bapak menggenggam erat telapak tangan dirinya. Memang tidak terlalu lama, hanya beberapa detik. Ibu melihat langsung bagaimana reaksi tangan Bapak ketika menegang. Hanya tangan saja yang menegang, kata ibu.

Ibu mulai cemas kembali. Ibu pun memanggil suster dengan alat pemanggil. Beberapa suster kembali berdatangan dan memeriksa kondisi Bapak.

Tidak disangka. Kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi.

Dengan berat hati, suster mencoba untuk berkata jujur, “Bu, Maaf ya, Bu. Bapak sudah tidak ada.”

“Apa sus?! Tidak mungkin, sus! Suami saya dari tadi cuma tiduran. Tidak ada tanda-tanda meninggal. Belly, weruh kan Wa Mamad turu bae (Belly, tahu kan Wa Mamad tidur saja?)?”

Belly hanya mengangguk.

“Bu, kalau Ibu tidak percaya, mari periksa kembali ke bawah. Di situ bisa mendeteksi sudah meninggal atau belum.”

“Ya sudah, Sus.”

Ibu dan Belly pun turun ke bawah, ke lantai satu, mengikuti perjalanan Bapak di atas kereta ranjang ꟷ entah, apa nama keretanya. Barang-barang pun dibawa ke bawah.

***

“Bu, nih lihat hasilnya. Darah bersih. Jantung bersih. Lainnya bersih.”

“Terus artinya apa?”

“Artinya, suami Ibu sudah tidak ada.”

“Innalillah wainna ilaihi rojiun hu...”

Ibu langsung menangis tidak tertahan. Air matanya berdatangan, silih berganti. Ibu tidak kuasa menerima kenyataan ini. Bapak benar-benar meninggal dunia. Tubuh Ibu mendadak lemas. Terduduk di kursi panjang. Belly yang ada di sampingnya hanya termangu, ikut merasakan sedih tetapi tidak sampai menangis.

“Belly, warahaken, Wa Mamad ninggal. Masya Allah. Tidak nyangka (Belly, kasih tahu, Wa Mamad meninggal. Masya Allah, tidak menyangka),” kata ibu sambil menangan tangis. Setelah itu, tangis Ibu pecah kembali, tidak tertahan lagi.

“Iya, Wa’.”

***

Ibu masih duduk di kursi panjang sambil menangis sesegukan. Kesedihan ibu bertambah mengingat hanya Ibu ꟷ dari pihak keluarga ꟷ yang menyaksikan Bapak meninggal. Anak-anaknya ꟷ termasuk aku ꟷ tidak mendampingi Ibu. Ibu merasa bingung harus bagaimana mengurusi Bapak. Belly pun hanya diam memaku, termangu, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menunggu kedatangan anak-anaknya dan orang yang lebih paham mengurusi jenazah Bapak.

Ibu menghampiri buku Yasin yang ada di dalam tas. Tas diletakkan agak jauh dari tempat duduk Ibu. Ibu ingin beristirahat sambil membaca Qur’an. Lagi pula, Ibu tidak paham bagaimana menangani jenazah Bapak. Namun setelah mengambil Qur’an, ada sosok pria tinggi besar yang belum dikenal sama sekali. Pria itu berpakaian biasa, bukan perawat rumah sakit.

“Bu, Pak Haji sudah mau pulang. Nih surat-suratnya. Sudah beres,” kata si pria misterius. Kalaupun membantu, bukankah bisa berkomunikasi dulu? Tetapi ini langsung berkata demikian.

“Oh, terimakasih. Masya Allah. Terimakasih.” Ibu tidak memikirkan hal lain selain kesedihan memikirkan Bapak.

Sejenak Ibu tidak menatap orang yang telah membantunya mengurus-ngurus surat Bapak. Namun ketika melihat kembali, orang tadi sudah tidak ada. Namun waktu itu, Ibu tidak menanggapi serius kejadian itu.

Setelah bercerita kejadian yang pernah Ibu alami ke beberapa orang yang ada di rumah, Ibu tersadar dan makin keheranan apa yang telah terjadi. Siapa orang yang sudah membantu mengurusi surat Bapak? Sampai sekarang belum terjawab.

Ada yang bilang malaikat.

Ada yang bilang orang yang sakti.

Ada yang bilang, khodam jin. Aku lebih percaya bila yang mengurusi adalah khodam jin. Alasannya, pernah waktu itu Bapak didatangi Si Fulan ꟷ belum jelas namanya siapa ꟷ yang mengaku telah di suruh salah satu orang yang tidak jelas untuk mendatangi Bapak. Kebetulan Si Fulan sedang mendalami ilmu hikmah ꟷ semacam ilmu wirid dengan kegunaan tertentu, seperti kadigdayaan. Namun bila yang mengurusi adalah sebangsa jin, bagaimana cara mempengaruhi pengurusan surat Bapak? Apalagi ada kabar dari Andi mengenai kedatangan sosok sang petapa Dieng, Mbah Fanani dari Pesantren Benda ꟷ yang sekarang tinggal di Indramayu.

“Jare Kiai Miftah Benda, masya Allah, Kang Mamad wafatnya mulia sekali. Mbah Fanani teka njenguk Bapak. Kira-kira jam dua belas malam (Kata Kia Miftah Benda, MasyaAllah, Kang Mamad wafatnya mulia sekali. Mbah Fanani datang menjenguk Bapak. Kira-kira jam dua belas malam),” kata Andi.

“Ya Allah, Mbah Fanani teka (Ya Allah, Mbah Fanani datang)?” keterkejutan Ibu sampai terlihat lemas. Matanya agak berkaca-kaca.

Kami berkumpul di meja makan untuk mendengarkan cerita dari Andi. Aku pun ikut mendengarkan setelah mendengar suara keterkejutan Ibu atas cerita Andi. Andi mendapat kabar tentang ucapan Kiai Miftah dari salah satu orang ꟷ entah siapa namanya ꟷ ketika ziarah Wali Songo bersama teman-teman. Kebetulan berangkat setelah selesai acara tahlilan 7 hari atas wafat Bapak.

“Kiai Miftah ziarah?” kataku.

“Jare uwong lagi isun Ziarah. Isun ketemu uwong terus cerita masalah ucapan Kiai Miftah Benda Kerep. Mbuh, sapa aran uwonge. Temu-temu cerita (kata orang waktu aku Ziarah. Aku bertemu orang, terus cerita masalah ucapan Kiai Miftah. Gak tahu, siapa nama orangnya. Tiba-tiba cerita).”

Aku merasa terkejut, apalagi Ibu. Kedatangan Mbah Fanani tidak disadari oleh beberapa orang, termasuk keluarga yang ada di rumah ketika jam dua belas malam. Bagaimana bisa tidak terlihat? Tetapi hal yang wajar bila yang datang adalah seseorang yang sudah bergelar wali. Tetapi aku tidak bisa memahami hal itu mengingat kedatangannya secara gaib. Percaya atau tidak, aku tidak bisa memutuskan. Masalahnya, apa yang dibicarakan orang itu pada Andi tentang ucapan Kiai Miftah, ada hal yang masuk akal.

“Jare Kiai Miftah, cuan tasbih busuknya Bapak. Aja sampai hilang (Kata Kiai Miftah, hati-hati tasbih busuknya Bapak. Jangan sampai hilang).”

Aku ingat sekali bahwa Bapak mempunyai tasbih berbiji hitam dengan ikatannya yang sudah agak recek. Tasbih itulah yang selalu hilang dan muncul. Ketika hilang, Bapak mencari tasbih ke beberapa tempat di rumah. Lalu tiba-tiba tasbih muncul kembali. Hilang lagi, muncul lagi. Tasbih itu yang selalu digunakan Bapak untuk wirid, berzikir. Mungkin itulah yang di maksusd Kiai Miftah agar tasbih yang di maksud dijaga, jangan sampai hilang.

Ibu segera mengambil tasbih di dalam kamarnya. Tasbih itu yang sempat dibawa ketika Bapak di rumah sakit. Ketika Bapak meninggal, tasbih itu dibawa oleh ibu ke rumah dan di simpan dalam sorogan (kotak kecil yang ada di lemari sebagai tempat penyimpanan). Ibu pun menunjukkan tasbih busuk yang di maksud.

“Kien? Busuke, he he (itu? Busuk sekali, he he),” kata Mba Icha.

“Iya, karete wis kari ngeprole bae (Iya, karetnya tinggal lepasnya aja).”

“Ya iki, ari tasbeh ilang, muncul maning. Ilang, muncul maning. (Ya ini, kalau tasbih hilang, muncul lagi. Hilang, muncul lagi).”

“Toli, Ma’, jare abuzar, Bapak ikut wis ngitung kematiannya go ilmu Falak. Wis weruh tanggal, hari dan jamnya. Cuma Bapak beli ngupaih weruh keluarga dan ning sembarangan uwong. Watir dingini takdire Gusti Allah (Terus, Ma’, kata abuzar, Bapak sudah menghitung hari kematiannya go ilmu Falak. Wis weruh tanggal, hari dan jamnya. Cuma Bapak tidak memberi tahu keluarga dan ning sembarangan orang. Watir dingini takdire Gusti Allah),” kata Andi membongkar sesuatu yang pernah dirahasiakan saat Bapak masih hidup.

Rahasia yang dibongkar berasal dari Abuzar, teman Andi sendiri. Abuzar adalah salah satu murid Falak Bapak, Falak yang hanya berhubungan dengan perhitungan penanggalan. Bapak pernah menyampaikan rahasia padanya saat masih hidup. Kata Bapak, jangan bilang ke siapa-siapa sebelum Bapak meninggal. Memang ada beberapa orang yang mengetahui rahasia itu namun tidak sampai bocor dan menjadi pemberitaan publik. Orang-orang yang diamanahi benar-benar merahasiakannya. Kalau bocor, tentu keluarga tahu dan sangat menjadi gangguan jiwa bagi keluarga.

“Molane emong ning rumah sakit kuh karena wis dadi dalan kematiane. Cuma karena wis takdire, ya akhire ning rumah sakit. Ninggal ning kono (Makanya tidak mau di rumah sakit itu karena wis dadi dalam kematiane. Cuma karena sudah takdirnya, ya akhirnya ke rumah sakit. Meninggal di situ.).”

“Masya Allah, dadi wis ngitung. Duh, tekah pating tumpuk pisan rasane (Masya Allah, jadi sudah dihitung? Duh, rupanya bertumpuk-tumpuk sekali rasanya)”

***

“Dek, Bapak meninggal,” kataku dalam kamar tidurku tepat ketika mendapat berita Bapak meninggal.

“Apa, Kak? Ya Allah, innalillahiwainnailahirojiun. Kak, aku pengen ke situ, Kak. Kapan ke situ? Hu... Hu...”

Aku tidak bisa berbuat apa-apa mendengar tangisan Arafah. Aku juga tidak bisa memenuhi permintaan Arafah untuk malam ini dan besok. Aku juga sedang lemas, sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika mengetahui Bapak meninggal dunia. Aku mengetahui Bapak meninggal ketika aku sedang agak terlelap tidur di atas sofa. Aku dibangunkan Mang Samsul, “Bab, Bapak ninggal.” Aku terbangun dalam keadaan terkejut dan seketika lemas. Namun aku berusaha untuk menelepon Arafah di tengah malam walaupun mengganggu tidurnya.

“Dek, Kakak ganggu tidurmu ya?”

“Gak bisa tidur. Nonton tv aja. Perasaanku masih gak enak. Ternyata Bapak meninggal. Hu... hu...” kata Arafah dengan ucapan yang terbata-bata sambil melantunkan nyanyian tangis.

Aku diam tanpa menasehati Arafah agar tidak perlu menangis. Ia sudah banyak menangis. Pada kenyataan, kita sedang di masa berkabung atas meninggalnya Bapak. Lucu sekali menasehati agar Arafah tidak menangis. Aku pun sedang berduka, sedih walaupun aku tidak bisa menangis. Secara tidak langsung, Arafah ikut bersedih bahkan menangis tidak ada henti-henti atas meninggalnya Bapak. Apa yang ada dipikiran, pastinya memikirkan orang tuanya juga yang sekarang sudah meninggal. Tangis pecah Arafah bisa terjadi.

“Kamu istirahat dulu.”

“Iya kapan aku ke situ? Aku ingin menemui Bapak yang terakhirnya.”

Mendengar kata ‘terakhir’ dari Arafah, aku makin sedih. Badanku terasa lemas. Aku baringkan badan di atas kasur dulu. Aku makin cemas memikirkan Arafah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk malam ini dan besok pagi.

Aku segera keluar dari kamar. Di sana sudah banyak orang. Aku harus menemani orang-orang. Barangkali ada tindakan selanjutnya yang harus aku lakukan.

“Masalahnya kamu mau pindah, jadi harus urus-urus dulu. Hubungi Tante ya.”

“Pindah sih nanti saja. Aku ingin menemu Bapak, Kak. Aku ingin melihat yang terakhirnya.”

“Ya harus gimana? Udah malam, Dik.”

Aku lihat beberapa orang sulit membukakan pintu dengan lebar. Memang, pintu tidak bisa terbuka secara utuh sehingga bisa menyulitkan keranda mayat untuk masuk ke dalam rumah. Pintu pun akhirnya dibongkar oleh salah satu tukang, namanya Mang Oji, yang juga pembuat pintu itu.

“Aku ingin ke sana, Kak!”

“Gimana naik mobilnya? Aduh.”

“Kan sewa angkot. Pagi kita nyari-nyari.”

“Masahnya, hapal gak ke sini nya? Kakak gak bisa nganter kamu, Dik.”

“Aku lupa, Kak. Gak apa-apa nanti aku tanya-tanya.”

“Ah, nanya gimana dari kota ke rumahku? Supirnya juga gak paham jalan. Khawatir bingung di tengah jalan.”

“Terus gimana, Kak? Rasanya nyesel kalau ampe gak sempet ke situ.”

“Duh, jangan bilang gitu ah. Ada banyak hari. Oh! Segera hubungi Zulfa. Barangkali masih di kota.”

“Teh Zulfa? Ya ampun, iya benar. Aku harus hubungi teteh. Biar bisa berangkat bareng.”

***

“Isun kih bangga ning Kang Mamad, ngefansb (Saya nih, bangga ning pada Kang, ngefans),” lanjutan obrolan bersama Mang Zidni di ruangan konter pulsa. Mang Zidni adalah anak dari Nyai Yatim. Nyai Yatim sendiri adalah adik dari kakek Bapak, Kiai Maufur.

Aku hanya termangu mendengarkan ucapakan Mang Zidni. Ia mengajak ngobrol denganku. Aku hanya berkata dengan suara layu sebagai balasan. Aku tidak bisa berbicara leluasa dengan orang yang dianggap punya kewibawaan. Masalahnya, harus memakai bahasa kromo inggil alias bebasan. “Itu, Mang, masalahnya, ha ha..” Aku disarankan untuk bisa berbaur dengan beberapa orang, jangan sibuk menjaga konter saja. Aku hanya manggut-manggut tanpa memberikan balasan yang meyakinkan.

“Boten saget ngobrole, Mang (tidak bisa ngobrolnya, Mang).”

“Lah, itu ngobrol (Lah, itu ngobrol).”

“Rasane kaku (rasannya kaku).”

“Ya, durung biasa (ya, belum biasa).”

“Tapi ngobrol mawon teng media online, Facebook. Malah due batur artis, he...”

“Artis? Lah, hebat temen. Jebolane kuh artis. Arane sapa?”

“Arafah Rianti.”

“Arafah Rianti? Wah, iku sih calon rabi. Wis, gagian akad (Arafah Rianti? Wah, itu mah calon istri. Sudah, buruan akad),” kata Mang Zidni bermain ‘gasakan’ (gasakan adalah obrolan humor mirip roasting). Mang Zidni sendiri sebenarnya artis. Lebih tepatnya pernah sebagai pembawa acara Jajirah Islam di tv swasta nasional, lebih tepatnya di Trend6. Kalau dikatakan artis, kurang etis juga. Jadi lebih bagus dianggap sebagai pembawa acara.

***

Akhirnya, bisa berangkat menjemput Ibu. Pada awalnya, aku bingung, harus bagaimana untuk menjemput Ibu. Namun kebingungan ini karena pikiranku lagi tidak bisa untuk berpikir. Mobil kepunyaan Kang Edi yang sebagai fasilitator dadakan. Kang Edi sendiri adalah kakak Kang Jamil, suami Mba Icha. Aku tiba-tiba dipanggil untuk mengikutinya, menyusul Ibu. Sebenarnya nanti juga ada mobil sewaan dari Andi untuk berangkat ke sana. Namun aku sudah didahului mobil Kang Edi.

Dalam mobil, aku menghubungi Arafah kembali. Aku belum tahu kepastian keberangkatannya. Semoga saja bisa berangkat bareng bersama Zulfa.

“Dik, gimana Zulfa?”

“Katanya Teh Zulfa juga mau kesitu. Katanya, kebeneran banget kalau aku kesitu pakai angkot sewaan. Di samping kosannya ada tukang angkot jadi bisa dengan mudah sewa angkot.”

“Syukurlah.”

“Jam berapa berangkat?”

“Intinya jam 5 sudah siap-siap. Sudah menjadi kebiasaan angkot, berangkat pagi gelap.”

“Ya sudah.”

Aku pun menghubungi Zulfa. Aku ingin memastikan kondisi sebenarnya.

“Zul, priben angkot? Engko jemput Arafah ya... (Zul, bagaimana angkot? Nanti jemput Arafah ya...)”

“Iya Ang. Siap. Wis pesen angkote. Tapi lewat anake. Bapae wis turu (Iya Ang. Siap. Sudah pesan angkotnya. Tapi lewat anaknya. Bapaknya sudah tidur).”

“Aja keawanan. Singkira-kira Arafah nyampe ning umah sedurunge Bapak digawa ning masjid (jangan kesiangan. Sekira-kira Arafah sampai di rumah sebelum Bapak dibawa ke masjid).”

“Ceileh, ari jare, ya wis, santai (Ceileh, segitunya... ya sudah santai.)”

“Ya, wis. Tutu, gian.”

Aku menutup pembicaraan dengan mereka berdua. Aku bersykur, masalah keinginan Arafah bisa dipenuhi dengan mudah. Aku punya harapan besar pada Zulfa agar memenuhi ucapanku itu.

Namun ada hal yang aku lupakan. Arafah belum juga tidur. Aku menelepon kembali.

“Dek, belum tidur juga?”

“Belum.”

“Tidur ya...”

“Gak bisa. Aku udah usahain.”

“Huft. Ya sudah... Linda bangunin tuh, temeni kamu.”

“Iya... Mba! Bangun!” kata arafah terdengar kenceng.

***

Mobil yang membawa Kang Edi sudah sampai di rumah sakit Permata. Tidak berlangsung lama, mobil yang membawa Andi pun datang. Sepertinya sudah ada komunikasi agar berjalan bareng. Lalu kami sama-sama mendatangi Ibu dan Belly yang sudah menanti, menunggu jemputan.

Pertemuan membangkitkan suasana kesedihan. Ibu dan Andi menangis bersama. Ibu sudah wajar menangis. Sedangkah Andi menangis sesegukan karena merasa sangat menyesal meninggalkan Bapak di saat sudah tahu kondisi terparahnya. Aku terdiam memendam perasan dan fisik tidak enak. Sejenak untuk duduk, berbincang-bincang.

“Andi, Ubab, Acip. Ana kang ngerewangi. Masya Allah, Bapak kuh matie bagus. Temu-temu diurus bae. Wis beres, beli perlu ngurus-ngurus maning (Andi, Ubab, Acip, ada yang membantu. Masya Allah, Bapak itu matinya bagus. Tiba-tiba diurus saja. Sudah, beres, tidak perlu mengurus-ngurus lagi),” kata Ibu sambil menangan tangis.

“Iya Ma’, hu hu... Kula bener-bener nyesel balik kuh. Weruh mengkenen, isun beli arep balik, hu hu (Iya Ma’, hu hu... Aku benar-benar nyesel pulang dulu. Tahu seperti ini, aku gak akan balik),” kata Andi dengan penuh penyesalan karena tidak menemani detik-detik kematian di saat sudah tahu penyakitnya.

Aku terdiam tanpa suara, terhanyut dalam suasana kesedihan. Aku hanya bisa melihat barang-barang yang segera untuk dibawa ke mobil.

“Pundi surate Kang? Meriki kula ningal (Pundi suratnya Kang? Sini saya lihat),” kata Kang Edi untuk memastikan bahwa surat yang diberikan benar adanya.

“Bener tah, Kang Edi?” kata Ibu.

“Oh, iya bener. Yu, wis, gian beres-beres. Ema nunggang mobile Kang Edi. Andi ning mobil kang wis digawa. Ubab, Acip lan Jamal ning mobil ambulan ya. Nganggo petunjuk jalan (Oh, ya benar. Hayu, sudah, buruan beres-beres. Ema menaiki mobil Kang Edi. Andi di mobil yang sudah dibawa. Ubab, Acip dan Jamal di mobil ambulan ya. Untuk petunjuk jalan).”

Kami menuju tempat mobil jenazah. Mobil pribadi pun berada di depan mobil jenazah. Bapak sudah disiapkan di mobil jenazah, tinggal berangkat saja tanpa perlu mengurus-urus. Hanya saja sempat untuk mendatangani seputar pemberangkatan jenazah.

Suasaana menjadi mencekam. Ruangan yang ditempati Bapak agak gelap. Aku berada di mobil jenazah bersama Acip. Aku dan Acip berada di samping Bapak. Sedangkan yang sebagai penunjuk jalan adalah Jamal. Sepanjang perjalanan, aku hanya menutup mata. Aku agak traumatis dalam hal orang meninggal, gangguan sejak kecil. Aku takut terbawa-bawa bayangan pocong ketika melihat jenazah di mobil ambulan.

Syukurlah, tidak ada penantian panjang untuk memulangkan Bapak. Bapak pun sudah menanti untuk pulang seperti yang dikabarkan pria misterius, “Bu, Pak Haji sudah pengen pulang. Nih surat-suratnya. Sudah beres.”

***

Perjumpaan Bapak dengan rumahnya telah tiba. Tangis bergemuruh dari tiap-tiap mulut para wanita. Artinya para pemuda mulai berberes-beres keperluan pemandian, menyuguhkan hidangan untuk para pen-ta’ziah. Ada yang mengambil keranda mayat di kuburan Gajah Ngambung. Para ahli mandi bersiap untuk mengguyur, membersihkan, mensucikan Bapak. Beberapa keluarga diajak ikut serta memandikan Bapak sebagai saksi. Aku masuk ke kamar, kelelahan fisik dan perasaan.

Tidak lama, Mang Samsul mendatangiku ke dalam kamar. Pintu terbuka. Kepala Mang Samsul masuk ke dalam kamar tidur.

“Bab, ikah melu ngadusi Bapak (Bab, itu ikut memandikan Bapak).”

“Emong lah, wedi, he he (Gak mau lah, takut, he he).”

“Eh, ya wis (ya sudah).”

Mang Samsul pergi kembali tanpa ada kata tambahan kalimat pengajakan. Aku berbaring lagi untuk menjalani penenangan jiwa dan raga.

Terdengar dari dekat, guyuran demi guyuran air pemandian jenazah. Terdengar dari arah barat kamar tidurku. Tetapi kenyataannya terletak di arah timur kamar tidur. Aku diam tidak melihat prosesnya.

***

Pagi itu terdengar suara para pelawat terutama yang mengaji Al-Qur’an, biasanya surat Yasin. Ada dari kalangan warga sekitar, para santri dan para pendatang dari daerah lain. Memang, sejak jam 12 sampai pagi, sudah ada banyak orang yang mengelilingi Babak dengan bacaan Qur’an. Bacaan itu akan dihadiahkan untuk Bapak.

Aku pun ikut membacakan yasin untuk Bapak. Aku membaca 1 kali surat saja. Nafasku memang agak terganggu bila untuk membaca Qur’an mengingat harus ada pengaturan nafas. Aku baca Qur’an dengan suara pelan. Aku pun tidak bisa mengucapkan dengan lantang pembacaannya. Suaraku melemah bila untuk membaca, khususnya membaca Qur’an.

Pagi terang, aku merasa cemas. Tepat pukul 06.00, aku dalam penantian. Aku belum melihat kedatangan Arafah, Zulfa dan Linda. Aku belum tahu kabar sebenarnya. Aku malas untuk menepon kembali. Sebenarnya pulsa ponselku dan salda habis. Aku tidak enak meminta pulsa ke yang lain bila hanya untuk mengetahui kabar sepele. Ya, sepele karena sekedar mengharapkan kedatangan Arafah dan Zulfa. Aku berharap nanti ada kabar dari Arafah, Zulfa atau Linda. Kebetulan mereka bertiga yang akan ke sini.

***

Dari jauh, tepatnya di belokan jalan Rosi ꟷ istilah jalan berkelok-kelok ꟷ terlihat angkot D10. Lalu aku duduk kembali. Aku menduga, itulah tanda kedatangan Arafah. Tepat pukul 7.30, angkot itu datang ke sini. Aku berdiri dari kursi duduk ketika terlihat sudah sampai. Aku menghampiri angkot D10 untuk memastikan penumpang dalam angkot. Waktu menghubungiku, mereka sedang berada di jalan LPI. Kali saja sudah sampai.

Benar adanya. Arafah melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum manis. Kepalanya melongok keluar dari jendela. Aku balas lagi dengan sambutan senyuman. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya. Ia tersenyum bahagia karena bisa menyaksikan detik-detik pelepasan jenazah.

“Kak Elbuy!”

Sontak, sebagian pelawat melihat pemilik panggilan itu: Arafah.

Adegan dramatis tidak tertahankan lagi ketika mereka turun dari angkot. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali ikut melepaskan air mata. Arafah, Zulfa dan Linda ikut meramaikan suasana tangis keluarga dan orang terdekat. Mereka turun dengan disambut sebagian pelawat. Kebetulan yang mengelilingi mereka adalah pelawat yang masih remaja, pemuda-pemudi ꟷ kebetulan mereka juga tim panitia acara. Mereka seperti melihat artis. Memang sedang melihat artis. Berbagai ucapan pun dikeluarkan.

“Eh, iku ada artis.”

“Eh, Si Arafah Rianti.”

“Dih, tekah temu-temu ana artis. Bature Kang Ubab tah (Dih, wah, tiba-tiba ada artis. temannya Kang Ubab ya?)?”

“Wih, Kang Ubab ternyata, mainnya skala nasional, ha ha.”

Mereka mengeluarkan ponsel untuk memfoto Arafah Rianti. Aku malu sendiri. Mereka sedang suasana haru malah difoto. Tetapi aku menganggap itu hal wajar saja. Tetapi foto yang dihasilkan cuma muka mewek Arafah. Mau masang dimana fotonya?

“Kak, Elbuy, hu hu...”

“Iya, Dek. Udah seneng kan, bisa nyampe?”

“Iya, hu hu... tapi tetap sedih, Bapak meninggal. Aku keinget Ibu dan Ayah, hu hu...”

Kami pun masuk ke rumah. Aku berjalan di samping Arafah menuju rumah. Sedangkan Linda yang mendorong. Zulfa berjalan terpisah dengan kita bertiga.

***

“Ibu, turut berduka cita, Bu, hu hu...” sambil salim pada Ibu.

“Iya, Nok Afah,” panggilan Ibu pada Arafah. Kata ‘Nok’ adalah khas panggilan Cirebon untuk remaja putri atau cewek yang pantas disebut ‘Nok’. Bandingannya adalah Neng, Neneng atau lainnya.

Iya, Bu... turun terduka cita juga.

“Makasih, Nok Linda.”

Ibu hanya terilihat lesu di dalam gelaran tikar di ruangan tengah. Sambil terus saja tersedu-sedu namun agak ditahan-tahan mengingat harus menghadapi para tamu dan melayani salaman.

“Arafah!” dari samping, Mba Icha mendatangi Arafah.

Arafah menoleh ke kiri “Mba Icha, hu hu... Mba Icha.”

Tidak disangka, pertemuan yang baru beberapa kali sudah saling berpelukan. Kedukaan membawa mereka dalam ranah keakraban. Mba Icha yang mengawali memeluk Arafah. Lalu di sambut pelukan Arafah. Mereka sejenak saling tangis-menangis, saling membasahi baju dengan airmata. Pelukan dilepas kembali. Mereka berduka atas Bapak.

“Tiba-tiba kamu ada di sini. Mba terkejut sekali. Di luar pada ribut, ada artis, Arafah, katanya. Mba langsung ke sini. Sama siapa ke sini?”

“Teh Zulfa.”

“Oh, Zulfa. Fah, pesenku, jangan main ngilang-ngilang lagi ya? Mba sedih. Yang normal aja. Bapak mau menghilang. Nanti ke ruang tamu, nyambut Bapak pergi.”

“Iya, Mba, hu hu... Ingat Ibu, Ayah dan lainnya, hu hu... mereka sudah menghilang, hu hu”

“Mba... Turut berduka-cita....” Linda mencoba bersalaman dengan Mba Icha sambil dihiasi mata penuh genangan air mata.

“Oh, ya...”

“Mba, kenalin, itu Mba Linda, asisten Arafah. Aku udah anggap Mba Linda sebagai sodaraku.”

“Oh ya?”

“Jaga Arafah ya, kasihan.”

“Iya, Mba” kata Linda sambil dihiasi sedikit senyuman.

Ya udah, Mba ke dapur dulu ya...,” kata Mba Icha sambil berusaha tersenyum ketika melihat Arafah lalu ke Linda.

“Iya, Mba.” jawab Arafah dan Linda bersamaan.

***

Acara pelepasan jenazah pun dimulai. Para warga, santri dan pendatang dari segala daerah datang untuk menemui Bapak yang akan pergi meninggalkan orang-orang di sekelilingnya. Arwahnya sendiri sudah pergi meninggalkan orang-orang yang mendampingi hidupnya. Sekarang, tinggal jazadnya yang akan meninggalkan kita semua.

Keluarga mulai mencium kening Bapak sebagai sambut perpisahan. Arafah dan Linda cuma menangis sesegukan di samping, tidak bisa ikut mencium kening Bapak. Awalnya aku agak takut, tetapi aku harus memaksakan diri bisa mencium kening Bapak. Aku pun mencium. Tetapi, pas aku melihat jenazah Bapak sendiri, aku seperti melihat Bapak sedang tertidur yang biasa dilakukan semasa hidupnya. “Ah, padahal orang mati, ya jenis orang.” Terlihat, wajah Bapak teduh, tidak ada bekas sakaratul maut.

Selama perjalanan, Bapak diiring-iringani bacaam tasbih, tahmid, tahlil dan takbir oleh sang imam jenazah dan diikuti para hadirin yang mengiringi keberangkatan Bapak menuju masjid. Mungkin Bapak sedang merasakan kenyamanan, kenikmatan akibat iring-iringan bacaan itu. Biasanya, bacaan kalimat suci seperti itu bisa membuat jenazah mendapat kenikmatan. Berbeda bila diiringi obrolan, jenazah akan mengalami rasa sakit. Jadi wajar bila aku menganggap bahwa Bapak sedang mendapat kenikmatan. Terlihat, keranda pun begitu ringan dibawa para jama’ah. Perasaanku pun seperti mendapat angin spoi-spoi mengiringi jenazah Bapak.

Seperti biasa, di dalam masjid, satu orang memimpin pembacaan surat al-Ikhlas untuk menyambut jenazah dan menanti waktu untuk siap disolati. Aku pun ikut membaca surat al-Ikhlas. Kondisi Bapak mungkin mendapat kenikmatan baru lagi akibat bacaan surat Al-ikhlas.

Para jama’ah mulai bersiap-siap mengambil air wudu. Kemudian duduk untuk menanti waktu solat. Terlihat banyak sekali pelajar khususnya pelajar santri yang mengiringi jenazah Bapak. Masjid jami’ Buntet Pesantren penuh sampai ada yang di luar masjid. Sekolah sementara diliburkan. Warga Buntet Pesantren pun ikut memadati masjid dan luar masjid. Tidak beberapa lama, solat jenazah pun dimulai. Aku ikut bersamanya.

Sambutan-sambutan, pengiringan jenazah menuju makbaroh (pemakaman) Gajah Ngambung, penguburan, talkin sampai dengan tahlil telah menghantarian Bapak ke tempat pembaringan sekaligus tempat perpisahan. Sekeluaga benar-benar kehilangan Bapak. Bahkan warga Buntet Pesantren. Bahkan seluruh warga di berbagai daerah yang pernah tahu dan dekat dengan Bapak, merasa kehilangan.




***

Keanehan pun tetap muncul mengiringi acara tahlilan 7 hari Almarhum Bapak. Mulai dari kedatangan terpal (alas atau tikar yang biasa untuk tenda atau menjemur padi) yang sampai sekarang belum tahu siapa pengirimnya, sampai selama 7 hari berturut-turut tidak hujan. Ucapan perhitungan kematian yang sempat dirahasiakan pun dimunculkan dari beberapa mulut orang. Bahkan Bapak pernah meminta untuk dikuburkan di tanah yang sekarang sudah ditempati, kira-kira beberapa minggu sebelum Bapak terjatuh lumpuh.

Waktu itu, angin berhembus kencang di siang hari. Terpal yang terpasang berterbangan tidak teratur. Tali terpal yang terpasang ikut bergerak ke atas sehingga atap atau genteng rumah tetangga ikut terangkat ke atas. Genting berantakan dan ada yang terjatuh. Suasana siang memang selalu diselimuti angin besar. tepatnya di jam sore. Hal yang wajar bila sampai tidak terjadi hujan. Namun sambutan angin seperti sengaja untuk mencegah hujan datang ketika malam.

“Biasanya bengi kuh udan. Barang tahlilan Kang Mamad jeh beli udan (biasanya malam itu hujan. Ketika tahlilan Kang Mamad eh tidak hujan),” kata Mang Zidni sambil nenatap langit. Ia selalu tahlil di tempat yang sama selama 6 hari berturut-turut, duduk bareng bersamaku. Tepatnya di samping rumah Mang Maulana.

“Enggih, Mang (Iya, Mang),” aku hanya berucap singkat sambil ikut menatap langit.

“Jare Kang Salman kah, banjir gede wingi-wingine, iku banjir nyambut Kang Mamad. Masya Allah, kematian ulama, alam pun berduka. Ciri-ciri alam berduka, salah satue ya banjir (kata Kang Salman tuh, banjir besar kemaren, itu banjir menyambut Kang Mamad. Masya Allah, kematian ulama, alam pun berduka. Ciri-cirinya alam berduka, salah satunya ya banjir),” kata Mang Sidni mengejutkanku.

Perkataan Mang Zidni yang berasal dari ucapan Kang Salman membuatku terkejut. Aku tidak bisa percaya untuk hal ini. Mengapa? Banjir besar yang pernah terjadi di Buntet Pesantren (terdiri dari beberapa desa) adalah banjir kawasan Cirebon Timur. Rata-rata rumah yang tepat berada di kedua sungai ꟷ sungai yang sebagai sumber banjir ꟷ terkena dampaknya. Kalau untuk menyambut Bapak, terlalu besar jangkauannya. Sedangkan Bapak hanya orang biasa yang punya banyak kesalahan. Aku tidak paham dan tidak percaya soal ini.

“Kula boten saged percaya, Mang (aku gak bisa percaya, Mang).”

“Dalam rangka upaya prasangka positif, husnudzon atas jenazah, terima saja. Langka upaya mengurangi iman. Kang Salman ahli membaca alam sampai sulit dipercaya tetapi nyambung-nyambungie malah gawe masuk akal (Dalam rangka upaya prasangka positif, husnudzon atas jenazah, terima saja. Tidak ada upaya mengurangi iman. Kang Salman ahli membaca alam sampai sulit dipercaya tetapi sambung-menyambungnya malah bisa masuk akal).”

“Pikir bae, 6 hari berturut-turut beli udan. Bapake ente lumpuh total, banjir teka. Arep meninggal, layung, awan kuning sore, nyelimuti langit. Wafate dina jum’at. Wis mengkonon jeh temu-temu ana kang ngurus. Aneh beli kuh? (Pikir saja. 6 hari berturut-turut tidak hujan. Bapak kamu lumpuh total, banjir datang. Mau meninggal, layung, awan kuning sore, selimuti langit. Wafatnya hari jumat. Sudah begitu, tiba-tiba ada yang ngurus. Aneh tidak tuh?).”

Aku hanya menikmati obrolan yang tidak lama bersama Mang Zidni setelah selesai tahlilan. Mang Zidni pergi meninggalkanku sambil membawa bingkisan. Aku hanya termangu, memikirkan cerita yang baru saja aku dengarkan dari mulut Mang Zidni atas cerita Kang Salman. Aku masih tidak percaya. Tetapi, seperti yang dikatakan Mang Zidni, demi prasangka baik, husnuzon pada jenazah, terima saja. Sambung-menyambungnya justru bisa membuat masuk akal bila kedatangan banjir besar karena untuk menyambut Bapak.

Di hari berikutnya, tepatnya di hari ke-7 tahlilan Bapak, aku memperhatikan gejala langit kembali. Ada tanda apa lagi? Kali ini, aku tidak bercakap-cakap dengan Mang Zidni. Aku duduk di belakang Mang Zidni yang didampingi Kang Jamil, suami Mba Icha. Sewaktu akhir tahlil, tepatnya ketika sampai pada pembacaan surat sebagai akhir bacaan tahlil, gerimis lembut datang. Lembut sekali. Gerimis lembut yang turun tidak mengganggu para jama’ah tahlil. Gerimis yang turun, aku rasakan. Aku menatap langit. Aku melihat seperti ada gambaran bahwa langit merasakan kesedihan atas selesainya acara ahlilan 7 hari. Entahlah.

Aku sejenak memikirkan amalan Bapak ketika masih hidup. Ia adalah ahli berjama’ah, baik solat atau sosial. Ia rajin mengunjungi acara tahlilan di beberapa tempat, baik tahlilan orang kaya atau orang miskin, baik hujan atau tidak. Bahkan mengunjungi acara tahlilan di dua tempat yang saling berjauhan di waktu yang agak bedekatan. Hal biasa bagi orang yang punya kendaraan. Ringan. Tetapi Bapak melakukannya dengan jalan kaki. Sampai keluarga merasa kasihan dengan sikap Bapak. Tapi, Bapak sulit diatur. Ya, namanya kebaikan, jadi tidak perlu dicegah.

Hari ke-8, tepatnya di sore hari, aku kembali melihat tanda-tanda alam. Aku penasaran akibat termakan omongan keanehan itu. Tiba-tiba mendung mulai berdatangan menggelapkan lingkungan rumah. Apakah akan hujan? Suasana mendung memang sudah biasa terjadi ketika sore hari. Namun khusus di 7 hari acara tahlilan Bapak, hanya 1 kali saja turun hujan ketika sore hari. Itu pun tidak lama. Makin sore, langit makin gelap pekat. Dugaanku kuat bahwa akan turun hujan besar. Aku terus mengamati tanda-tanda alam. Tepat menjelang mahrib, dugaanku benar, hujan besar datang. Mengejutkan! Bulu kudukku berdiri. Hujan benar-benar turun besar sekali seperti hujan yang lama tertahan. Tumpah membanjiri tempat walaupun tidak sampai banjir besar.

“Ya, Allah, Kang Mamad matie mulia sekali. 7 dina berturut-turut beli udan. Jeh sekie udane gede pisan. Masya Allah. Jadi beli udan kuh benar-benar nyambut Bapak (Ya Allah, Kang Mamad matie mulia sekali. 7 hari berturut-turut tidak hujan. Lah, sekarang hujan besar sekali. Masya Allah. Jadi tidak hujan tuh benar-benar sambut Bapak),” kata Ibu di depanku, Andi dan Acip.

“Iya, Ma,” kata Andi.

“Ctar!”

“Ctar!”

“Ctar!”

“Glududgglududgdludug.”

“Geledege pating kemerlob (petirnya saling gemerlap),” kata Acip.

“Colokan tv dicopot, bokat kena petir (stop kontak tv dicopot, khawatir kena geledeg),” kata Ibu

Aku bergegas ke dapur. Belok ke kiri ke suatu kamar ꟷ bekas kamar Acip. Aku cabut saluran listrik televisi.

Aku agak takut dengan suara petir. Jantungku memang bermasalah. Khawatir jantungku copot.

Malam tiba, hujan tetap turun deras. Petir pun tetap menyambar mengagetkan jantung warga Buntet Pesantren. Ketika mataku sudah mengantuk, hujan besar dan pentir masih terus hadir meramaikan kawasan Buntet Pesantren. Benar-benar tanda alam yang nyata. Aku tidak bisa berkata-apa. Aku mengantuk. Ingin tidur menyelesaikan masalah tubuhku ini.

***

“Bapak seorang wali ya, Kak?” kata Arafah sewaktu selesai berziarah ke makan Bapak.

“Masya Allah, berat sekali untuk memastikan itu,” aku berkata dalam hati.

“Bapak orang yang insyaAllah khusnul khotimah. Terpenting meninggal masuk surga tanpa azab kubur dan tanpa masuk neraka, Dek. Gak penting urusan wali atau bukan wali.”

“Gitu ya?”

Aku, Arafah, dan Linda berjalan menyusuri jalan pulang ke rumah setelah beberapa menit berziarah ke makan Bapak.

Arafah dan Linda baru saja kembali lagi di Cirebon setelah pulang dari rumah hunian yang dahulu ꟷ kebetulan rumah diurus Tante Maya. Mereka pulang selama kira-kira 20 hari. Arafah dijemput Tante di hari Senin, tepat pada hari ketiga Bapak meninggal. Kebetulan Tante datang ke Cirebon di hari Minggu. Tentu, kedatangannya untuk mengucapkan belasungkawa juga kepada Ibu dan keluarga. Alasan Arafah haus pulang ke rumahnya adalah untuk mencegah kedukaan yang baru. Tante punya pikiran bahwa sementara Arafah harus dipulangkan dahulu. Di sana, Arafah berziarah ke makam keluaranya.

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya