Puisi Juara Menjadi Neneng Risma Wulandari


Kembali menghadirkan puisi dalam Blog Belajar Menulis Spesial Arafah Rianti. Kali ini menghadirkan puisi yang berjudul Juara Menjadi Neneng Risma Wulandari. Anda bisa meresensi puisi ini. Kalau mau, silahkan hasil resensinya dikirim ke saya untuk dipublish dalam blog.


Risma,
jangan menangis kalah.
Matamu basah, membasahi kisah.
Kamu adalah cahaya bulan penerang pendirian.
Penerangmu, berjalan gerakan Risma, menggapai setinggi harapan.

Risma,
bulan berjalan dalam pendirian tanpa pernah berjumpa sang kerinduan.
Tengoklah kebelakang, ada banyak cerita pemulung mendaur ulang kegagalan.
Sampah bukan selamanya sampah.
Apalagi ... kamu bukan sampah melainkan bulan sabit yang indah.

Kamu memang bukan bulan purnama cahaya.
Tetapi, bulan sabit adalah hiasan tinggi dalam penyatuan bahagia.
Bukankah, bulan sabit teman rohani sang bintang?
Nampak lah terang, kamu adalah sang bulan sabit berbintang.

Risma, menangis lah bahagia.
Air matamu terlepas, menetes, menjelma tawa.
Air matamu bercerita suasana alami wajah desa.
Sementara wajah kota, menangisi polusi rekayasa.

Aku yakin, dirimu adalah bulan sabit pendirian.
Langkah panjangmu, membentangkan peringatan kehidupan.
Desa dan kota saling menjauh dalam balutan rekayasa keadilan.
Di manakah didikan segenap rakyat dalam negara kesatuan?

Aku heran, desa berlambang keterbelakangan.
Aku heran, kota berlambang kemajuan.
Maka kita teriak kencang: beginikah pembodohan pendidikan?
Pendidikan harus memajukan bukan mendiskriminasi kemajuan.

Risma, teruslah melangkah dalam pendirian kemajuan.
Bangunlah desa mendunia dengan tradisi kedesaaan.
Jangan biarkan desa menjadi kota, karena dunia sudah menjelma maya.
Jangan biarkan desa menjadi kota, karena kota sudah bermimpi menjadi desa.

Cirebon, 21 Oktober 2017

Nb: Puisi Juara Menjadi Neneng Risma Wulandari ini, aku persembahkan spesial untuk @nenengrismawulandari63 . Tetep semangat. Juara 1 sejati ada di diri kamu. Vidio puisi menyusul, dipublis dalam blog