Orang Kaya Yang Miskin Bersama Dinda Clara Oktavia


Sebelum membahas orang kaya yang miskin dari pelajaran Dinda Clara Oktavia, saya ingin mengungkapkan bahwa saya tidak kuasa menahan berbulan-bulan untuk tidak menemani Dinda Clara live streaming Voov. Lagi pula, kesibukan proyek yang direncanakan ternyata ada yang batal sehingga jauh lebih ringan. Proyek bisnis agak berat yang masih berjalan adalah proyek yang ditangani orang lain. Tentu, saya hanya berfokus membuat proyek penulisan novel dan esai yang akan dipersembahkan untuk Dinda Clara. Semoga novelnya berjalan lancar dan best seller agar Dinda juga merasakan manfaatnya alias kecipratan untung, he he...


Namun, kehadiranku ke room live Clara Oktavia tidak menggunakan akun yang biasa dipakai. Saya hadir dengan nama lain agar terkesan orang baru walaupun entah, apakah masih tetep dikenali atau tidak. Masalahnya, ketika saya sudah mengatakan, “Awas jangan keceplosan menyebut nama.”, Dinda Clara benar-benar keceplosan ngomong nama walaupun langsung diganti dengan nama palsunya. Jelas, ada beberapa orang yang mendengar. Ya, kalau sudah begini, saya harus mengambil perkataan Dinda, “Ya udah lah ya.”

Pertama-tama, saya menyembunyikan diri saya pada sosok Dinda ketika menggunakan akun Voov baru. Akhirnya, Dinda Clara kepo, ingin tahu walaupun dengan ekspresi muka agak “tidak penasaran”. Memang, saya sengaja mancing-mancing Dinda Clara agar ia tahu siapa diri saya. Saya ingin Dinda Clara bisa menebak seperti pada orang-orang yang pernah melakukan penggantian nama. Tetapi, Dinda Clara tetep tidak bisa menebak siapa diri saya. Mungkin, karena saya menggunakan akun baru. Mungkin, saya tidak harus memaksa dia untuk menebak dengan benar karena tidak ada hadiahnya, he he.

Akhirnya, saya sendiri yang harus membuka diri, tidak perlu waktu lama. Saya tidak mau menambah beban pikiran untuk Dinda Clara. Apalagi, Dinda Clara pernah mengatakan, “Jadi inget seseorang” ketika saya berkata, “Sudah laper belum?”. Entah, siapakah yang dimaksud “ingat seseorang?” karena merasa sedang menyembunyikan sesuatu, saya merasa berat sendiri ketika mendengar keluhan Dinda, siapapun maksud “ingat seseorang”.

Saya mengirim pesan PM Voov di untuk Dinda Clara untuk mengatakan bahwa akun itu sebenarnya saya sendiri.

Karena sudah panjang menjelaskan latar belakang, sekarang saya ingin membahas orang kaya yang miskin. Mengapa ini menjadi pembahasan? Kalau merujuk pada pembuatan novel, ini bisa sebagai bagian alur cerita yang semoga bisa diterapkan. Tentu, ini sekedar pewarna, menikmat sebuah novel.

Perbedaan Cara Pandang Soal Orang Kaya dan Orang Miskin

Dialog singkat saya bersama Dinda Clara menghadirkan pembahasan yang perlu adanya penyatuan cara pandang. Saya dan Dinda ada sedikit mengungkapkan pandangan yang tidak bisa tersatukan sebelum adanya dialog lanjutan. Saya dan Dinda saling memberikan pandangan berbeda mengenai orang kaya dan orang miskin. Tentunya, esai ini sebagai penyatuan sudut pandang bila Dinda membaca ini.

Waktu itu, saya mengungkapkan seputar kisah cintaku yang kandas. Kebetulan Dinda sedang membahas persiapan pernikahan. Bukan kisah cinta sih. Kisah drama bila ini dikatakan kisah cinta. Saya hanya mengenang permasalahan dulu yang batal menikahi seseorang. Jelas, ini bukan bertemakan pacaran dan tidak berjudul “mantan pacar”. Saya hanya berniat menikahinya saja. kebetulan, ia adalah teman SMA yang sekarang bekerja di Duri, Riau. Saya batal menikahinya karena jarak yang sangat jauh di saat saya masih miskin.

“Menurut kalian, persiapan apa yang pertama harus dipenuhi,” kata Dinda Clara.

Pembahasan panjang menanggapi pertanyaan Dinda, akhirnya saya mengucapkan.

“Aku gagal nikah ama orang Duri karena waktu itu aku masih miskin.”

“Aduh kenapa bilang diri miskin sih. Kita tuh gak boleh bilang miskin. Karena kata-kata itu doa.”

Dinda belum tahu, kalau saya pernah berdoa, “Ya Allah, miskinkan aku dengan sodakoh dan zakat.” Serem kan Dinda? Jangan gemeter ya Dinda. Itu bukan bermakna yang sesungguhnya. Menurut cara pandang saya, miskin adalah berkurangnya penghasilan dari yang kita dapatkan dalam jumlah yang banyak. Tentu, saya tidak bermaksud berhentinya pemasukan loh. Dinda paham kan maksud saya?

Memang, kita tidak boleh berkata bahwa kita ini miskin karena memang kita makhluk yang kaya yang sudah diberikan Tuhan. Sekaligus, bahwa kita pun layak berkata miskin karena semuanya dari Tuhan dan milik Tuhan. Jadi, permasahanannya adalah kita harus menyesuaikan pengucapan kata “kaya”, “miskin”, “orang kaya”, dan “orang miskin”.

Saya pun berkata, “Miskin atau kaya, aku terima saja.”

“Kenapa sih menyebut diri kita miskin gitu seperti mau miskin? Padahal Allah saja menyuruh untuk berusaha.”

“Gak apa-apa jadi miskin, karena miskin juga ada rahmatnya.”

“Ya Allah, kenapa sih pengen banget jadi miskin? Pengen di santuni gitu?”

Saya terawa-tawa saja mendengar ucapan Dinda. Soalnya ia belum mengerti apa maksud ucapanku. Maksudnya, ditakdirkan miskin atau kaya, saya tidak mempermasalahkan itu. Tentu, sebagai manusia, walaupun berkondisi miskin, kita tetap harus berusaha untuk bertahan hidup dengan cara mencari rizki. Tentu, tidak salah juga bukan bila menjadi orang miskin sebagai kebalikan ingin jadi orang kaya? Hihi.

Dinda menasehati saya bahwa kita ini kaya. Artinya, kita jangan mau dikasihani, berharap dikasihani. Sebagai manusia diberi bekal apapun jadi tidak pantas berkata miskin, merasa jadi orang miskin. Sekalipun saya berkata bahwa kita memang tidak punya apa-apa, fakir, tetapi Dinda menyarankan untuk tidak berkata miskin. Siapa bilang Dinda tidak paham persoalan harta yang dimiliki manusia itu milik Allah? Tentu, Dinda tahu itu.

Penyatuan Persepsi Soal Orang Kaya dan Orang Miskin

Ucapan Dinda memang ada benarnya bahwa manusia itu makhluk kaya, jadi jangan mau dikasihani, jangan meminta-minta. Jiwa seperti ini jiwa miskin. Cara pandang Dinda lebih kepada mengkayakan jiwa dan jangan memiskinkan jiwa. Saya pun setuju dalam ucapan Dinda. Tetapi, Dinda belum paham mengenai makna miskin yang saya ungkapkan. Cara pandang saya bukan pada sisi jiwa melainkan sisi materi. Kita memang sah menjadi miskin seperti sahnya orang menjadi kaya karena keduanya sama-sama memiliki rahmat. Namun, bukan berarti mengikutsertakan jiwa menjadi miskin. Menjadi orang miskin dengan tetap harus mengkayakan jiwa adalah cara pandang yang saya tekankan.

Cara pandang saya, kita tidak perlu memperdulikan menjadi orang kaya atau miskin. Justru, kita harus memperdulikan jalan ikhtiar sebagai upaya bertahan diri.

Kalau berangkt dari teori keislaman, tidak ada istilah orang kaya dan orang miskin. Kok, saya berani berkata seperti ini yang menentang pandangan ilmu kaya? Begini, bila anda kaya, keuangan anda bisa untuk kebutuhan orang yang membutuhkan. Pemasukan yang besar bisa dikurangi separo untuk orang yang membutuhkan. Bila kondisi ini terus dilakukan, kira-kira, bagaimana bisa menjadi kaya? Orang yang mendapat santunanꟷterlepas malas kerja atau tidak, ingin disantuni atau tidakꟷtentu terhindari dari kata “miskin” karena kebutuhannya tercukupi. Inilah sistem musyarokah yang dikembangkan Wali Songo.

Memang, kata musyarokah atau syirkah berasal dari kajian fikih seputar bagi hasil usaha. Namun, dulu, era Wali Songo, istilah itu dikembangkan lagi menjadi sistem kemasyarakan yang mementingkan kebersamaan, kerjasama, gotong-royong, guyub.

Mengenai doa saya di atas yaitu, “Ya Allah, miskinkan aku dengan sodakoh dan zakat”, bukan pula diartikan bahwa saya tidak berupaya berpenghasilan besar. Saya tetap mengupayakan untuk berpenghasilan besar tetapi semoga tidak membuat saya menimbun uang. Jadi, ketika penghasilan berkurang untuk kebutuhan sodakoh dan zakat, saya menjadi miskin kan? Tetapi, penghasilan akan datang lagi dan terus berkurang lagi, dan seterusnya.

Jadi, itulah persamaan persepsi yang harus diupayakan. Peace.