Menulis Novel Spirit Arafah Rianti

cinta segitiga
Belajar menulis novel buat saya adalah belajar yang menyulitkan. Banyak yang perlu disebutkan jadi tidak perlu disebutkan apa saja kesulitannya. Yang jelas, dulu saya mencoba membuat novel, tetapi bubar. Sekarang, setelah diawali menulis sesuai rill Arafah Rianti yang bercampur fiksi komedi ala stand up comedi, saya bisa melangkah kembali untuk menulis novel. Bisa dibilang, ada spirit besar ketika menulis novel seputarnya sampai menghasilkan 11 judul untuk cerita novel, saat tulisan ini dipublikasi.


Apakah saya boleh jujur pada anda? Jangan baper ya setelah ini? Jujur saja, tanpa bantuan kehidupan Arafah Rianti, saya sulit sekali membuat cerita. Di samping memang malas menulis novel, juga pikiran terasa beku. Ya, pikiran sulit mikir membuahkan, mengembangkan cerita. Sering saya mengucapkan terimakasih pada adik imajinar saya, Arafah Rianti, maka sekarang saya mengucapkan kembali rasa terimakasih padanya karena kehadirannya sudah memberikan spirit menulis novel untuk saya. Tujuannya, agar proyek jalan terus, ehem, modus.

Mengapa sih, spirit menulis novel saya datang dalam diri Arafah Rianti? Entahah, kalau sudah ada “hate”, mau bagaimana lagi? Sulit sekali untuk dijelaskan, ehem. Intinya adalah ia adalah sosok yang mementaskan sebuah cerita komedi ala stand up. Sebelum pentas, tentu ia harus menulis terlebih dahulu, menulis alur cerita yang disertai komedi. Ketika saya menulis novel, ada keterkaitan pada sosok dan karir-nya. Cinta kali ya? Ya, cinta lah yang membuat sosoknya menjadi sebuah spirit untuk kegiatan menulis seputar cerita fiksi. Memangnya kenapa kalau cinta? Kali saja ada yang bertanya, “Emangnya Arafah mau balas cintanya?” Padahal, cinta adalah nilai universal kemanusiaan. Jadi maknai saja sendiri cinta saya ke Arafah, saya gugup menjelaskannya, ai ai ai... Gak ququ.

Spirit Besar Menghadapi Tantangan Besar Menulis Novel

Kreatifitas dalam meramu plot dan alur-lah yang membuat menulis novel dianggap memberatkan. Kalau sekedar menulis 1000 – 5000 kata, itu hal yang biasa saja menghadirkan alur dan plot yang kreatif. Tetapi bila dituntut menulis sampai lebih dari 50.000 kata, itu hal yang luar biasa ketika tetap kreatif dalam menghadirkan plot dan alur.

Saya menemukan penulis yang alur dan plot-nya kacau. Kebetulan waktu itu saya pernah menjadi editor dadakan. Bukan dianggap sebagai editor handal melainkan apa yang saya pahami seputar alur, ya harus masuk akal. Ketika saya edit, masalah waktu saja, tidak masuk akal mengingat hal yang seharusnya alur maju terukur, malah tidak. Katakan saja, satu tingkat seharusnya 1 tahun. Malah menuliskan bulan yang membuat ukuran 1 tahun tidak ada. Tentu kan tidak masuk akal? Mengapa sampai membuat alur dan plot yang kacau? Karena itulah tantangan besar membuat novel, konsentrasi bisa terpecah dan yang lainnya.

Bila tidak memiliki spirit besar, paling tidak akan membuat cerita novel standar atau biasa disebut roman picisan. Namun roman picisan masih memiliki tempat di banyak penikmat novel. Hal yang lebih tragis bila tidak memiliki spirit besar adalah novel gagal produksi.

Bisa saja saya menyerah menulis novel bila Arafah Rianti sudah berbuat menyakiti hati saya, ehem. Karena buat saya, menulis novel lebih dari sekedar menulis buku. Plisss, ya dek, bahagiakan hati saya, demi novel. Haduh, rayuan tingkat picisan.

Spirit Membuat Tertarik Menulis Novel Berdasarkan Kisah Arafah Rianti

Prinsip penting yang harus diperhatikan adalah menulislah berdasarkan fakta rill. Memang menulis novel harus menghadirkan cerita fiktif. Kalau tidak menghadirkan cerita fiktif, larinya bisa ke biografi. Salah besar bila harus benar-benar berdasarkan fakta ril. Maka maksud menulis novel berdasarkan fakta rill adalah untuk membantu membuat alur yang fiktif. Jadi tidak benar-benar fakta melainkan hanya pendukung atau penguat alur yang fiktif.

Saya pernah mengedit novel penulis. Ada kalimat kurang lebih mirip seperti ini: “Dia tidur di kamar sambil memandang ke atas. Terlihat angkasa dari dalam kamarnya dengan berbagai bintang-bintang.” Memang kalimat tersebut masuk akal bila dihadirkan untuk rumah orang miskin atau yang tidur di luar. Yang menjadi tidak masuk akal adalah kalimat cerita tersebut ditunjukkan untuk orang kaya, yang rumahnya mewah. Memangnya bisa, dari dalam kamar bisa melihat angkasa dari atas atap? Kalau pun ada, paling melihat dari jendela yang sedang terbuka. Hal yang harusnya sesuai fakta rill, malah jadi absurd.

Nah, untuk lebih dekat kepada fakta rill, alangkah baiknya bila memang menulis berdasarkan apa yang sudah diketahui, dirasakan dan dialami. Untuk itulah, saya menulis novel yang lebih dekat dengan kehidupan saya. Kehidupan saya nih, dari ujung rambut sampai kepala, selalu lengket dengan Arafah Rianti. Lebay, demi novel, haha. Ketika saya mencari sosok peran utama dalam novel yang rekayasa, imajiner, tentu akan sulit. Peran utama yang rekayasa, imajiner itulah yang membuat saya gagal membuat novel pada waktu itu.

Apalagi, saya ada spirit menulis novel dari Arafah Rianti sehingga saya tidak bisa melepaskan diri dari kisah Arafah, mau atau tidak tetapi mau benget. Memang, spirit menulis dari sosok yang dicintai tidak melulu harus membahas sosok yang dicintai pada karya tulisnya. Namun, apakah bisa melepas diri dari kehidupan seorang yang dicintai? Uhuk, uhuk, gak kuat saya mah. Terserah saja. Karena selain dari kisah Arafah, saya tidak bisa menulis novel, untuk sekarang ini. Lain waktu? Tidak tahu ya, hehe.

Ada beberapa bagian dari jok stand up comedy Arafah Rianti yang masuk sebagai bagian dari cerita. Bahkan, cerita yang saya hadirkan cenderung bernuansa komedi serius. Arti komedi serius adalah bercerita serius namun ada patahan-patahan punch-line. Mulai dari berita seputar Arafah, jok Arafah, berbau komedi ala Arafah, bercampur jadi satu dalam novel. Memang tidak dikatakan menonjol dalan hal komedinya. Namun penceritaan terkadang ada main-mainannya seperti sedang bermain membuat novel atau bermain absurd seperti tiba-tiba Arafah hadir di rumah saya dan yang lainnya. Ya, begitulah ciri khasnya.

Spirit Menulis Novel Arafah Membangun Kedetakan Emosional

Sepertinya, penulis wajib memiliki kedekatan emosional dengan sesuatu yang akan diceritakan. Bukan kedekatan dalam arti hubungan percintaan saja melainkan hubungan yang bisa mempengaruhi perasaan. Bila sudah ada kedekatan emosional pada keadaan cerita terutama tokoh, maka cerita akan jauh lebih hidup. Di sinilah penting menghadirkan fakta-fakta rill untuk membuat alur fiksi dalam novel.

Sebagai contoh kedekatan emosional dalam menikmati wisata alam. Orang yang sudah berpengalaman dan merasakan wisata alam, cerita fiksi yang dihadirkan cenderng hidup karena tahu bagaimana rasa lelah ketika pendakian, dinginnya puncak gunung dan keseruan lainnya. Apalagi bila si pendaki memang memiliki pengetahuan luas dari berbagai buku seputar wisata alam, maka cerita akan lebih hidup dan cerita terlihat profesional. Badingkan dengan cerita dari orang belum merasakan wisata alam, hanya sekedar tahu saja, tentu akan terlihat hambar. Sebuah novel adalah menggambarkan kondisi rill kehidupan seperti belokan jalan, hijaunya pohon, aliran sungai, lingkungan rumah, karkater, panas matahari, angin kencang, burung terbang dan yang lainnya untuk menghidupkan cerita.

Begitu juga saya dalam membuat novel seputar Arafah Rianti, saya menghadirkan kehidupan saya sendiri. Saya pun mencoba untuk mengetahui bagaimana kondisi Arafah dari berbagai sumber di internet yang dihubungkan dengan kehidupan saya. Walaupun saya akui masih dirasa kurang, salah satunya adalah kehidupan rill Arafah di keluarganya. Sehingga, saya menghadirkan novel tidak sampai dalam ke keluarga Arafah. Tetapi Arafah-lah yang mencoba masuk dalam keluarga saya.

Tragisnya, gara-gara saya membangun kedekatan emosional dalam cerita kehidupan Arafah, mau tidak mau, akhirnya rill fakta bahwa saya pun terlibat kedekatan emosional dengan Arafah, bisa masuk di dunia nyata. Dalam cerita, sosok saya dan Arafah menjadi kakak-adik imajiner. Nah, secara fakta kehidupan pun, saya bisa menjadi sosok kakak yang siap mengorbankan apa saja selagi bisa dan dibolehkan untuk Arafah, untuk adik saya. “Yah, dari awal juga udah hate modus, ujung-ujungnya, bisa jadi larinya kesitu, haha.”

Mungkin anda bertanya, “Benarkah sampai rela berkorban seperti itu?”

Ya elah, memangnya membuat blog spesial Arafah bukan pengorbanan? Bahkan bisa menjadi pengorbanan besar untuk Arafah bila blog ini berhasil mem-publish ratusan bahkan ribuan tulisan spesial Arafah. Walaupun sebagai pengorbanan besar yang saya berikan untuk Arafah, tetap saja istri saya adalah yang jadi jodoh saya, hehe. Arafah tetap Arafah, adik imajiner, walaupun sampai kapanpun tidak pernah berjumpa. Selagi Arafah masih hidup dan tidak menyakiti hati saya, ehem, saya akan berkorban untuknya (gombalan tingkat 9).

Menumbuhkan Spirit, Spesial Buku Novel Hadiah Untuk Arafah Rianti

Pembahasan ini erat kaitannya dengan bagian novel di judul “Arafah, Spesial Buku Untukmu”. Di dalam novel, saya menghadiahkan buku novel yang sudah saya tulis. Pada kenyataannya, buku dalam cerita novel itu adalah novel yang sedang saya tulis yakni “Aku, Arafah Dan Cinta Segitiga.” Suatu saat, bisa jadi saya akan membut novel versi hard copy alias buku cetak yang akan diberikan untuk Arafah, rill. Saya pun sudah menghubungi Arafah seputar niat memberikan novel tersebut. Tetapi tidak tahu nantinya bagaimana, jadi atau tidak. Untuk menerbitkan novel butuh modal besar. Tidak mau dong, sekedar mencetak. Saya ingin mencetak sekaligus menjual. Cuma, memangnya novel saya seperti apa? Tapi saya akan usahakan untuk menghadiahkan novel untuk Arafah, kalau dia mau dan bisa. Maklum, artis gitu loh, ngakak.

cinta segitiga

Dapatkan Langganan Seputar Cerita Arafah Rianti Dan Karya Tulis Lainnya